LARA

LARA
Kehilangan



Suara derasnya hujan yang menghantam bumi membuat Lara terbangun dari mimpi indahnya. Ditatap nya Senja yang masih bergelung manja dengan selimut kesayangan sambil tersenyum. Ia mendekat ke arah Senja lalu mengecup lembut dahi adiknya tersebut.


"Hujannya deras sekali," ucap Lara seraya turun dari tempat tidur.


Ia mendekat ke arah jendela. Melihat keadaan luar yang sudah berubah semakin gelap. Setelah kejadian tadi pagi, ia dan Senja memilih tetap tinggal di dalam kamar. Mereka hanya duduk membaca dengan sesekali bersenda gurau, lalu tak lama kemudian jatuh tertidur sampai kegelapan menyambut.


Lara menatap jauh keluar. Menelisik setiap rintik hujan dengan penuh minat. Ia tidak pernah menyukai hujan. Ia membenci, sangat membenci. Namun, ntah mengapa hari ini ia menyukainya. Menyukai bau harumnya, menyukai kedatangannya.


"Kau seperti hujan. Kadang membuatku takut, benci, tapi tetap kunikmati ketika datang," ucap Lara dengan ******* lelah.


Ia lelah dengan semuanya. Keluarganya, kebahagiannya, kehidupannya. Semua itu membuat ia muak ketia menghirup udara. Bangun dari mimpi lalu mengalami kejadian dengan siklus yang sama.


"Nggghhhhhhh."


Suara lenguhan pelan membuat Lara menoleh.


"Lara! Kamu sudah bangun dari tadi, yah?" ucap Senja dengan mengerjapkan mata gemas. " Kok gak bangunin aku?"


Lara tersenyum senang. Baginya, keindahan duni ia dapat hanya ketika menyaksikam adiknya bangun tidur.


"Tidak. Aku baru saja terbangun," jawabnya santai.


Senja mengangguk pelan. Ia melangkah ke arah kamar mandi dan tak lama kemudia keluar dengan rambut yang separuh basah.


"Senja mau ngapain?" tanya Lara saat melihat Senja yang mulai mencari sesuatu di  dalan lemari.


"Senja cari sarung."


Lara menaikkan alis bingung. Tidak puas dengan jawaban Senja.


"Senja mau salat," ucapnya saat Lara masih terlihat bingung dengan jawaban yang ia berikan.


"Senja mau berdoa sama Allah, supaya Mama sama Papa bisa balik lagi kayak dahulu."


Lara tertegun. Tidak menyangka adiknya masih menaruh harapan yang besar terhadap orang tuanya. Ia merasa malu terhadap dirinya sendiri, melihat Senja yang mau kembali ke jalan-Nya sedangkan ia masih bingung dengan apa yang akan dilakukan.


Lara kembali melihat ke arah jendela. Melihat kegelapam yang mulai menawarkan aroma menggoda, ditambah lagi dengan derasnya intensitas air yang turun.


"Lara!" panggil Senja.


Lara melihat Senja yang sudah selesai, lalu melipat sajadah yang ia pakai.


"mm, besok Senja gak mau sekolah lagi," ucap Senja dengan takut-takut.


Ia tidak berani menatap wajah kakaknya. Ia memilih duduk di seberang tempat tidur dari pada melihat mata kecewa sang kakak.


"Tidak!" jawab Lara tegas.


"Senjanya Lara harus sekolah. Harus terus sekolah."


Senja memajukan bibirnya imut. Ia malah membuat wajahnya lucu. Ia kesal dengan jawaban Lara sehingga membuatnya marah sekaligus senang.


"Senja gak mau sekolah lagi, Lara." ia menunduk lesu, memainkan jarinya tanda kalau ia sedang bersungguh-sungguh.


"Kenapa?" tanya Lara.


Senja masih terdiam dengan kepala yang semakin menunduk dalam. Ia tidak berani mendongakkan kepalanya untuk menatap kakaknya. Ia memilih menatap selimut panda yang saat ini dalam genggamanannya.


