LARA

LARA
Part 14



Siang telah berganti dengan sore.


Ini saat nya seluruh karyawan mengakhiri pekerjaan nya, dan akan melanjutkan esok hari.


Karyawan pun sudah pada keluar dari gedung perkantoran dengan menggunakan kendaraan masing-masing, ada juga yang menggunakan jasa angkutan online.


Dara dengan langkah Lunglai keluar dari gedung tinggi itu, baru sehari dia masih merasa bingung apa yang harus di kerjakan.


Setelah Elva memberi tahu apa saja yang harus di kerjakan oleh sekretaris pribadi itu, barulah Dara paham.


Hari ini Dara seperti karyawan bodoh yang tidak tahu apapun, tetapi tidak mengapa yang penting setelah ini Dara faham semua tugas yang harus di kerjakan nya.


Dara sudah berada di depan kantor sedang menunggu angkutan yang di pesan nya, dia di kaget kan dengan sura yang tiba-tiba ada.


"Hayo lagi ngapain masih berdiri di sini" ucap wanita itu dari belakang.


"Ataga ngagetin saja sih... " kata Dara.


"Lagi mikirin apa sih, sampe kaget seperti itu? " tanya Winda.


"Mikirin pulang kenapa juga ini lama beber datangnya! Kendaraan yang di pesan"


"Bareng aku saja yuk, sebentar lagi datang jemputan ku! " Winda mengajak Dara untuk pulang bersama.


"Tanggung sudah pesan! " jawab Dara.


"Kan bisa di batalin" ucap Winda


"Nggak usah, aku pulang sendiri saja! Nanti saja kita pulang bareng" kata Dara.


"


"Ya sudah kalau begitu" Jawab Winda dengan nada bicara yang menunjukkan sedikit kecewa. Sehari nggak bersama Dara membuat nya, seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya datang juga kendaraan yang di pesan.


Dara langsung masuk ke dalam kendaraan itu setelah pamit terhadap Winda.


Perjalanan yang sangat membosankan, setelah seharian bekerja harus di suguhkan pula di perjalanan dengan jalan yang begitu indah di penuhi berbagai macam kendaraan. Dengan lampu yang menyala sehingga itu menambah suasana jalanan semakin indah di pandang tetapi sangat membosankan sebab lama untuk mencapai tempat tujuan.


Kendaraan yang di tumpangi pun bergerak dengan perlahan, hingga bisa melewati titik-titik yang terbiasa dalam kemacetan perjalanan.


Setelah cukup lama di perjalanan,sampai juga di tempat tujuan yaitu rumah.


Dara turun dari kendaraan dan langsung masuk ke dalam rumah, dia melihat ke setiap sudut rumah ternyata masih sepi.


Dengan gerakan cepat dia langsung masuk ke dalam kamar, sebelum terlihat oleh siapapun.


Seperti biasa ketika sampai di rumah Dara melakukan aktivitas nya.


Setelah beberapa saat kegiatan Dara pun sudah selesai, dia keluar langsung berganti pakaian.


Sebab rasa rindu terhadap Farel sudah tidak bisa di tahan lagi.


Setelah beres dengan semuanya,Dara pun langsung bergegas pergi keluar kamar untuk segera menemui anaknya.


Dengan berjalan perlahan Dara untuk ke kamar Farel, dengan tidak sengaja mendengar percakapan di telepon antara sherly entah dengan siapa.


Dara berusaha tidak peduli, tetapi penasaran juga soalnya Sherly terlihat seperti orang yang sedang telepon bersama sang kekasih.


"Sherly telepon siapa? ko bicara tidak seperti ngomong bersama bang Dika! " gumam Dara.


"Akh masa bodo lah mau bicara sama siapa pun" Dara berusaha menipis nya, dan langsung pergi berlalu.


Terlihat dengan jelas raut wajah kesedihan di mata Farel, dalam batinnya anak itu terluka melihat kedua orang tua nya tidak pernah aku.


"Hai sayang, jagoan Ibu lagi main apa? " tanya Dara terhadap sang anak.


"Farel lagi menggambar Bu! " jawab anak itu sambil menunjukan gambar, yang terlihat belum rapih sebab anak usia tiga tahun belum bisa mengaplikasikan alat tulis dengan sempurna.


"Wah gambar apa itu, bagus sekali? " puji Dara terhadap sang anak.


