LARA

LARA
Part 38



Di saat mereka sedang berjalan beriringan di kaget kan dengan muncul nya seseorang di hadapan nya.


"Eh udah punya gandengan sekarang ya? " kata Sherly yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Terus apa hubungannya dengan kamu! " jawab Dara.


"jangan-jangan kalian sudah menjalin cinta sejak lama, buktinya dengan cepat kamu sudah melupakan Mas Dika! " kata Sherly sambil menatap tajam ke arah Dara dan juga Alan.


"Terus hubungan dengan kamu apa? bukan nya kamu senang saat aku keluar dari rumah itu dan satu hal yang perlu kamu tahu sampah tetap sampah sampai kapan pun tidak akan pernah berubah menjadi berlian" ucap Dara dengan penuh penekanan.


"Sudah orang nggak waras jangan di ladenin! " kata Alan sambil menarik tangan Dara untuk segera di ajak keluar dari tempat tersebut.


Sherly mengepalkan tangan nya, dia sungguh merasa kesal terhadap Dara.


Kenapa Dara selalu selangkah lebih di depan nya, Sherly kira setelah bercerai dari Dika. Dara akan tambah menderita dan terpuruk, ternyata malah lebih baik bahkan sekarang Dara bisa di gandeng Alan. Pemilik perusahaan terkenal di banding Dika, bahkan perusahaan yang di kelola Dika sudah hampir bangkrut. Sherly sudah tidak bisa lagi berpoya-poya seperti dulu, sekarang Dika tidak bisa memberikan semua yang di inginkan Sherly.


Hanya rasa kesal yang ada di hati Sherly pada saat ini, setelah Dara dan Alan sudah tidak terlihat lagi. Sherly juga ikut keluar dari tempat tersebut, dia juga harus menekan Dika agar mengaktifkan kembali kartu kredit yang di pegang nya.


Kartu di blokir membuat hati Sherly galau, tidak bisa berbelanja semaunya.


Dengan langkah penuh kesal, Sherly berjalan keluar tujuan utama dia setelah dari tempat ini bertemu dengan Dika.


Sebab sudah beberapa hari Dika tinggal di apartemen, tidak pulang ke rumah yang di tinggali Sherly. Entah kenapa Dika sekarang sedikit menghindari Sherly, entah itu sudah bosan atau memiliki wanita lain selain Sherly.


Setelah beberapa saat Sherly sudah berada di dalam kendaraan yang akan mengantarkan dia ke tempat sang Dika, perjalanan yang di tempuh butuh waktu sedikit lama sebab jalanan sedikit macet. Setiap Weekend sudah pasti jalan di penuhi kendaraan.


"Bisa sedikit lebih cepat nggak sih bawa mobil nya! " kata Sherly terhadap sopir taxi yang akan mengantarkan dia ke tempat tujuan.


"Ini juga sudah cepat Bu! lagi pula jalan seperti ini mana bisa ngebut" jawab sopir taxi.


"Lagian kamu jadi sopir nggak tahu jalan alternatif, yang tidak melewati kemacetan" kata Sherly kesal.


Sherly terus menggerutu entah marah sama siapa, yang jelas sopir taxi yang menjadi sasaran kemarahan dirinya.


Setelah perjalanan yang di lewati cukup lama, kendaraan mendarat dengan sempurna di tempat tujuan. Sherly turun dari kendaraan yang di tumpangi, dia menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapan nya.


Sherly dengan langkah angkuh nya, berjalan untuk segera masuk ke dalam gedung tersebut dan menemui Dika.


Setelah beberapa saat Sherly sudah berdiri di depan unit apartment yang di huni Dika, Sherly langsung menekan akses untuk segera masuk ke dalam unit tersebut.


Setelah pintu terbuka Sherly dengan angkuh melangkah masuk sambil berteriak memanggil Dika, tetapi tidak ada sahutan dari Dika.


Sherly terus mencari keberadaan Dika, terdengar gemercik air di dalam kamar mandi, Sherly duduk di atas tempat tidur sambil menunggu Dika keluar.


