LARA

LARA
Perubahan



Ada beberapa hal yang patut untuk disyukuri dan tidak. Manusia yang terkadang cepat terlena selalu gampang dibuai bujukan ulung. Tidak peduli apa akibat dari semua yang ia lakukan.


"Lara," lirih senja.


Lara tidak menyahut. Ia hanya diam sambil terus menatap ke luar jendela tanpa mengganti bajunya. Tatapannya begitu dingin, senja bahkan tidak bisa menebak apa yang sedang lara pikirkan.


Senja mendesah pelan. Ia memandang foto yang terletak di atas nakas. Potret kebahagiaan keluarga kecilnya dulu. Dulu. Dulu sekali, sebelum bencana menghancurkan keluarganya.


Hari ini ia bahkan diberi dua kali kejutan. Air matanya tidak bisa menetes lagi. Berita kematian papanya membuat ia sangat-sangat terkejut. Ia yakin, bahwa lara pun sama terkejutnya dengan dirinya saat ini.


Papa yang selama ini sangat-sangat ia sayangi. Bahkan sejak kecil ia ingin seperti ayahnya, kuat, lembut, penyangan. Namun, saat ini ia ingin melupakan semua itu. Ia tidak lagi ingin bermimpi ingin menjadi seperti papanya.


Ia bahkan tidak berani menebak apa sebab kematian papanya, yang ia tahu bahwa papanya tidak pantas pergi begitu saja. Seharusnya ia hidup lebih lama agar ia bisa mempertanggung jawab kan semuanya. Menjelaskan kepada ia dan lara kenapa ayahnya melakukam itu.


"Senja."


Suara lara membuatnya tersentak. Ia menatap lara yang juga menatap ke arahnya saat ini. Luka di pipi lara kini mulai mengering, meninggalkan bekas memanjang yang membuat lara tambah menyedihkan.


"Kunci kamar mama kamu letakin di mana?" tanya lara.


Senja menaikkan alis bingung. Ia penasaran kenapa lara menanyakan hal tersebut.


"Ada di laci bawah lemari itu," tunjuk senja pada nakas di samping tempat tidur.


Lara berjalan mendekati nakas, membuka laci bawah mencari kunci kamar mamanya.


"Untuk apa, Lara?" tanya senja saat melihat.


Lara mengabaikan pertanyaan senja, ia berjalan cepat keluar kamar menuju kamar mamanya. Senja yang penasaran pun mengikuti lara.


"Lara, untuk apa?"


"Diam lah, Senja!" perintah lara sambil memasuki kamar mamanya.


Ia melihat sekeliling. Kamar yang dulu begitu ia senang kunjungi saat ia dan senja tak bisa tidur kini berubah menjadi menyeramkan. Perabotan yang berantakan kini sudah tertata kembali di tempat semula. Potret kebahagian ada di mana-mana, kenangan menyenangkan seakan berputar terus di dalam pikirannya.


"Lara," ucap senja pelan sambil memegang tangan lara.


Lara menoleh, melihat ke arah senja yang tampak kurus. "Tolong cari map berwarna merah!"


Senja mengangguk pelan. Ia mulai bergerak bersamaan dengan lara. Membongkar siisi kamar untuk mencari map yang lara suruh.


"Apakah mapnya seperti ini?" tanya senja sambil memegang map berwarna merah maroon dengan ikatan emas di sisinya.


"Di mana kau menemukannya?" Lara mendekat sambil memgambil map tersebut.


Ia meniup pelan map tersebut agar debunya sedikit berkurang.


"Di bawah kasur. Bukan bawah,sih, lebih tepatnya terselip antara kasur dengan matras tidur," jawab senja.


"Senja, ingat! Kamar ini jangan sampai terbuka. Sembunyikan kunci di tempat yang tidak bisa digapai oleh orang lain."


Senja mengangguk. Memperhatikan lara yang membuka map tersebut. Mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam map.


"Surat tanah?" Senja maju mendekati lara. Memperhatikan semua dari isi map tersebut.


"Sekarang, rumah ini yanh kita punya. Lara gak yakin semua aset papa akan jatuh ke tangan kita berdua. Cuma ini satu-satunya sekarang," ujar lara pelan.


Ia paham yang lara lakukan. Lara sedang bersikap hati-hati. Semua itu ia lakukan karena ada beberapa ancaman yang sekarang mereka rasakan.


"Mereka tidak akan pernah berhenti sampai keluarga kita hancur tak bersisa," tambah lara.


