Is This Love

Is This Love
Epi 59. Saling gengsi.



**Hai jumpa lagi dengan Laura disini,apa yang terjadi dengan hubungan Laura dan Gerry.Apakah mereka tetap dengan ego mereka masing-masing,atau mereka akan saling membuang ego mereka.


Happy reading ya teman-teman**.


"Laura mana ni suami elu..? jam segini belum balik juga." kata Rey dengan sedikit heran.


"Mungkin sibuk,sudah seminggu dia ninggalin kantor." kata Laura.


"Pengantin baru,biasanya ingin ngadem di kamar terus?" gurau Sinta.


"Itu kalau elu,Laura mah beda.Honeymoon aja tega dia nipu suaminya,padahal suami sudah mengharapkan akan bisa mendaki bukit menerjang pulau." mulut Yosi tidak tinggal diam,dia ikut menggoda Laura.


"Aduh mulut kalian mesum semua!" seru Laura sembari menutup kedua telinganya.


" Mulut kalian dikondisikan,apa tidak kalian lihat ada anak dibawah umur." kata Rey


"Siapa....?" tanya Yosi.


Gw...!!" Rey menunjukkan dirinya sendiri.


"Elu bukan dibawah umur,tapi sudah bangkotan." ledek Laura.


"E..e...sudah berani meledek akang Rey ya.."


"Guys laper..!" ujar Sinta.


"Ya,gw juga.Karena buru-buru tadi sampai lupa makan siang." beritahu Rey,bahwa sedari siang lambungnya belum terisi nasi.


"Masaklah Laura,dapur elu pasti tersedia banyak makanan." ucap Rey.


"Dapurnya kosong..!" kata Laura mengenai kondisi dapurnya.


"Kenapa,laki elu bangkrut karena ngawini elu girl..?" ucap Rey seenak mulutnya.


"He...mulut!" gw baru pulang semalam,belum sempat belanja." kata Laura.


"Belanja sekarang..!" suruh Rey.


"Elu tidak lihat,badan gw babak belur begini.Mana lagi credit card hilang mau belanja pakai apa,pakai daun..!" kata Laura.


"Maaf ya Laura,kita delivery aja.Akang Rey traktir,maklum baru gajian." ucap Rey dengan bangganya karena baru gajian.


"Asyik nih..!" ujar Yosi.


Β 


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Β 


"Belum sampai juga?" Gerry terbangun dari tidurnya,akibat gonjangan yang di timbulkan ban mobilnya terperosok lubang.


"Belum,sorry elu terbangun.Tak kelihatan ada lubang dijalanan." kata Radit.


"Tidak mungkin kita pulang hari ini juga..." kata Gerry.


"Ya jelas bro,kita berangkat saja sudah jam satuan." jawab Radit.


"Setengah jam lagi mungkin kita baru sampai,ayo kita gantian nyetir." ucap Gerry.


"Nanggung,ntar sudah mau sampai."


drrt...drtt.....drrt.


"Angkat bro,mana tahu penting." Radit menyuruh Gerry menerima panggilan handphonenya.


Gerry melihat siapa yang menghubungi ponselnya,setelah tahu siapa yang menghubunginya.Gerry menolak menerima panggilan tersebut.


"Kenapa ditolak bro?" Radit melihat Gerry menolak menerima nya.


"Sepertinya Jeny lagi yang menghubungi." beritahu Gerry.


"Mau apa lagi dia..?" terdengar dari suara Radit yang mengandung emosi jika menyangkut nama Jeny.


"Mana gw tahu..!"


"Apa dia tidak bahagia dengan dengan laki pilihannya itu." kata Radit.


"Itu pilihannya,dia juga sudah punya anak." cerita Gerry kepada Radit.


"Temu juga dengan anaknya,kalau lakinya elu temu?" tanya Radit kepada Gerry.


"Tidak,waktu itu dia hanya berdua dengan anaknya." kata Gerry mengenai Jeny.


"Apa mungkin dia sudah pisah,ingin gangggu hidup elu..?" tanya Radit.


"Sudah,dia hanya masa lalu.Sekarang hanya Laura yang ada dihati."


"Hanya Laura dihati,sekarang lagi perang dingin begitu..!" ledek Radit.


"Sudah,gw mau tidur lagi."


"He...Gerry,jangan tidur lagi.Sudah mau sampai." ingatkan Radit ketika dilihatnya Gerry sudah ingin mengambil posisi duduk yang nyaman untuk melanjutkan tidurnya.


"Berisik banget sih..!" tinggal bangunkan aja gw jika sudah sampai." Gerry ingin meneruskan tidurnya.


"Bosen bro,tidak ada yang nemanin ngobrol.Sambil menyetir." alasan Radit melarang Gerry kembali tidur.


Β 


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Β 


"Akhirnya lambung gw full..!" seru Rey dan tangan mengelus perutnya.


"Laura,kenapa makanan elu tidak dihabiskan..?" Sinta melihat makanan Laura hanya berkurang sedikit.


"Tidak selera..." beritahu Laura.


Sinta memegang kening Laura dan dirasakannya kening Laura yang hangat.


