Is This Love

Is This Love
Epi 60 Damai.



terimakasih atas vote,like n ratenya.


Happy reading ya.


"Bagaimana keadaan Laura,sudah tidak demam lagi?" tanya Rey ketika terbangun dan dilihatnya Sinta keluar dari kamar.


"Sudah mendingan." kata Yosi.


"Tidurmu sendiri bagaimana,kenapa tidak tidur dikamar Rey.Tidur disofa apa tidak sakit badanmu?" tanya Yosi.


"Sofanya empuk.." kata Rey.


"Tidak masuk kantor Rey,walaupun perusahaan papamu.Jangan mangkir." kata Sinta yang baru keluar dari kamar.


"Baru jam berapa ini,semua perlengkapan ke kantor sudah kubawa." kata Rey dan ingin kembali melanjutkan tidurnya.


"Ah...kenapa badanku sakit semua." Laura terbangun dari tidurnya,dia bangkit dari ranjang dan menjejakkan kakinya kelantai.


"Aduh sakitnya..!" Laura merasakan lututnya sangat sakit,ketika diluruskan.


Laura berusaha untuk terus melangkahkan kakinya,walaupun nyeri sangat terasa setiap kakinya bergerak.


"hai...!" sapanya,ketika dilihat ketiga orang teman sedang berada diruang santai.


"Bagaimana Laura?" Rey membuka matanya,ketika didengarnya suara Laura.


"Sudah mendingan,cuma badan nyeri semua." beritahu Laura.


"Sekali lagi Laura,penjambret jangan dilawan.Mau jadi super women." kata Rey lagi.


Sinta berjalan ke pintu ketika terdengar suara bel berbunyi,dan tak kemudian dia kembali dengan membawa makanan untuk sarapan pagi mereka.


"Ini Laura makan,biar makan obat." Sinta memberikan bungkusan yang berisi bubur kepada Laura.


 


🍂🍂🍂🍂


 


Setelah bangun dan sarapan,Gerry dan Radit pergi menuju tempat proyeknya.Bersama Radit,Gerry berkeliling meninjau pembangunan hotelnya.


"Pak,sepertinya saya kurang sreg dengan ruang olah raganya." kata Gerry.


"Maksud bapak bagaimana?" tanya manajernya.


"Tukar,jangan dilantai terakhir.Bagaimana menurut elu Dit?" Gerry menanyakan pendapat Radit.


"Pernah juga gw pikirkan,bagaimana kalau dilantai 10 saja.Pas ditengah-tengahnya." usul Radit.


"Boleh juga.." jawab Gerry.


"Apa ada lagi yang perlu dirombak pak.?" Dito sebagai manajer proyek bertanya pada Gerry dan Radit.


"Tidak ada pas sesuai dengan rancangan." kata Gerry.


"Gerry telpon elu bunyi dari tadi,kenapa tidak diangkat." kata Radit pada Gerry.


"Dari tadi ada nomor yang masuk tidak dikenal."


"Angkat aja,mana tahu Laura menelpon pakai nomor baru." saran Radit.


Gerry mengeluarkan handphonenya dari saku jaketnya dan menjawab panggilan tersebut.


Gerry: hallo..


Orang: ini bapak Gerry..


Gerry: ya,ini siapa..?


Orang: saya dari kantor polisi .


Gerry: kantor polisi..!


Polisi: ini mengenai kasus


penjambretan yang terjadi


pada istri anda.


Gerry: Istri saya kena jambret,kapan..?


Polisi: Bapak tidak tahu,bapak berada


dimana? istri kena jambret


kenapa tidak tahu?"


Gerry: Saya di luar kota.


Polisi: Semalam pagi pak,saya mau


memberitahukan bahwa.


pelakunya sudah tertangkap,


kami perlu istri anda untuk


melengkapi keterangan.


Gerry: Baik saya akan kekantor polisi bersama istri saya.


Setelah selesai menerima telepon,Gerry dengan panik menemui Radit yang masih berbicara dengan Dito.


"Radit,ayo kita kembali.!" seru Gerry,sembari meninggalkan lokasi proyeknya.


"Ada apa bro,kenapa panik?" tanya Radit sambil mengikutinya dari belakangnya.


"Semalam Laura kena jambret!" kata Gerry sambil melangkah menuju mobilnya.


"Polisi tadi beritahukan,bahwa pelakunya sudah tertangkap.Laura disuruh datang untuk melakukan identifikasi." cerita Gerry.


"Sudah gw yang nyetir.elu panik begitu.Bukan sampai kerumah kita,tapi sampai rumah sakit nanti." kata Radit ketika dilihatnya,Gerry akan duduk di kursi pengemudi.


Dalam perjalanan kembali,Gerry duduk dengan tidak tenang.dia gelisah memikirkan Laura.


"Tenang Gerry,Laura pasti baik-baik saja." Radit berusaha untuk menenangkan Gerry.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Laura,ini salah aku semua!" sesal Gerry.