"Tapi, mungkin saja mereka baik," bela senja.


"Bagaimana mungkin?" Lara melotot marah. "Seseorang yang baik tidak akan merebut kebahagian orang lain," ucap lara berapi-api.


Lara benar. Sikap waspadanya kali ini benar-benar tidak bisa disalahkan.


"Sekarang kita gimana, Lara?"


Lara diam sejenak. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskan napas kasar.


"Kita berjalan seperti biasanya. Kamu tetap melanjutkan sekolah."


"Lalu kamu?"


Senja mundur perlahan. "Enggak! Senja gak setuju kalau kamu berhenti sekolah dan pergi kerja."


Lara berdiri menghampiri senja lalu memeluknya. "Cuma itu yang bisa Lara lakukin, Senja."


Senja menatap sendu ke luar. Ia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk hidupnya kali ini.


"Tapi Senja gamau Lara berhenti sekolah," lirihnya pelan.


"Janji sama Senja kalau Lara gak bakalan berhenti sekolah. Kita bisa jual rumah ini untuk biaya sekolah dan sehari-hari, lalu pindah ke rumah yang lebih kecil."


Lara melepaskan pelukan Lara. "Enggak," jawabnya tegas. "Kita gak bakalan pernah jual rumah ini. Ini peninggalan mama, kenangan terlahir kita. Bagaimana pun kita tetap harus pertahanin rumah ini."


Senja menatap sendu kakaknya tersebut. Sikap keras kepalanya sama seperti papa, bukan hanya sikapnya. Wajahnya bagai pinanh dibelah dua, tidak ada celah. Wanita dengan karisma yang tinggi dengan wajah terpahat sempurna.


Lara memegang erat map tersebut lalu berjalan ke luar kamar dengan tergesa-gesa. Ia mulai memikirkan bagaimana menyimoan semua aset yang hari ini ia punya.


Ia mengeluarkan handphone dari dalan sakunya. Menghubungi seseorang yang saat ini ia rasa bisa diminta pertolongan.


"Halo, om. Ini Lara."


"Lara, barusan saja om mau menghubungi kamu?"


"Saya?"


"Iya. Om sudah dengar kabar tentang mama dan papa kamu. Untuk lebih lebih jelasnya, om akan berkunjung malam ini."


Lara mengerutkan dahi bingung. Apakah semuanya sudah direncanakan papa sebelumnya? Bagaimana bisa om pras bisa tau secepat ini.


"Satu lagi, om tau bahwa istri kedua papa kamu sedang berada di sana. Tolong jangan lakukan hal yang berbahaya, hubungi om jika kamu membutuhkan sesuatu."


"Bagaimana om tahu?"


"Nanti malam akan om beritahu. Om tutup dulu."


Lara terdiam sesaaat, rahasia apa yang selama ini papanya sembunyikan. Bagaimana om pras tahu perihal simpahan ayahnya dana oa maksud om pras untuk tidak melakukan hal yang berbahyaa.


Ceklek!


Suara pintu membuat lara berjengkit kecil.


"Maaf Lara, senja buat kamu kaget," ucap Senja sambik cekikikan kecil.


"Kamar mama sudah kamu kunci?"


Senja mengangguk pelan sambil memperlihatkan kunci yang berada di tangannya.


"Om pras akan berkunjung malam ini," ucap lara pelan.


"Om pras? Senja memiringkan kepalanya bingung. "Pengacara papa? Buat apa?" tanya Senja bingung.


Lara menatap senja, "Ntah lah, Lara juga tidak mengerti dengan semuanya."


Mereka terdiam sejenak, menatap ke arah luar yang mulai menggelap.


"Senja, kamu sudah bisa kembali ke kamar kamu lagi."


Senja menatap lara sedih. "Haruskah?" tanyanya parau


"Harus. Kita tidaj bisa selamanya satu kamar sedangkan kamarĀ  kamu kosong. Kamu harus belajar mandiri mulai hari ini."


"Baiklah," ucap Senja semangat. "Mulai hari ini Senja akan lebih semangat lagi, akan lebih mandiri dan akan membantu lara dalam segala hal."


Lara tertawa kecil. Ia melihat dengan jelas semangat Senja yang menggebu-gebu. Ia mendekati senja lalu memeluknya pelan, memberikan kehangatan dan kekuatan yang bisa ia berikan.


"Kita harus tetap semangat," lirih Lara sambil tersenyum pelan.


.


.


.


Megabite