LARA

LARA
Part 49



Seketika keseimbangan tubuh Dara hilang, rasanya kaki sudah tidak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.


Dia mundur beberapa langkah sambil mencari pegangan, sungguh tak mampu lagi untuk berdiri.


"Ada apa? " tanya Winda dia belum melihat posisi Alan, sebab terhalang beberapa meja. Entah bagaimana caranya Dara langsung melihat ke arah itu.


"Dia bohong, Win" kata Dara dengan suara yang sangat lembut, dia berusaha untuk menahan tangis.


"Siapa yang bohong dan kenapa kamu tiba-tiba seperti ini" tanya Winda lagi.


Dara tidak menjawab hanya menunjuk ke arah di mana Alan berada, saat Winda melihat Alan sudah bangun dari tempat duduknya untuk mendekat ke arah Dara.


Dara yang sudah tidak kuasa lagi berada di dalam, dengan kekuatan tenaga dan tekad yang kuat.


"Pulang sekarang Win! " ajak Dara terhadap sahabat nya itu, dan Winda juga langsung mengerti apa yang terjadi dengan Dara.


Meli juga mengikuti dari belakang, dengan cepat mereka sudah berada di tempat parkir.


Setelah berada di dalam kendaraan, Dara langsung menyandarkan tubuhnya di jok mobil.


"Ternyata sesakit ini kah, selama ini aku berusaha untuk tidak jatuh cinta dengan Mas Alan dan aku selalu bilang pada diri sendiri bahwa aku tidak pernah ada rasa dengan nya. Sekuat tenaga dan pikiran ku untuk tidak jatuh cinta dengan siapa pun, sebab hal ini takut terjadi dan sekarang terjadi. Sakit Win saat melihat ada wanita lain bersama nya" kata Dara sambil berurai air matanya.


"Bisa saja ini hanya salah faham, jangan mudah percaya hanya dengan melihat sebab yang di lihat dan di dengar belum tentu juga keadaan yang sebenarnya" ucap Winda berusaha untuk menenangkan nya.


"Salah paham bagaimana, sudah jelas dia, memegang tangan wanita itu dan ada anak kecil juga siapa coba kalau bukan istrinya, selama ini dia bersama ku. Belum pernah membawa ku ke rumah nya di kenalkan terhadap kedua orang tuanya, ternyata ada yang dia sembunyikan" Dara bicara sambil terus berurai air mata nya, ternyata gagal nya pernikahan dengan Dika membuat dia seperti ini.


"Sabar, semoga ini tidak seperti dengan yang apa yang kita lihat" kata Winda sambil mengelus pundak nya Dara.


Setelah beberapa saat Winda akan melajukan kendaraan nya, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil Winda dan ternyata itu Alan.


"Buka sebentar, ini tidak seperti yang kamu lihat aku bisa jelaskan semuanya" kata Alan dari arah luar.


"Ayok cepat pulang! " perintah Dara terhadap Winda.


"Tapi dia" jawab Winda sambil melihat ke arah luar, dan Alan terus mengetuk kaca mobil.


"Kenapa kamu lebih peduli sama dia" kata Dara


"Ayolah sayang... Kita perlu bicara terlebih dahulu" kata Alan dengan penuh permohonan.


Winda bingung harus bagaimana, daripada Dara semakin marah dan tidak terkendali lebih baik Winda mengikuti apa yang di Minta nya.


Winda mulai menginjak gas dengan perlahan dan kendaraan melaju dengan kecepatan sedang.


Alan terus mengejar kendaraan yang di tumpangi Dara sambil berteriak memanggil-manggil nama. Tetapi tidak di hiraukan, Alan sudah frustasi tampilan nya sudah acak-acakan satu hal yang di takut kan nya sudah terjadi dan sudah bisa di pastikan bahwa Dara tidak pernah bisa memaafkan nya.


Alan kembali ke dalam restoran dengan tampilan yang sangat kusut, sungguh tidak bisa membayangkan setelah ini hidupnya jika tanpa Dara.


