
" Kenapa kalian masih di sini! "kata orang tersebut.
" Iya ini juga baru mau masuk! "jawab Dara, sambil tersenyum ke arah Alan, dia tidak menyangka bahwa Alan akan hadir di persidangan.
Alan datang bersama pengacara yang akan membantu Dara.
Akhirnya ketiga orang tersebut masuk ke dalam pengadilan agama, secara bersama.
Setelah berada di dalam Dara pun duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Dika belum juga hadir di persidangan.
" Apa bang Dika nggak akan hadir ya? "tanya Dara terhadap Winda.
" Kalau Dika nggak hadir acara persidangan akan semakin mudah"jawab sang pengacara.
Setelah beberapa saat menunggu, sidang pun akan segera di mulai. Semua sudah berada di posisi Masing-masing dan para pimpinan sidang pun sudah siap.
Dika juga sudah datang, dia melirik ke arah tetapi Dara tetapi, Dara tidak melirik nya sedikit pun terhadap Dika.
Entah kenapa ada rasa yang tidak rela saat Dara bersikap seolah tidak pernah mengenal Dika.
Sidang pun sudah di mulai, suasana persidangan pun begitu tenang dan damai tidak ada keributan. Dika yang biasanya aroga hari ini hanya diam, dia tidak bisa berkata apapun dengan semua bukti tuntutan yang di ajukan. Kemungkinan kecil bahwa dia nggak akan bercerai dari Dara, semua bukti sudah jelas bahwa dirinya salah dan semua itu memudahkan jalan Dara untuk bercerai.
Setelah beberapa saat sidang pun berakhir dan pengadilan mengabulkan permintaan Dara untuk bercerai, dan hak asuh anak pun jatuh ke tangan Dara.
Lemas rasanya itu yang di rasakan Dika, sungguh tidak percaya bahwa hari ini akan tiba di mana semua nya harus berakhir dengan seperti ini.
Dika yang biasanya arogan hari ini terlihat murung.
Semua orang pun sudah keluar dari ruangan sidang tetapi Dika belum juga keluar.
Dara dan juga Winda sudah berdiri di depan pintu keluar berbincang dengan pengacara dan juga Alan, dia mengucapkan banyak terimakasih telah membantu nya sehingga persidangan pun berjalan dengan lancar dan bisa di putuskan secepat inj. ternyata lebih cepat dari apa yang di bayangkan Dara.
"Terimakasih banyak Pak, semua ini berkat bantuan nya? " Dara mengucapkan banyak terimakasih terhadap sang pengacara.
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi" ucap pengacara tersebut.
"Selamata ya Dar, atas kebebasan mu semoga bahagia setelah ini...pelangi juga hadir setelah hujan! " kata Alan sambil tersenyum tipis ke arah Dara.
"Terimakasih banyak Pak, atas semuanya" jawab Dara sampai membalas senyuman Alan.
"Kalau begitu kita permisi dulu" kata Alan.
"Baik lah! " jawab Dara.
Akhirnya Alan dan pengacara pun pergi meninggalkan Dara dan juga Winda yang masih berdiri di depan pintu, Dara akan segera pergi dari sanah tetapi langkah nya terhenti saat Dika memanggilnya.
"Dar.. " panggil Dika.
"Iya" Jawab Dara singkat.
"Harus kah seperti ini?, apa kamu tidak akan memaafkan ku? " tanya Dika terhadap Dara.
"Maaf untuk? " tanya Dara balik.
"untuk semua perlakuan kasar ku selama ini" kata Dika.
"Nggak perlu di bahas dan ini sudah berakhir, sekarang kita sudah berbeda arah. Lebih baik kita jalan masing-masing semoga setelah ini kamu bahagia bersama pilihan mu" ucap Dara sambil mengembalikan cincin pernikahan, yang selama ini selalu dia pakai dan tidak pernah di lepas. Hari ini Dara kembali terhadap orang yang dulu memasang kan cincin itu, tetapi Dika tidak menerima nya dan membiarkan cincin jatuh ke lantai.
