LARA

LARA
Dunia Baru



"Laraa!"


Suara teriakan dari arah luar membuat Lara tersentak kaget. Ia panik. Ia tidak ingin Senja melihat ia dalam keadaan seperti sekarang.


"Laaraaa! Senja pulang."


Teriakan Senja semakin terdengar dekat. Ia menoleh ke segala arah, berpikir apa yang akan ia lakukan untuk membuat Senja tidak mengetahui keadaannya sekarang.


"Dapur," ucap Lara pelan.


"Benar, aku akan pergi ke dapur."


Ia berjalan tertatih ke arah dapur saat suara Senja benar-benar semakin dekat. Ia bisa merasakan kalau Senja kini telah memasuki rumah.


Ia berjalan cepat ke arah tempat pencucian piring, membasuh dengan tergesa-gesa wajahnya yang berlumuran darah.


"Sssttttt."


Suara menahan perih terus keluar dari bibirnya setiap kali membasuh wajahnya dengan air. Ia menggosok dengan kuat darah yang mulai mengering agar tidak meninggalkan bekas.


"Lara, apa yang kau lakukan?"


Deg


Lara membeku. Sekarang Senja tepat berada di belakangnya. Ia tak sanggup berbalik untuk menatap mata Senja. Ia tak ingin membuat Senja khawatir.


"Lara, kau baik-baik saja, kan?"


Sebuah sentuhan lembut di bahunya membuat Lara semakin takut. Tinggi Senja yang tidak diragukan lagi membuatnya tak susah payah menyentuh pundaknya. Ia takut berbalik dan menunjukkan wajahnya yang penuh luka.


"Te-te-tentu saja. Aku baik-baik saja, Senja," ucapnya dengan terbata-bata.


"Syukurlah."


Lara mengelus dadanya pelan. Ia bersyukur Senja mempercayai perkataannya barusan.


"Ahh ... Iya, aku sampai lupa. Lara, aku menemukan seoarang penolong. Kemarilah, akan kutunjukkan penolong itu padamu," ucap Senja dengan girang.


"APA?"


Lara berseru panik. Ia pikir adiknya tidak akan pernah membawa orang asing ke rumah, menunjukkan pada dunia bagaimana keadaan keluarganya. Ia berbalik menatap marah ke arah Senja.


"Kau membawa orang asing ke rumah kita, Senja?" ujar Lara marah.


"La-Lara ... Wajahmu."


Senja mundur perlahan, ia tidak segera menjawab pertanyaan Lara melainkan terus memperhatikan wajah mengerihkan Lara.


"Senja," lirih Lara.


Ia lupa, ia lupa bahwa tidak seharusnya ia berbalik, menunjukkan wajah mengerihkannya kepada Senja.


Ia lupa kalau sedari tadi ia menyembunyikan wajah dengan luka mengerihkan itu dari Senja.


"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Senja bertanya dengan suara sangat pelan. Air matanya mengalir begitu saja.


"Senja, aku akan menjelaskannya semua, tapi aku mohon jangan menangis," ucap Lara dengan nada memohon.


Senja tak mendengarkam permohonan Lara. Ia terus menangisĀ  dengan badan yang bergetar.


"Senja, kumohon." Lara memelas, sambil trus mendekat ke arah Senja.


Senja hanya menggeleng sambil terus mundur, menjauhi Lara.


"Tolong, jangan begini." Lara putus asa. Ka putus asa saat melihat Senja yang terus menjauh saat ia dekati.


"Tolong, Senja. Kamu buat aku makin sakit."


Lara menangis. Ia jatuh terduduk sambil menutupi wajahnya. Kini ia tak lagi menangis dalam diam. Suaranya tangisannya menghiasi dapur, suara tangisan pilu yang begitu menyedihkan.


"Tolong jangan buat aku jadi kakak yang gak berguna, Senja."


Lara terus menangis. Ia tidak peduli dengan Senja yang melihat ia se lemah sekarang. Ia tidak peduli dengan Senja yang melihat ia se hancur sekarang.


"Lara, maafin Senja," ucapnya sambil mendekati Lara.


Ia memeluk Lara erat sambil terus menangis. Ia tidak menyangka kalau kakaknya hari ini akan menjadi seperti anak lainnya, bukan lagi Lara si wanita kuat seperti julukan yang ia berikan.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi tolong jangan menangis," ujar Lara di sela tangisannya.


Senja mengangguk. "Senja janji gak bakalan nangis."


Lara mengusap air mata Senja, membelai pipinya pelan sambil terus menatap mata Senja. Tak jauh dengan Lara, Senja juga melakukan hal yang sama, bedanya Senja tidak membelai pelan pipi Lara melainkan menelisik luka memanjang yang berada di pipi Lara.


"Lara, ayo kita pergi ke dokter. Bang Bhima pasti mau bantuin kita," ujar Senja bersemangat. Ia membantu Lara untuk berdiri lalu menariknya keluar dari dapur.


"Siapa Bhima?" tanya Lara penasaran.


"Teman, seorang teman yang siap membantu kapan pun."


Lara tersentak. Ia menarik tangannya kasar sehingga membuat Senja memberhentikan langkahnya.


"Ada apa, Lara? Kenapa kau berhenti?"


Lara mundur perlahan, menjauhi Senja yang mendekatinya.


