
"Kukira siapa, ternyata kamu! "sapa Dara terhadap orang yang sudah menunggunya di teras depan.
" Maaf sudah mengganggu waktunya! "Kata Hilman sambil tersenyum tipis, menatap Dara.
" Nggak apa-apa, lama juga kita tidak bertemu "jawab Dara, dia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Hilman.
" Beberapa kali aku datang ke sini, hanya saja selalu kosong. Hari ini pas kebetulan lewat terlihat seperti ada orang, makanya mampir dulu"kata Hilman.
"Beberapa bulan lalu, aku ke kampung" jawab Dara.
"Ada masalah kah, atau hanya liburan? " tanya Hilman lebih detail.
"Liburan saja,mencari tempat yang lebih adem untuk menghilangkan penat setelah beberapa tahun bekerja tanpa kenal yang namanya liburan" jawab Dara.
"Oh iya, ada apa ke sini? " tanya Dara.
"Hanya ingin mampir saja, bagaimana kabarnya Farel" tanya Hilman soal keadaan Farel.
"Baik, baru saja dia tidur siang" jawab Dara.
"Wih anak pintar, masih tidur siang aja" Hilman memuji Farel sambil tersenyum ke arah Dara.
Di saat mereka sedang asik berbincang ada seorang lelaki dewasa yang datang menghampiri nya, terlihat sekali raut wajah orang itu tidak menyukai Hilman.
Tatapan tajam dari orang tersebut sudah membuat Hilman tidak nyaman, dan akhirnya memutuskan untuk segera pulang.
Tanpa minum terlebih dahulu, dia sudah merasakan takut baru juga di tatap oleh orang tersebut.
"Ngapain dia datang ke sini? " tanya Alan.
"Nggak ngapa-ngapain, hanya mampir sebentar" Jawab Dara santai.
"Apa dia mau mendekati kamu,dan sepertinya kamu senang sekali bersama dia"kata Alan, dengan nada bicara yang kesal.Sungguh dia tidak suka ada laki-laki lain mendekati calon istrinya.
"Kamu itu ngomong apa sih, masa iya ada orang datang ke rumah mesti di usir "jawab Dara sambil menatap salah lekat wajah Alan yang terlihat cemberut.
"Aku tidak suka melihat kamu dekat dengan siapapun, apalagi itu si Hilman.Besok-besok nggak usah buka pintu kalau ada orang yang datang, bilang saja sama si Meli bahwa kamu sedang tidak ada di rumah!"kata Alan terhadap Dara.
"Apa kamu tidak percaya denganku, sehingga aku harus melakukan itu!"Dara sambil menatap heran wajah Alan yang kesal terhadap dirinya.
"Bukan aku tidak percaya sama kamu tapi aku tidak suka melihat dia mendekati kamu.Jadi kamu harus paham aku tidak suka,pokoknya kamu jangan membantah "kata Alan dengan nada bicara penuh penekanan.
"Ya sudah jangan marah-marah terus, mau minum kopi tidak,?" tanya Dara terhadap calon suami yang sedang merajuk.
"Masa iya nggak peka sih, seharusnya kalau aku datang ke sini nggak perlu bertanya lagi langsung buatkan kopi.Sudah tahu aku hanya minum kopi yang kamu buat, jadi berarti hari ini aku belum minum kopi "jawab Alan sambil menatap lekat wajah Dara.
"Iya, maaf."jawab Dara sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk segera pergi ke dapur,untuk segera membuat kopi rasa cinta yang sangat disukai oleh sang calon suami.
Setelah cukup lama, Dara berada di untuk buatkan minuman kesukaannya.
Dengan telaten Dara mengambil satu persatu bahan yang akan digunakan untuk mengambil kopi dan perlengkapannya. Setelah beberapa saat minuman pun sudah siap disajikan, lalu Dara melangkahkan kaki kembali untuk segera menuju ke depan.Di mana sang calon suami sudah menunggunya.
Dara sudah berada di teras depan kembali, dia meletakkan cangkir kopi di atas meja lalu mempersilahkan Alan untuk segera menikmati kopi cinta buatannya.