LARA

LARA
Part 11



Keesokan harinya


Di ruang makan seluruh anggota keluarga sedang berkumpul untuk sarapan bersama, termasuk juga Dara dan Sherly.


Dara seolah tidak melihat ada Dika dan juga Sherly, dia bersikap tidak perduli dan tidak mau pusing.


Dia mengambil menu sarapan dan di tuangkan ke piringnya Farel, Dara menyuapkan makan ke mulut anak nya sedikit demi sedikit, begitu pun dengan nya dia juga makan sambil menyuapi anaknya.


Dika yang melihat Dara seolah tidak melihat nya, dan seperti tidak merasakan cemburu saat Sherly bermanja-manja dengan nya. Hal itu membuat Dika geram dan mengepalkan tangan nya di bawah meja.


"Dara... kenapa sekarang kamu tidak pernah menyiapkan sarapan untuk ku? " tanya Dika dengan tatapan tajam.


Seketika Dara meletakkan sendok lalu menatap ke arah suaminya dan juga Sherly bergantian.


"Kenapa aku harus masak! kan sudah ada pembantu gratis di rumah ini jadi tidak perlu buang-buang waktu ku" ucap Dara sambil menatap ke arah Sherly.


"Maksudnya apa?kamu bicara seperti itu! " tanya Sherly dia merasa tersinggung dengan perkataan Dara.


"Jaga bicara kamu! " bentak Dika terhadap Dara, Farel yang melihat itu langsung menundukkan pandangan nya, dia merasa takut melihat ayah nya menggebrak meja.


"Bu.... Farel udah kenyang, mau kembali ke kamar saja" ucap nya sambil turun dari kursi, sungguh anak tiga tahun harus melihat pertengkaran orang tuanya setiap hari.


Mira yang menyadari bahwa Farel sangat ketakutan dia juga langsung bangkit lalu merangkul nya, lalu di bawa ke dalam dekapan nya di gendong lah Farel menuju kamarnya.


Melihat Dara pergi begitu saja membuat membuat kemarahan Dika semakin membuncah di ubun-ubun.


Dika pun menyudahi sarapan nya, lalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan, sherly yang melihat Dika meninggalkan dirinya begitu saja. Dia langsung bangkit dan mengejar Dika sampai ke depan.


"Sayang kamu kenapa sih marah-marah terus? lagi pula kan itu semua masakan aku yang nyiapin, biasanya juga kamu suka! " ucap Sherly , setelah berhasil mengejar Dika.


"Sudah lah pergi dulu ke kantor! " kata Dika sambil pergi berlalu begitu saja meninggalkan Sherly yang masih mematung di teras rumah.


Setelah kepergian Dika Sherly pun, langsung balik badan sambil mengutuk Dara dalam batin. Dia sangat kesal semuanya ini terjadi karena Dara itu yang ada di pikiran nya.


Belum juga Sherly masuk eh Dara keluar, dia akan segera pergi ke kantor.


Farel sudah sedikit tentang dan dia bisa meninggalkannya bersama Meli.


"Kenapa sih kamu itu seneng bener mencari keributan! " ucap Sherly dengan tatapan tajam.


"Eh nggak kebalik yah, bukan nya ini sumber masalah nya dari kamu? "kata Dara.


" Maksud kamu? saya juga tidak mungkin ada di sini kalau bukan suami kamu yang membawa nya, kamu saja suami sudah tidak mau juga kenapa masih bertahan? "ucap Sherly dengan sorot mata mengejek.


" Oh iya, aku ada ide! coba kamu bujuk itu kekasih tercinta kamu biar mau menceraikan aku. Dan kamu harus pastikan bahwa hak asuh Farel jatuh ke tangan saya! "ucap Dara dengan sedikit penekanan.


" Maksud kamu? "Sherly


" Bisa lah kita kerjasama biar saling menguntungkan! "kata Dara sambil pergi berlalu meninggalkan Sherly yang masih mematung, menatap punggung Dara yang sudah pergi berlalu dan masuk ke dalam kendaraan online yang sudah di pesannya.


