Is This Love

Is This Love
Epi 61.Istriku bukan super women.



hai semua jumpa dengan **author,**terimakasih atas dukungannya.Sehingga cerita ini akan selesai tidak berapa lama lagi.


Author buat cerita tidak mau berjilid-jilid panjangnya,dengan konflik berterusan.


Happy reading readers****.


Gerry mengendong Laura keluar dari kamarnya,Laura berusaha untuk turun dari gendongan Gerry.Karena dia tahu bahwa teman-temannya masih berada di apartemen.


"Mas turunkan Laura,Laura masih bisa jalan." laura meronta,tapi Gerry terus membawanya keluar.Tanpa menghiraukan keberatan Laura.


"Ci...e....e sudah akur ni.." ledek Radit,ketika dilihatnya Gerry mengendong Laura dan mendudukkannya disofa dan Gerry ikut duduk disisi Laura.


"He. he..... ada yang malu tu..!" Sinta melihat pipi Laura bersemburat merah.


Laura grogi ketika diledek teman-temannya,apalagi Gerry duduk disampingnya dan terus memeluk Laura dengan posesifnya.


"Sudah Gerry jangan terus dipeluk Laura,tidak akan hilang." kata Radit kepada Gerry.


"Dah damai ya,maunya lengket terus Anggap saja kami patung..." goda Yosi.


"Bagaimana ceritanya,sampai kalian kena jambret?" tanya Gerry,agar mereka berhenti untuk menggoda Laura.


Laura dan Sinta saling bergantian bercerita,sesekali Yosi ikut menimpali.


"He bro,istri elu kelaparan..!" kata Radit,ketika dia mengetahui bahwa Laura dan Sinta kena Jambret saat keluar ingin beli makan.


"Belum sempat belanja,kami baru pulang honeymoon." kata Gerry untuk membela dirinya.


"Sinta tidak ngelawan?" tanya Radit pada Sinta yang juga menjadi korban.


"Tidak mas,Sinta takut." ucap Sinta.


"Lagi sial saja,makanya kena jambret." kata Yosi.


"Mungkin memang Laura pembawa sial." celetuk Laura.


Gerry spontan memandang Laura dengan penuh selidik.


"Apa Laura sudah ingat semua." batin Gerry.


"Mana ada itu,emang hari itu sudah rezeki penjambret."kata Sinta.


"Waktu itu gw pasrah saja,barang bisa beli lagi.Nyawa tidak mungkin."sambung Sinta.


"Hanya istri gw saja yang super women,sampai babak belur begini." kata Gerry menyindir laura.Laura hanya menundukkan kepalanya dan tangannya memilit-milit ujung bajunya.


"Radit,tolong belikan makanan.istri super women gw kelaparan." pintanya pada sahabatnya Radit.


"Mas Gerry kami juga laper...!" ujar Yosi.


"Radit beli banyakan,sepertinya mereka semua kelaparan." kata Gerry.


"Ayo Rey.." Radit mengajak Rey ikut bersamanya.


"Kami juga ikut..!" Sinta dan Yosi juga ikut bersama Radit dan Rey,sehingga di apartemen tinggal Laura dan Gerry.


Hanya kebisuan yang terjadi setelah sepeninggal teman-temannya,Laura merasa bahwa Gerry memandanginya sedari tadi.Sehingga Laura menjadi grogi.


"Baru mas diamkan satu hari,ini badan sudah penuh lebam begini.Bagaimana jika mas diamkan selama seminggu,apa yang terjadi?" kata Gerry pada Laura yang masih menunduk.


"Mungkin Laura mati." jawab Laura spontan.


Mendengar kalimat Laura,Gerry menangkup wajahnya Laura untuk menghadap kearahnya.


"Jangan ucapkan kalimat itu lagi Laura..!" kata Gerry dengan tegas dan dia juga marah mendengar perkataan Laura.


"Maaf.." Laura meminta maaf akan ucapannya barusan,yang membuat Gerry marah.


"Mas sangat sayang dan cinta pada Laura,jangan ada kata itu lagi terucap dari bibir ini." Gerry mengelus bibir Laura,dan sedikit demi sedikit bibirnya mendekat.Dan kemudian dia tempelkan bibirnya ke bibir Laura.Gerry memberikan ciuman dibibirnya Laura sangat lama,******* demi ******* dilakukannya sehinga pasokan oksigen keparu-paru mereka berkurang baru Gerry menghentikan kecupannya.