Setelah itu Dara pun pergi berlalu meninggalkan Dika yang masih mematung, di depan pintu ruangan.
Setelah kepergian Dara, Sherly pun datang dan mengambil cincin yang tergeletak di lantai.
"Ambil ini! " ucap Sherly sambil menaruh cincin tersebut di saku kemeja Dika.
Dika tidak menjawab apapun, dia melengos begitu saja dan pergi meninggalkan Sherly.
Sherly pun langsung mengejar Dika, dia tidak mau di abaikan seperti ini. Dengan langkah cepat Sherly pun mengejar Dika.
*****
Keesokan hari nya, kebetulan hari ini libur.
"Mel... apa sudah siap di kemas semuanya?" tanya Dara terhadap Meli.
"Sudah semua Bu... tinggal berangkat! " jawab Meli terhadap Dara.
"Baiklah, kalau semuanya sudah beres... aku telepon Winda dulu katanya dia yang akan menjemput kita" ucap Dara sambil mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas.
Panggilan pun sudah tersambung, dan ternyata yang di hubungi pun sudah berada di depan rumah. Yang paling semangat untuk saat ini adalah Winda, sebab dia pikir setelah ini sahabat nya itu tidak akan menderita lagi. Dara pun keluar untuk mengajak Winda masuk terlebih dahulu.
"Win, ayok masuk dulu? " ajak Dara terhadap Winda.
"Iya.. " Jawab Winda.
Winda dan Dara pun masuk ke dalam rumah,Winda melihat ke sekeliling.Dan ternyata sudah ada beberapa koper yang sudah siap di masukan ke dalam mobil.
"Farel mana? " tanya Winda terhadap Dara.
"Dia masih di kamar sama Meli"
"Jangan lama-lama lah, ayok kita segera pergi aku mah pengap ada di sini" kata Winda.
"Iya sebentar lagi, ada yg belum di kemas" jawab Dara.
"Ya sudah cepat sanah! " perintah Winda tehadap Dara.
Winda pun duduk di sofa ruang tengah sambil menunggu Dara.
Setelah beberapa saat akhirnya Dara dan juga Meli pun sudah siap untuk berangkat.
Meli memasukkan koper nya ke dalam bagasi mobil Winda.
Setelah beberapa saat semuanya sudah siap, tinggal mereka yang belum masuk.
"Yuk kita berangkat? " ajak Winda.
"Iya" jawab Dara dengan suara pelan, tetapi itu semua terdengar jelas di telinga Wanda.
Berat memang itu yang di rasakan Dara, hidup lima tahun di rumah ini tidak mudah juga untuk melupakan nya dalam waktu singkat.
Dara pun menarik nafas lalu membuangnya.
Dara sambil menggendong Farel untuk menuju pintu keluar, mungkin ini terakhir kali menginjakkan kaki di rumah ini.
Setelah berada di depan pintu langkah nya terhenti.
"Mau ke mana kalian? " tanya Dika.
Dara menoleh ke arah sumber suara sambil berkata "Pindah"
"Pindah ke mana? " tanya Dika.
"Rumah peninggalan orang tua ku" jawab Dara singkat.
"Itu kan sudah lama nggak di tempati, pasti kotor! kenapa juga harus pindah" kata Dika.
"Kan bukan istri kamu lagi, jadi tidak pantas tinggal satu rumah bersama orang yang bukan mahram haram hukumnya" ucap Dara dengan penuh penekanan.
Setelah berbicara seperti itu Dara pun melanjutkan langkahnya, untuk segera menuju kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke rumah yang akan di tempati.
Mereka sudah berada di dalam kendaraan dan akan segera berangkat.
Winda pun menginjak gas dengan perlahan dan melakukan kendaraan nya.