LARA

LARA
Part 46



"Kenapa kamu juga ada di sini? " tanya Alan terhadap wanita tersebut.


"Ada hal penting yang perlu kita bicarakan" jawab wanita itu.


"Tapi kan nggak harus datang ke sini juga! " kata Alan.


"Sudah lah, kan dia juga ada hak datang ke rumah ini" kata sang ibu.


"Mama dari dulu selalu seperti ini dan aku nggak suka, apa-apa nggak pernah ngomong dulu.. aku ini anak mu, Ma... bukan boneka yang bisa di mainkan sesuka hati" kata Alan dengan nada bicara kesal nya.


"Kenapa sih kalian, baru juga ketemu seperti kucing sama anjing saja tidak pernah akur! " kata sang Ayah.


"Lagian kalian itu selalu mempermainkan hidup aku, dan sekarang aku sudah lelah dengan semua yang kalian lakukan terhadap diriku" kata Alan sambil pergi berlalu meninggalkan kedua orang tuanya dan juga wanita itu.


"Kenapa dia jadi seperti itu? " tanya Imelda terhadap suaminya.


"Ya mana ku tahu, kan kita baru ketemu dia" jawab sang suami.


"Mungkin Mas Alan lagi capek" Novia menimpali ucapan mertuanya.


"Ya sudah kamu istirahat dulu, dan Giska juga sudah tidur kan! " perintah Imelda terhadap Novia.


"Iya, Ma... " jawab Novia sambil pergi berlalu meninggalkan kedua mertuanya yang masih berada di ruang tengah.


Seketika perhatian mereka tertuju pada suara seperti barang pecah.


"Itu suara berasal dari kamar Alan" kata Imelda sambil menatap suaminya.


"Kenapa lagi dengan anak itu"


"Barang apalagi yang dia pecahkan, ternyata belum berubah juga itu anak mu sampai kapan dia seperti ini" kata Imelda sambil menatap lekat sang suami.


"Lagian kenapa juga kamu tidak mencegah Novia untuk ikut ke sini" kata sang suami.


"Ku pikir Alan akan berubah pikiran setelah bertemu Giska dan Novia" jawab Imelda.


"Itu tidak akan terjadi, yang ada Alan semakin ngamuk dan kamu mau dia nggak pulang seperti dulu"


"Ya nggak, tapikan mereka juga sudah menjadi bagian dari keluarga kita dan juga Alan" kata Imelda lagi.


"Tapi Alan terpaksa melakukan itu semua, atas dasar permintaan dari kita bukan kemauan nya" jawab Pak Djoko.


"Terus bagaimana dengan perempuan yang pernah Alan bicarakan tempo lalu, apa dia mau menerima lamaran kita jika sudah tahu kebenaran nya" kata Imelda terhadap sang suami.


"Tidak akan mungkin mau, Ma... jika sudah tahu akan kebenaran" jawab sang suami.


"Novia dan Giska juga kan tidak salah, dan tidak sepantasnya juga Alan membenci mereka sampai saat ini" kata Imelda.


"Ya sudah ini sudah malam, kamu istirahat dulu aku samperin Alan " kata pak Djoko terhadap sang istri.


"Bujuk dia agar tidak memperlakukan Novia dan Giska seperti itu" kata Imelda terhadap suaminya dengan tatapan penuh permohonan.


"Aku coba bujuk Alan" jawab Pak Djoko.


"Aku ke kamar dulu" Kata Imelda sambil bangun dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk segera menuju kamar.


Setelah kepergian sang istri, Pak Djoko mengusap wajahnya dengan kasar.Sungguh rumit masalah yang di hadapi keluarga nya, di sisi lain dia kasihan terhadap Alan dia selalu menjadi korban dari keegoisan semua nya, di sisi lain ada Novia dan juga Giska yang tidak bersalah tetapi harus menderita atas semua ini.


Suguh berat rasanya bagi Pak Djoko, apalagi saat ini Alan menginginkan Dara untuk menjadi istrinya dan itu sangat sulit.


