LARA

LARA
Part 16



Dengan di kuasai amarah Dika pun m3r3m4s kedua gunung kembar yang di miliki Dara, sakit mungkin itu yang di rasakan. Tetapi Dika malah semakin menjadi, dia menarik kemeja sang istri hingga semua kancing nya terlepas. Dika seperti orang kesetanan selalu menyiksa lahir dan batinnya Dara.


Bagi Dika bercinta dengan Dara dengan cara seperti ini sangat mengasikkan, beda lagi dengan Dara. Air mata nya terus mengalir selama Dika memperlakukan nya dengan cara seperti ini.


Pasti setelah ini banyak sekali luka lebam atau yang lainnya yang terdapat di tubuh Dara.


Setelah beberapa saat Dika sudah mencapai puncaknya, dia pun menjatuhkan tubuhnya di samping Dara.


Dara bangun dengan langkah malasnya untuk segera menuju kamar mandi ,dan membersihkan diri.


Setelah beberapa saat akhirnya keluar ,dan menganti bajunya lagi sebab yang tadi kancing nya sudah lepas semua.


Dika sudah tidak ada di kamar ini, dengan buru-buru Dara pun bersiap kembali untuk segera berangkat.


Setelah selesai dengan semuanya, Dara berjalan keluar kamar untuk segera pergi ke kantor. Setelah sampai di depan ternyata Dika belum berangkat ke kantor.


Dara berusaha tidak perduli, dia melewati Dika untuk segera menuju kendaraan online yang di pesannya.


Belum juga melewatinya "Masuk! mau ke mana kamu! " Dika memberi perintah terhadap Dara untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Nggak salah dengar, kan...! sejak kapan satu mobil? " tanya Dara balik, sambil menghentikan langkah dan menatap Dika dengan sinis.


"Bisa nggak sih, kalau suami ngomong nggak perlu di bantah. Mau jadi istri durhaka" kata Dika dengan sorot mata tajam.


"Tanggung sudah pesan taxi... " jawab Dara sambil pergi berlalu meninggalkan suaminya yang masih berdiri di dekat kendaraan yang akan di tumpangi nya.


Dika pun hanya bisa menatap punggung Dara yang sudah pergi berlalu masuk ke dalam taxi.


Setelah kepergian Dara, Dika pun akan segera pergi ke kantor. Tetapi langkah nya terhenti saat di panggil"Sayang.. ku boleh ikut yah? "Sherly meminta ikut ke kantor bersama Dika.


" Mau ngapain, aku kan mau kerja! "jawab Dika.


" Nanti siang mau kumpulan teman-teman, nanti berangkat nya dari kantor kamu nggak apa-apa kan! "tanya Sherly ulang.


" Ya sudah, masuk! "jawab Dika.


Mereka berdua sudah berada di dalam kendaraan yang sama, Dika sudah siap melajukan kendaraan nya untuk menuju kantor.


Dika pun melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, hingga untuk sampai di kantor pun tidak terlalu lama.


Ini baru pertama kali bagi Dika mengajak Dara dalam satu kendaraan, mungkin terdengar sangat aneh tetapi entah mengapa Dika ingin sekali mengajak Dara untuk pergi bersama.


Dika keluar dari kendaraan yang di tumpangi nya, di susul oleh Sherly. Sudah tidak heran lagi dan bukan cerita baru soal Dika membawa sherly ke kantor, hampir seluruh karyawan tahu bahwa sherly itu selingkuhan nya Dika. Bahkan masih banyak yang belum tahu Dara, sebab dia tidak pernah di ajak ke mana pun.


Dara selalu menjadi penunggu rumah, dia tidak mengetahui dunia luar. Awalnya Dara hanya ibu rumah tangga yang seutuhnya, ngurus rumah anak dan suami, satu tahun terakhir dia memutuskan untuk bekerja. Sebab suaminya tidak pernah memberinya uang, dari situ Dara berfikir bahwa alangkah lebih baiknya dia bekerja.


Dara pun meminta ijin terhadap suaminya dan itu pun di ijinkan, Dara memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan yang sedang membuka lowongan, dengan bekal ijazah yang di miliki dan pengalaman akhirnya ada perusahaan yang membutuhkan yang sesuai dengan kemampuan Dara.


*


*


*


Di tempat lain


Dara sudah sampai di perusahaan di mana tempatnya bekerja. Seperti biasanya jika Dara datang sudah pasti sahabat nya sudah menunggu di depan pintu"Selamat pagi kesayangan bos"sapa Winda terhadap Dara.


"Pagi juga" jawab Dara tersenyum manis ke arah Winda.


Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam kantor secara bersama, tidak lupa dalam perjalanan menuju ruangan selalu di penuhi canda tawa di antara keduanya.


Hingga pada akhirnya Winda mengetahui bahwa di tubuh Dara terdapat luka lebam kembali.


"Dar... sampai kapan kamu bertahan dengan keadaan seperti ini, bukan hanya fisik yang di siksa tapi batin juga... ayolah lepasin dia. Aku sebagai sabat kamu tidak ikhlas setiap hari melihat kamu seperti ini" kata Winda sambil menatap nanar sahabatnya itu.


"Ya terus aku harus bagaimana.... lelah win tapi tidak bisa melakukan apapun, jika pergi nanti Farel bagaimana? sedangkan aku nggak bisa jika harus jauh darinya! " Jawab Dara.


"Jika kamu butuh bantuan aku siap membantu, dan untuk sewa pengacara seperti yang pernah kamu bilang. Uang di tabungan aku lebih dari cukup untuk menyewa pengacara silahkan kamu pake saja" Winda mengambil buku tabungan beserta ATM, lalu di serahkan kepada Dara.


"Nggak perlu seperti ini, aku juga lagi ngumpulin uang buat semuanya" Dara menolak nya, dia merasa tidak enak dengan sahabat nya itu.


"Nggak perlu menolak nya, silahkan kamu pake jika suatu saat kamu sudah punya cukup uang maka boleh kembali kan buku tabungan nya kembali, untuk pasword nya itu tanggal lahir nya aku" kata Winda sambil tersenyum tipis ke arah Dara.


"Terimakasih ya Win... kamu sudah banyak membantu aku, nggak tahu harus membalas nya dengan cara seperti apa" jawab Dara, sungguh dia merasa di sayangi dan di anggap ada, ternyata di dunia ini masih ada orang baik seperti Winda. Dara tidak menyangka bisa bertemu dengan orang baik seperti Winda.


Mereka berdua pun sudah sampai di mana kedua nya harus berpisah, sebab ruangan mereka sekarang tidak lagi bersama.


Akhirnya Winda pun masuk ke ruangan nya, sedangkan Dara masih saja harus terus berjalan untuk menuju ruangan nya, Dara harus pergi ke lantai paling atas untuk sampai di ruangan nya.