Is This Love

Is This Love
Epi 57. Merasa super women.



Jumpa lagi dengan kelanjutan kisah cinta Laura dan Gerry guys.


"Laura, kenapa tidak dilepaskan saja tasnya tadi " Yosi ngedumel melihat Laura meringis kesakitan.


"Sinta saja merelakan tasnya dibawa kabur." lanjut Yosi lagi.


"Elu...!" perasaaan mau jadi super women, mau melawan tu penjambret." sambung Yosi mengomentari perbuatan Laura tadi dalam mempertahankan tasnya.


"Semua barang-barang gw ada didalam tas." lirih suara Laura menahan sakit akibat luka goresan di bagian beberapa tubuhnya.


"Sinta, kunci mobil lu untung tidak didalam tas ya." kata Yosi.


"Ya, tadi gw kantongi "ucap Sinta.


"Dari rumah sakit kita kekantor polisi, biar kartu kita diblokir " kata Sinta lagi.


"Laura, beritahu mommy mu " ingatkan Yosi kepada Laura.


"Jangan.." Laura menolak untuk memberitahukan orangtuanya tentang penjambretan yang dialaminya.


"Kenapa?" Sinta bertanya.


"Nanti mereka khawatir lagi, gw tidak apa-apa " kata Laura.


"Mas Gerry, tidak elu beritahukan juga..?" Yosi melirik Laura yang tepat duduk disampingnya di kursi belakang.


"Tidak usah juga, ingat jangan ada yang beritahukan pada siapapun juga " peringatan Laura pada keduanya.


"Kenapa kau rahasiakan pada suamimu ?" tanya Sinta.


"Kalian lupa, mas Gerry lagi marah. Dia pasti tak perduli apa yang terjadi padaku ." cerita Laura pada keduanya.


"Sampai kapan kalian perang dingin seperti ini?" tanya Yosi.


"Sampai dia menyapaku " jawab Laura.


"Jika Suamimu tidak menyapamu sampai lebaran monyet, Kalian tetap tidak saling sapa " kata Sinta.


"Mana ada lebaran monyet." kekeh Laura .


"Ada, besok aku mau kekebun binatang mau rayakan lebaran ama monyet. Biar kalian baikan." gurau Yosi.


"Dasar kalian ."


"Baru nikah semingguan sudah perang, kalau kata orang lagi mesra-mesranya " kata Sinta.


"Emang sial nasib gw, sudah didiamkan suami. Kena jambret lagi." Laura mengeluarkan keluh kesahnya.


"Gw..!"tidak punya suami kena jambret, ini bukan nasib sial beb.Tapi sudah takdir, bagi-bagi rezeki ama tu penjambret." Sinta berusaha untuk membawa Laura bercanda.


 


🥀🥀🥀


 


"Bro, manajer lapangan di kota Palembang melaporkan tadi. Dalam minggu ini proyek kita disana selesai, kapan ada rencana melihat proyek disana?" tanya Radit.


"Sekarang saja, ayo kita berangkat. Pakai mobil ." perintah Gerry dengan cepat.


"Elu...mau ikut ?" tanya Radit heran, mendengar Gerry sendiri akan ikut turun kelapangan.


"Ya, ada masalah?" suara datar Gerry.


"Tidak, cuma kalian ada masalah. Selesaikan dulu masalah kalian berdua " kata Radit.


"Biar dulu kami saling berjauhan." sahut Gerry lagi.


"Kalau menurut gw, selesaikan dulu bro.Jangan sampai berlarut-larut,jangan sampai mertua elu tahu kalian sedang perang dingin." saran Radit.


"Ntar dibawa balik mertua tu bini lu, baru tahu.." sambung Radit lagi.


"Sudah ah...!"Gerry menolak untuk meneruskan percakapan mengenai masalahnya dan Laura.


"Jadi kita berangkat ke Palembang?" tanya Radit.


"Jadi, kerja dulu." kata Gerry.


"Singgah dulu kita ke apartemen atau langsung?" tanya Radit.


"Langsung saja." kata Gerry.


"Terus baju lu?"


"Beli aja, besok kita sudah balik." kata Gerry.


"Terserah, elu boss..." gerutu Radit, sebenarnya dia ingin balik ke apartemennya untuk mengambil pakaian ganti.


 


🖤🖤🖤


 


Setelah dari rumah sakit, mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor polisi untuk melakukan pelaporan.


"Nona, sekali lagi jika terjadi hal seperti ini jangan melakukan perlawanan.Bisa-bisa anda akan kehilangan nyawa " kata Polisi tersebut pada Laura dan temannya.


"Lihat kondisi anda, lecet dimana-mana.Muka cantik anda jadi ada perban menempel..."sambung polisi itu lagi pada Laura.


Polisi tersebut mencatat semua laporan yang diberikan oleh Laura dan Sinta.


