LARA

LARA
Part 50



Alan memacu kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, beberapa kali hampir nabrak dan tidak sedikit juga dia memaki pengendara lain.


Perjalanan yang di lalu tidak terlalu lama, hingga akhirnya Alan sudah sampai di kediaman Dara.


Alan langsung turun dari kendaraan, tanpa perduli dia menyimpan kendaraan menghalangi jalan atau tidak.


Setelah berada di depan pintu, Alan langsung mengetuk nya. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban, dia ulangi lagi hingga akhirnya pintu terbuka.


Setelah melihat siapa yang membuka pintu, Alan langsung menerobos masuk tanpa permisi terlebih dahulu.


"Sayang... di mana kamu" Alan berkata sambil mondar-mandir mencari keberadaan Dara.


"Maaf Pak, Ibu sudah tidur" kata Meli.


"Kamu bohong kan, tolong bangun Mel... " kata Alan dengan penuh permohonan.


"Nanti saja besok ke sini lagi, ini sudah malam nggak enak sana tetangga" jawab Meli.


"Saya perlu bicara sama Dara, mana bisa pulang sebelum bertemu dengan nya" kata Alan, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Besok lagi ya, Pak... " ucap Meli dengan nada bicara yang lembut, dia takut Alan nekat dan membuat keributan serta mengganggu tetangga sekitar.


"Ayolah, Mel... bantu aku bujuk Dara agar mau bertemu dengan ku, akan ku jelaskan semuanya agar tidak terjadi salah faham. Semua yang tadi di lihat itu tidak benar" kata Alan.


"Ya sudah Bapak tenang silahkan duduk dulu!" kata Meli mempersilahkan Alan untuk duduk terlebih dahulu.


Alan duduk di sofa sambil menyandarkan tubuh nya dan mendongak ke atas langit-langit yang ada di ruangan tersebut, sungguh dia sudah kehabisan cara untuk bisa bertemu dengan Dara dan menjelaskan semuanya.


Setelah beberapa saat, Meli kembali dengan membawa cangkir kopi.


"Di minum dulu,Pak.Semoga setelah ini bisa lebih tentang" kata Meli sambil meletakkan kopi di atas meja.


Alan menatap cangkir kopi tersebut, apakah rasanya akan sama seperti yang sering di minumnya di rumah ini. Sebab selama ini setiap datang ke rumah ini yang membuat kopi itu Dara bukan Meli.


Tidak ada niat sedikitpun untuk meminum nya, setelah cukup lama akhirnya dia bangkit dari duduk nya.


"Mel... " panggil Alan.


"Iya Pak.. " Meli menyaut dari arah belakang.


"Saya pulang dulu, nanti besok pagi balik lagi sekalian jemput " kata Alan.


"Iya Pak" jawab Meli singkat.


Alan berjalan perlahan dengan wajah kusut dan langkah gontainya, dia sebenarnya tidak ingin pulang sebelum bertemu dengan Dara tetapi apalah daya.


Dia juga menghargai keputusan Dara, semoga besok lebih tenang ada waktu untuk mereka berbicara dengan kepala dingin.


Alan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang dengan pikiran yang tidak karuan, pulang tidak akan membuat dirinya lebih tenang.


Alan mengendarai mobil nya muter kota tanpa arah dan tujuan hingga berhenti di jalan yang sepi, meminggirkan kendaraan nya.


Dia merenung di tempat tersebut, di dalam gelapnya malam.Dia sangat menyesal kenapa nggak jujur dari dulu, mungkin jika jujur hal ini tidak akan terjadi.


Setelah cukup lama merenung di dalam kegelapan, hari juga sudah hampir pagi. Dia lajukan kembali kendaraan nya, meski belum ada tujuan.


*****


Pagi hari


"Ayok cepetan Mel... sudah siang ini" Ajak Dara terhadap Meli.


Setelah beberapa saat mereka keluar dari rumah dengan membawa beberapa koper, semalam Dara tidak tidur dia mempersiapkan semuanya. Mungkin ini jalan terbaik untuk meninggalkan kota ini, dia berniat untuk pulang ke kampung halaman di sana juga masih ada sang Bibir yang selalu merindukan kedatangan nya.