Lara mendesah lemah. Ia menatap sang adik lalu menghampirinya. Menepuk pelan bagian bokong sang adik. Kegiatan yang sering ia lalukan kepada adiknya.


"Senja mau gak sekolah?"


Senja mengangguk. Ia menaikkan kepala menatap langsung ke mata Lara.


"Boleh?" tanya Senja.


"Boleh. Asal, Senja udah sukses," jawab Lara sambil tersenyum mengambil alih selimut yang dipegang Senja.


Senja kembali terdiam, kembali merenungi kata sang kakak. Bahkan Lara juga ikut terdiam. Ntah lah, semuanya membuat mereka berdua bingung bukan main.


"Semua teman Senja jauhin Senja, Lara," ujar Senja lirih.


Lara membulatkan mata. Ia menatap sedih ke arah sang adik. Tak mampu berkata, atau hanya melakukan sangggahan terhadap perkataan sang adik.


"Meresa semua jauhin Senja, Lara. Bahkan, mereka juga bully Senja," tambahnya seraya menatap Lara.


Terdiam. Lara masih berdiri terdiam tanpa ada pergerakan dengan mata yang membulat besar.


"Lara?" panggil Senja.


Lara mengerjap. Tersadar dari ke terkagetan atas perkataaan Senja barusan. Ia lalu tersenyum, kembali memukul bokong Senja untuk menenangkan.


"Kau sekolah untuk siapa?" tanya Lara


"Untuk Mama, Papa, Lara."


Lara mengangguk paham. "Lalu kau sekolah untuk apa?"


"Untuk sukses, trus bisa bangun perusahaan besar biar Lara, Mama, Papa senang," jawab Senja lagi dengan senyuman manis.


Lara tersenyum lebar. Sangat-sangat lebar. Jawaban Senja sukses membuat perasaannya kembali senang. Bahkan ia mulai melupakan masalah yang sedang ia hadapi.


"Bagus. Ingat Senja." Lara mengambil sebuah kertas.


"Lihat ini! Sebuah kertas kosong, lalu aku coret menggunakan pensil atau pena atau bisa juga spidol." Lara benar-benar mencoretnya.


"Saat sebuah kertas kosong di beri sebuah coretan menggunakan sebuah alat tulis, ia akan menjadi sebuah karya, apapun coretannya."


"Kau pikir apa yang membuat kertasnya menjadi sebuah karya?" ucap Lara.


"Alat tulis," jawab Senja girang.


Mereka berdua tertawa. Merasa senang. Kegiatan yang sering mereka lakukan ketika menghadapi masalah.


"Kau tau apa persamaan nya dengan kerta ini?" tanya Lara lagi.


Senja kembali mengangguk lalu berkata, "Senja yang imut diberi cacian, ejekan, bahkan dijauhi. Bukannya merasa jatuh, ia malah menjadi kuat. Menjadi orang yang akan membuat yang mengoloknya menjadi bungkam dengan keberhasilannya besok."


"Yap. Betul sekali. Seseorang yang dicaci, dimaki, dihina tidak akan pernah jatuh. Ia malahan akan tanbah sukses ketika cacian itu datang kembali. Ia membangun dirinya dari cacian untuk lebih baik. Membuktikan bahwa, selama orang yang mereka ejek mampu menjadi seseorang yang mereka sendiri tak mampu menatapnya," jelas Lara


Senja mengangguk paham. Ia kembali tersenyum manis dengan lesung pipi yang terukir dalam dengan sempurna. Sama dengan milik Lara, bedanya Lara hanya mempunya satu lesung pipi.


"Lara, Papa gak pulang lagi?"


"Jangan pikirkan itu Senja! Fokus terhadap sekolahmu dahulu."


Senja kembali berkata, namun semua terpotong dengan suara yang berasal dari arah depannya.


"Lara lapar?" tanya Senja geli.


Ia merasa lucu melihat wajah sang Kakak yang sedang menahan malu.


