Is This Love

Is This Love
Epi 58. Mengetahui.



**Temu lagi dengan Laura and friends ya teman-teman.terimakasih kepada yang sudah singgah dikarya qu ya.


Happy reading ya**...


Gedoran dan ketukan semakin keras,membuat Sinta dan Yosi semakin panik dan wajah mereka menjadi pucat pasi.


"Sinta,apa yang harus kita lakukan.Pasti itu perampok,sial kali nasib kita satu hari dua kali kena rampok." Yosi sudah mengeluarkan air mata.


"Hus...!" jangan kuat ngomongnya,biar dikiranya tidak ada orang." ingatkan Sinta.


Sinta melihat ada barbel tergeletak di dekat sofa,Sinta mengambil barbel itu dan berjalan pelan menuju pintu.


"Untuk apa barbel,elu mau nguatkan otot tangan." tanya Yosi dengan pelan.


"Untuk mukul tu orang." jawab Sinta,sambil memegang barbel dengan kedua tangannya.


"Sinta,Laura.wow....buka pintu!" suara orang menyebut nama Sinta dan Laura.


"Rey....!" Sinta dan Yosi barengan,ketika mengenali suara yang memanggil dari luar.


"Elu....!" Sinta melototkan matanya setelah dibukanya pintu,dan nampaklah muka Rey yang panik.


"Lama sekali kalian buka pintu,ngapain kalian?" tanya Rey dan masuk kedalam.


"Kamu,kenapa ketuk pintu dan ngedor-ngedor gitu.Kami kira perampok." semprot Yosi pada Rey.


"Itu ada bell,jangan gedor-gedor." kata Sinta dengan jengkel.


"Lupa gw,begitu baca pesan Yosi.Bagaimana Laura?" tanya Rey tentang kondisi Laura.


"Sudah tidur,kami beri obat tadi." kata Sinta.


"Panik gw tadi,sampai lampu merah aja gw terobos." ujar Rey,dan dia mendudukan dirinya disofa.


"Sudah diberitahukan pada mommy dan Daddynya?" tanya Rey.


"Laura melarang." jawab Yosi.


"Mas Gerry mana?" Rey menanyakan keberadaan Gerry.


"Kantor." jawab Sinta.


"Bininya kena jambret,kenapa tidak balik.Malah asyik kerja..." kata Rey.


"Mas Gerry tidak tahu Laura kena jambret." kata Sinta.


"Kenapa tidak diberitahukan !" seru Rey.


"Laura tidak memperbolehkan untuk memberitahukan Mas Gerry." kata Yosi.


Sinta menceritakan bahwa Laura dan Gerry sedang perang dingin.


"Baru seminggu nikah sudah saling ngambekan,mas Gerry ini lagi masalah begitu saja dibesar-besarkan." kata Rey.


"Bagi mas Gerry itu masalah besar,Laura sudah membohonginya." kata Sinta.


"Tidak.........!" terdengar suara teriakan dari kamar Laura,membuat ketiga temannya kaget dan bangkit dari duduknya berlari menuju kamar Laura.


"Laura..!" Sinta dengan cepat masuk kedalam kamar Laura,dan dilihatnya Laura meringkuk dan memegang kepalanya.


"Kenapa Laura?" Rey duduk disudut ranjang.


"Kenapa?" Sinta memeluknya,dan berusaha untuk menenangkannya.


"Ini minum dulu." Yosi menyerahkan segelas air,dan Laura menghabiskan isinya dengan sekali teguk.


"Aku mengingat semua,aku pernah kecelakaan.Dan aku juga pernah buta,betulkan?" tanya Laura pada temanya.


Ketiga temannya saling pandang,mereka tak tahu apa akan dikatakan.


"Jangan sembunyikan lagi,tadi aku memimpikan kecelakaan itu." beritahukan Laura.


"Yang aku herankan,kenapa aku bisa menikah dengan mas Gerry." Laura melihat foto pernikahannya dengan Gerry ada terpasang dikamar.


"Pernikahanmu kau tidak ingat?" tanya Rey.


"Bisa gawat,jika Laura melupakan pernikahannya." Sinta bermonolog.


Laura terdiam dan dia hanya menundukkan wajahnya.


"Aku ingat..!" teriaknya tiba-tiba,membuat temannya menjadi kaget.


"Mas Gerry mengancamku,jika aku tak mau menikah dengannya dia akan menculikku..." kata Laura.


"Hanya karena ancaman itu,kau mau menikah dengannya." kata Sinta.


"Waktu itu,aku tidak bisa melihat.Sedangkan Daddy sangat mendukung keputusan mas Gerry,apa yang harus kulakukan.Hanya dapat pasrah." cerita Laura.


"Waktu honeymoon kau ingat semua?" tanya Yosi.


"Ya,aku membohongi mas Gerry.Dan mas Gerry sangat marah,sehingga dia mendiamkan diriku." Laura menceritakan semua dengan malu-malu.


"Dasar kau Laura." Rey ngekeh setelah Laura selesai bercerita.


"Makanya jangan mau dikawinin orang tua,ngak bisa nahan nafsu." kata Rey lagi.


"He...mas Gerry belum tua,dia baru mau 30 tahun.Lagi mateng-matengnya." Laura tidak suka dibilang Gerry sudah tua oleh Rey.