"Ini Ibu dan yang ini Ayah, terus ini Farel kita lagi jalan-jalan di taman" Farel menjelaskan apa yang ada di gambar.


Seketika rasa nyeri menjalar di setiap aliran darah Dara, dia langsung membawa anak nya itu ke dalam dekapan lalu di hujami dengan ciuman wajah sang anak.


"Farel mau main ke taman? lagi ada pasar malam loh? " tanya Dara terhadap sang anak, dia berusaha mengalihkan pikiran negatif yang ada di pikiran anaknya itu.


"Iya" Farel pun mengantuk, pertanda dia ingin sekali bermain di luar rumah.


"Yuk Mel, kita bermain ke pasar malam? " ajak Dara terhadap Meli.


"Baik Bu, apa nanti Pak Dika tidak akan marah?Bapak kan tidak pernah membolehkan Farel main di luar! " Meli menginginkan Dara, sebab selama ini Dika tidak pernah membiarkan Farel bermain di luar rumah, soalnya pernah terjadi kecelakaan saat bermain. Pada saat itu pengasuhnya sebelum Meli yang lalai, Farel terpleset hingga mengakibatkan kaki Farel cedera pada saat itu.


Dari kejadian itu pengasuh terdahulu langsung di pecat, dan tidak pernah membolehkan main di luar rumah apalagi taman.


"Ngga apa-apa Mel... kan sama saya perginya" Jawab Dara.


Setelah beberapa saat mereka bertiga pun pergi untuk menuju pasar malam yang tidak jauh dari rumah, sebuah kendaraan yang di pesan Dara sudah tiba dan mereka bertiga masuk ke dalam kendaraan itu.


Pak sopir pun menginjak gas dengan perlahan dan kecepatan sedang.


Tidak butuh waktu lama untuk tiba di tempat tujuan, ketiga nya pun turun dari mobil setelah membayar ongkos.


Dengan wajah penuh kegembiraan Farel menatap ke setiap sisi pasar malam itu, yang menyajikan berbagai macam jenis permainan. Farel menarik tangan ibunya untuk menuju permainan kincir angin,dia ingin sekali naik sebab Farel ingin sekali melihat pemandangan kota di atas ketinggian itu.


"Bu, Farel mau naik itu" ucap Farel sambil menunjuk permainan kincir angin.


"Itu kan tinggi, ibu nggak berani! " jawab Dara, bukan masalah takut ketinggian tetapi dia juga takut sesuatu hal terjadi dengan Farel.


"Ibu nggak boleh takut kan ada Farel yang jagain kan anak laki-laki mesti menjadi pelindung untuk ibunya" kata Farel, meskipun anak ini baru berusia tiga tahun entah mengapa pemikiran nya sudah dewa.


"Kita mancing saja yuk? " ajak Dara, berusaha mengalihkan.


"Yah, Farel nggak suka mancing! " jawab Farel sambil cemberut.


"Kalau main kincir ibu takut, nanti saja kalau Farel nya sudah tinggi badan nya setinggi Ayah baru naik itu anak seumur Farel belum di perbolehkan naik itu! " Dara berusaha mencari alasan yang tepat agar tidak melukai perasaan sang anak.


Setelah cukup lama mereka mencari mainan yang pas menurut Dara dan di setuju Farel, hingga pada akhirnya mereka bermain di area lukis.


Farel sudah duduk dan menghadapi papan yang akan di lukisnya, dia mulai mengaplikasikan warna sesuai dengan yang di inginkan.


Setelah cukup lama mereka berada di pasar malam, Farel juga merasa senang bermain di tempat ini meskipun keinginan nya belum terpenuhi. Sudah cukup baginya malam ini berbahagia bersama sang Ibu meskipun tanpa Ayah.


Akhirnya ketiga nya memutuskan untuk segera pulang, udara malam tidak cocok buat anak kecil.


Dara menggendong sang anak untuk segera menuju ke luar pasar malam, di sanah sudah di tunggu oleh kendaraan yang sudah di pesan nya.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka pun sudah sampai di rumah.


Mereka bertiga turun dari kendaraan, tetapi ada sebuah tatapan tajam dari Dika.


Dara yang sudah menangkap sinyal bahaya langsung menyuruh Meli untuk membawa Farel masuk.