
Waktu bergulir begitu cepat, satu tahun telah berlalu.
Alan dan Dara semakin dekat, sekarang mungkin hati Dara telah terbuka untuk Alan. Mereka sudah berencana akan membawa hubungan mereka jenjang pernikahan, dan selama satu tahun Dara bersama Alan. Dia tidak pernah tahu keluarga Alan, dan Dara tidak pernah bertanya soal itu bahkan untuk di ajak ke rumah orang tuanya saja Dara belum pernah.
Bahkan seolah kehidupan pribadi Alan tertutup, tidak ada satu orang karyawan yang mengetahui keberadaan orang tua Alan, bahkan yang menurut kabar boutique yang di miliki ibunya Alan. Mereka yang bekerja di sanah tidak pernah tahu keberadaan nya di mana, apalagi karyawan kantor.
Tetapi mereka sempat bertemu dengan Ayah nya Alan, sebelum perusahaan ini di ambil alih oleh Alan.
Dara tidak pernah meminta untuk bertemu dengan kedua orang tua Alan, dia selalu berfikir jika Alan serius dan ingin menjadikan nya seseorang yang paling berharga di dalam hidupnya, maka tidak akan di minta.
Hari ini seperti bisa Dara akan berangkat ke kantor sambil mengantar Farel ke sekolah, sengaja Dara menyekolahkan Farel di tempat satu arah perjalanan ke kantor. Agar sambil ke kantor bisa mengantar Farel ke sekolah.
"Yuk sayang, kita tunggu di depan! " ajak Dara terhadap sang anak, sudah menjadi rutinitas tiap hari menunggu jemputan ke kantor di teras rumah.
"Iya, Ma... " sabut Farel mengikuti sang Mama untuk segera keluar rumah, Farel dengan menggendong tas sekolah dan pakaian lengkap. terlihat sangat rapi dan ganteng bagi anak seusia nya.
Dara dan Farel sudah menunggu jemputan di depan rumah, setelah beberapa saat sudah berhenti mobil mewah di depan rumah. Itu pertanda jemputan sudah datang.
Dara dan juga Farel bangkit dari duduknya, lalu mereka berdua bangkit dari duduk nya lalu berjalan perlahan untuk segera mendekat ke arah kendaraan yang akan mengantarkan mereka.
Setelah dekat dengan kendaraan.
"Silahkan masuk Bu...! " perintah pak sopir, Dara kaget melihat orang yang datang menjemputnya bukan Alan.
"Ko bukan Mas Alan? " kata Dara sambil menatap lekat wajah sopir tersebut.
"Maaf Bu, saya di utus Pak Alan untuk menjemput, katanya Pak Alan lagi ada urusan jadi tidak bisa menjemput ibu terlebih dahulu" jawab Pak Sopir.
"Iya nggak apa-apa, padahal jika lagi sibuk tinggal bilang saja biar saya naik kendaraan umum" kata Dara.
Dara dan juga Farel sudah berada di dalam kendaraan, mereka sudah siap untuk pergi.
Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang, suasana pagi yang sangat indah. Perjalanan yang mereka lalui sudah mulai di padati dengan kendaraan, kendaraan yang membuat indah jalan itu yang membuat Dara menikmati pagi di perjalanan.
Bagi Dara di dalam perjalanan mau macet mau lancar perjalanan itu sangat menyenangkan, sebab itu semua menjadi kesan yang indah di setiap perjalanan.
Dara tidak berhenti tersenyum melihat ke arah jendela, sungguh tidak menyangka jika hidupnya akan seperti ini di perlakukan bagaikan putri raja. Yang sebelum nya tidak pernah merasakan hal seperti ini, jangan kan di antar jemput untuk pergi ke kantor.Di tanya saja rasanya tidak pernah, sekarang Dara berada di titik balik saat dulu.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya sudah sampai di sekolah Farel.