Setelah kepergian Dara, Sherly masih memikirkan ucapan Dara tadi.


" Ada benarnya juga sih omongan si Dara"Sherly menggerutu dalam hati.


*


*


*


Semua orang menunduk saat Alan melewati para karyawan, menyambut nya dengan hormat dan penuh kekaguman. Beda lagi dengan Dara yang terlihat biasa saja dan seperti tidak melihat Alan melewati nya.


Alan pun sudah melewati Dara, tetapi Dara pura-pura tidak melihat nya.


Setelah beberapa saat Dara pun sudah sampai di ruangan nya, di mana dia harus menghabiskan harinya untuk bekerja.


Dara menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesaran nya, sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Kamu kenapa lagi Dar...? " tanya Winda sang sahabat setia yang selalu menemaninya.


"Nggak ada apa-apa ko, cuma pusing saja! Masa aku harus jadi sekretaris CEO baru itu kata Pak Tony, kan ngaco" ucap Dara dengan nada bicara sedikit kesal.


"Lah itu anugrah tahu, pasti banyak yang ngantri di luar sanah hanya untuk menjadi sekretaris nya. Secara dia itu ganteng CEO pula siapa juga yang tidak tertarik dengan nya! " Winda berbicara sambil membayangkan Wajahnya Alan.


"Ikh,, apaan sih kamu! yang ada ngeri aku" ucap Dara sambil bergidik ngeri.


"Kamu itu harus periksa mata Dar... biar bisa membedakan mana orang ganteng mana nggak! " Winda bicara dengan nada kesalnya, menurut Winda tidak ada gunanya bicara soal laki-laki ganteng sama Dara.


Winda pun kembali ke meja kerjanya.


"Gantengan juga suami ku" ucap Dara


"Halah, buat apa ganteng tapi nyakitin melulu" Jawab Winda kesal.


"Iya kali aku harus memuji laki-laki lain, sedangkan aku sudah menikah" Kata Dara


"Au ah, susah ngomong sama orang buta"Winda bicara dengan nada kesalnya.


Bagi Dara melihat Winda kesel seperti itu adalah tonton menarik baginya.


Dara masih saja asik duduk di kursi kebesaran nya, sebelum memulai aktivitas nya. Sebab belum waktunya masuk kantor, dirinya saja yang terlalu pagi datang.


Di sela-sela lamunan Dara tiba-tiba di buyarkan dengan dering telepon yang ada di hadapan nya.


Dara terlonjak kaget, refleks dia langsung mengambil gagang telepon.


" Hallo ada yang bisa di bantu"tanya Dara terhadap sang penelepon.


"Baik Pak, saya akan segera ke sanah" Dara pun menyimpan kembali gagang telepon tersebut, sambil menghela nafas panjang.


Winda yang melihat raut wajah Dara berubah setelah menerima telepon langsung bertanya.


"Ada apa? " tanya Winda terhadap Dara.


"Pak Tony menyuruh ke ruangan nya, ini sudah pasti akan membicarakan soal sekretaris lagi" ucap Dara dengan wajah kurangnya, dia sudah bisa menebaknya bahwa dia akan di perlakuan kurang baik nantinya.


Sudan di rumah lelah dengan semua masalah yang ada di tambah lagi di kantor, lengkap sudah bumbu di hidup Dara.


Dara pun bangkit dari duduknya, dengan langkah yang kurang semangat dia akan menemui Pak Tony di ruangan nya.


Setelah beberapa saat Dara sudah berada di depan ruangan Pak Tony, dia mengetuk pintu. Tidak lama kemudian Dara di persilahkan untuk masuk, bukan nya di persilahkan untuk duduk. Malah langsung mendengar perkataan yang kurang enak di dengar


"Dasar lelet! " kata orang tersebut dengan nada suara yang penuh penekanan.