
"Jika Bapak dan Ibu tidak mencari anak gadis, lalu yang dicari siapa? tanya Bi Sani terhadap kedua orang tua Alan yang masih berdiri di halaman, sebab dia belum dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah.Bi Sani masih bingung dengan kedatangan mereka semua, Dara yang tahu mereka itu hanya diam tidak berkata apapun bahkan Meli juga hanya dia mematung tanpa berkata.
Winda yang melihat darah hanya diam, dia langsung berkata, "aku sudah jauh perjalanan lelah pula, masa nggak disuruh duduk dan dipersilakan untuk masuk "kata Winda sambil menatap lekat ke arah Dara.
"Maaf, aku kaget melihat kedatangan kalian dengan tiba-tiba.Lagian kamu mau datang nggak ngasih kabar dulu, padahal tadi malam kita habis telponan"jawab Dara sambil tersenyum tipis selalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia sangat grogi sekali sebenarnya.Apalagi saat Alan menatapnya dengan penuh cinta, dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya saat ditatap oleh Alan.
"Kamu tahu mereka?"tanya Bi Ani terhadap Dara yang berdiri di ambang pintu.
"iya, itu mas Alan sama keluarganya.Dan itu Winda temen aku waktu masih kerja "jawab Dara sambil melihat ke arah semuanya yang masih berdiri di halaman rumah.
"Kenapa kamu nggak dipersilakan mereka untuk masuk, kalau kamu tahu mereka "kata sang Bibi.
Setelah beberapa saat, akhirnya sang bibi mempersilakan semuanya untuk masuk ke dalam rumah,setelah tahu bahwa mereka itu adalah tamu dari kota yang mencari Dara.
Keluarga alam sudah berada di ruang tamu, mereka sudah duduk di tempat yang tersedia.
ibunya Alan meneliti di setiap sudut ruangan rumah tersebut, jika dibandingkan dengan kehidupan Alan.Dara jauh berbanding terbalik ibarat kata antara bumi dengan langit.
Dara pergi ke dapur bersama sang Bibi untuk mempersiapkan jamuan untuk mereka, di bantu juga oleh Meli.Meninggalkan Alan dan keluarganya di ruang tamu, tetapi setelah di dapur sang Bibi berkata "ngapain kamu ikut-ikutan ke dapur, temenin mereka di sana.Biar Bibi yang menyiapkan semuanya "kata sang Bibi terhadap Dara.
"Aku mau membuat kopi untuk Mas Alan, Bibi nggak bakalan tahu takaran gula sama kopinya itu seperti apa.Nantinya nggak diminum sayang loh "jawab Dara sambil menatap ke arah Bibi yang akan membuat minum.
"Lebih baik Bibi yang ke depan, temenin mereka nggak baik loh tamunya ditinggalin! "kata Dara terhadap sang Bibi.
"tapi Billy malu sama mereka, mereka itu rapi bersih.Lah Bibi jelek kayak gini orang kampung lagi "jawab sang Bibi terhadap Dara,dia merasa tidak pede saat berada di antara keluarga Alan.
"Bibi itu ngomong apa sih, nggak ada orang beda-bedain masalah itu.Mas Alan itu baik nggak pernah mempermasalahkan antara posisi orang kampung sama orang kota, sudah sana pergi ke depan! "perintah Dara terhadap sang Bibi.
Akhirnya Bi Ani pun menyerah, dia pergi ke depan sambil membawa beberapa makanan ringan khas kampung ini.
Setelah sampai di depan Bi Ani meletakkan toples-toples kecil di atas meja, sedangkan minumannya Dara masih membuat di belakang belum selesai.
Di saat Bi Ani sudah kembali ke depan, Alan bertanya kepada sang Bibi bahwa dia ingin ke toilet sebentar. Dan Bi Ani menunjukkannya toilet ada di arah dapur, sang ibu yang mendapatkan sinyal kurang baik atas sikap anaknya menyenggol tangan Alan dengan tangannya.Bahwa sang Ibu tahu bahwa Alan itu modus menanyakan toilet, hanya ingin menemui Dara yang berada di dapur.
Setelah berada di dapur, Alan langsung mendekat ke arah Dara yang sedang membuat minuman untuk mereka semua.
"Kamu nggak kangen ya sama aku? tanya Alan terhadap Dara,sambil menatap lekat wajah pujaan hatinya yang sudah lama tidak bertemu.
"Untuk apa kangen sama orang yang suka bohong "jawab Dara sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kan aku sudah jujur, kamu sudah tahu semuanya dan semua masalahku juga sudah selesai dengan Novia "kata Alan sambil tersenyum ke arah Dara.
"Jujur sih iya, karena ketahuan kalau saja malam itu nggak ketahuan pasti sampai sekarang terus berbohong "kata Dara dengan nada bicara yang mencibir terhadap Alan.
"Aku sudah ada niat akan mengatakan semuanya pada kamu, setelah urusan dengan Novia selesai dan pada malam itu.Kami akan mengakhiri hubungan, aku memegang tangan Novia waktu itu karena mengucapkan banyak terima kasih terhadapnya.Dia sudah mengerti dengan semua yang terjadi dan mau menerima perpisahan ini dengan ikhlas "kata Alan.
" Sudahlah enggak usah dibahas lagi, toh itu sudah lewat dan tidak akan mengubah segalanya.Meskipun diceritakan sekarang "jawab Dara sambil mengambil nampan untuk segera dibawa ke ruang tamu, sebab di sana sudah ada yang menunggu minuman tersebut.
Alan yang ditinggalkan oleh Dara begitu saja, akhirnya dia pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya.
Setelah beberapa saat dia berada di toilet, akhirnya keluar juga dengan sedikit segar.
Mereka semua sudah berada di ruang tamu, tinggal sang mamang yang belum hadir di tempat ini.Sebab jam segini waktunya dia ada di ladang.
"Bi, mamang di mana? "tanya Alan terhadap Bi Sani, dia bersikap sok kenal sok dekat terhadap Bi Sani dan juga suaminya.Padahal mereka sebelumnya tidak pernah bertemu, hanya saja dia sering mendengar cerita Dara antara sang Bibi dan mamangnya yang berada di kampung.
"Mamang masih berada di ladang, apa perlu suruh meli menjemputnya biar segera pulang. ada hal penting ya yang mau disampaikan?"tanya Bi Sani di terhadap Alan.
" Nggak usah, Bi, tunggu saja nanti juga pulang kan! "kata Alan sambil menatap ke arah Bi Sani.
"iya, pulang nanti tapi sore "jawab Bi Sani.
"Kalau pulangnya sore, lebih baik dijemput saja takutnya kelamaan" kata ayahnya Alan, dia tidak ingin menundanya lagi.Sebab mereka juga sore harus sudah pulang ke kota lagi.
"Kalau begitu tunggu sebentar, biar meli yang menjemputnya ke ladang "kata Bi Sani sambil bangkit dari duduknya, dia menyuruh meli untuk menjemput suaminya di ladang.