
Semua orang sudah siap akan kembali ke kota, setelah ada keputusan bahwa Dara sudah menerima lamaran Alan.
Tetapi Alan merasa berat untuk kembali tanpa Dara, meski di paksa Dara harus ikut sekarang tetapi wanita itu tetap menolak nya.
"Ma.. Aku nggak pulang yah" pinta Alan terhadap sang Mama dengan raut wajah penuh permohonan.
"Mau kamu di grebek warga satu kampung! " ancam sang Mama.
"Nggak apa-apa biar cepat di nikah kan" jawab Alan dengan nada bicara tanpa merasa bersalah.
"Astaga, dasar anak nakal" kata sang Ibu sambil mencubit pinggang Alan.
"Sakit, Ma, lepas kan" pinta Alan terhadap sang Mama yang belum melepaskan tangan nya dari pinggang Alan.
Semua orang yang ada hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan Alan yang seperti anak kecil.
"Pokoknya, kamu tidak boleh ketemu Dara sampai acara pernikahan itu tiba! " kata sang Mama.
"Wah, pelanggaran ini mah... Pa, emang begitu ya pas mau menikah? " tanya Alan terhadap sang Ayah.
"Dulu, Papa tiga bulan sebelum pernikahan nggak boleh bertemu sama Mama Mu" bohong sang Ayah terhadap Alan, mereka semua merasa senang membuat Alan seperti itu.
"Kalau begitu, hari ini saja aku nikahin Dara" jawab Alan dengan raut wajah yang tak berdoa,dengan berkata seperti.
Dara dan yang lainnya melihat tingkah Alan seperti anak kecil, membuat mereka tertawa kecil. Seperti nya pada saat ini sudah tidak ada lagi wibawa Alan sebagai seorang pemimpin perusahaan, di sini dia terlihat hanya seorang lelaki yang sedang bucin terhadap Nyonya janda ber anak satu. Dia sudah tidak ada malu untuk menutupi rasa cinta nya untuk Dara, bahkan dia ingin teriak di atas monas dan mengumumkan pada semua. Bahwa dia mencintai Dara dalam keadaan apapun.
"Ayok cepetan! " Ajak sang Ayah yang sudah berada di halaman, sudah siap untuk berangkat.
"Tunggu dulu sebentar, Pa... " jawab Alan dengan raut wajah memelas, dia tidak ikhlas jika harus meninggalkan Dara secepat ini. Padahal baru bertemu setelah hari, masa harus berpisah lagi.
"Nanti ke buru malam, perjalanan kita sangat jauh. Dan masih banyak yang harus di persiapkan, katanya mau nikah secepatnya" kata Sang Ayah.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam kendaraan, yang akan membawa mereka ke kota.
Meskipun ada rasa tidak ikhlas, harus meninggalkan sang pujaan hati secepat ini. Alan tetap manut terhadap kedua orang tuanya dan ikut pulang.
Keluarga Alan, beserta Tony dan juga Winda telah pergi meninggalkan area pekarangan rumah Bi Sani.
Dara masih berdiri di teras sampai kendaraan tidak terlihat dari pandangan nya, setelah kendaraan yang ditumpangi Alan dan keluarganya tidak terlihat.Dara melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah, di ruang tengah masih ada Bi Sani dan mang Qodir yang sedang duduk.
"Memangnya kamu mau pulangnya kapan?"Bi Sani terhadap Dara.
"maunya lusa sudah pulang ke sana, lagi pula acara pernikahannya kan tinggal sebentar lagi jadi butuh persiapan juga "jawab Dara.
"Kalau Bibi ikut sama kamu duluan, terus di sini yang masakin mamang siapa "jawab sang Bibi.
"Astaga, kamu itu malah mikirin masak.Orang keponakannya mau menikah ada-ada aja sih "saut Mang Qodir dengan raut wajah yang heran terhadap istrinya, bisa-bisanya dia masih memikirkan masak untuk dirinya. Sedangkan ada keponakannya yang mau menikah, yang lagi membutuhkan bantuannya.
"Ya kan selama ini kamu belum pernah ditinggalin, terus nanti makannya gimana "kata Bi Sani.
"Nggak usah mikirin yang seperti itu, aku itu sudah tua sudah bisa melakukan sesuatu sendiri tanpa harus ada kamu juga "jawab Mang Qodir.
"Tuh kan, Bu, Mamang aja setuju Bibi ikut bersamaku terlebih dahulu"kata Dara.
"Ya sudah kalau begitu Bibi ikut sama kamu"jawab Bi Sani sambil tersenyum ke arah Dara.
Di sela perbincangan mereka, akhirnya Farel dan meli datang.
Farel bersama meli pergi bermain ke rumah temennya, di saat alam pergi pun dia tidak tahu.Sebab Farel lebih suka main di luar, semenjak berada di kampung anak itu seperti menemukan dunia baru di sini.
Terlihat lebih bahagia tidak seperti waktu berada di kota , Farel terlihat seperti tertekan dan merasa tidak nyaman.
"Bu, tadi tadi aku sempet dengar bahwa lusa kita kembali ke kota ya?"tanya Meli terhadap Dara.
"Iya" jawab Dara dengan singkat.
"Ya nggak bisa ketemu lagi dong sama babang ganteng yang suka ngambil sayuran di ladang itu "jawab Meli dengan raut wajah dipenuhi rasa kecewa.
" kamu itu pikirannya cowok mulu, jika memang dia itu jodohmu pasti dia akan datang menemui kamu "kata Dara sambil menatap lekat wajah Meli.
"Tapi kan, harus ada usaha juga "jawab Meli.
"Sudah bawa Farel sana,mandi sudah dari luar harus mandi dulu kotor!"perintah Dara terhadap Melly, agar membersihkan tubuh Farel terlebih dahulu setelah main di luar rumah.
Akhirnya Meli membawa Farel ke belakang dan akan dibersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan berganti pakaian.