
"Kamu kenapa? " tanya Alan terhadap Dara, yang terlihat sangat lemas.
"Ngantuk... " hanya itu yang keluar dari bibir Dara, memang kalau sudah kenyang sudah pasti rasa ngantuk akan datang. Apalagi lelah setelah seharian bekerja, sudah bisa di pastikan rasa ngantuk cepat datang.
"Pulang sekarang? " tanya Alan terhadap Dara.
"Terserah, aku ikut saja" jawab Dara.
"Ya sudah... kita pulang sekarang! lagipula ini sudah malam, Farel juga sudah pasti menunggu" kata Alan.
"Tadi pas pulang belum sempat bertemu dengan Farel, langsung berangkat lagi ke sini" ucap Dara.
"Maafin aku ya... " kata Alan.
"Iya nggak apa-apa... terimakasih banyak atas semua ini" ucap Dara sambil tersenyum manis menatap lekat wajah Alan.
"Ngapain terimakasih ke aku, yang ada aku terimakasih banyak sama kamu telah menjadi warna di setiap hari ku" kata Alan sambil tersenyum tipis ke arah Dara.
"Aku bukan pensil warna yang bisa mewarnai harimu"jawab Dara sambil tertawa kecil.
" Ya sudah kita pulang... "ajak Alan sambil bangkit dari duduk nya, Lalu Dara mengikuti nya. Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut, beriringan untuk segera menuju tempat parkir.
Setelah beberapa saat mereka sampai di tempat parkir, Alan langsung membuka pintu kendaraan yang akan mereka tumpangi dan mempersilahkan Dara untuk segera masuk.
Dara langsung duduk di kursi depan di samping kursi pengemudi, sebab Alan yang akan membawa kendaraan nya. Pak sopir yang tadi siang menjemput Dara, sudah di suruh pulang oleh Alan.
Alan sudah duduk di kursi kemudian, sebelum menyalakan kendaraan dia memerintahkan Dara untuk memakai sabuk pengaman.
Setelah semuanya siap, Alan langsung menyala kan kendaraan lalu menginjak gas dengan perlahan.
Perjalanan malam ini sangat luar biasa bagi Alan, bisa makan malam bersama menikmati perjalanan di malam hari. Meski ini bukan yang pertama bagi Alan bersama Dara, tetap saja rasa bahagia yang di rasakan Alan tidak berkurang sedikit pun.
Perjalanan yang mereka lalui tidak terlalu lama, sebab waktu sudah malam. Para pengguna jalan sudah sedikit berkurang, hingga jalanan sangat leluasa untuk menginjak gas.Meskipun jalan tidak macet bagi Alan sayang jika harus melewati perjalanan ini dengan melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, bahkan dia sangat berharap jalan ini akan macet dan lama untuk segera sampai di rumah.
Meskipun melajukan kendaraan sangat lambat, akhirnya mereka sudah sampai juga di rumah Dara.
Dia langsung turun dari kendaraan,tanpa menunggu Alan untuk membuka kan pintu untuk nya terlebih dahulu.
"Mas... langsung pulang saja yah! hati-hati di jalan, sampai ketemu besok di kantor" pesan Dara terhadap Alan sambil melambaikan tangan nya.
Setelah mengucapkan itu Dara langsung pergi berlalu meninggalkan Alan, tanpa mendengar jawaban dari Alan.
Alan hanya geleng-geleng kepala saat melihat Dara sudah pergi berlalu.
Setelah sampai di dalam rumah kedatangan nya di sambut oleh Meli.
"Nggak biasanya pulang malam, Bu...? " tanya Meli terhadap Dara, sebab selama ini dia tidak pernah melihat nya pulang se larut ini.
"Habis ada acara, Mel... makanya pulang malam" jawab Dara.
"Oh ya, tadi siang ada Pak Dika datang ke sini" kata Meli.
"Mau ngapain datang ke sini? " tanya Dara.