"Kenapa pengantinku gak bilang dari tadi?"


Senja terkikik geli. Ia lalu berjalan menuju nakas di sebelah tempat tidur, membuka satu laci dan memberikannya isi kepada Lara.


"Roti? Dari mana kamu dapat ini?" Lara membolak-balikkan roti, melihat  tanggal kadaluarsanya.


"Sebelum ,Bik Nah, pergi kami berdua belanja keperluan dapur. Semua kami beli buat isi kulkas," ujar Senja menampilkan cengiran khasnya.


Lara menaikkan sebelah alis sambil terus menatap Senja. Ia lalu membuka rotinya dan melahapnya langsung.


"Lara gak perlu khawatir, kita semua gak bakalan kelaparan walaupun Papa gak ada."


Senja tersenyum kecut. Mengingat bahwa Papanya benar-benar pergi meninggalkan mereka bertiga. Tanpa ada kejelasan.


"Setidaknya itu cukup untuk 3 hari ke depan," ucap Lara setelah menghabiskan rotinya.


"Iyah." Senja mengangguk paham.


Mereka berdua kembali terdiam. Menikmati derasnya hujan turun dengan sedikit rasa gelisah memikirkan ke depannya.


Lara mendengus kesal. Bagaimana pun saat Papanya pergi, semua tanggung jawab akan jatuh ke pundaknya. Mengingat sang Mama tak akan repot-repot turun tangan untuk membantu.


Ia berpikir bagaimana ia sanggup. Ia hanya gadis kecil. Gadis kecilnya Senja, Laranya Senja. Ia tidak ingin melibatkan adiknya untuk membantunya. Ia harus berpikir keras bagaimana bisa terus menghidupi mamanya dan adiknya.


"LARA!"


Teriakan yang berasal dari bawah membuat Lara dan Senja terkejut bukan main. Disusul dengan gedoran keras di pintu kamar yang mereka tempati.


"Lara!" lirih Senja yang merasa takut.


Senja takut. Takut akan mamanya yang akan melakukan kekerasan lagi terhadap Lara. Ia takut mamanya akan menghajar habis-habis an Lara lagi.


"Ssttt! Tenang."


Lara mendekat ke arah pintu. Mengunci dan mengangkat meja untuk menjadi penahan pintu kalau-kalau mamanya bertindak nekat untuk mendobraknya.


"Sekarang hidupkan musikmu seperti biasa. Jangan dengarkan apapun dari luar."


Lara menggiring Senja untuk naik ke tempat tidur. Lalu menyelimutinya dengan selimut panda kesayanganya. Radio usang mulai diletakkan di dekar Senja, dengan memainkan kaset yang melantunkkan lagu itu itu saja.


"KELUAR LARA!"


Teriakan sang mama tidak juga mereda diikuti dengan gedoran pintu yang semakin lama semakin keras.


Lara memeluk Senja. Menenangkannya dengan mengelus kepalanya lembut. Radio usangnya tetap terua berputar, menyamarkan suara gedoran dan teriakan sang mama.


Senja terus bergerak gelisah. Walaupun dipeluk dan usapan lembut di kepalanya terus di lakukan Lara, hal tersebut tidak membuatnya merasa aman.


"Pejamkan matamu, Senja!" ucap Lara lembut. "Pikirkan bahwa esok Mama akan berubah menjadi baik, Papa pulang dan kebahagiaan keluarga kita kembali datang."


Lara berbohong lagi. Ia kembali berbohong untuk menenangkan Senjanya yang mulai merasa ketakutan. Ia berbohong untuk kesekian kali untuk membuat Senjannya merasa aman.


Lara menyerah. Ia menyerah untuk selalu jujur kepada Senja. Ia sendiri sama takutnya dengan Senja, ia juga sama bodohnya dengan Senja. Membodohi diri sendiri dengan mempercayai apa yang ia katakan.


.


.


.


.


.


Jangan lupa vote dan komennya gais!


Ketjup-ketjup


Megabite