Dara turun terlebih dahulu untuk mengantarkan Farel sampai ke depan kelas, setelah Farel masuk.
Dara kembali ke tempat parkir untuk segera melanjutkan kendaraan nya, agar segera sampai di kantor.
Pak sopir mulai melajukan kendaraan nya untuk segera sampai di kantor, setelah beberapa saat di dalam perjalanan akhirnya mobil yang di tumpangi Dara sudah sampai di area parkir kantor.
"Apa kabarnya? " tanya Dara terhadap Winda, sejak mereka beda departemen sudah jarang bertemu.
Mereka bertemu hanya di acara tertentu atau janjian untuk bertemu.
Winda sekarang sudah menjadi calon Istrinya Tony, mungkin jodohnya adah dia.
"Rencana pernikahannya bagaimana? " tanya Dara.
"Lancar, hanya saja ada beberapa yang belum selesai" jawab Winda.
"Semoga lancar sampai hari H, hanya doa yang bisa ku bantu buat kamu, lagipula kamu kan nggak butuh bantuan apapun dari aku" kata Dara sambil tersenyum menatap wajah sahabatnya, tidak menyangka Tony bisa jatuh cinta sama Winda. Wanita gendut dan doyan makan bisa membuat Tony jatuh cinta, memang cinta itu buta. Terkadang mereka tidak mempermasalahkan fisik untuk jatuh cinta terhadap seseorang, bahkan tidak sedikit orang yang jatuh cinta tanpa harus melihat dahulu fisik orang tersebut. Kerena cinta datang dari hati bukan dari mata kaki.
"Terimakasih ya, Dar... semoga kamu juga cepat nyusul" ucap Winda sambil tersenyum tipis ke arah sahabatnya itu.
"Amiin, yuk kita ke ruangan! " ajak Dara tehadap Winda, mereka sudah cukup lama ngobrol di parkiran hingga lupa ternyata waktu masuk kantor telah tiba.
Dara dan Winda jalan beriringan untuk segera masuk ke ruangan masing-masing, setelah beberapa saat mereka berpisah dan akan menuju ruangannya.
Setelah beberapa saat Dara sudah berada di depan ruangan kerjanya,dia langsung membuka pintu.
Ketika pintu terbuka dia sangat kaget melihat ruangan yang di penuhi bunga-bunga dan satu kotak merah di atas meja kerja.
Dara melangkah dengan perlahan lalu melihat ke sekeliling tidak ada orang .
Dia terus mendekat ke meja kerja lalu mengambil kotak merah dan di buka ternyata sebuah cincin bermata berlian, Dara kaget dengan yang di lihatnya sebab Dara tidak paham dari maksud dari semua ini.
Dara tutup kembali kotak itu dan di simpan lagi di atas meja, dia terus melihat ke sekeliling. Masih tidak ada petunjuk apapun, hingga pandangan nya terfokus pada kertas yang ada di bawah pas bunga.
Dara mendekat ke arah itu, lalu mengambil kertas tersebut lalu di buka.
"Nanti malam kamu harus hadir di kafe x, nanti sopir yang akan menjemputnya jangan lupa pakai cincin nya. Hari ini aku nggak bisa ke kantor ada acara yang tidak bisa di tinggal kan! " tulis Alan di kertas kecil tersebut.
"Dasar aneh" ucap Dara dalam hati.
Setelah membaca semua itu, Dara menaruh kembali kertas tersebut dan berjalan menuju meja yang terdapat kotak merah.
Dara mengambil kembali kotak berwarna merah dan di buka, dia ambil cincinnya lalu di masukan ke jari manis ternyata pas.
Setelah beberapa saat dia akan membuka kembali cincin itu dan ternyata nggak bisa di buka.
"Astaga... kenapa nggak bisa di buka, apa cincin nya terlalu kecil kenapa juga aku pakai cincin ini dasar bodoh" Dara berkata sendiri.