LARA

LARA
Part 57



"Kalau begitu tunggu sebentar, biar meli yang menjemputnya ke ladang "kata Bi Sani sambil bangkit dari duduknya, dia menyuruh meli untuk menjemput suaminya di ladang.


Akhirnya Bi Sani memerintahkan Meli untuk menjemput suaminya yang masih berada di ladang, agar segera pulang sebab sudah ditunggu oleh keluarga besar Alan.


Meli langsung berangkat ke ladang untuk menjemput mang Qodir, sebab kalau tidak dijemput bisa pulangnya itu jam 04.00 sore. sedangkan keluarga Alan di sore hari akan kembali ke kota, tidak akan menginap di kampung ini.


Di saat menunggu kedatangan mang Qodir keluarga besar Alan, menanyakan segala sesuatunya tentang keadaan dan silsilah keluarga Dara.


Bi Sani selalu menjawabnya dengan jujur, tidak ada yang ditutupi sedikitpun tentang masa lalu dan kehidupan Dara.Agar tidak ada kesalahpahaman dari antara dua keluarga.


Waktu sudah terlalu lama bagi mereka menunggu mang Kodir, akhirnya yang ditunggu pun sudah datang.


Bi Sani mempersilahkan suaminya untuk mandi terlebih dahulu, sebab dari ladang itu sudah pasti kotor. tidak baik menemui tamu dalam keadaan kotor dan bau keringat, mengingat tamu mereka itu bukan tamu sembarangan.Padahal bagi mereka itu biasa saja tidak mempermasalahkan dari ladang dari kebun atau dari manapun, yang terpenting mang Qodir sudah hadir diantara mereka itu sudah cukup.


Sebab yang diharapkan yaitu kehadiran mang Qodir,


Mang Qodir sudah duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tengah, dia menatap ke sekeliling orang-orang yang ada di ruangan tersebut.Yang terlihat sangat asing baginya, lalu dia bertanya langsung ke pokok permasalahannya setelah menyapa semuanya.


Dan meminta maaf atas waktunya yang sudah menunggu.


"Maaf sebelumnya, tujuan bapak dan ibu datang ke sini untuk apa?" tanya mang Kodir terhadap mereka semua.


"Saya adalah ayahnya dari Alan, tujuan kami datang ke sini yaitu ingin melamar keponakan Bapak yang bernama Dara.Untuk putra kami yaitu Alan"kata pak Joko dengan to the point, di hati tidak berbasa-basi lagi, dia langsung ke pokok permasalahan mereka datang ke tempat ini.


Perkataan dari pak Joko sudah membuat Darah kaget, dia tidak menyangka kedatangan keluarga besar Alan ke tempat ini yaitu untuk melamar dirinya.


"Apakah lamaran kami diterima?" tanya pak Joko kembali, sebab keluarga darat tidak ada yang berkata sedikitpun.Mereka masih kaget dengan perkataan yang diucapkan dari pak Joko,sebab tidak menyangka bahwa Dara akan di lamar oleh seorang Alan yang dikenal sebagai pengusaha kaya raya di kotanya.


"Bagaimana, Dara?" tanya pak Joko kembali sambil menatap ke arah Dara, dia minta jawabannya secepat mungkin.Agar bisa mempersiapkan pernikahan mereka dalam waktu dekat, sebab Alan tidak menginginkan pernikahannya ditunda.Dia ingin segera menikahi Dara ketika sudah menerima lamarannya, sebab usia Alan juga tidak lagi muda untuk menunda pernikahan.Dari dulu dia sudah mempunyai impian menjalin keluarga yang bahagia bersama Dara.


"Aku sih tergantung Bibi sama mamang, kalau dia merestui aku terima lamaran Mas Alan" jawab Dara dengan malu-malu.


"Kenapa harus tanya Bibi sama mamang?yang mau nikah kamu bukan kami" jawab sang Bibi Sani sambil menatap ke arah Dara.


"Memang yang mau menikah itu aku,tetapi Restu keluarga juga itu penting.Sebab menikah itu bukan hanya dua orang tetapi dua keluarga,jika tidak ada yang setuju dari salah satu keluarga maka rumah tangganya tidak akan tentram dan damai "jawab Dara dengan nada bicara yang pelan.


Alan yang menyaksikan itu semua, dia merasa deg-degan takut lamarannya ditolak oleh Dara.Jika hal itu terjadi maka dia akan patah hati untuk yang ketiga kalinya, kemarin saja pas ditinggal Dara dia seperti orang yang kehilangan akal.Apalagi sekarang jika Dara menolak lamarannya.


"Kalau kami sih menerima lamarannya Alan, sebab tidak alasan bagi kami untuk menolaknya "jawab mang Kodir sambil menatap ke arah Alan, yang terlihat sangat gelisah.


"berarti kalau Mang Qodir menerima lamaran Alan, kamu juga menerimanya?"tanya pak Joko kembali terhadap Dara.


Dara tidak menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya dengan pelan. Pertanda dia setuju dan menerima lamaran dari Alan, Alan yang melihat reaksi darah seperti itu seperti ditimpa bongkahan batu berlian.Hatinya merasa lega dan berbunga-bunga, penantian dan usahanya selama satu bulan itu akhirnya membuahkan hasil.Dan bisa mempersunting sang pujaan hati.


Akhirnya percakapan keluarga itu tentang lamarannya sudah selesai,dan keputusannya adalah Dara sudah menerima lamaran dari Alan dan siap untuk dijadikannya istri.


Dan pernikahan akan dilaksanakan di kota, tetapi mereka ingin membawa Dara pada saat ini juga untuk kembali ke kota.


Dan mempersiapkan pernikahan yang mulai dari sekarang, itu yang dikatakan Mamanya Alan.


Tapi darah menolaknya untuk ikut ke kota pada saat ini juga, sebab banyak hal yang harus dipersiapkan untuk dibawa lagi kembali ke kota itu.