LARA

LARA
Laranya Senja



Mentari mengintip dari balik tirai. Menyusup perlahan ke dalam selimut dengan motif panda.


Lara masih bergelung nyaman di atas kasur tanpa memperdulikan matahari yang mulai membangunkannya. Ia masih setia dengan mimpi indah tanpa ingin terbangun.


Brak!


Suara benda terjatuh membuat sang putri tidur terbangun. Syok. Itu yang ia rasakan ketika membuka matanya. Melihat bagian di sebelahnya sudah kosong tak berpenghuni. Lara yang bingung mulai turun secara tergesa dari tempat tidurnya. Ia tidak perlu menemui sabun atau pun gosok gigi terlebih dahulu, baginya saat ini yang terpenting menemukan adiknya.


"Senja," panggil Lara yang menyerupai bisikan saat menuruni tangga.


Ia menoleh ke segala arah untuk mencari adiknya tersebut. Sepelan mungkin suaranya ia keluarkan agar tak membangunkan seseorang yang ia takuti.


Ia mulai berjalan ke arah ruang tamu. Ruangan di mana banyak pecahan kaca dan barang-barang yang tercecer berantakan.


"Senja."


Lara terus mencari sambil sesekali meneriaki nama adiknya. Ia sangat-sangat khawatir terhadap Senja. Apalagi dengan barang pecah yang sempat ia dengar, mau tidak mau membuatnya semakin cemas.


Kaki kecilnya berhenti berjalan ketika ia melihat sosok yang ia cari berdiri di depan kompor. Dengan bangku pendek agar ia sejajar dengan kompor disertai celemek panda kebesaran di tubuhnya.


"Senja," panggil Lara.


Senja menoleh. Menampilkan deretan gigi ompongnya kepada Lara.


"Ahh, aku membangunkan pengantinku," ucapnya sambil terus tersenyum.


"Senja gak sengaja tadi jatuhin mangkuk," tambahnya sambil menggaruk belakang kepala.


"Apa yang kamu lakuin?" tanya Senja penasaran.


Ia menatap horor ke arah sang adik. Ia takut. Takut kalau-kalau mamanya keluar dari kamar dan menemukan mereka berdua di bawah. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan mamanya jika hal tersebut terjadi.


"Senja lagi masak sarapan buat Lara," jawab Senja sambil terus mengaduk masakannya.


Lara mendekat ke arah Senja. Melihat apa yang dimasak oleh adiknya.


"Cepatlah, Senja! Aku takut mama terbangun."


Lara meremas jarinya takut. Ia benar-benar cemas jika hal tersebut terjadi.


"Tenang, lah! Mama bakalan suka, Lara. Ia juga akan makan bersama ki-"


"LARA!"


Teriakan dari arah depan membuat ucapan Senja terhenti. Mereka berdua mematung. Jantung mereka berpacu dengan sempurna saat mendengar terikan mamanya mendekat.


"Senja, Cepat matikan kompornya!"


Lara mulai bergerak cemas. Ia menggenggam tangan adiknya kuat. Mulai berjalan meninggalkan dapur dan memilih untuk menuju kamar mereka.


"LARA!"


Deg


Langkah keduanya berhenti ketika mendengar suara sang mama berada tepat di belakang mereka.


Lara dan senja berbalik. Melihat sang mama yang berdiri tak jauh dari tempat merek.


Lara meringis pilu, melihat keadaan sang mama yang terbilang tidak cukup baik. Kantong matanya terlihat mengerihkan dengan rambut yang berantakan.


"Seperti pencuri, eh?" ucap sang mama.


Lara mulai membawa Senja ke belakang tubuhnya saat melihat mamanya yang mulai berjalan ke arah mereka. Mereka mundur secara perlahan seiring sang mama yang mulai mendekat.


Praang!


Vas bunga meluncur secara sempurna ke arah samping mereka. Menabrak dinding tepat di samping mereka berdiri. Belum hilang rasa terkejut mereka berdua, Lara harus menelan ludah kelu saat mamanya menarik tangannya keras. Menjauhkannya dari Senja yang tampak mulai menangis.


"Wajah ini," ucap sang mama sambil membelai pelan wajah Lara.


