LARA

LARA
Luka (2)



Berdiri di tengah luka nyatanya hanya membuatku semakin kuat. Hujan deras saja tak kuhirau kan. Kubiarkan badanku yang basah memelukmu yang juga merasakan luka sama besarnya denganku. Kita kuat, aku kuat


~Lara


.


Rintihan bumi kali ini tidak main-main. Lengkingan keras terus bersahut-sahutan untuk menunjukan siapa yang paling hebat. Hal itu pula yang membuat sepasang manusia masih betah berdiri dengan saling memeluk. Berdiri di deoan gundukan tanah yang perlahan mulai terkikis oleh derasnya hujan.


Suara tangisan mereka seakan di wakil kan oleh alam, dengan jeritan yang membuat semua orang bergetar mengikuti alun.


"Mama."


Suara lirih Senja membuat Lara menarik nafas dalam-dalam. Pelukannya semakin mengerat di tubuh Senja, menyalurkan kehangaran di tengah guyuran hujan yang mulai membasahi seluruh tubuhnya.


Ia menatap papan yang bertuliskan nama mamanya yang masih menyandang nama belakang wirawan. Ia kembali mengingat kejadian di saat ia menemukan mamanya sudah tergeletak tak bernyawa. Kejadian yang membuat Senja terpuruk tanpa ada tangisan yang keluar dari mulutnya. Ia tahu Senja sedang menahan tangis di depannya dan hal itu juga yang ia lakukan di depan Senja.


"Kenapa Papa gak datang, Lara?"


Suara Senja beradu kuat dengan lengkingan keras bumi. Jantung mereka berpacu keras akibat terlalu syok dengan suara petir yang begitu dasyat. Biar pun begitu mereka tetap tidak beranjak dari sana, membiarkan tubuhnya bertubrukan dengan derasnya rintikan hujan yang turun. Petir kuat pun tak mereka hiraukan, malahan mereka semakin menantangnya agar tepat mengenai mereka, dengan begitu mereka akan pergi menyusul sang mama.


"Apa Papa tau kalau Mama udah pergi?"  batin Lara.


Pertanyaan Senja membuat ia bertambah sedih. Sekarang mereka benar-benar tinggal berdua, ia dan Senja. Mamanya benar-benar pergi dengan meninggalkan bekas luka sayatan di pipinya.


Ia menangis tanpa suara. Membiarkan air matanya menetes dengan deras yang berbaur dengan derasnya air hujan. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada menangis dalam diam, seperti ia dan Senja lakukan.


"Senja, ayo kita pulang," ajak Lara.


Senja tak bergeming. Ia masih menatap nanar gundukan tanah di depannya.


"Senja!" Lara menyenggol lengan Senja pelan.


Sang terpanggil hanya menoleh dengan wajah sedih. Ia menatap Lara seakan-akan tak ingin beranjak dari sana.


"Dia udah gak ada, Senja. Mama udah pergi ninggalin kita," ucap Lara pelan.


Ia menarik tangan Senja untuk pergi dari sana. Pergi menuju rumahnya yang banyak meninggalkan kenangan berharga di hidupnya.


"Pergi basuh badanmu!" pinta Lara sesampainya di rumah.


Senja mengangguk. Ia berjalan pelan menuju atas sampai suara Lara membuat ia terhenti sejenak.


"Senja!"


"Iya." Ia berbalik menatap Lara yang tak kunjung bersuara.


"Jangan lupa pakai pakaian yang hangat," ujar Lara setelah sekian lama terdiam.


Senja kembali berjalan, menapaki tangga yang ntah kenapa semakin bertambah panjang ia rasa.


Lara mendesah. Melihat sekeliling rumahnya yang mulai terasa menyeramkan. Sekarang ia hanya tinggal berdua, hanya berdua bersama Senja. Semua kenangan yang yang ditinggal kan sang mama menjadi berharga sekarang.


"Ini masih sakit, Lara."


Lara dikaget kan oleh Senja yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Membelai pelan luka di pipi buah tangan dari sang mama.


"Tidak. Lukanya sudah mulai kering," Ucap Lara sambil berlalu pergi.


"Lara mau ke mana?"


"Ke dapur."