Setelah beberapa saat dia terdiam, lalu bangkit dari duduknya dan segera berjalan perlahan untuk segera menuju kamar sang anak.


Dia ingin mengajak Alan untuk berbicara dari hati ke hati sebagai sesama lelaki.


Pak Djoko mengetuk pintu kamar Alan, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Dia memegang gagang pintu lalu memutarnya dan ternyata nggak di kunci.


Pintu sudah terbuka dia melihat ke sekeliling kamar,tetapi Alan tidak ada hanya terlihat kamar yang berantakan.


Dia masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan sang anak, sambil memanggil namanya.


Belum ada jawaban juga, seketika pandangan pak Djoko tertuju ke arah balkon, sudah pasti Alan ada di sana.


Dengan perlahan Pak Djoko melangkah menuju balkon untuk segera menemui sang anak.


Setelah tiba, terlihat Alan sedang mengudarakan asap rokok.


Pak Djoko mendekat lalu memegang bahu Alan, seketika dia melihat ke arah sang Ayah.


"Maafin Papa, semua ini berawal dari kesalahan yang pernah di lakukan tempo lalu" ucap sang Ayah dengan penuh permohonan.


"Maaf juga tidak akan mengubah segalanya" jawab Alan sambil tetap mengusahakan asap-asap tembakau nya.


"Iya, Papa tahu tidak bisa mengubah segalanya, setidaknya kamu bisa memaafkan nya dan akan Papa lakukan apapun itu asal kamu bahagia" kata Pak Djoko.


"Aku hanya ingin Papa melamar Dara untuk ku! " jawab Alan.


"Akan Papa lakukan, tapi apa Dara bisa menerima kamu jika tahu kebenarannya bahwa telah ada wanita lain yang sudah menjadi istri mu? " tanya Pak Djoko.


"Itu istri Aldo bukan aku,hanya karena kesalahan nya aku yang harus menanggung semua ini" jawab Alan dengan nada bicara penuh dengan emosi.


"Tapi kamu yang mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan" kata sang Ayah.


"Semua itu aku lakukan atas paksaan dari kalian semua,dan sama sekali aku tidak menginginkan pernikahan itu" jawab Alan.


"Iya Papa minta maaf" kata pak Djoko dengan suara lembutnya, dia sangat mengerti perasaan Alan saat ini seperti apa. Dia menderita karena ke egoisan dirinya di masa lalu, memaksa Alan agar menikahi Novia saat Aldo kabur di hari pernikahan nya. Dan entah ke mana anak itu sampai sekarang belum di ketahui ada di mana.


"Pokoknya aku ingin secepatnya, perceraian ku dengan Novia di urus! " kata Alan.


"Apa Novia mau menerima ini" kata Pak Djoko.


"Ya kalau dia nggak mau, terus apa yang di pertahankan dari pernikahan ini toh Giska juga bukan anak ku" jawab Alan.


"Iya, Papa juga tahu... " jawab nya.


"Lalu apalagi yang di pertahankan, apa Novia mau seumur hidup nya ada di dalam pernikahan seperti ini?bahkan aku tidak pernah memberikan haknya sebagai seorang istri,mau sampai kapan akan seperti ini"Kata Alan, dia belum juga bisa menguasai emosinya.


" Coba kamu bicara baik-baik dengan Novia, pasti dia juga mengerti kamu selama ini dia tidak pernah menuntut apapun dari kamu kan! "kata sang Ayah dengan suara lembutnya, dia sangat berharap Alan bisa sedikit menguasai emosinya dan sedikit merendahkan suaranya saat berbicara dengan orang yang lebih tua.


" Jangan kan untuk bicara, melihat nya saja aku sudah muak "kata Alan.


" Masalah tidak akan selesai jika kamu tetap seperti itu"nasehat sang Ayah.


"Sudah lah, Papa pergi sana... ku mau tidur" usir Alan terhadap sang Ayah.


"Baiklah, kamu tenangkan pikiran kamu... kemarahan tidak akan bisa menyelesaikan semua nya" kata Pak Djoko sambil melangkah perlahan meninggalkan Alan yang masih di balkon.