"KENAPA HARUS WAJAH BAJ* ITU YANG ADA DI SINIII."


Belaian di wajah Lara berubah menjadi cengkraman yang kuat di wajahnya. Membuat jejak merah di kulit putih Lara.


"Mamaa ....," teriak Senja.


Ia mulai mendekat, ingin melepaskan cengkraman di wajah sang kakak yang mulai meninggalkan bekas merah.


"Pergi!" ucap sang mama dingin sambil mendorong Senja menjauh.


Senja yang tak siap menerima dorongan sang mama terpelanting jauh dengan punggung menabrak tembok.


"SENJAAA," jerit Lara cemas.


"Ma, lepas, Ma!"


Lara terus bergerak. Mencoba melepaskan diri dari cengkrama sang mama.


Plak


Tamparan keras mendarat sempurna di bagian pipi kanan Lara. Lalu menyusul tamparan kedua di pipi sebelah kirinya.


Darah segar mulai mengalir di sudut bibir Lara. Tamparan keras sang mama membuat keduanya pipinya bercap tangan sang mama.


"DIAM!"


Mama Lara mulai menyeret Lara menjauh dari tangga. Menyeretnya ke arah ruang tamu dengan hiasan foto besar kebersamaan mereka.


"Kau lihat, Lara!" ucap sang mama sambil menunjuk foto tersebut.


"Kau lihat, wajahmu mirip sekali dengan papamu. Lelaki brengsek yang sudah menghancurkan hidupku."


Sang mama menjerit frustasi. Ia mendorong Lara ke arah depan sekuat tenaga. Lara tersungkur ke depan dengan tangan yang hampir mengenai pecahan vas bunga.


Ia mendongak. Melihat foto kebersamaannya bersama keluarganya dulu. Iyah, dahulu sekali sebelum bencana itu datang.


Kepala Lara tertarik ke arah belakang ketika sebuah jambakan mampir di rambutnya yang panjang. Tarikan kuat sang mama membuat ia mendongak ke atas dengan air mata yang hampir keluar.


"Jangan menangis, Lara! Jangan!" batin Lara menguatkan dirinya.


Jambakan semakin kuat dirasakan Lara saat mamanya mulai menarik rambutnya kuat sehingga badannya ikut tertarik. Ia melihat Senja yang ingin mendekat dengan lelehan air mata yang cukup deras.


Belum hilang rasa sakit akibat jambakan sang mama, kini ia mulai merasak tubuhnya yang mulai ditendang oleh mamanya.


"Dasar anak tidak tau diuntung," maki sang mama sambil terus menendang badan Lara.


"Kenapa kau tidak pergi bersama papamu yang brengsek itu, heh?"


Mamanya terus menyiksa tubuh kecil Lara. Ia bahkan tidah segan-segan menginjak badan Lara. Kemarahannya terhadap sang papa ia lampiaskan terhadap Lara. Lara kecil yang malang.


Senja yang melihat kakaknya tersiksa tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis. Ia terlalu menurut terhadap Lara, apapun yang diucapkan sang kakak tidak pernah dilawannya.


Ia menangis di dekat tangga melihat kakaknya yang tertidur meringkuk dipukuli oleh mamanya.


Ia berani mendekat saat dilihat mamanya yang bergerak pergi meninggalkan Lara yang mulai tak berdaya.


"Laraaa," ucapnya sambil terisak.


Ia mengangkat kepala Lara perlahan. Meletakkan diatas pangkuannya sambil terus menangis.


"Wajahmu," lirihnya sambil terus menangis mengusap wajah sang kakak.


Ia pikir dengan begitu ia bisa mengurangi rasa sakit sang kakak.


"Jangan menangis, Senja,"


Lara mengusap air mata Senja perlahan. Tangannya yang kurus serta lemah mengusap kepala adiknya pelan.


"Senjanya Lara gak boleh cengeng," tambahnya sambil terus mengusap kepala Senja lembut.


Tangis Senja semakin terdengar pilu saat mendengar apa yang kakaknya ucapkan. Ia memeluk erat badan lemah sang kakak sambil terus menangis.


"Maafin Senja yang gak bisa ngelakuin apa-apa, Lara."