"Usir dia!" ujar Lara pelan sambil tetus mundur.


"Senja ... Aku bilang, usir dia!" ucap Lara penuh penekanan.


Kali ini Lara benar-benar terlihat dingin. Mengerihkan, Senja bahkan tidak kenal siapa gadis di depannya saat ini.


"La-lara kamu menakutkan."


Lara maju selangkah, menatap tajam mata Senja sambil terus mengelap darah yang mengalir dari lukanya tidak begitu banyak.


"Apa kau tidak dengar, Senja? Usir dia sekarang atau kau tidak akan pernah melihatku lagi."


Senja meneguk ludahnya kelu, Lara benar-benar beda kali ini. Ia benar-benar tidak mengenali Laranya. Laranya telah berubah.


"Kau berubah, Lara. Kau berubah. Kau semakin menakutkan," lirih Senja sambil berlalu meninggalkan Lara.


Lara melihat sendiri bagaimana tubuh Senja bergetar hebat. Ia sendiri juga bingung, bagaimana ia bisa begitu marah saat mendengar ada orang lain yang mengetahui masalahnya dan kenapa ia bisa begitu dingin terhadap Senja.


Lara menggelengkan kepalanya pelan. Akibat goresan kaca di pipinya membuat dia merasa pusing sekarang. Darah yang terus menerus mengalir membuat Lara gerah ingin segera ka kamar mandi untuk membasuh diri, walaupun darahnya sudah tidak se banyak yang tadi.


Ia tetap menunggu Senja kembali masuk, tetapi tang ditunggu belum juga muncul.


"Kenapa kamu lama banget, Senja," ucap Lara yang mulai panik.


Ia baru akan menyusul Senja namun langkahnya terhenti ketika melihat Senja yang masuk dengan wajah sedih.


Ia berjalan dengan kepala menunduk. Ia melewati Lara begitu saja, pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun terhadap Lara.


Lara pun menyusul Senja, ia berjalan tanpa ada mengatakan apapun kepada Senja. Saat sudah berada di kamar pun mereka masih setia dengan keheningan. Senja yang memilih duduk di pinggir kasur dengan menghadap jendela, sedangkan Lara bergegas pergi ke kamar mandi.


"Kenapa melamun?"


Suara Lara membuat Senja tersentak kecil. Terlalu enak melamun sampai-sampai ia tak sadar kalau Lara sudah keluar dari kamar mandi sejak tadi. Rambut hitam milik Lara kini terurai indah dengan air yang masih menetes dari ujung rambutnya. Wangi shampo yang khaas dan bau anti septik juga membuat indra penciuman Senja serasa di manjakan.


Senja tidak menjawab pertanyaan Lara. Ia memilih bernjak dari tempat duduknya dan mengambil kotak obat yang berada di nakas.


"Mendekatlah, Lara!" pinta Senja.


Lara menurut, ia mendekar ke arah Senja yang terus memperhatikan dirinya tanpa berkedip. Senja mulai mengoleskan alkohol saat Lara duduk di depan Senja tanpa bersuara sedikit pun.


Perlahan ia mengoleskan alkohol di seluruh luka Lara, salah satunya luka yang di wajah Laara. Luka cukup lebar yang membuat Senja meringis pilu melihat keadaan sang kakak.


"Apa ini sakit?" tanya Senja yang mulai memberi obat merah di luka goresan di pipi Lara.


"Tidak," jawab Lara dingin.


Senja menghembuskan nafas lelah. Ia tidak tega melihat semua yang terjadi pada kakaknya. Namun, ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya yang bisa ia lakukan hanya menangis dan menangis.


"Lara, kita perlu dokter."


Lara membulatkan matanya. Manatap tajam mata Senja yang barusan menyebut kata dokter.


"Kita tidak membutuhkan dokter, Senja."


Lara mulai beranjak, membiarkan tangan Senja menggantung di udara untuk menepelkan kain pembuskus untuk luk Lara.


"Tapi, lukamu cukup dalam, Lara. Aku takut itu akan infeksi," balas Senja.


"Tidaka akan terjadi apa-apa padaku, Senja. Percayalah!"


Lara mulai berbaring di atas tempat tidur, mengabaikan tatapan pilu Senja yang seperti akan menangis.


"Lara, tolong dengerin senja kali ini aja."


Lara tetap mengabaikannya, mengabaikan Senja yang terus merengek agar ia setuju untuk pergi ke rumah sakit.


"Tidak, Senja. Kalau aku bilang tidak, ya, tidak." Lara menaikkan selimutnya sampai ie dada.


"Satu lagi, jangan pernah bawa orang asing ke rumah kita apalagi menceritakan bagaimana keadaan kita sekarang. Kau tahu apa akibatnya kalau kau melakukan itu," ucap Lara penuh dengan ancaman.


Lara hanya diam, ia menundukkan kepalanya dalam seraya berkata, "Kamu bukan Laraku. Kamu bukan Laranya Senja."


"Terserah kamu saja."


Lara membelakangi Senja, ia juga menutup kupingnya agar tak mendengar apapun yang Senja bicarakan.


"Selamat datang di dunia barumu, Lara," batin Lara.


.


.


.


.


.


.


Ketemu lagi gaiiisss.


Ketjup ketjup


Megabite


Jangan lupa votmenta😊