"Jelas salah elu,tidak dikasih jatah sewaktu honeymoon pakai ngambek." ledek Radit.


Gerry memberikan tatapan mata yang tajam kepada Radit,ketika mendengar kalimat Radit yang mengejeknya.


"Sorry bro,jangan marah.Seram sekali mata elu." kata Radit ketika mendapatkan tatapan masam Gerry.


"Sudah cepat,nanti ketinggalan penyeberangan kita."


 


🍁🍁🍁🍁


 


"Laura,kami balik dulu ya.Tidak apa-apa kami tinggal sendiri?" kata Sinta.


"Tidak apa-apa,tidak demam lagi." kata Laura.


"Rey sudah pergi?" tanya Laura.


"Sudah dari tadi,ini sudah jam 12.elu kerjanya tidur terus." kata Yosi.


"Ngantuk terus mata gw." Laura merasa kantuk menyerangnya,karena setelah bangun pagi dan selesai sarapan.Laura kembali tidur.


"Mungkin efek dari obat yang elu makan." kata Yosi.


"Bisa jadi." jawab Laura.


"Kami balik dulu,ni gw tinggalkan handphone.Biar tidak sulit kita saling berhubungan." Yosi meninggalkan handphonenya yang digunakannya kepada Laura.


"Terimakasih ya,kalian teman sejati..." kata Laura kepada kedua temannya.


"Dah ah,jangan lebay.Nanti nangis gw." ujar Sinta dan Yosi.


"Balik dulu ya." pamit Sinta.


Laura berusaha untuk bangkit dari pembaringannya,untuk mengantarkan temannya keluar.


"Sudah tidak usah bangkit." cegah Yosi,ketika dilihatnya Laura ingin bangkit.


Laura kembali membaringkan badan,karena untuk bangkit saja dia masih merasakan nyeri disekujur tubuhnya.


 


🍃🍃🍃


 


Hampar 6 jam dalam perjalanan,akhirnya Gerry dan Radit tiba di apartemennya.Dengan langkah yang panjang Gerry seakan seperti terbang saking ingin cepatnya dia berjumpa dengan Laura.


Gerry membuka pintu apartemennya dan dilihatnya ketiga temannya laura berada di apartemen.


"Mas Gerry..!" Rey terkejut melihat kemunculan Gerry tiba-tiba begitu terbukanya pintu apartemen dari luar.


Sinta dan Yosi juga terkejut melihat,kedatangan Gerry dan Radit.


"Mana Laura?" tanya Gerry ketika tak dilihatnya,keberadaan Laura bersama ketiga temannya.


"Dalam kamar mas." beritahu Rey.


Dengan cepat Gerry menuju kamar mereka,dibukanya pintu kamar dan dilihatnya gadis yang sudah seminggu menjadi istrinya dan sudah dua hari tidak disapanya sedang tidur.


Gerry berjalan dengan pelan mendekati ranjang,dan didudukannya dirinya dipinggir ranjang.Dengan pelan Gerry menyibakkan rambut yang menutupi wajah Laura,dan baru dapat Gerry lihat wajah Laura ada perban dikeningnya dan bekas goresan dipipinya.


"Maaf..." Gerry mengusap pipi Laura yang ada bekas goresannya,dan Gerry juga memberikan ciuman dikeningnya.


Laura membuka matanya karena dia merasa ada seseorang yang sedang mengelus pipinya.


"Mas Gerry..!" Laura kaget ketika melihat Gerry didepannya, dan berusaha untuk bangun tapi dicegah oleh Gerry.


"Tidur saja.." ujar Gerry.


"Kenapa tidak bilang kalau Laura kena jambret?" tanya Gerry pada Laura.


"Laura tidak punya handphone." alasan Laura tidak memberitahukan Gerry tentang musibah yang dialaminya.


"Bisa pinjam punya teman kan..!"


"Maaf mas,Laura takut karena mas Gerry lagi marah dengan Laura." Laura menundukkan kepalanya,dia takut untuk memandang wajah Gerry.


Gerry menghela napasnya,dan diamatinya Laura yang terus menundukkan kepalanya.


"Mas juga minta maaf karena sempat marah kepada Laura." Gerry menangkup wajah Laura agar mau menatapnya.


Laura melihat langsung kewajah Gerry,dan air mata Laura juga menitik.


"Kenapa nangis ada yang sakit..?" ketika dilihatnya Laura menangis.


Laura menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Gerry.


"Laura lapar mas." beritahunya.


Gerry tertawa mendengar Laura menangis karena lapar.


"Ayo kita keluar,teman-teman Laura juga mungkin lapar." ajak Gerry,kemudian Gerry mengangkatnya.


"Mas,biar Laura jalan saja." Laura menolak untuk diangkat Gerry,karena dia merasa malu nanti dilihat teman-temannya.