Setelah selesai dengan ritual mandi nya, Dika keluar dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


Sherly yang sudah lama di abaikan oleh Dika, dia langsung mendekat ke arah Dika. Aroma sabun yang tercium membuat Sherly kehilangan akal sehat, dengan agresif nya Sherly langsung melingkar kan tangannya dari arah belakang. Awalnya Dika tidak merespon apa yang di lakukan Sherly, setelah beberapa saat usaha Sherly membuahkan hasil.


Deru nafas kedua nya mulai tidak beraturan, rasa ingin menuntaskan hasrat mereka semakin menggebu.


Setelah cukup lama mereka melakukan hubungan terlarang, dan sudah mencapai puncak kenikmatan.


Dika sudah berkeringat akibat aktifitas panas bersama Sherly, mungkin ini pertama kali mereka lakukan setelah kepergian Dara.


Dika masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kembali, sedangkan Sherly lebih memilih tertidur dengan tidak menggunakan pakaian hanya selimut yang menutupi tubuhnya.


Aktivitas Dika di kamar mandi sudah selesai, dia keluar lalu menuju lemari untuk segera memakai pakaian.


Setelah semua ritual nya selesai Dika duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah Sherly,yang sedang tertidur akibat lelah setelah percintaan panas yang sangat menguras tenaga.


Dengan perlahan Dika mengguncangkan tubuh Sherly, agar wanita itu bangun dari tidurnya.


"Bangun! " kata Dika sambil mengguncangkan tubuh Sherly, tetapi wanita itu tidak merespon Dika. Padahal dia tahu Dika membangunkan dirinya, Malam ini Sherly tidak ingin tidur terpisah dari Dika, dia harus merayu kembali pria itu dengan berbagai cara agar kartu kredit bisa aktif kembali.


Akhirnya Dika menyerah dan merebahkan tubuhnya di samping Sherly, setelah beberapa saat nafas Dika mulai teratur itu tandanya sang pemilik raga sudah tertidur pulas.


Sherly membuka matanya dengan perlahan, dia tatap lelaki yang ada di hadapan nya dengan lekat. Setelah puas memandang wajah Dika, lalu menyibak selimut dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai akibat percintaan liar yang sudah terjadi. Dia sudah berhasil membuat Dika menyentuhnya kembali dan satu hal yang Dika lupa saat bercinta, dia tidak menggunakan pengaman. Hal ini yang selalu Dika lakukan tidak pernah lupa, malam ini dia tidak menggunakan nya. Sherly tersenyum sendiri saat mengingat percintaan tadi, pasti dia setelah ini akan hamil dan meminta pertanggungjawaban dari Dika. Selama ini Dika hanya berjanji akan menikahi Sherly tetapi belum juga sampai sekarang.


Sherly melangkah perlahan untuk menuju kamar mandi dan membersihkan diri, setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi.


Dia keluar dengan rambut yang basah, karena tidak ada pakaian yang bisa dia gunakan akhirnya dia lebih memilih menggunakan pakaian yang sudah di pakai tadi siang.


******


Di belahan bumi lainnya


Alan dan Dara baru saja sampai di Rumah Dara.


Kendaraan terparkir di depan rumah dengan sempurna, Alan membuka pintu untuk sang puteri agar segera turun dari dalam kendaraan nya.


Setelah Dara turun, Alan mengangkat tubuh mungil Farel yang sudah tertidur, baru akan melangkah masuk terdengar suara perempuan.


"Laki-laki mana lagi yang kamu goda! kemarin mas duda Hilman sekarang gandengan nya lain lagi. Terus nanti besok siapa lagi?" kata wanita yang sudah tidak muda lagi, kebetulan rumah mereka berdampingan.


Dara melihat ke arah sumber suara, entah kenapa akhir-akhir ini mulut dia nggak bisa di rem.


"Besok saya akan jalan dengan suami ibu, kebetulan kami sudah membuat janji dan jadwal jalan bareng dia itu besok! " jawab Dara dengan nada bicara sedikit penekanan.


Alan yang mendengar jawaban Dara, membulat kan mata nya. Dia heran kenapa Dara bisa berbicara seperti itu.


Ibu-ibu yang mulut nya ember pun langsung berbalik badan dan masuk kembali Ke rumahnya.