Lara berjalan dengan wajah dingin le arah dapur. Tujuannya kali ini bukan untuk memasak seprti yang biasanya Senja lakukan.


Ia membuak kulkas yang mulai terlihat kosong. Hanya mmeperlihatkan beberapa sayur yang perlahan mulai membusuk.


"Lara mau buat apa?"


"Senja, jangan pernah lagi buat aku kaget," ujar Lara marah.


"Kalau aku punya riwayat penyakit jantung gimana."


Lara kembali melanjutkan pekerjaannya. Tidak menghiraukan tatapan ingin tahu Senja. Lara tetap membelakangi Senja dan mulai menghidupkan kompor.


"Biar Senja aja yang yang masak, Lara," ucap Senja sambil merebut panci yang dipegang Lara.


Lara melotot marah. "Kamu duduk aja sana! Jangan gangggu aku," gerutu Lara. "Lagian yang mau masak juga siapa."


Ia kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Senja menuruti apa yang Lara perintah. Duduk manis di meja makan memperhatikan kakaknya yang Senja yakin akan membuat dapur berantakan.


"Ini berapa sendok, sih?" tanya Lara pada dirinya sendiri. Pasalnya, ini kali pertama ia pergi ke dapur. Sejak dahulu ia tidak pernah diperboleh kan oleh mamanya pergi ke dapur.


Lara kembali tertunduk pilu, memgingat bagaimana kenangan manis bersama mamanya dahulu, sebelum kejadian di mana mamanya tahu bahwa papanya mempunyai wanita lain sebelum mamanya.


"Kan udah Senja bilang, biar Senja aja yang buat," ucap Senja mengambil alih tempat susu yang dipegang Senja.


Lara menyingkir sedikit, menberi jarak agar Senja leluasa membuat susu kesukaan ia dan Senja.


"Untuk ukuran gelas besar, susunya dimasukin sekitar 5-6 sendok."


Senja memberi penjelasan kepada Lara yang sangat antusian bagaimana cara membuat susu. Kadang Lara heran, bagaimana ia dan Senja bisa bertukar tempat. Senja yang lemah lembut sedangkan ia yang selalu bertingkah dingin.


"Nih! Udah jadi."


Senja menampilkan senyuman lebar. Senyuman yang Lara yakin mampu membuat banyak para wanita mengidolakannya.


"Tapi Lara mau buat untuk Senja. Buakn untuk aku," balas Lara sambil menyodorkan segelas susu kembali ke hadapn Senja.


"Tapi Senja buatin untuk kamu. Laranya Senja."


Senja ikuta mengoto marah, mengembikan segelas susu yang harus di minum oleh Lara.


"Oke, gimana kalau kota bagi dua?" tanya Lara bernegosiasi.


Senja mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Lara dengan senang. Mereka berdua kembali ke ruang tamu sambil minum berdua. Menceritakn hal lucu untuk menutupi rasa sedih mereka berdua.


Tok! Tok, tok!


Suara ketukan pintu tidak mereka hiraukan. Mereka pikir itu adalah orang dari phak bank yang ingin memperkeruh suasana hati mereka. Namun, mereka kembali terlonjak kahet ketika ketokan berubah menjadi gedoran yang dianggap kurang sopan.


Lara maju selangkah, ingin membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang datang. Namun, Senja tak kalah cepat dari Lara. Ia sendiri telah berdiri di depan pintu lalu membuka pintu dengan wajah ceria.


"Selamag sore, ada yang bisa kami ban ...tu?


Senja dan Lara mematung di tempat. Tak sanggup berkata-kata atau berlari ke tempat lain, mengindari kenyatan yang membuat ia dan Lara semakin sakit.


"Gimana ini, Lara?" tanya Senja yang mulai meremas tangan Lara panik. Remasan itu berubah menjadi kuat ketika tamu mereka melangkah masuk ke dalam rumah sedangkan merak belum di persilahkan masuk.


"Selamat datang di rumahmu, sayang."


Deg


"Apalagi ini yaa Tuhan," batin lara bergejolah hebat.


.


.


Hai hai haiiiii.....


Kali ini partnua pendek banget:v


Jangan lupa votmen