"Idih...!" belain ni,dah telepon kalau dah kangen." Yosi menyuruh Laura menghubungi Gerry.


"Itu semua tidak benarkan,mas Gerry sudah menjelaskan kenapa dia mengatakan itu semua." kata Sinta.


"Tapi gara-gara ucapannya,penyebabkan kecelakaan itu." cerita Laura.


"Apa hubungannya?" tanya Rey.


"Ingat,waktu itu kita janjian ketemu dicafe tempat kita nongkrong.Waktu itu aku melintas daerah kantor mas Gerry,saat menyetir ucapan itu terus berputar di pikiran.Sehingga aku tidak fokus menyetir." Laura baru membuka penyebab dia kecelakaan dahulu.


Sinta memeluk pundak Laura untuk menguatkannya.


ย 


๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ


ย 


"Bro,kita tidak makan dulu.bokong gw dah mati rasa ini." Radit melirik Gerry yang terus menyetir dengan serius.


"Nanti saja sampai lampung." kata Gerry.


"Ayo gantian,elu pasti dah capek." kata Radit.


"Tu dah mau sampai penyeberangan." Gerry menunjuk kapal-kapal yang berada di Merak.


Gerry menghentikan kendaraannya, untuk mengantri untuk menyeberang ke bakauheni.


"Pegal juga." ujar Gerry dan dia merengangkan ototnya yang terasa kaku.


"Sini gw yang bawa." kemudian Radit keluar dan mengambil alih kemudi.


"Lu tidak ada rencana menelpon Laura?" tanya Radit,setelah Gerry masuk kedalam mobil.


"Belum." jawab Gerry,dia merasa gengsi dia yang mulai menghubungi Laura.


"Hubungi Gerry,dia pasti heran dari pagi sampai mau malam ini.Kau menghilang." Radit berusaha untuk Gerry mau menghubungi Laura.


"Cerewet banget sih elu,ni akan gw telpon." Gerry mengeluarkan handphonenya dan mendial nomor Laura.


"Telepon yang anda tuju diluar jangkauan,tunggulah beberapa menit lagi." Jawaban dari handphone Laura.


"Ni dah gw hubungi,ponselnya mati.Puas lu..!" seru Gerry pada Radit.


"Apa biasanya,handphonenya mati?" Radit penasaran,karena Radit merasa bahwa cewek itu tidak bisa jauh dari gadget.Ada juga mandi bawa gadgetnya.๐Ÿ˜€(siapa diantara pembaca bawa gadget waktu mandi)


"Mungkin ponselnya habis baterai." kata Gerry,sebenarnya Gerry juga merasa heran kenapa ponsel Laura tidak dapat dihubungi.Tapi tidak dia tunjukkan didepan Radit.(gengsi kaum laki-laki).


drrt....drrt....


Ponsel Gerry berdering,dan ketika dilihatnya nomor yang menghubunginya tidak dikenalnya.Gerry mengabaikan panggilan tersebut.


"Kenapa tidak diangkat bro,mana tahu penting." tanya Radit karena Gerry tidak mengangkatnya.


"Nomor yang tidak dikenal." kata Gerry.


Drrt....drrt....drrt


"Angkat bro,mungkin saja Laura.Pakai nomor lain." ingatkan Radit.


Setelah Radit mengatakan kemungkinan Laura yang menelponnya,barulah Gerry mengangkat panggilan masuk yang kedua kali.


"Hallo.." jawab Gerry.


"Hai Gerry.." sahutan dari seberang telepon.


"Siapa..?" tanya Gerry lagi,karena Gerry lupa suara orang yang menelponnya.


"Jeny,kau melupakan aku." jawab Jeny.


"Darimana kau dapat nomor teleponku?" Gerry sedikit kaget ketika mengetahui bahwa Jeny yang menghubunginya.


"Aku lagi di Indonesia,semalam ketemu Maya.Aku minta darinya nomor handphonemu..."kata Jeny.


"Ada perlu apa menghubungiku?" tanya Gerry datar.


"Ingin ketemu saja,mengenang masa lalu.Bisa kita ketemu?" tanya Jeny.


"Maaf tidak bisa,istriku cemburuan." Gerry menolak ajakan bertemu oleh Jeny.


"Ajak saja istrimu,kita sudah kenalkan." Jeny terus memaksa Gerry.


"Nanti saya pikirkan,maaf saya lagi sibuk." kemudian Gerry mematikan hubungan teleponnya.


"Siapa...?" tanya Radit.


"Jeny." beritahu Gerry.


"WHAT....!"mau apa lagi dia?" tanya Radit,Radit tahu masa lalu Gerry dengan Jeny dahulu.


'Ntahlah,waktu honeymoon kami ketemu.katanya dia menetap disana."


"Jangan kasih kesempatan,untuk dia dekat denganmu dan Laura." Radit mencegah Gerry untuk bertemu dengan Jeny lagi.


"Dia pembawa pengaruh buruk." sambung Radit lagi.


๐Ÿ’–๐Ÿ’—**Bersambung๐Ÿ’–๐Ÿ’—


Jika berkenan mohon ratenya,vote n like ya makasih friends๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜**