Is This Love

Is This Love
Epi 62 posesif



**hai jumpai lagi dengan author,biar author semakin semangat menuangkan hayalannya dalam bentuk cerita.Mohon dukungannya ya,rate,like n vote jika berkenan.trims


Happy reading readers.


Setelah kepulangan teman-teman.Gerry membawa Laura kembali kekamar untuk beristirahat.


"Mas,Laura masih bisa berjalan." ucap Laura,karena Gerry lagi-lagi menggendongnya**.


"Diam..!" kata Gerry pada Laura,dan Gerry terus membawa Laura keranjang dan membaringkannya.


Setelah membaringkan Laura,Gerry keluar dari kamar.Setelah Gerry keluar kamar,Laura bangkit dari ranjang dan mengambil baju ganti langsung masuk kedalam kamar mandi.Sedari tadi dia merasa badannya sudah gerah ingin mandi,tetapi tak diberitahukan pada Gerry.Karena dia takut Gerry akan memandikannya.


"Segar...!" Laura merasakan sekujur tubuhnya segar setelah tersentuh air yang mengalir dari shower.


Tok....tok...tok..


"Laura...Laura..!" ketukan dan panggilan terdengar dari balik pintu kamar mandi.


"Ya mas,Laura lagi mandi." teriaknya dari dalam kamar mandi.


"Kenapa tidak bilang mau mandi,bisa mas mandikan.Ini pintu kenapa dikunci..?" tanya Gerry dari balik pintu.


"Mas Laura bisa mandi sendiri." ucap Laura.


"Emang anak kecil pakai dimandikan." gumannya Laura.


"Laura buka pintu..!"Gerry mengedor pintu kamar mandi dengan tidak sabaran,karena Laura tidak membuka pintu juga.


"Sebentar..! Laura sudah selesai." dengan buru-buru Laura mengenakan bajunya,Laura takut Gerry mendobrak pintu kamar mandi.


"Laura buka pintunya,mas hitung sampai 2 ya.Kalau tidak dibuka mas dobrak.." ancam Gerry dari luar,karena Laura belum membuka pintunya.


"Mas hitungnya sampai 3 bukan 2." protes Laura kepada Gerry.


"Mulut punya mas sendiri,suka-suka mau hitung sampai berapa." kata Gerry.


"Satu....!" Gerry memulai hitungannya.


"Punya laki gila..!" ribet.." gerutu Laura.


"Du.......!"


Sebelum hitungan kedua selesai,pintu kamar mandi terbuka.Dan muncul Laura yang baru saja memakai baju dan masih belum pas dibadannya.


"Apaan sih mas,Laura buru-buru jadinya.Ini badan belum kering." Laura memakai bajunya tanpa mengeringkan badan dengan benar.


"Kenapa dikunci pintunya?" tanya Gerry dan tangannya bersidekap didadanya.


"Orang mandi,pasti pintu nya dikunci." kata Laura.


"Mas tidak kunci kalau mandi,ini tempat tinggal kita.Siapa yang berani masuk." kata Gerry.


"Orang lain tidak,tapi mas Gerry yang nanti masuk." batin Laura bermonolog.


"Lain kali jangan kunci pintu.." ingatkan Gerry.


"Ya..!" jawab Laura.


"Ini kenapa basah bajunya ?" tanya Gerry ketika dilihatnya baju yang dikenakannya Laura terlihat agak basah.


"Buru-buru pakai bajunya,sehingga Laura ngeringkan badan asal ."


"Ganti,nanti sakit..!" perintah Gerry kepada Laura mengganti bajunya."


Laura kembali mengambil bajunya di walk in closet,dan menuju kamar ganti untuk mengganti bajunya.


"Mau kemana..?" tanya Gerry ketika Laura melewati Gerry yang sedang duduk sofa yang ada dikamarnya.


"Ganti baju,tadi disuruh ganti baju..!"


"Sini saja,kenapa harus dikamar mandi?" Gerry menatap Laura dengan instennya,sehingga Laura merasa jengah.


"malu ah..!"Seru Laura sembari berjalan terus menuju kamar mandi,dengan cepat Gerry menarik tangan Laura untuk menghentikan masuk kekamar mandi.


"Mas...!" Laura kaget ketika Gerry menghentikannya menuju kamar mandi.


Dengan cepat Gerry melucuti pakai Laura,sehingga Laura hanya memakai pakaian dalamnya saja.


"Aw....mas Gerry..!" Laura berusaha untuk mencegah Gerry melucuti pakaiannya tapi dia kalah cepat dengan Gerry.


Laura berusaha untuk menutupi daerah sensitifnya dengan tangannya.


