
Di saat Dara dan Alan sedang memikirkan cara untuk mencari tahu keberadaan Farel.
Entah apa yang harus mereka lakukan, lapor polisi salah satu cara untuk melacak Farel sekarang ada di mana setelah cek CCTV.
"Sudah jangan nangis terus! " bujuk Alan sambil merangkul bahu Dara, dia usap lembut bahunya berharap Dara bisa tenang.
Dara belum bisa berkata apapun, dia menerawang ke depan jika terjadi sesuatu terhadap Farel dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat Dara juga sudah tenang,Alan mengajak Dara untuk mencari ke area pas Farel hilang.
Siapa tahu ada yang melihat nya pas Farel di culik, sebab menurut keterangan Meli tadi seperti itu.
"Yuk kita cari ke area pas Farel hilang, sambil tanya orang-orang yang ada di sanah" ajak Alan terhadap Dara.
Dara mengikuti ajakan Alan mereka akan mencari Farel, dan Alan juga telah memerintahkan orang suruhan nya untuk mencari keberadaan Farel.
Alan bangun dari duduk nya lalu di ikuti Dara, baru juga mereka akan melangkah terdengar anak kecil berteriak memanggil nya.
"Mama... " panggil Farel sambil berlari ke arah Dara langsung memeluk sang ibu.
"Sayang kamu dari mana saja? " tanya Dara langsung mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak.
Dara belum melihat ke arah mana pun, dia sudah bahagia ketika anak yang di sayang nya sudah berada di hadapan nya.
Setelah beberapa saat Dara melihat ke arah pintu, ada seorang wanita yang telah berdiri di ambang pintu. Lalu Dara mendekat ke arah wanita itu, lalu menatap tajam"Kamu bawa ke mana anak saya? "tanya Dara terhadap Sherly
" Aku cuma bawa dia sebentar ajak dia makan, lagi pula aku kan calon ibunya masa nggak boleh lebih dekat dengan dia "jawab Sherly santai tanpa merasa berdosa.
" Tapi caranya tidak seperti ini, kamu bisa minta ijin saya jika mau ajak Farel main atau ijin sama Meli. Jangan membuat orang khawatir "kata Dara dengan nada bicara yang di penuhi amarah.
" Seharusnya kamu marahin pengasuh yang tidak becus itu, masa dia tinggalin Farel sendirian untuk aku pas lewat daerah itu kalau orang lain yang menculik nya bagaimana? "jawab Sherly yang tidak may kalah.
Di saat Dara sedang emosi terhadap Sherly, datang lah Dika.
" Kamu! "kata Dika kaget saat melihat Sherly ada di rumah Dara.
" Nggak usah kaget seperti itu"kata Sherly sambil menatap Dika yang baru saja tiba di rumah Dara.
Dika menerobos masuk
"Mana Farel? bagimana keadaan nya? siapa yang menculik nya?Kamu baik-baik saja kan nak! " rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Dika.
Dara yang mendengar itu semua rasanya sungguh ingin muntah, sejak kapan dia perhatian sama Farel.
Bukan nya kemaren-kemaren tidak pernah memperdulikan nya, kenapa sekarang seolah Farel sangat berharga.
"Tanya tuh sama kekasih impian mu" Jawab Dara dengan ketus.
"Apa yang kamu lakukan sama Farel? " tanya Dika sambil menatap tajam Sherly.
"Astaga... aku tidak melakukan apapun, hanya mengajak nya ke tempat makan tanya saja sama Farel kalau nggak percaya" jawab Sherly, tetap saja gaya angkuh dan merasa tidak bersalah masih melekat.
"Jangan pernah di ulangi lagi hal konyol seperti ini, sudah membuat semua orang ketakutan dengan ulah kamu" bentak Dika terhadap Sherly.
"Sudah lah, kalian pergi dari rumah ku dan jangan pernah ganggu hidup ku lagi, silahkan bawa itu barang bekas yang akan kamu pake" kata Dara sambil menatap ke arah Sherly dan Dika bergantian.
"Kamu mengusir ku? " tanya Dika terhadap Dara.
"Maaf" akhirnya Dika pun mengeluarkan kata keramatnya, yang tidak pernah terucap dari bibirnya selama ini.
"Sudah lah cepat kalian pergi! " usir Dara lagi.
"Bukan nya terimakasih malah mengusirnya" gerutu Sherly sambil balik badan, dia akan segera pergi.
Dika masih berada di dalam rumah, dia menatap ke arah Alan tetapi Alan seolah tidak melihat ada Dika di hadapan nya.
"Apa tidak ada maaf dari kamu untuk aku? " tanya Dika terhadap Dara.
"Sudah lah, cepat pergi tuh kekasih kamu menunggu dan satu hal yang harus kamu kasih tahu untuk dia, jangan pernah macam-macam dengan ku apalagi melibatkan Farel. jika masih ingin hidup" kata Dara dengan penuh penekanan.
Akhirnya Dika keluar dari rumah dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
Setelah kepergian Dika dan juga Sherly, Dara kembali duduk ke tempat semula dan membawa Farel duduk di samping nya.
"Farel tadi di aja ke mana sama tante Sherly? " tanya Alan dengan nada bicara super lembut.
"Tadi Farel di ajak tante untuk makan es cream, katanya sudah minta ijin sama Mama dan mbak Meli makanya Farel ikut" jawab Farel dengan nada bicara anak kecil nya, yang belum lancar mengucap huruf R.
"Lain kali jangan mau di ajak siapa pun yah kalau mbak Meli sama Mama lagi nggak ada! kasian loh sama Mama udah nangis sambil lari-lari nyari Farel" nasehat Alan untuk Farel dengan penuh cinta.
"Iya om" jawab Farel.
"Anak pintar" puji Alan sambil mengelus rambut Farel.
"Maafin Farel ya, Ma... " kata Farel sambil memeluk sang Mama.
"Jangan tinggalin Mama lagi ya sayang" kata Dara sambil mencium kepala Farel berulang-ulang.
Setelah cukup lama Farel di bawa Meli ke kamar, tinggal lah Alan dan Dara yang berada di ruang tengah.
Mereka masih belum ada yang mau membuka pembicaraan.
Setelah beberapa saat Dara mulai membuka suara"Maaf sudah membuat repot"kata Dara sambil menundukkan kepala.
"Nggak usah minta maaf, semua ibu akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada mereka" jawab Alan sambil tersenyum menatap lekat wajah Dara.
"Tapi kan tetap saja telah membuat kamu juga ikut repot" kata Dara.
"Ya sudah, sekarang Farel juga sudah ada aku kembali ke kantor lagi masih banyak kerjaan " kata Alan.
"Aku ikut ya" kata Dara.
"Nggak usah, kamu istirahat saja dulu di rumah! " jawab Alan.
"Tapi kan, tas aku juga masih di kantor"kata Dara.
" Nggak apa-apa, nanti sore aku bawa "jawab Alan.
" Ya sudah kalau begitu, Hati-hati di jalan jangan ngebut bawa mobil nya! "pesan Dara untuk Alan.
Setelah beberapa saat Alan beranjak dari duduk nya, lalu keluar dari rumah di antar Dara sampai ke teras.
Dara terus melihat Alan sampai kendaraan sudah tidak terlihat lagi.