LARA

LARA
Par 47



Keesokan harinya.


Hari ini Alan tidak berangkat ke kantor bahkan keluar kamar pun tidak, entah apa yang di lakukan anak itu hingga tidak keluar dari kamar.


Dia mengurung diri tidak makan dan juga minum hanya menghirup asap-asap tembakau nya.


Semua orang tidak ada yang berani menemuinya, sebab semuanya sudah tahu jika Alan sudah marah akan habis. Mereka lebih mencari aman.


Waktu bergulir begitu cepat hari cepat berlalu siang telah berganti dengan sore, Novia sedang berkumpul bersama anggota keluarga yang lain. Dia sudah merasakan tidak enak hati, sebab Alan seperti itu di sebabkan karena dirinya. Dia juga butuh bicara bersama Alan, dan itu harus di lakukan suka atau tidak tetapi Novia juga butuh penjelasan setelah ini.


"Ma... aku ke kamar Mas Alan dulu yah? " ijin Novia terhadap sang mertua yang sedang bermain bersama Giska.


"Tapi Alan lagi nggak bisa di ganggu, sudah tahu kan sifat nya seperti apa? " kata sang mertua.


"Aku tahu, Ma... tapi butuh bicara berdua" jawab Novia sambil tersenyum ke arah sang mertua.


"Ya sudah kalau begitu, temui dia " kata Imelda terhadap Novia.


Novia beranjak dari duduknya, lalu berjalan perlahan menaiki anak tangga satu persatu untuk sampai di lantai atas di mana kamar Alan berada.


Setelah beberapa saat Novia sudah berdiri di depan pintu kamar Alan, dia akan mengetuk pintu tetapi rasa takut kembali hadir menyelimuti nya.


Novia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan. Dia memberanikan diri untuk menggerakkan tangan nya untuk mengetuk pintu, setelah beberapa kali pintu di ketuk tetapi tidak ada jawab dari dalam.


Dia diam sejenak dan mengetuk kembali pintu itu, selang beberapa saat pintu terbuka.


"Ada apa? " tanya Alan dengan nada bicara yang judes.


"Kita butuh bicara jika terus seperti ini semua masalah tidak akan selesai" kata Novia dengan penuh permohonan.


"Baru bangun belum mandi belum apapun" jawab Alan dengan nada bicara datar.


"Nggak sekarang juga kita bicara di luar nanti malam, sekalian ajak Giska juga kita lusa sudah pulang ke sana dan ini juga ulang tahun pernikahan kita" kata Novia menatap lekat wajah Alan, sebenarnya bukan hanya Alan yang tersiksa atas pernikahan ini termasuk Novia juga korban.Tetapi apalah daya Novia hanya mampu menerima semua ini dengan iklhas.


"Serah kamu atur saja! sekarang aku mau mandi dan mau ke kantor " kata Alan.


"Iya, tapi ini kan sudah sore masa ke kantor" kata Novia.


"Jemput Dara" jawab Alan singkat, sambil menutup kembali pintu kamarnya dengan kasar hingga Novia terlonjak kaget.


Setelah pintu di tutup Novia kembali turun ke ruang keluarga di mana ada Giska dan Ibu mertua nya.


Novia sudah sampai di ruang keluarga, dia duduk di sofa samping sang anak yang sedang bermain monopoli bersama neneknya.


"Alan nggak buka pintunya? " tanya sang Mertua.


"Udah ko Ma... nanti malam kita akan keluar" jawab Novia.


"Owhh, ya sudah kalau begitu" ucap Imelda sambil tersenyum tipis ke arah Novia.


"Aku mau bawa Giska juga" kata Novia.


"Terus Alan setuju" iya katanya.


"Sukur lah kalau begitu"


Di sela perbincangan mereka terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga, Novia dan Imelda menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Alan sudah rapi dan sudah siap untuk pergi.