"Tidak usah ditutupi." Gerry memakaikan Laura dengan baju tidur yang baru,setelah selesai memakaikan Laura dengan baju tidur yang baru.Dibopongnya Laura dan dibaringkannya diranjang.


Gerry masuk kekamar mandi membawa baju Laura yang basah dan dimasukkannya kekeranjang baju kotor.


"Ingat Gerry,kau harus tahan nafsumu." Gerry mengingat dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Laura untuk saat ini.


Setelah selesai menenangkan dirinya,akibat melihat tubuh Laura tadi.Gerry keluar dan dilihatnya Laura masih terbaring seperti saat diletakkannya.


"Sayang,parut dimuka sudah di obatin?"


"Belum."


"Mana obatnya,biar mas pakaikan?"


Dengan telaten Gerry mengoleskan obat tersebut kepipi Laura yang berparut.


"Pedih..?" ketika dilihatnya Laura meringis ketika tersentuh obat tersebut.


"Sedikit.." jawab Laura.


"Makanya jangan sok jagoan." kata Gerry sembari mengoleskan,luka-luka yang diderita Laura.


"Mas tahu dari mana,Laura kena jambret..?"


"Polisi menghubungi,sewaktu mas berada diluar kota.Betapa kagetnya mas saat itu."


"Maaf mas." kata Laura.


"Mommy dan Daddy,tidak tahu semua ini?" tanya Gerry.


"Tidak,Laura takut mereka khawatir."


"Saat Rey menelpon mas,kenapa dia tidak memberitahukan?"


"Kapan Rey menelpon mas Gerry,Laura tidak tahu?"


"Kemarin,sekitar jam 8 malam.Dia bilang tak dapat menghubungi ponsel Laura."


"Rey tahu kami kena jambret sekitar jam 12 siang,Rey tidur disini bersama Sinta dan Yosi."


"Mungkin Rey ingin tahu mas berada dimana." kata Gerry.


"Kalau polisi tidak menelpon,mas tidak akan pulang?" tanya Laura.


"Mas menelpon ponsel Laura,tapi tidak tersambung.saat itu mas khawatir,mas bingung mau menghubungi siapa.Mau menghubungi mommy dan Daddy takut nanti mereka tahu kita lagi diam-diaman.


"Takut juga ya dengan Daddy dan mommy." ledek Laura.


"Jelaslah,anak kesayangannya jadi babak belur begini,bisa-bisa dibawa pulang nanti." Gerry mengecup kening Laura.


"Sudah sekarang tidur." kata Gerry.


"Belum ngantuk."


Gerry membaringkan dirinya disisi Laura,dan merengkuh Laura kedalam pelukannya.


"Jadi selama dua hari ini mas Gerry pergi keluar kota ?" tanya Laura.


"Pergi keluar kota,mas meninjau proyek yang sudah selesai." cerita Gerry.


"Mas maafin Laura yang sudah berbohong."


"Hus..!" itu sudah berlalu,tidak usah diungkit lagi." Gerry meletakkan jarinya dibibir Laura untuk menghentikannya berbicara tentang masalah yang sudah berlalu.


Gerry mendekatkan wajahnya ke wajah Laura,kemudian diberikannya Laura kecupan yang panjang.Sehingga napas Laura serasa kehilangan oksigen,barulah Gerry melepaskan tautan bibir mereka.


"Mas ingin lebih dari ini." ucap Gerry dengan suara yang lirih.


"Mas,Laura lagi.." Laura malu untuk mengucapkannya.


"Ya mas tahu,saat ini Laura selamat.Tapi setelah selesai akan mas tagih.." ancam Gerry sambil tersenyum.


"Sudah sekarang tidur,besok kita ada janji kekantor polisi."


 


\*


 


Setelah dari kantor Polisi,Gerry membawa Laura mengunjungi rumah yang baru selesai dibangun.


"Kita ngapain kesini mas?" tanya Laura.


"Lihat rumah baru kita.."Gerry menghentikan mobilnya,dan mengajak Laura untuk turun dari mobil.


"Bagaimana,suka..?" tanya Gerry setelah masuk kedalam rumah dan masih dalam keadaan kosong.


"Kenapa masih kosong?"


"Mas ingin Laura yang memilih sendiri perabotannya." kata Gerry.


"Ini kamar kita." Gerry membawa Laura ke dalam kamar yang cukup besar.


"Ini pintu penghubung untuk apa..?" tanya Laura ketika dilihatnya ada pintu penghubung kekamar sebelahnya.


"Itu nanti kamar baby kita." kata Gerry.


Laura tersipu malu,mendengar bahwa Gerry sudah menyediakan kamar untuk anaknya.


"Tidak mungkin anak kita nanti tidur bersama kita terus." sambung Gerry lagi.


**bersambung


Happy reading ya guys**..