
Ketiga orang tersebut pun masuk ke dalam kafe, dan menuju tempat yang sudah di pesan.
Setelah semuanya berada di dalam kafe, dan memulai pembicaraan bisnis.
Setelah beberapa sesaat pembicaraan bisnis pun telah selesai.
Mereka semua keluar dari kafe, dan akan segera pulang kerumah masing-masing. Mengingat waktu juga sudah sore dan sudah saat nya pulang kantor.
"Pak saya akan pulang naik taxi saja! " kata Dara terhadap Sang Bos.
"Tidak perlu naik taxi, kamu akan di antar oleh jojo" ucap Alan.
"Nggak perlu Pak... lebih baik naik taxi saja, lagi pula nanti bapak pulang sama siapa? " tanya Dara.
"Saya akan pulang bersama Pak Tony" Jawab Alan sambil menatap ke arah Tony dan memberi isyarat, Tony pun langsung paham apa yang di maksud sang bos.
"Iya, Dar... kebetulan kami juga masih ada keperluan yang lain, jadi kamu pulang di antar jojo" kata Pak Tony berusaha meyakinkan Dara, agar mau di antar sopir nya untuk pulang.
Dara pun tidak bisa menolak nya, apalagi ada Pak Tony di hadapan nya.
Dara mengambil ponsel nya lalu mengirim pesan kepada Alan.
"Pangeran kodokš¤£, Jika saya pulang di antar jojo sudah pasti suami saya marah" isi pesan yang di kirim Dara terhadap Sang bos.
"Jangan khawatir dia tidak akan berani lagi, takut dia kerjasama nya di batal kan" Alan membalas pesan Dara.
"Ya udah terserah pangeran kodok saja, saya manut" balas Dara lagi.
"Bagus, sudah sepantasnya kamu nurut" Jawab Alan lagi.
Acara kirim pesan antra Dara dan Alan pun sudah selesai.
Dara pun berpamitan untuk segera pulang ke rumah mengingat waktu sudah semakin sore. Sudah pasti Farel menunggu dirinya, kebiasaan anak itu jika waktunya Dara pulang kerja sudah menyambut nya di teras rumah.
Waktu bergulir begitu cepat, Akhirnya Jojo pun sudah berhasil mengantarkan Dara dengan selamat sampai tujuan, Dara pun mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mengantarkan dia pulang.
Dara turun dari mobil, lalu berjalan perlahan untuk segera menuju pintu masuk.Baru juga dia akan membuka pintu,tetapi pintu sudah terbuka.
"Di anatar siapa pulang nya? " tanya Dika terhadap Dara.
"Buka urusan kamu! lagian sejak kapan kamu peduli sama aku? " ucap Dara sambil pergi berlalu meninggalkan suaminya yang berdiri di ambang pintu, tetapi usaha nya sia-sia.
"Apa yang mesti di jawab, nggak ada! " kata Dara lagi.
Baru juga Dika akan menampar Dara, ponsel yang ada di sakunya berdering dan dia pun menggantungkan tangannya, lalu mengambil ponsel nya.
"Hallo, siapa ini? " tanya Dika terhadap sang penelepon itu.
"Berani kamu menyentuh Dara apalagi sampai terluka, maka kamu akan berurusan dengan saya dan dengan hitungan jam perusahaan yang kamu pimpinan akan jatuh bangkrut, sudah pasti mereka akan menarik semua
sahamnya, setelah tahu bahwa perusahaan di mana mereka menanam saham adalah tidak lain dari seorang kriminal dan seorang pecundang yang beraninya terhadap perempuan" kata penelepon di sebrang Sanah.
Setelah berkata seperti itu, panggilan pun berakhir.
Dika mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak bisa membayangkan jika perusahaan nya sampai gunung tikar. Masalah yang sekarang juga sudah rumit, dan hampir oleng untung saja Alan mau membantunya setelah tahu bahwa perusahaan itu milik Farel anaknya Dara.
Jika saja nantinya Dika melakukan kecurangan sudah pasti Alan akan mengambil alih perusahaan itu.
Mira tidak mengetahui bahwa Alan yang sudah menyelamatkan perusahaan milik Farel, yang dia tahu hanya kerjasama biasa.
*
*
*
Satu minggu telah berlalu.
Dika di kaget kan dengan sebuah map yang berwarna coklat dengan di dalam nya terdapat sebuah surat dengan kop pengadilan Agama.
"Ternyata dia benar membuktikan ucapan nya" Dika berbicara sendiri, dia tidaka menyangka bahwa Dara akan melakukan ini, yang selama ini diam dan tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada siapa pun. Ternyata dugaan Dika salah bahwa Dara tidak akan sampai nekad untuk menggugat cerai.
Entah apa yang terjadi di dalam diri Dika, dia merasa tidak iklas jika harus berpisah dengan Dara. Baru membayangkan nya pun sudah tidak sanggup apalagi sampai terjadi.
Apakah sudah ada rasa cinta Dika untuk Dara tetapi itu semua sudah terlambat.
Dara orang yang selalu diam jika di perlakuan tidak baik,dia memberi kesempatan terhadap orang tersebut untuk bisa menyadari kesalahannya tetapi jika waktu yang sudah di berikan tidak mampu mengubah orang tersebut maka dia sendiri yang akan pergi.
Bagi Dara sudah tidak ada kata maaf dan ampun lagi bagi orang-orang yang pernah menyakiti nya, Dara bukan dendam hanya saja sudah malas. Berurusan dengan orang-orang yang selalu berbuat dzalim terhadap nya, sudah cukup selama ini dia diam dan sabar menerima semua perlakuan dari suaminya.
Dara sudah mantap dengan keputusan nya, berkat bantuan dari Alan juga dan semua bukti perselingkuhan Dika dengan Sherly itu yang menjadi alasan Dara menggugat cerai dan untuk hak asuh anak sudah di pastikan akan jatuh ke tangan Dara.