Is This Love

Is This Love
Epi 56. Cedera



**Salam jumpa lagi teman-teman Laura and Gerry.


jika berkenan singgah ya ke


👉Kubawa pergi cintaku(end)


👉Antara dendam dan cinta.


Happy reading ya guys**.


Ketika Laura ingin pergi keluar apartemennya,tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi.Laura melihat siapa yang mengebel pintu apartemennya.


"Ngapain kalian pagi-pagi sudah nongol dipintu apartemen gw." semprot Laura kepada dua sahabatnya itu.


"Aduh..beb,suruh masuk dulu kami,baru tu mulut ngomel." ujar Yosi.


"Ya nih..!"kami kangen elu beb..!" seru Sinta yang langsung memeluk Laura dengan eratnya.


"Bilang aja kangen dengan oleh-oleh." to the poin Laura.


"Kok elu tahu aja beb." jawab Yosi sambil dudukkan bokongnya di sofa.


"Ya nih,selama married elu udah jadi cenayang ya." goda Sinta pada Laura.


"Beb..!" gw laper." adu Laura kepada dua temannya.


"Masaklah." suruh Sinta.


"Itu dia,seumur-umur gw ngak pernah pegang alat masak.menghidupkan kompor itu aja gw ngak bisa." beritahukan Laura.


Sinta dan Yosi ngekeh mendengarkan curhatan Laura.


"Terus elu,mau gw masakkan?" tanya Sinta.


"Tidak...!" Laura menggelengkan kepalanya.


"Mau elu apa?" tanya Yosi kepada Laura juga.


"Pesankan aja,mau masak juga bahan ngak ada." beritahukan Laura.


"Ya pesan saja." kata Sinta.


"Itu dia,uang cash ngak ada." beritahukan Laura.


"Ambil tu duit,jangan bilang rekening juga ngak punya." tanya Yosi.


"Ngak punya." jawab Laura.


"Terus kalau butuh duit?" Sinta heran.


"Kalau butuh duit cash minta mommy,kalau belanja pakai credit card." kata Laura.


"Telpon mommy lu."suruh Yosi.


"Malu,udah nikah masakan minta duit ama mommy." tolak Laura.


"Minta laki lu." ujar Sinta.


"Ogah ah.." tolak Laura ketika disuruh minta pada Gerry.


"Kenapa,lagi marahan ama laki lu?" Sinta bertanya dengan penuh selidik.


"Nyonya..." Yosi memaksa Laura untuk bercerita.


Laura menceritakan dari sewaktu honeymoon sampai kembali ke Indonesia.


"Jadi kalian belum itu...itu...?" selidik Sinta.


"Belum." Laura menggelengkan kepalanya.


"Wajar Gerry ngambek." ujar Sinta.


"Sekarang kalian lagi perang dingin?" tanya Yosi.


"Mas Gerry dari tadi malam mengurung diri di ruangan kerjanya,berangkat kerja juga ngak pamit." cerita Laura.


"Samperin ke kantornya." kata Sinta.


"Takut ntar gw dicuekin." ucap Laura.


"harus berani Laura,belum tentu kan dicuekin." kata Yosi dengan memberikan semangat pada Laura untuk nyamperin Gerry kekantornya.


"Laper,traktir gw ya." ujar Laura pada temannya.


"Ok." Sinta jawab.


"Ni oleh-oleh,punya Rey titip ama kamu aj ya Sinta." beritahukan Laura.


"Ok,Rey sibuk sekarang sudah kerja dikantor papanya." kata Yosi.


"Kita minta kerjaan ama Rey yok." kata Laura.


"Kenapa ngak kerja kantor Daddymu Laura?"


"Mau masuk bagian apa,Ijazah gw ngak punya.kalau masuk perusahaan Daddy nanti dikira aji mumpung..." Laura mengingat bahwa dia tidak punya ijazah juga.


"Bagaimana jika kau lanjutkan kuliahmu ,mata kuliahmu ngak banyak lagi." saran Sinta.


"Lihat nanti,sekarang makan dulu.Perut dah demo." kata Laura sambil mengelus perutnya.


"Kacian anak mommy." goda Sinta,melihat ekspresi Laura yang manyun.


Setibanya mereka dilobby apartemen.


"Mau makan apa ?" tanya Sinta.


"Makan bakso aja." kata Yosi.


"Ogah,lagi ngak pingin bakso." tolak Laura.


"Terus mau makan apa?" tanya Sinta.


"Pizza ." beritahukan Laura.


"Dimana sini ada pizza?" Yosi bertanya.


"Pertigaan ada ." kata Sinta


"Jalan atau naik mobil?" tanya Yosi.


"Jalan ada,dekat ." kata Laura.


Kemudian tiga sahabat itu menyusuri trotoar,sesekali keluar suara tawa dari bibir mereka.


"Aduh....!" terdengar teriakan dari bibir Sinta dan Laura.


"Copet..!" Laura berteriak sembari menarik tasnya yang disambar laki-laki yang mengendarai sepeda motor.


Laura menarik tasnya sehingga terjadi tarik-tarikan antara dirinya dan pencopet tersebut.Sedangkan Sinta dia tak sanggup mempertahankan tasnya sehingga pencopet berhasil mengambilnya.


Laura terus mempertahankan tasnya,sehingga penjambret menjadi emosi dan menekan gas sepeda motornya.Mengakibatkan Laura terseret sepeda motor,sehingga pegangan pada tasnya terlepas.


"Laura..!" teriakan Sinta dan Yosi melihat Laura terseret sepeda motor penjampret.


"Aduh..!" suara Laura lirih,ketika dia tak sanggup lagi mempertahankan tasnya.Laura tertelungkup di aspal.


"Nona,anda tak apa-apa?" tanya warga yang melihat kejadian tersebut.


"Laura." Sinta tiba ditempat Laura terbaring,dan kemudian Yosi menyusul.


Sinta melihat lengan dan lututnya Laura terluka mengeluarkan darah.


"Untuk apa kalian berkerumun,tadi kalian diam aja melihat orang diseret motor." suara Yosi marah melihat orang berkerumun mengelilingi Laura.


"Ayo kita ke rumah sakit,awas kami bukan tontonan..." suara jutek Sinta kepada orang-orang yang masih berkerumun.


"Bukan kami tidak mau bantu nona,kami punya keluarga.Penjambret itu ngak segan-segan melukai korbannya." kata seorang bapak yang berjualan didekat kejadian.


"Kami juga punya keluarga pak." kata Sinta.


"kalau kita sama-sama melawan mereka,bisa kita ngalahkan mereka." sambung Yosi.


"Laura,duduk disini." dengan cepat Sinta mengambil mobilnya yang ditinggalkannya diparkiran apartemen.


Seorang ibu,memberikan Laura minum dan Laura menerimanya.


"Sekitarnya sini emang rawan nona,saya seminggu lalu kena disini.Nggak ada yang nolong." beritahukan ibu tersebut.


"Heran manusia sekarang ya bu,ngak ada lagi rasa saling tolong menolong." gerutu Yosi.


Ketika dilihatnya mobil Sinta datang,Yosi dibantu ibu tersebut menuntun Laura masuk kedalam mobil.


🤕 **Bersambung🤕


Terimakasih yang sudah mendukung cerita ini ya guys.


Happy reading**.