Setelah menikah dengan Dika dan selama setahun Dara berstatus janda, belum ada waktu untuk berkunjung ke rumah Bibi.Mungkin ini waktu yang tepat untuk pergi ke sanah, sekalian menenangkan pikiran.


Dara dan juga Meli berjalan perlahan keluar rumah sambil membawa beberapa koper.


Kendaraan yang di pesan sudah menunggu mereka, dan barang-barang yang mereka bawa sudah di masukan ke dalam bagasi.


Setelah semuanya selesai Dara memberi intruksi terhadap Pak sopir untuk melajukan kendaraan nya.


Kendaraan malaju dengan kecepatan sedang, Setelah sampai di depan gerbang komplek perumahan berpapasan dengan mobil Alan.


"Bu itu kan mobil nya Pak Alan" tunjuk Meli terhadap kendaraan yang berpapasan.


"Biarin lah... " jawab Dara acuh, seolah dia sudah tidak perduli lagi dengan Alan. Terlalu besar rasa kecewa yang di miliki Dara untuk Alan.


"Kasian Bu... pasti dia khawatir banget nanti nyari-nyari bagaimana" ucap Meli.


"Aku juga mampir ke kantor dulu, pasti nanti ketemu di sanah" jawab Dara.


"Ibu mau ke kantor dulu? " tanya Meli.


"Iya, sekalian nganterin surat pengunduran diri. Mulai sekarang kita akan hidup di lingkungan baru dan memulai semuanya dari awal, terimakasih ya Mel.. kamu terus bersama ku dalam keadaan apapun" kata Dara sambil menatap lekat wajah Meli, dia sangat setia mendampingi Dara.


"Bu, perusahaan yang di pegang Pak Dika itu kan punya Farel terus kalau di tinggalkan ke enakan dong si pelakor itu menguasai semuanya" ucap Meli.


"Aku nggak mikirin itu, yang terpenting sekarang mendapatkan kenyamanan dan tidak terjebak di dalam kebohongan-kebohongan" jawab Dara sambil menatap ke arah luar.


Setelah beberapa saat kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki area perkantoran, di mana Dara sudah ada janji dengan Winda dan sudah di tunggu.


Setelah sampai Dara turun dari kendaraan, untuk menuju Winda yang sudah menunggu nya.


"Maaf yah, sudah nunggu lama ya" ucap Dara terhadap Winda yang sudah menunggu beberapa menit.


"Nggak apa-apa, toh ini masih pagi belum waktunya untuk masuk kerja" jawab Winda.


"Maafin aku jika selama ini selalu membuat mu repot dengan apa yang terjadi, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Aku tidak akan pernah melupakan semua jasamu" kata Dara sambil menatap lekat wajah Winda, dalam hati kecilnya tidak rela jika harus berjauhan dengan nya. Dara sudah menganggap Winda itu saudara nya, sebab yang selalu ada di saat Dara terpuruk.


"Terus kamu nanti nggak hadir di acara pernikahan ku" kata Winda.


"Belum tahu soal itu, semoga aku bisa hadir di hari bahagia kamu"jawab Dara sambil tersenyum tipis ke arah Winda, sahabat sejatinya.


" Jaga diri baik-baik, kabari kalau sudah sampai"pesan Winda terhadap Dara.


"Aku nitip itu yah, tolong kasih ke Pak Alan dan sampaikan juga maafku untuk nya surat itu ku titip sama kamu" kata Dara.


"Akan aku sampaikan" jawab Winda.


"Aku permisi sekarang, kasihan Pak sopir sudah menunggu lama" kata Dara, lalu mencium pipi kiri dan kanan Winda. Rasa sedih menyelimuti hati Winda, dia akan terpisah dengan sahabat sejatinya.


Winda mengikuti langkah Dara untuk menuju kendaraan yang akan mengantarkan nya ke stasiun, sebab Dara akan naik kreta.


"Hati-hati" pesan Winda saat Dara sudah berada di dalam kendaraan.


Winda melambaikan tangan saat kendaraan mulai melaju, untuk segera pergi meninggalkan area perkantoran.


Winda mengusap ujung matanya yang sudah di penuhi cairan bening, dari tadi di tahan agar tak menangis di dengan Dara.


Setelah beberapa saat Winda berdiri, hingga kendaraan yang di tumpangi Dara sudah tidak terlihat lagi.