
**Hai semua terimakasih atas vote,like n ratenya ya.
Happy reading readers**.
"Apa tidak capek..?" Gerry menanyakan kondisi Laura,karena dari melihat rumah barunya.Laura mengusulkan untuk berburu furnitur untuk mengisi rumah baru mereka.
"Tidak mas,Laura merasa sehat-sehat saja." jawab Laura.
"Bagaimana kalau kita kerumah mommy saja?" Gerry mengajak Laura untuk mengunjungi rumah mommy dan Daddynya.
"Laura tidak mau kerumah mommy." ucap Laura dengan cepat.
"Kenapa..?" tanya Gerry dengan heran.
"Nanti mommy dan Daddy melihat luka diwajah Laura,mereka akan bertanya.Jika Laura cerita pasti mereka akan marahin Laura." Laura mengatakan kepada Gerry kenapa dia menolak untuk mengunjungi kediaman keluarganya.
"Makanya lain kali harus hati-hati." ingatkan Gerry lagi mengenai perampokan yang menimpanya.
"Ya mas,Laura sudah ingat.Mas sudah puluhan kali mengingatkannya." balas Laura.
"Kemana kita dahulu?" tanya Gerry setelah mereka tiba di mall untuk mengisi rumah baru mereka.
"Ruang tamu dulu mas,terus dapur baru kemudian kamar." beritahu Laura.
"Ok.." Gerry menautkan jemarinya, kejemari Laura.Dia membawa Laura memasuki tempat sofa dan kursi berbagai macam mode.
Setelah selesai memilih berbagai macam mode sofa,Gerry lanjut membawa Laura mengunjungi toko alat-alat dapur.
"Mas,Laura tidak mengerti tentang alat-alat dapur ini semua." tunjuknya kearah alat-alat dapur yang dihadapannya.
"Mas juga tidak begitu paham,karena mas tidak pernah memasak." kata Gerry.
"Begini saja,kita tanya pada pengawainya.Alat-alat apa yang diperlukan untuk digunakan didapur." usul Gerry.
"Benar juga mas,daripada kita beli terus tidak ada gunanya.Buat dapur kita jadi sempit.
Setelah selesai urusan dapur,Laura melihat ada toko yang menjual lukisan.
"kita kesitu mas." Laura menunjukkan toko lukisan tersebut.
"Untuk apa..?" tanya Gerry.
"beli lukisanlah mas,masakan mau beli baju.." gurau Laura.
"Tidak usah,kita beli saja hasil karya anak panti." ingatkan Gerry,akan Yayasan yang didirikan oleh Daddynya atas usul Laura.
"Oh ya mas,Laura lupa.Sudah lama tidak kesana." Laura ingat akan Yayasannya tersebut.
"Nanti kita kesana,sekarang kita makan dulu ya.Pasti sudah capekkan jalan terus." Gerry terus mengandeng tangan Laura.
Tiba-tiba Gerry dikagetkan,karena menerima pelukan dipinggangnya dari belakang.
"Gerry,akhirnya aku menemukanmu." suara orang yang memeluknya.
Gerry dan Laura kaget,apa lagi ketika Laura melihat siapa yang memeluk Gerry tersebut.
"Mba Jeny..!" seru Laura dengan kaget,dan penuh pertanyaan dalam hatinya.Melihat Jeny memeluk Gerry dengan tiba-tiba.
Gerry juga cukup kaget melihat kemunculan Jeny tiba-tiba di mall,Gerry berusaha melepaskan pelukan Jeny.
"Apa yang kamu lakukan!" Gerry menyentakkan pelukan Jeny sehingga terlepas.
"Mas..?" masih dalam kondisi yang bingung,Laura memandang Gerry mengharapkan suatu penjelasan.
"Gerry tolong..!" gw tidak tahu harus minta tolong pada siapa?" ratap Jeny dengan memelas kepada Gerry,dan wajah Gerry datar dan sepertinya siap akan meledak.
"Laura,tolong mba..?" Jeny mengalihkan muka memelasnya kearah Laura,sehingga Laura merasa iba.
"Mas ayo kita bicara ditempat yang tenang,kita dilihatin orang di sini." ingatkan Laura.
Gerry melihat ada beberapa pasang mata yang melihat kearah mereka.
"Ayo.." Gerry memeluk pinggang Laura,untuk membawanya menuju restoran,dan Jeny mengikutinya dari belakang.Jeny memandang pasangan yang berada didepannya,ada perasaan iri melihatnya.
Gerry menuju suatu restoran yang lumayan dari keramaian,sehingga mereka dapat berbicara tanpa gangguan.
"Eva mana mba?" Laura menanyakan keberadaan Eva,karena dia ingat bahwa Jeny mempunyai seorang putri.