Kemudian Gerry mendekatkan keningnya dan kening Laura.


"Ingat sayang,jangan ada kata itu lagi ya terucap dari bibir ini." ingatkan Gerry.


"Ya mas." janji Laura.


"Dan jangan menipu mas lagi,kalau Laura belum mau memberikan hak mas.Laura bilang,mas sanggup nunggu tapi jangan lama-lama.Kadaluarsa nanti bibit mas,tidak jadi bibit unggul lagi." ucapan Gerry membuat Laura bersipu malu.


"Dua hari ini bagaikan setahun,tidak melihat wajah ini." ucap Gerry sembari memandang wajah Laura dengan serius.


"Jangan ada pertengkaran diantara kita ya sayang,ada yang tidak Laura sukai langsung tanya pada mas.Jangan dipendam dihati." kata Gerry.


"Dan jangan ada rahasia diantara kita,mas mau tanya..?" tanya Gerry.


"Apa ingatan Laura sudah kembali?" pertanyaan Gerry membuat Laura terkejut.


"Dari mana mas Gerry tahu,apa dia hanya menebak saja." batinnya Laura tertanya-tanya.


"Jangan ada rahasia sayang." bujuk Gerry untuk Laura mengakuinya.


"Ya mas.." Laura mengakuinya.


"Jadi Laura ingat,apa yang mas katakan dahulu.Dan Laura pernah kehilangan penglihatannya..?" tanya Gerry lagi.


"Ya mas..." jawab Laura.


"Maafkan mas,ucapan mas itu tidak sebenarnya.Waktu itu mas takut tidak bisa berjalan lagi,mas takut akan merepotkan orang-orang yang mas sayangi."


"Kenapa waktu Laura kehilangan penglihatan,mas mau menikahi Laura.Kenapa mas tidak tinggalkan Laura saja..?" tanya Laura pada Gerry.


"Karena mas sangat mencintai Laura dan tidak mau kehilangan Laura lagi."


"Jadi maksud mas Gerry,cinta Laura tidak sebesar cinta mas terhadap Laura.." ucapan Laura membuat Gerry terdiam.


"Dah salah cakap lagi gw." batin Gerry.


"Maksud mas bukan begitu,mas tahu Laura juga sangat mencintai mas." Gerry meralat ucapannya,seakan-akan cintanya lebih besar daripada cinta Laura terhadap dirinya.


"Tapi waktu itu pikiran mas buntu,karena ucapan dokter membuat mas prustasi.Sehingga muncul ide untuk membuat Laura meninggalkan mas." cerita Gerry.


"Hati Laura hancur mas saat itu..!" Laura menangis saat mengingat Gerry memutuskan pertunangan mereka.


"Maaf....maaf...." Gerry meminta maaf sambil memberikan kecupan-kecupan dipipi Laura kiri dan kanan,sampai siempunya pipi merasa kegelian.


"Mas cukup...!" Laura berusaha mendorong muka Gerry untuk menjauhin wajahnya.


"Belum cukup,mas masih gemes dengan istri mas yang hebat ini,yang ingin melawan penjahat sendiri." Gerry terus berusaha memberikan kecupan lagi disekujur tubuh Laura.


Tiba-tiba bell berbunyi membuat aktifitas yang dilakukan Gerry terganggu.


"Mas buka pintu..!" Laura mendorong Gerry untuk membuka pintu.


"Siapa sih..! ganggu saja." sambil menggerutu Gerry melangkah untuk membukakan pintu.


"Lama sekali bro,sedang apa kalian?" pertanyaan usil Radit.


Sedangkan ketiga temannya,memandangi Laura dengan senyuman yang penuh selidik.


"Apaan sih kalian..?" Laura merasa jengah dipandangi oleh teman-temannya.


"Sudah...! ayo makan,tadi katanya lapar." kata Gerry.


"Apa kalian tadi lagi buat keponakan buat kami?" selidik Radit dengan usil.


Laura yang sedang memakan nasinya jadi terbatuk-batuk mendengar perkataan Radit.


"Radit...!" Gerry melempar Radit dengan bantal yang ada didekatnya.


"Ini sayang.." Gerry memberikan Laura minum.


"Jangan ada yang berbicara lagi." ancam Gerry.


"Baik bro.." jawab Radit.


**Sambung dulu guys


Jika berkenan berikan ratenya n like ya.


Terimakasih..


Happy reading ya**.