"Demam Laura,badanmu panas?" beritahu Sinta.


"Sedikit pusing." Laura memijat keningnya.


Yosi membawa segelas air dan obat dan memberikannya kepada Laura.


"Tadi kami sudah kerumah,disarankan untuk tinggal sehari.Tapi Laura menolak." kata Yosi.


"Kita telpon mommy ya Laura?" kata Sinta.


"Jangan,nanti mommy khawatir.Apalagi ditahunya mas Gerry tak ada." Laura mencegah temanya untuk menelpon mommynya.


"Kak Leo saja!" seru Rey.


"Kak Rey sedang keluar kota."


"Aduh...! kenapa malang benar nasipmu Laura." ujar Rey.


"Ngak apa-apa sesudah makan obat,panasnya akan turun."


"Ayo kita kekamar." Sinta menuntun Laura kedalam kamarnya untuk beristirahat.


"Rey,jam berapa mau balik?" tanya Yosi.


"Gw khawatir dengan Laura,gw balik ganti baju aja.Terus balik lagi." kata Rey tentang rencananya.


"Ya,kami juga khawatir.Bagaimana jika tengah malam panasnya naik,ada elu untuk nemanin bawa kerumah sakit.Rasa khawatir kami berkurang."


"Mas Gerry apa tidak akan balik?" tanya Rey pada temannya.


"Mana kami tahu,bininya aja tidak tahu dimana keberadaan lakinya." kata Sinta yang baru keluar dari mengantar Laura beristirahat.


"Coba gw hubungi handphonenya mas Gerry ya,gw ada nomornya."


"Nanti Laura marah." kata Yosi.


"Jangan beritahukan Laura kita nelpon mas Gerry,pura-pura saja kita mencari keberadaan Laura pada mas Gerry." Rey mengutarakan keinginannya menghubungi Gerry.


"Terserah kamu Rey." kata Sinta.


Rey mengeluarkan handphonenya dan mencari nomor ponselnya Gerry dikontaknya.


Drrt......drrt...drrt...


"Tidak ngangkat..." kata Rey.


"Mungkin lagi sibuk dikantor." kata Sinta.


"Lagi temu client.." ujar Yosi.


Drrttt....drrtt....


"Hello..." suara Gerry dari seberang telpon.


"Hai mas Gerry,ini Rey...." Rey menghidupkan loudspeaker,sehingga Sinta dan Yosi juga bisa mendengar percakapan Rey dan Gerry.


"Ada apa Rey..?" sapa Gerry.


"Laura bersama mas ya?" Rey pura-pura tak mengetahui keberadaan Laura.


"Tidak,saya lagi diluar kota." kata Gerry pada Rey.


"Handphone Laura saya hubungi tidak tersambung,makanya saya kira bersama mas Gerry." kata Rey.


"Coba kamu hubungi Sinta dan Yosi." kata Gerry kepada Rey.


"Sudah mas,tapi tidak mengangkat juga." lanjut Rey lagi.


"Kemana mereka?"mungkin lagi nonton,coba kamu ke apartemen." kata Gerry pada Rey.


"Baik mas,mas Gerry kapan balik dari luar kota?" tanya Rey.


"Mungkin besok." jawab Gerry.


"Ok mas,saya ke apartemen.Mungkin mereka disana." Rey lalu memutuskan hubungan telpon tersebut.


"Mas Gerry tidak pulang hari ini,dia tidak bilang mau keluar kota pada Laura..!? Sinta heran.


"Mungkin dia menghubungi Laura,tapi karena ponsel Laura hilang.Bagaimana Gerry bisa memberitahukan bahwa dia keluar kota." kata Rey.


"Mungkin juga." kata Yosi.


"Gw balik dulu,nanti gw datang lagi.Mas Gerry tidak balik hari ini,moga-moga demam Laura tidak tambah parah.


Β 


🍁🍁🍁🍁🍁


Β 


"Siapa yang nelpon?" tanya Radit,ketika dilihatnya Gerry berbicara cukup serius dengan orang yang menelponnya.


"Rey..." kata Gerry.


"Oh..gw kira Jeny menghubungimu lagi dan elu tergoda.." ledek Radit.


"Bini gw lebih menggoda." kata Gerry.


"Ada apa Rey menghubungimu?" tanya Radit.


"Dia menghubungi ponselnya Laura tapi tidak tersambung,dikiranya Laura bersama gw." cerita Gerry.


"Kemana Laura,biasanya mereka selalu bersama?"


"Telpon Sinta dan Yosi juga tidak dapat dihubungi kata Rey,mungkin saja mereka lagi nonton." kata Gerry,sebenarnya ada rasa khawatir dalam diri Gerry ketika dia tadi tak dapat menghubungi Laura.


"Coba hubungi lagi handphonenya." saran Radit.


"Sudah tidak bisa juga." kata Gerry.


"Besok,selesai semua urusan disini.Siang kita sudah dapat balik." kata Radit.


Β 


🌺 **Bersambung🌺


Β 


Hai semua terimakasih atas vote,like n ratenya.


Happy reading guys**..