"Katanya nanti malam ko sudah siap berangkat sekarang? " tanya sang Mama terhadap Alan.


"Mau ke kantor" jawab Alan singkat.


"Jemput Dara" jawab Alan sambil pergi berlalu untuk segera keluar rumah.


*****


Di tempat lain.


Dara dan juga Winda sedang bercerita panjang lebar, sebelum Alan datang Winda menemani sahabat nya itu.


Mereka sudah lama tidak bercerita panjang lebar, apalagi kalau lagi bersama Alan. Tidak ada waktu Dara untuk bercerita panjang lebar bersama Winda, padahal dia sahabat Dara satu-satunya yang menemani Dara di saat suka dan duka.


"Nanti malam kita makan di luar yuk, sudah lama juga kita nggak keluar bareng apalagi nanti kalau kita sudah menikah pasti waktu kita untuk bersama semakin susah? " ajak Winda terhadap Dara.


"Boleh juga tuh, pasti Farel juga senang kalau di ajak makan di luar apalagi di restoran kesukaan nya" Jawab Dara dengan antusias, dia juga sudah lama rasanya tidak pergi ke mana-mana selain ke kantor dan rumah.


"Nanti berangkat nya mau di jemput atau langsung ketemu di sana? " tanya Winda.


"Kalau di jemput nanti kamu jauh lagi, langsung ketemu di sanah saja! pulang nya baru anterin yah" kata Dara sambil tersenyum tipis.


"Eh tumben si bos besar nggak masuk kantor, kenapa dia? " tanya Winda terhadap Dara tetang Alan.


"Tadi pagi nggak enak badan tapi sekarang sudah baikan, makannya sekarang mau jemput. Sudah di bilangin nggak usah juga tetap saja jemput" kata Dara.


"Dia sayang banget ya sama kamu dan beruntung banget kamu bisa mendapatkan nya" kata Winda sambil menatap lekat wajah sahabatnya.


"Kamu juga beruntung banget bisa bersama Pak Tony dan dia juga baik tidak pernah membedakan orang dari kastanya, semoga kalian langgeng sampai kekek Nenek ya" kata Dara.


"Amiin, terimakasih banyak ya" jawab Winda.


Di sela perbincangan kedua sahabat itu, tiba-tiba ponsel Dara berdeing.


Dara langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu menjawab panggilan tersebut.


Setelah di jawab Dara mengajak Winda untuk segera menuju parkiran, sebab Alan sudah menunggu nya di sana.


Mereka berdua berjalan beriringan untuk segera menuju parkiran, setelah beberapa saat kedua sahabat itu sudah sampai di tempat parkir.


"Sampai ketemu nanti malam ya" kata Dara sambil melambaikan tangannya terhadap Winda.


"Ok, Hati-hati" pesan Winda terhadap Dara.


Dara langsung menuju kendaraan Alan yang terparkir tidak jauh dari kendaraan Winda.


Dara langsung membuka pintu kendaraan yang di tumpangi Alan,sebab laki-laki itu tidak keluar dari kendaraan nya.


"Katanya nggak enak badan kenapa harus menjemput kan bisa minta sopir atau naik taxi juga" kata Dara sambil menatap lekat wajah Alan yang terlihat sangat murung.


"Aku nggak apa-apa ko sudah lebih baik saat melihat wajah cantik mu yang menyejukkan jiwa" kata Alan dengan raut wajah sendu dan tidak biasanya Alan menunjukkan raut wajah seperti itu.


"Kamu kenapa sih, Mas... tidak biasanya murung seperti ini? " tanya Dara lagi.


"Aku nggak apa, hanya rindu kamu rasanya seperti setahun nggak bertemu padahal cuma sehari" jawab Alan.


"Mas... bisa nggak gombal nga di kurangin" kata Dara.


"Pakai dulu sabuk pengaman nya! " perintah Alan, Dara langsung memasang nya.


Alan segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, kendaraan melaju membelah keramaian kota.