
Winda baru akan melangkah untuk segera masuk ke dalam kantor, sebab sebentar lagi waktu kerja akan segera di mulai.
Tepat di hadapan nya mobil mendadak berhenti, membuat Winda kaget.
"Win, di mana Dara sekarang? " tanya Alan terhadap Winda, dia tanpa memperdulikan kendaraan menghalangi jalan orang.
"Dia baru saja pergi dan nitip ini terus katanya minta maaf " kata Winda sambil menyerahkan amplop berwarna coklat.
"Ini apa? " tanya balik Alan.
"Itu surat pengunduran diri, punya Dara dia akan pulang kampung" kata Winda.
"Terus dia pulang lewat mana? " tanya Alan lagi.
"Tadi sih bilang nya mau naik kreta, cepetan kamu kejar jika memang benar kamu sayang sama Dara" kata Winda sambil menatap iba terhadap Alan, yang tampilan nya sudah acak-acakan sudah tidak ada lagi Alan yang selalu mengutamakan penampilan. Hari ini terlihat sangat berbeda, wajah frustasi terlihat jelas.
"Terimakasih Win" ucap Alan, dia langsung pergi meninggalkan Winda yang masih berdiri. Dia langsung memacu kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, semoga datang tepat waktu bisa bertemu Dara terlebih dahulu dan menjelaskan semuanya.
*****
Di sisi lain.
"Bu kenapa melamun terus, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran!bisa cerita sama aku biar sedikit ringan beban yang ada " tanya Meli terhadap Dara.
"Sebenarnya untuk meninggalkan kota ini rasanya berat, sudah banyak kenangan di sini tidak mudah juga melupakan dalam waktu sekejap" jawab Dara sambil terus menatap ke arah luar jendela.
"Apa Ibu cinta sama Pak Alan? kalau memang itu benar ada baiknya dengar kan dulu penjelasan nya. Maaf sebelumnya bukan menggurui tetapi, pergi juga bukan cara menyelesaikan masalah" kata Meli.
"Tapi aku belum siap nerima kenyataan, Mel... jika yang di lihat itu semuanya benar lalu aku harus bagaimana dan aku nggak mau di sebut sebagai perebut suami orang" jawab Dara sambil membenarkan posisi duduknya lalu menatap ke arah Meli.
"Aku aku sih, nggak apa-apa jadi istri ke dua Pak Alan. Secara dia itu ganteng kaya dan pokoknya idaman para wanita" kata Meli sambil menghayal bahwa dia sedang di pelaminan bersama Alan.
"Astaga, Meli..." bentak Dara sambil mentoyor kepala Meli.
"Maaf Bu... kan cuma berhayal doang, lagian Pak Alan nya juga nggak bakal mau sama aku" kata Meli.
"Lagian kamu ngomong nya ngawur, nggak semudah itu kamu pikir jadi istri ke dua atau berbagai cinta itu enak. Jangan kan berbagai suami terkadang berbagi mainan saja kita nggak mau apalagi suami, kalau ngomong itu yang benar takut ada malaikat lewat terus mengaminkan ucapan kamu" kata Dara memperingati Meli.
"Iya, janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh lagi" kata Meli sambil memegang kedua telinga nya.
"Ya sudah sebentar lagi kita sampai stasiun" kata Dara.
"Lebih murah, dan nyaman lah" jawab Dara.
"Tapi saya belum pernah naik naik Bu, terus kalau saya mabuk perjalanan nanti bagaimana dengan Farel nggak ada yang jaga"ucap Meli.
"Nanti kalau sudah sampai di stasiun kamu beli antimo jika takut mabuk perjalanan"Saran Dara terhadap Meli.
"Ingetin ya Bu kalau sudah sampai di sanah" kata Meli.
"Baiklah nanti saya ingetin kalau nggak lupa" jawab Dara santai.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya kendaraan sudah sampai di stasiun kereta api.Dara dan juga Meli turun lalu berjalan untuk segera memasuki dan akan naik kreta untuk sampai di tempat tujuan, selama di perjalanan Dara selalu melihat ke belakang seolah dia lagi mencari sesuatu. Entah itu apa dia juga tidak mengerti, tetapi hatinya selalu ingin menengok ke belakang.
Setelah beberapa saat mereka berjalan akhirnya sampai juga di ruang tunggu, kebetulan keberangkatan kereta di jam sembilan tiga puluh jadi masih ada waktu untuk beristirahat sebentar sebelum berangkat.
Dara dan juga Meli sambil memangku Farel duduk di kursi yang ada di ruang tunggu sambil menunggu keberangkatan.
Dara melihat ke sekeliling semua orang yang ada di tempat ini asing, ramai tetapi terasa sepi harinya kosong.
Setelah cukup lama mereka duduk akhirnya waktu keberangkatan sebentar lagi.
"Bu ayok, sebentar lagi kreta nya berangkat loh nanti ketinggalan" Ajak Meli terhadap Dara.
"Iya tunggu sebentar" jawab Dara.
"Ayok Bu" ajak Meli lagi.
"Tapi Mel.. "
"Ayok buruan" Ajak Meli lagi terhadap Dara.
"Baiklah" jawab Dara sambil melangkah kan kakinya meski tidak semangat, rasa yang menggebu saat di rumah seketika hilang saat sudah berada di stasiun. Entah apa yang terjadi dengan dirinya.
Dara mengikuti Meli dari belakang untuk segera masuk ke dalam kreta yang akan mereka tumpangi.
Meskipun ragu Dara terus melangkah kan kaki untuk masuk. Di saat Dara akan melangkah kan kaki untuk masuk ke dalam kreta tiba-tiba ada yang memanggil, dan suara itu sudah tidak asing lagi di telinga nya.
"Sayang...tunggu" kata Alan dengan tampilan yang sudah acak-acakan.
Seketika Dara menghentikan langkah nya, lalu menoleh ke arah sumber suara.