
"Lara, mau kah kau menikah denganku?"
Terlihat seorang anak lelaki kecil yang memperagakan seorang lelaki dewasa saat melamar kekasihnya. Anak lelaki yang hanya memakai kaus salah satu tokoh super hiro dan memakai celana boxer. Senja Wirawan. Bocah lelaki yang berumur 10 tahun dengan mata bulat serta lesung pipi di pipi kanan kirinya.
"Hihihi, kita gak bisa nikah, Senja," ucap seorang gadis yang berasa di depan sang bocah lelaki.
"Kenapa gak bisa, Lara?" tanya Senja penasaran. "Bukannya kamu yang bilang, kalau laki-laki dan perempuan bisa menikah."
Senja mengedipkan mata bingung. Ia menatap lekat anak perempuan yang umurnya lebih tingggi di atasnya.
"Senja, gak semua perempuan sama laki-laki bisa menikah," ucap sang anak perempuan sambil membantu Senja berdiri.
"Salah satunya kita. Kamu tahu kenapa?"
"Hmmm ... Karena kita saudara?" tanya Senja bingung.
"Betul sekali."
Clarissa Wirawan. Bocah perempuan dengan gigi kelinci dengan lesung pipi satu yang menggunakan piyama pikacu terus memperhatikan adiknya yang sudah menjauh dari dirinya. Bocah perempuan dengan selisih umur 4 tahun dari sang adik.
"Senja! Ayo kita pulang," teriak Lara saat dilihat Senja yang mulai bermain jauh dari dirinya.
Senja yang asik bermain tidak menghiraukan panggilan sang kakak. Ia tetap bermain walaupun tidak ada satu pun anak lelaki lainnya yang bermain dengan dirinya.
"Senja!" teriak Lara yang mulai tidak sabar melihat Senja tak kunjung kembali.
"Ayolah, Senja! Hujan mulai turun."
Senja menoleh ke arah sang kakak. Menampilkan senyum manis dengan deretan gigi yang tersusu rapi dengan beberapa yang bolong di bagian atas.
"Baiklah. Calon pengantinku mulai marah nampaknya."
Senja yang melihat kakaknya mulai marah lantas menghampirinya. Berlari tanpa alas kaki lalu segera memeluk Lara ketika ia sudah sampai di depannya.
"Ayok kita pulang!" aja Senja.
Ia menggengam tangan sang kakak erat. Menggoyangkannya seirama dengan langkah kakinya. Senyum diwajahnya seakan tak pernah pudar.
"Lara! menurutmu, hari ini Papa dan Mama bertengkar, tidak?" Tanya Senja polos.
Langkah Lara terhenti. Terlalu kaget dengan pertanyaan sang adik. Ia hampir lupa, saat sampai di rumahnya nanti ada hal yang harus ia persiapkan. Ada hal yang harus ia kerjakan. Ada hal yang membuatnya takut bukan main saat mengajak adiknya pulang.
"Te-ten-tentu saja, tidak," jawabnya gugup.
"Benarkah?" tanya Senja polos.
Lara menganggu. Menjawab pertanyaan sang adik hanya dengan anggukan. Ia takut. Takut kalau ia menjawab dengan mulutnya sendiri. Ia tak mampu lagi membohongi sang adik.
"Baiklah! Mulai saat ini, Senja janji gak bakalan jadi anak yang bandel."
Senja lantas berlari saat melihat rumah mereka yang sudah dekat. Membuka gerbang dengan tergesa-gesa.
"Mama! Senja pulang," teriak Senja dari ambang pintu.
"APA KAMU BILANG? SEMUA KESIALAN KAMU ITU BERASA DARI KU?"
Suara teriakan seorang wanita menyambut kepulangan Lara dan Senja saat sampai di depan pintu.
Senja yang terkejut, mau tak mau mulai mundur perlahan. Punggung kecilnya menabrak badan sang kakak yang berada tak jauh dari dirinya.
