LARA

LARA
Part 17



Mereka berdua pun sudah sampai di mana kedua nya harus berpisah, sebab ruangan mereka sekarang tidak lagi bersama.


Akhirnya Winda pun masuk ke ruangan nya, sedangkan Dara masih saja harus terus berjalan untuk menuju ruangan nya, Dara harus pergi ke lantai paling atas untuk sampai di ruangan nya.


Setelah beberapa saat Mira pun sudah sampai di lantai di mana ruangan nya berada.


Dara pun langsung duduk di kursi kebesaran nya, sambil merenungkan apa yang di omongkan oleh Winda, mungkin sudah saat nya dia mengambil keputusan yang paling berat selama ada di dalam hidup nya.


Saat menerima perjodohan dan mengabdikan diri sebagai seorang istri yang baik, hingga pada akhirnya harus berakhir seperti ini. Mungkin bukan suatu hal yang mudah yang bisa di ambil begitu saja. Dara terus merenung hingga pada akhirnya lamunan nya buyer "kamu di sini untuk bekerja buka melamun" kata alan dengan nada bicara sedikit penekanan.


"Iya, Pak maaf" hanya kata itu yang terucap dari bibir Dara sambil menunduk.


"Hari ini jadwal ke mana? " tanya Alan terhadap Dara, seharusnya tanpa menunggu di tanya Dara sudah menyampaikan apa saja jadwal Alan hari ini.


"Nanti siang ada ketemu dengan klien terus setelah itu malam nya ada undangan pesta ulang tahun perusahaan PT Adi bakti kontruksi" Mira menjelaskan semua rincian jadwal Alan hari ini.


"Baiklah terimakasih banyak, jangan lupa siapin semuanya yang sudah saya bilang kemarin" kata Alan sambil berlalu pergi menuju ke ruangan nya kembali.


"Baik, Pak! " jawab Dara sambil mempersiapkan semuanya sebelum berangkat bertemu dengan klien.


Setelah Alan pergi, Dara pun menghembuskan nafas kasar, dia memulai pekerjaan nya. Meskipun belum terlalu memahami apa yang menandai tugasnya setidaknya dia sudah ada gambaran apa mesti di lakukan nya.


Waktu bergulir begitu cepat pertemuan bersama klien sudah selesai di lakukan, tinggal saat nya bagi Dara merapikan semuanya dan mengatur ulang jadwal sangat bos untuk satu minggu ke depan.


Siang telah berganti dengan sore ini saatnya para karyawan pun pulang ke rumah masing-masing.


Dara berencana setelah pulang kantor akan mengunjungi salah satu firma hukum, yang sudah di rekomendasikan oleh Winda kebetulan ada teman Winda yang bekerja di sanah.


Dara sudah berada di depan kantor, dia sedang menunggu kendaraan online yang sudah di pesan nya.


Tiba-tiba ada kendaraan yang berhenti tepat di hadapan nya"Masuk! "perintah pria itu.


Dara tidak bisa berkata apapun, selama bekerja tidak pernah di jemput atau di antar oleh suaminya. Kenapa hari ini dia di jemput, ini adalah tanda tanya besar yang ada di kepala Dara.


" Sudah pesan Taxi, tinggal nunggu sebentar lagi! "jawab Dara cuek.


" Bisa nggak sih, nurut apa kata suami! "kata Dika dengan nada bicara dengan penuh penekanan.


" Ngapain juga jemput, biasanya juga tidak pernah jadi nggak usah repot-repot! "tegas Dara.


Dara sudah terbiasa melakukan apapun sendiri, bahkan pada saat itu dia tidak memegang uang sepeser pun, sebab Dika tidak pernah memberi nya uang. Hanya untuk bayar taxi pun itu menggunakan uang sang asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


Dari sejak itu Dara berpikir bagaimana dia bisa mempunyai uang tanpa harus minta dari suami.


Setelah Farel berusia dua tahun Dara pun memutuskan untuk mencari pekerjaan, dengan di bekali ijazah dan pengalaman akhirnya di terima di salah satu perusahaan, dengan posisi yang lumayan bagus.


"Maunya, nggak usah sok peduli" jawab Dara sambil membuang muka ke arah jendela mobil.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat interaksi kedua nya.


Alan pun penasaran dengan apa yang terjadi dengan karyawan dan, klien nya itu. Baru saja mereka akan menjalin kerjasama bisnis, tapi etah kenapa hati Alan merasa ragu setelah melihat dengan mata kepala nya sendiri. Bahwa Dika telah berbuat kasar terhadap seorang perempuan.


Alan pun memberi intruksi terhadap sopir nya, untuk mengikuti kendaraan yang di tumpangi oleh Dara.


Setelah beberapa saat kendaraan yang di tumpangi Dara pun berhenti di salah satu rumah, yang terbilang itu rumah mewah tetapi terlihat sepi.


Kendaraan yang di tumpangi Alan pun berhenti tidak jauh dari rumah Dara.


Dika keluar dari mobil lalu membuka pintu samping, terus menarik kasar Dara untuk segera keluar.


Hal itu bisa di lihat Alan dari kejauhan meskipun hanya dari celah pagar.


Setelah menyaksikan itu semua, Alan pun memberi instruksi terhadap sang sopir untuk memutar balik kendaraan nya.


Sepanjang perjalanan Alan terus memikirkan apa yang terjadi dengan Dara dan ada hubungan apa di antara kedua nya. Hal itu terus menari-nari di kepala Alan, dia pun menyimpulkan sendiri soal lebam yang terdapat di ujung bibir Dara. Meskipun sudah berusaha menutupi nya tetapi itu masih saja bisa di lihat.


Tidak terasa kendaraan yang membawa Alan pun sudah sampai di tempat tujuan,Alan tinggal sendiri di apartemen. Setelah sampai di sanah dia langsung turun dan menuju unit yang di tempatinya.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di unit nya, Alan sudah masuk kedalam dan menjatuhkan tubuh nya di atas sofa. Masih saja pikiran nya terfokus ke Dara, ada ide muncul di kepala nya. Dia pun mengambil ponsel miliknya, lalu menghubungi seseorang.


"Silahkan cari tahu orang tersebut, dan untuk photo nanti saya kirim! "perintah Alan terhadap seseorang, yang ada di sebrang telepon sanah.


"Baik bos" jawab orang tersebut.


Alan pun mengakhiri panggilan nya setelah memberi tahu, tujuan nya menelepon orang tersebut.