"Hanya membawakan mainan untuk Farel, dan bermain sebentar setelah itu langsung pulang lagi" jawab Meli dengan jujur.
"Sama Sherly datang nya? " selidik Dara.
"Halah, kamu jangan percaya sama dia paling ada niat tertentu yang kamu tidak tahu" Jawab Dara.
"Masa sih Bu, dia hanya pura-pura baik tapi sepertinya dia sayang banget sama Farel" kata Meli lagi.
"Astaga Meli...! " ucap Dara, nada bicaranya naik sedikit dari tadi, sebab Dara merasa kesal sama meli yang terus bilang bahwa Dika itu sudah berubah.
"Maaf Bu... " jawab Meli sambil menundukkan kepala, dia tahu bahwa Dara sedang kesal.
"Ya sudah pergi sana tidur, sudah malam juga jangan lupa kunci semua pintu dan nggak ada drakor-drakoran malam ini! " Kata Dara sambil pergi berlalu meninggalkan Meli yang masih berdiri di ruang tengah.
Setelah sampai di kamar, Dara langsung melempar tas nya ke atas tempat tidur lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah beberapa saat Dara sudah keluar dan berganti pakaian, dan rutinitas malam nya yaitu sebelum tidur harus ke kamar Farel terlebih dahulu untuk memastikan bahwa anak nya baik-baik saja.
Dara melangkah dengan perlahan untuk keluar dari kamar,dan menuju ke kamar Farel.
Setelah beberapa saat Dara sudah sampai di dengan kamar Farel, lalu dia membuka pintu dengan perlahan.
Setelah pintu terbukti, terlihat tubuh mungil sang putra sudah tertidur dan ada beberapa mainan tergeletak di samping nya.
Dara sudah bisa menebak bahwa mainan-mainan itu yang di bawa Dika tadi,dalam hati kecil nya Dara tidak ikhlas jika Dika berusaha mendekatkan diri terhadap Farel. Sebab Dara berfikir bahwa baik nya Dika ada maksud tertentu di balik itu semua.
Dara duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah Farel dengan lekat, adem dan menenangkan jiwa seorang Ibu saat melihat anaknya tertidur pulas. Tetapi ada rasa yang sulit di artikan saat hari-hari tidak bisa di lalui bersama sang anak, ketika pulang ke rumah anak sudah tertidur.
Hanya ada sedikit waktu untuk bersama sang anak.
Dara mengusap lembut kepala sang anak lalu di cium keningnya, dan setelah itu Dara turun dari tempat tidur Farel sambil membereskan mainan yang tergeletak di samping sang anak.
Setelah menyimpan mainan ke tempatnya, Dara melangkah perlahan untuk untuk segera kembali ke kamarnya.
Dara sudah kembali ke kamarnya, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap ke langit-langit kamar, dan menarik nafas dengan perlahan lalu di buang.
Dara melihat kembali ke jari manis nya yang sudah melingkar cincin bermata berlian, diam sejenak sambil menatap cincin tersebut.
"Ko tiba-tiba kangen Bapak sama Ibu yah... andai saja mereka masih ada" Dara berbicara sendiri.
Setelah beberapa saat Dara akhirnya tertidur, dengan lelap.
*****
Di tempat lain
Alan baru saja tiba di rumahnya, di kaget kan dengan orang-orang yang ada di sana.
Dia tidak menyangka bahwa kedua orang tuanya akan pulang secepat ini, setelah dia bilang ingin melamar seorang janda yang mempunyai anak satu.
"Ko kalian sudah pulang? bukan nya masih beberapa minggu lagi di sanah? " tanya Alan terhadap kedua orang tuanya.
"Sudah nggak betah tinggal di sanah! " jawab sang Mama.
Dan satu hal yang membuat kaget Alan yaitu saat melihat ke samping sang Ayah.
"Kenapa kamu juga ada di sini? " tanya Alan terhadap wanita tersebut.