"Me-me-mereka bertengkar lagi, Lara," lirih Senja. "Kau berbohong. Kau bilang, mereka tidak akan bertengkar lagi."
Tubuh senja bergetar kecil. Perlahan tangannya mulai menutup kedua kupingnya.
"IYA. SEMUA KESIALANKU BERASAL DARIMU."
"HAH. APA KAU LUPA, EVAN? SEMUA KESIALANMU BERASAR DARI WANITA JALANGMU ITU. KALAU SAJA DIA TIDAK KAU BAWA KE SINI, PASTI SEMUA INI TIDAK TERJADI."
Plak
Suara tamparan jelas terdengar ditelinga Lara. Ia mulai menarik mundur sang adik. Memeluknya erat. Menyalurkan kehangatan yang ia pikir bisa membuat adiknya tenang.
"Sttttt! Tenang, Senja! Aku di sini," ucap Lara pelan sambil mengusap kepala adiknya pelan.
Badan Senja tak kunjung berhenti bergetar, membuat Lara semakin bergerak gelisah melihat sang adik.
"Senja! Lihat aku."
Lara membalik badan Senja agar menghadapnya. Meletakkan kedua tangannya di pipi sang adik.
"Jangan takut, okey! Aku di sini, bersamamu," ucap Lara menenangkan.
"Sekarang kamu tutup mata kamu, nyanyiin lagu yang paling kamu suka sambil terus nutup kedua telinga kamu," pinta Lara sambil terus mengusap kepala sang adik.
Senja mengangguk paham. Ia mulai munutup matanya sambil menggumamkan sesuatu.
"Bernyanyilah sedikit kencang!"
Satu satu
Senja sayang mama
Dua dua
Senja sayang papa
Tiga tiga
Senja sayang lara
Badan Lara bergetar menahan tangis saat mendengar suata nyanyian Senja. Ia mulai mendekap Senja erat. Menyalurkan kekuatan untuk membuat adiknya tak takut lagi.
"JAGA BICARAMU! DIA BUKAN ******, ELISA. DIA WANITAKU. WANITA YANG MAMPU MEMBAHAGIAKANKU, TIDAK SEPERTIMU."
Lara melihat sang Papa keluar dengan tergesa-gesa dari rumah. Sanking tergsanya, ia sampai tidak melihat keberadaan dua kakak beradik tersebut.
Teriakan kencang sang Mama semakin membuat getaran tubuh di badan Senja semakin hebat. Lara terus memeluk tubuh Senja, memberikan adiknya kekuatan untuk menahan semuanya.
"Senja, ayo kita masuk. Papa sudah pergi," bisik Lara.
Ia mulai menuntun adiknya masuk rumah. Tetap memberikan usapan pelan di kepala sang adik sekadar untuk menenangkannya.
Prang
Sebuah vas bunga mendarat sempurna di dekat kaki Lara. Pecahan beling menancap apik di bagian tumitnya. Membuat darah segar mengalir dengan deras dari sana.
"La-Lara, kakimu," ucap Senja terbata.
Lara hanya melirik kakinya sekilas. Menggerakkan kakinya untuk menyingkirkan pecahan kaca yang bisa mengenai kaki Senja.
"Tetap berjalan, Senja! Jangan melihat ke mana pun," balas Lara setengah berbisik.
"LARAAAAAA!"
Suara sang Mama mengejutkan mereka berdua. Langkah mereka terhenti seketika, namun tak kama kemudia Lara mulai melanjutkan langkah kakinya. Menuntun sang adik untuk terus berjalan ke kamarnya.
"Tetap tutup kupingmu sambil menyanyi," pinta Senja sambil terus menatap kebelakang, takut-takut Mamanya mengikuti mereka.
"Lara, kau tidur bersamaku, kan?" tanya Senja saat sudah berada di depan pintu.
Senja tidak menjawab. Ia membuka pintu dengan cepat, lalu mendorong Senja masuk bersama dengan dirinya. Ia mengunci pintu kamar dari dalam, lalu menghidupkan lampu tidur agar kamarnya tidak terlalu terang.