"Sudah nona, laporan sudah kami terima " kata Polisi setelah selesai melakukan pencatatan.


"Ini alamat orang tua anda?" tanya polisi pada Sinta dan Laura.


"Anda nona?" tanya polisi pada Laura.


"Tidak pak, itu alamat apartemen suami saya." jawab Laura.


"Anda sudah bersuami?" polisi kaget, ketika Laura mengatakan bahwa dia sudah bersuami.


"Putus harapan saya..!" goda polisi yang satunya.


"Rekan saya, naksir kamu sepertinya." ujar polisi tersebut sembari tertawa kecil.


"Pak, kami dua masih jomblo.." beritahu Yosi sambil tersenyum.


"Nah tu..!" mereka masih jomblo, minta no handphonenya." saran polisi yang satu lagi.


"Pak handphone saya, dibawa penjambret." kata Sinta.


"Kami akan usahakan, ponsel anda kembali nona." kata Polisi itu lagi.


"Nona, silakan tuliskan nomor handphone suami anda." kata polisi.


"Untuk apa pak?" tanya Laura.


"Jika kami membutuhkan keterangan lanjutan, kemana kami hubungi anda nona.Nanti kami kerumah anda dan anda tidak ada,bukankah akan buang waktu saja."


Dengan berat hati Laura menuliskan nomor ponsel Gerry.


"Sekaligus alamat orang tua anda." perintah polisi itu lagi.


"Sudah selesai semua pak, sudah boleh kami pergi? tanya Laura, karena dia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.


"Sudah, nanti akan kami hubungi jika ada perkembangan." beritahukan polisi tersebut kepada Sinta dan Laura.


 


🌷🌷


 


Didalam mobil Laura memejamkan matanya,karena dia merasakan pusing menerpa kepalanya tiba-tiba.


"Kenapa Laura?" tanya Yosi ketika dilihatnya,Laura memijit keningnya.


"Pusing.." beritahu Laura pada kedua temannya.


"Mungkin karena belum makan, kita singgah cari makan." kata Sinta.


"Gw tidak sanggup jalan lagi, lutut gw sakit kalau digerakkan." Laura menolak untuk singgah mencari makan.


"Gw aja turun, kita bawa pulang aja." usul Yosi.


Kemudian Sinta menghentikan mobilnya di restoran dan Yosi turun untuk membelikan makan untuk Laura, yang sedari pagi perutnya belum terisi.


"Baring aja Laura, ambil tu bantal kecil ." kata Sinta ketika dilihatnya wajah Laura yang pucat menahan pusingnya.


Laura menuruti saran Sinta,dan dibaringkannya badannya dijok belakang.


"Laura, apa tidak lebih bagus kita ke rumah sakit lagi?" tanya Sinta pada Laura yang terbaring di jok belakang.


"Ngak usah, mungkin karena belum sarapan pagi.Mungkin masuk angin saja." kata Laura.


🌺🌺🌺🌺


Setibanya di apartemen,Sinta menyuruh Laura untuk makan.Dan kemudian memberikan obat yang diberikan rumah sakit tadi.


"Sekarang elu istirahat " kata Sinta.


"Kalian tidak balik?" tanya Laura dari balik selimutnya.


"Bagaimana kami bisa ninggalin elu beb " ucap Yosi.


"Kami disini, sampai laki elu pulang." jawab Sinta,kemudian Sinta dan Yosi meninggalkan Laura didalam kamarnya.


"Sinta,hubungi Rey ," kata Yosi.


"Laura tidak marah..?" Sinta takut Laura marah.


"Rey kan teman kita, ntar Rey tidak diberitahukan bakalan marah dia nanti." kata Yosi.


"Pakai apa gw hubungi Rey,pakai asap. Handphone gw hilang." Sinta baru tersadar bahwa handphone hilang.


"Sorry girl,lupa ." sahut Yosi,dan kemudian dia mengeluarkan handphonenya dan kemudian mengirimkan pesan kepada Rey.


💮💮💮


Terdengar suara ketukan dipintu apartemen Laura dengan keras dan kemudian suara gedoran, membuat Sinta dan Yosi ketakutan.


"Siapa Sinta..!" teriak Yosi sambil terlonjat dari duduknya ketika ketukan dan gedoran dipintu apartemen.


"Buka..!" Sinta mendorong Yosi untuk membukakan pintu.


"Elu..!" gw takut." Yosi menolak untuk membukakan pintu.


"Gw juga takut...." Sedangkan suara ketukan dan gedoran makin keras.


Sinta dan Yosi saling berpelukan didepan pintu, mereka saling dorong untuk membukakan pintu.


**Bersambung


Terimakasih ya yang sudah berkenan membaca cerita halu tingkat tinggi.


Happy Reading guys**.