Ia terus menangis sambil mengucapkan kata maaf. Tangisan mereka berdua seakan menjadi nyanyin pilu di pagi hari. Tangisan pilu yang sama sekali tidak membuat mamanya merasa iba. Tangisan pilu yang membuat siapa pun ikut menangis karenanya.


"Apa sudah tidak sakit," tanya Senja yang membersikan luka Lara.


Setelah adegan tangis berhenti, Senja mulai membawa Lara ke kamarnya. Kamar yang menjadi markas ketika perang besar terjadi.


Lara mengangguk lemah. Seluruh badannya penuh luka. Wajahnya, perutnya, tangannya, bahkan rambutnya banyak rontok membuat beberapa bagian botak akibat jambakan sang mama.


Tenaganya sudah tidak ada lagi untuk menjawab pertanyaan sang adik. Ia kembali merebahkan dirinya di atas kasur.


"Ssshhhhh," desis Lara saat badannya menempel di atas kasur. Luka yang ia dapat seakan menyuruhnya untuk tetap duduk.


"Tunggu di sini sebentar. Jangan kemana-mana," ucap Senja sambil menaikkan selimut pandanya ke badan Lara.


Lara tak sempat mencegah Senja. Ia melihat sang adik yang mulai mengendapt secara diam-diam ke luar.


Ia mulai memejamkan matanya perlahan. Rasa sakit membuat kantuk menyerang dengan membabi buta. Ia ingin bermimpi. Bermimpi akan kebagiaan yang menanti ketika ia terbangun nantinya.


Saat alam mimpi mulai menghampiri, ia tersentak kaget oleh suara decitan pintu. Matanya terbuka sempurna. Ia pikir mamanya yang berhasil masuk, namun ternyata siluet sang adik lah yang tertangkap di indera penglihatannya.


Senja datang dengan membawa baki yang berisikan dua piring, satu teh hangat dan satu gelas susu coklat.


Ia meletakkan bakinya tersebut di atas nakas dan membantu Lara untuk bangun.


"Aku sudah meletakkan sarapan Mama di depan pintu," ucap Senja.


Ia mulai mengambil satu piring berisikan nasi goreng buatannya pagi tadi.


"Buka mulutmu, pengantinku!" lanjutnya sambil bergurau.


Lara mendengus geli. Ia tidak percaya, di saat keadaan seperti ini Senja masih saja bisa bergurau.


"Bagaimana? Enak, bukan?" tanya Senja penasaran.


Lara mengangguk. Semenjak kedua orang tua mereka sering bertengkar, Senja mulai belajar memasak diam-diam. Ia yang dulu sering memerhatikan pembantu mereka memasak membuatnya mahir dalam memasak sekarang.


Pembantu mereka kabur karena tak tahan dengan pertengkaran kedua orang tuanya membuat Senja mulai melancarkan hobinya dalam memasak. Ia mulai memasak di pagi buta sebelum mamanya terbangun, dan meletakkan makanannya di depan kamar sang mama.


"Lara, bagaimana kalau kita kabur?"


Lara membulatkan mata kaget. Ia tersedak mendengar ucapan sang adik.


"Tidak," jawab Lara.


Senja mendesah lelah. Ia menyerahkan minuman untuk sang kakak sambil berkata, "Selalu saja seperti itu. Apa yang kita pertahanin di sini, Lara?" tanya Senja marah.


"Hanya pukulan yang kau dapat, bukan kasih sayang."


Badan Senja mulai bergetar. Bergetar menahan tangis melihat penderitaan sang kakak.


"Senja cuma gak mau liat Laranya Senja menderita," lirih Senja.


Lara memeluk badan adiknya erat. Lidahnya benar-benar kelu. Ia benar-benar bingung harus bagaimana. Ia tidak ingin meninggalkan mamanya sendirian, ia juga tidak ingin melihat Senja menderita. Semuanya membuat Lara bingung bukan main.


.


.


.


.


.


Hiaaaaa...


Lara udah up yak:(


Duh, kok bombayah banget bab ini:(


Jangan lupa vomentnya gaeees:v


Next ....


Ketjup manjah


Megabite