"Eva masih berada di Islandia.." beritahukan Jeny.
"Mas,kenapa tidak beritahukan Laura bahwa mas mengenal mba Jeny?" tanya Laura.
"Mas merasa tidak penting sekali memberitahukannya."ucap Gerry.
"Tidak..!"kami belum sempat berpacaran." Gerry menolak yang dikatakan Jeny mengenai hubungan mereka.
Sepertinya kau tidak pernah berubah." Gerry tertawa mencibir kepada Jeny.
"Maaf,kami tidak pernah berpacaran." Jeny memperbaiki ucapannya tadi.
"Gerry,aku butuh pertolonganmu?" mohon Jeny,tangannya berusaha untuk menggenggam tangan Gerry yang berada diaatas meja didepannya.Tetapi dengan cepatnya Gerry menarik tangannya dari atas meja.
"Apa yang bisa kami bantu mba?" tanya Laura,karena Gerry tidak menanggapi permintaan Jeny.
"Tolong selamatkan Eva,waktu mba kembali ke Indonesia.Rony tidak mengizinkannya Eva ikut?" cerita Jeny.
"Kenapa dengan Rony?" Gerry membuka mulutnya,ketika mendengar Jeny menyebutkan nama Rony.
"Kami akan berpisah." kata Jeny.
Gerry tertawa mendengar bahwa Jeny berkata akan berpisah dengan Rony.
"Bisa juga kalian berpisah,kalian pasangan yang sesuai?" pertanyaan yang mengandung sindiran keluar dari mulut Gerry.
Jeny menundukkan kepalanya,ketika mendengarkan perkataan Gerry yang mengandung sindiran.
Laura memandang Jeny dan Gerry secara bergantian.
"Ada cerita apa dibalik sikap mas Gerry dan mba Jeny?" batin Laura tertanya-tanya.
"Gerry,please tolong Eva anak ku?" Jeny terus memohon kepada Gerry.
"Nanti akan kuberitahukan kepada Radit." kata Gerry.
"Untuk apa diberitahukan kepada Radit..?" Jeny keberatan masalahnya diberitahukan kepada Radit.Jeny tahu bahwa sedari dahulu Radit tidak percaya kepada dirinya.
"Kenapa kau keberatan jika kukatakan kepada Radit?" Gerry curiga kepada Jeny.
"Tidak apa-apa,aku tidak mau masalah aku ini jadi konsumsi publik saja." kata Jeny.
"Radit juga sahabat mu dahulu,atau kau dan Rony tidak menganggapnya sebagai sahabat,karena kalian tidak berhasil memperdayanya." sekali lagi Gerry terus mempermalukan Jeny.
"Mas.." Laura menyentuh tangan Gerry untuk menyudahin sindirannya,karena Laura melihat raut muka Jeny yang sudah berubah,dan ingin menangis.
"Ayo.." Gerry bangkit dan mengajak Laura untuk berdiri.
"Gerry..!" Jeny menarik lengan Gerry untuk menghentikannya pergi meninggalkannya.
"Mas.." Laura melihat wajah Gerry yang merah,yang menandakan dia sudah emosi.
"Sudah aku bilang,aku akan rundingkan dengan Radit.apa yang kau inginkan lagi?" suara Gerry keras.
Setelah berkata dengan keras,Gerry membawa Laura keluar dari restoran.Sebelum pergi dia masih sempat meletakkan 5 lembar uang merah,untuk membayar minuman mereka yang tidak disentuhnya tadi.
Jeny hanya dapat memandang dua punggung yang berjalan keluar dari restoran,meninggalkan dirinya.
"Sial.!" desisnya kecewa melihat Gerry meninggalkannya sendiri.
Didalam mobil,Laura menanyakan hubungannya dengan Jeny.
"Apa hubungan mas dengan mba Jeny..?" tanya Laura.
"Nanti mas ceritakan,yang pasti bukan hubungan seperti yang Laura pikirkan."
"Emang mas tahu,apa yang Laura pikirkan..?"
"Tahulah,pasti Laura pikir mas ada hubungan percintaan dengan Jeny kan..?"
Laura tertawa kecil mendengar tebakan Gerry yang tepat,mengenai pikirannya.
"Mas Gerry ada bakat cenayang." ledek Laura.
Gerry mengelus tangan Laura,kemudian mengangkatnya dan mendekatkan kebibirnya.Kecupan mendarat ditangannya.
"Mas hati-hati kalau mengemudi,Laura tidak mau mati muda.." ingatkan Laura ketika sambil mengemudi Gerry mencium tangannya.
"Apa lagi mas,belum merasakan malam pertama." ucap Gerry spontan,yang membuat Laura mendaratkan cubitan dilengannya.
"Aduh sayang sakit..!" serunya,pura-pura kesakitan.
**bersambung**