"Kamu baik-baik saja kan? " tanya Novia saat melihat Alan dengan tampilan yang berantakan.


Alan tidak menjawab pertanyaan dari Novia dia hanya menggelengkan kepala nya, sungguh frustasi hidup nya pada saat ini. Setelah beberapa saat diam sejenak dan tidak ada yang berbicara sepatah kata pun.


"Baiklah" jawab Novia.


Mereka bertiga keluar dari restoran tersebut dengan tujuan langsung pulang ke rumah.


Setelah berada di dalam kendaraan, Alan memacu kendaraan nya dengan kecepatan tinggi.


Seperti orang yang sudah tidak waras dan dia melupakan bahwa ada dua nyawa yang di pertaruhkan nya di dalam kendaraan. Bisa saja nyawa mereka melayang akibat Alan yang mengendarai dengan kecepatan tinggi, Novia yang duduk di kursi samping kemudi tidak berkata apapun dia percaya bahwa akan baik-baik saja.


Sepanjang perjalanan sudah beberapa kali Alan hampir menabrak, dan Novia tidak berani berkata apapun.


Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya, sudah sampai di rumah tujuan.


Novia dan Giska turun dari kendaraan tetapi Alan tidak.


Setelah Novia dan Giska turun, Alan langsung memarkirkan kendaraan nya kembali dan pergi meninggalkan rumah.Entah mau ke mana sebab tidak bicara sepatah kata pun terhadap Novia.


Setelah kepergian Alan, Novia melangkah kan kaki untuk segera masuk ke dalam rumah.


Setelah sampai di dalam dan ternyata sang mertua masih ada di ruang keluarga, bersama sang suami sedang menikmati acara televisi kesukaan nya.


"Sudah pulang? ko cepat amat" tanya Imelda terhadap Novia.


"Iya, Ma... kita cuma makan doang dan setelah itu pulang" jawab Novia.


"Terus Alanya Mana? "


"Pergi lagi katanya ada urusan penting" jawab Novia sambil duduk si sofa yang ada di ruangan itu, lalu menyandarkan tubuhnya.


"Apa yang terjadi? " tanya Imelda sambil menatap lekat wajah Novia, dia meminta penjelasan dengan apa yang terjadi.


"Tadi pas kita lagi di restoran tidak sengaja Dara melihat" Kata Novia.


"Terus"


"Dara seperti nya marah, terus Mas Alan mengejar keluar dan setelah cukup lama dia kembali dengan tampilan yang sangat kusut dan berantakan seperti orang yang frustasi. Di perjalanan juga dia memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi" Novia menjelaskan dengan apa yang terjadi malam hari ini.


"Pasti Alan ke rumah nya Dara, terus dia ngebut semoga tidak terjadi apapun dengan nya" kata Imelda sambil menatap lurus ke depan, dia takut terjadi sesuatu dengan Alan. Jika terjadi sesuatu dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, gara-gara nama baik keluarga tidak ingin tercoreng dia korban kan Alan demi menutupi ke buruk kan Aldo.


"Ada apa sih ko pada tegang? " tanya Djoko terhadap sang istri.


"Itu Alan Pak... dia ke rumah Dara dalam keadaan seperti itu pasti di ngebut, kalau terjadi sesuatu bagaimana? cepat susul! " kata Imelda terhadap sang suami.


"Susul ke mana? rumah nya saja nggak tahu di mana" jawab nya.


"Bisa tanya sopir atau siapa pasti mereka pernah di suruh Alan untuk menjemput Dara, Mama nggak akan tentang sebelum tahu keadaan nya" kata Imelda yang di penuhi dengan ke khawatiran.


"Percayalah tidak akan terjadi apa-apa sama dia" Pak Djoko berbicara dengan nada santai, seolah dia tidak perduli dengan Alan padahal di dalam hati sama mempunyai ketakutan seperti yang di rasakan istrinya.