Suara teriakan sang mama beserta barang pecah tetap tidak berhenti. Senja semakin memperkuat suara nyanyiannya sambil terus menutup mata.
"Sttt, Senja! Lihat aku!"
Suara Lara membuat Senja membuka mata. Ia lalu menatap kakaknya yang membawa kota radio usang.
"Dengarkan ini," ucap Lara sambil menghidupkan radio.
Suara nyanyian yang sama persis dinyanyikan Senja tadi mulai memenuhi ruangan.
"Apa sudah tidak dengar?"
Senja yang tahu ke mana arah pertanyaan sang kakak mengagguk pelan. Perlahan, Lara mulai mendekati sang adik, mengajaknya berbaring sambil menyelimutinya.
"Tidurlah!" pinta Lara.
Senja menurut. Ia mulai menutup matanya, tapi tak lama kemudian ia bangkit secara tiba-tiba, membuat Lara yang akan ikut terpejam kembali bangun.
"Lara! kakimu," seru Senja panik.
Ia lalu turun secara tergesa dari tempat tidur. Menuju salah satu nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Membuka salah satu laci, mengambil kotak dari dalamnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lara bingung.
Senja mengabaikan pertanyaan kakaknya. Ia tetap berjalan dalam diam sambil terus mendengarkan lagu dari radio usang yang ntah dari mana di dapat kakaknya.
Ia berlutu di hadapan sang kakak.
Mengambil salah satu kaki kakaknya dan membawanya ke atas lutut.
"Kakimu luka, Lara," katanya lirih. "Bagaimana aku bisa tidur kalau kakimu luka."
Ia mulai membersihkan kaki Lara. Membuang serpihan kaca yang masih menempel di tumitnya lalu membersihkan lukanya menggunakan alkohol diakhiri dengan menempelkan perban.
Lara hanya menatap adiknya. Ia terus memperhatikan sang adik tanpa ingin berkata-kata.
"Mulai hari ini, Senja yang bakalan jagain Lara. Laranya senja gak bakalan pernah lagi terluka, itu janji Senja," ucap Senja semangat.
Lara hanya tersenyum. Mengusap kepala adiknya lembut sambil terus tersenyum.
"Tidurlah!" ujar Lara.
Senja mengangguk, menaiki tempat tidur lalu berbaring menatap langit. Menghiraukan Lara yang mulai ikut berbaring di sampingnya.
"Lara, setelah ini, bisa kita bahagia?" tanya Senja.
"Tentu. Esok hidup kita pasti bahagia, Senja," jawab Lara bohong.
Lidahnya merasa kelu saat menjawab pertanyaan sang adik. Ia tidak bisa berbohong di hadapan Senja. Senja berbeda. Ia berbeda dari anak-anak seusianya. Senja terlalu dewasa di usianya dan itu membuat Lara tak mampu berkutik di depan Senja.
"Kau berbohong lagi, Lara." Senja berbalik, menatap mata coklat sang kakak yang juga melihatnya.
"Jangan pernah berbohong lagi! Tetap lah jujur walau kenyatan itu pahit, Lara," ucap Senja sambil mengusap air mata yang mulai menetes dari mata Lara.
"Good night, Lara."
Senja berbalik. Memunggungi Lara yang masih setia menata punggung sang adik sambil terus menangis dalam diam.
Ia mulai merasa takut. Takut dengan dirinya. Takut dengan dunia yang membuat dia merasa bosan. Ia lalu mengambil selimut, menyelimuti Senja sambil mengecup keningnya pelan seraya berbisi, "Night too, Senja."
.
.
.
.
Hai hai hai
Astagaaaa. Ini pertama kali aku nulis giniaaan. Bombayah banget euyyyy. Astaga.
Jangan lupa vomentnya semuaaa. Terima kasih udah mampir. Mwaaahh.
Ketjup manjah
Megabite