
Stay **bersama keluarga selalu dirumah ya teman-teman
Happy reading teman-teman.
Gerry masih berkutat dengan pekerjaannya,matanya masih fokus menatap layar laptopnya.sesekali keningnya berkerut.
"Aww....!" teriaknya, dan kedua tangannya mencengkeram rambutnya.
Tok...tok..tok..
"Masuk." perintah Gerry.
"Pak,ini ada undangan pameran ." kata sekretarisnya sembari menyerah undangan yang dibawanya.
Gerry menerima undangan itu dan kemudian membuka undangan tersebut,lalu mulai membaca.
Ketika sedang membaca undangan tersebut,Radit masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Serius banget bro,baca apa ?" tanya Radit,ketika dilihatnya Gerry fokus dengan kertas yang berada ditangannya.
"Undang pameran Yayasan Anak bangsa." beritahukan Gerry.
"Yayasan apa ?" tanya Radit lagi,karena dia belum pernah mendengar tentang yayasan yang disebutkan Gerry.
"Anak bangsa." ulang Gerry lagi.
"Ngak pernah dengar,siapa ketua Yayasannya?" tanya Gerry lagi.
"Hanya singkatan saja,LP." kata Gerry.
"LP,lembaga pemasyarakatan mungkin." kata Radit lagi.
"Mungkin." sahut Gerry**.
"Mau datang,mungkin aja tu Yayasan nipu.Banyak sekarang gitu badan amal,ngak tahu untuk ngisi kantong sendiri." kata Radit sembari membaca undangan yang dibaca Gerry tadi.
"Ngak boleh suudzon." kata Gerry pada Radit.
"Sorry bro,banyak sekarang begitu." kata Radit.
" Moga yang ini tidak." ucap Gerry.
"Bagaimana urusan dengan Laura,ada perkembangan?" tanya Radit.
"Belum ." jawab Gerry.
"Om Bagus belum ada telpon?" tanya Radit
"Belum ."
"Kenapa lu jawab belum..belum terus Gerry !" seru Radit,ketika mendengarkan jawaban Gerry.
"Jadinya harus apa yang gw jawab,emang belum ada yang hal yang mengembirakan ." kata Gerry.
"Jangan-jangan seperti yang gw pikirkan,Laura sudah menikah.Dua tahun bukan yang sebentar untuk mengubah hati seseorang ." kata Radit lagi.
"Sekali lagi lu bilang Laura sudah menikah,gajimu akan kupotong ." ancam Gerry kepada Radit.
"Gila lu Ger...! kalau bener,kenapa jadi salah gw ." kata Radit.
" Sudah jangan bahas itu lagi,mau ikut lu besok ?" tanya Gerry pada Radit tentang pergi ke pameran.
"Boleh,mungkin banyak gadis-gadis cantik disana ." ujar Radit.
"Joan kemana,ngak kelihatan ?" Radit menanyakan keberadaan Joan.
"Liburan ke Bali,kenapa lu cari. Naksir ya?" goda Gerry.
"Heran aja tu bocah biasa ribut,minta diantarin kemana-mana ." Kata Radit mengenai Joan.
"Awas lu...!" kalau ganggu Joan,gajimu gw potong." ancam Gerry lagi.
"Ancamannya yang lain boss,gaji gw terus dipotong.Mau makan apa gw,potong gaji terus ."
"Sok jadi miskin lu,tabungan lu aja bisa menghidupin tujuh turunan." kata Gerry.
"Besok jam berapa boss ?"
"Siangan aja." jawab Gerry.
\*
Diantara pengunjung Gerry melihat keberadaan Leo kakak Laura.
"Dit,itu Leo." tunjuk Gerry kearah Leo yang sedang berbicara dengan seorang pria.
"Leo." Gerry menyapa leo.
"Hai Gerry, Radit sudah lama?" tanya Leo.
"Belum, baru saja sampai ." kata Gerry.
"Kalian harus borong ya, hasil karya anak-anak yayasan ." saran Leo pada Gerry dan Radit.
"Kenal dengan pemilik yayasan ini Leo ?" tanya Radit kepada Leo.
"Kenal." jawab Leo.
Gerry melihat sekelilingnya,dimana banyak terdapat hasil karya yang dihasilkan anak-anak yayasan.
"Ini hasil karya anak-anak kurang beruntung ." Leo mengajak Gerry dan Radit berkeliling melihat-lihat produk yang dihasilkan.
"Kurang beruntung,maksudnya?" tanya Gerry.
"Lukisan ini,pasti kalian kira yang melukisnya orang normalkan?" cerita Leo,dengan menunjukkan lukisan yang tergantung didinding.
"Siapa yang buat?" tanya Radit dengan penasaran.
"Tu dia anaknya." Leo menunjukkan seorang anak yang menderita cacat yang duduk diatas kursi roda.
"Bagaimana dia melukis ini?" Radit heran.
"Dia melukis mengunakan mulutnya,dia mengigit kuas dalam menghasilkan karya yang indah ini." cerita Leo lagi.
"Seorang pejuang." ujar Radit.
"Bisa aku membeli lukisan ini ?" tanya Gerry.
"Bisa,mana yang kalian minat letakkan bintang ini disudut bawah,Gerry bintang ini punya kamu.Dan Radit ini punya kamu." Leo memberikan Gerry dan Radit gambar bintang.
"Apa yayasan ini ada hubungan dengan keluarga kalian Leo?" tanya Radit penasaran.
"Nanti kalian tahu." kata Leo.
"Kalian berkeliling aja , lihat-lihat dulu." kata Leo sebelum dia meninggalkan Gerry dan Radit.
"Ok.."
Gerry dan Radit berkeliling melihat apa saja yang dipamerkan diruangan yang susuri.Ketika melangkah menuju ruangan yang lain,langkah Gerry terhenti.Dan pandangan matanya terkunci kepada sosok yang berdiri kearah lukisan seorang gadis yang berdiri membelakangi,sepertinya gadis itu dilukis sedang memandang laut.
"Laura." bisik Gerry dengan suara yang lirih.
"He bro,kenapa berhenti?" Radit heran melihat Gerry terhenti dan pandangan terarah keseorang gadis yang sedang menatap lukisan.
"Itu Laura !" sebut Radit kepada Gerry.
"Ya." jawab Gerry.
"Samperin bro,selesaikan masalah kalian." saran Radit.
Dengan pelan Gerry melangkah mendekati gadis yang begitu dirindukannya itu.Setelah sampai dibelakang Laura,Gerry diam mematung dibelakangnya.
"Ingin rasanya aku memelukmu Laura saat ini juga." batin Gerry.
Tiba-tiba Laura memutar badannya,dan dia menabrak seseorang yang berdiri dibelakangnya tanpa disadarinya.tongkat yang berada didalam genggamannya terlepas.
"Maaf tuan,saya tidak tahu ada orang." kata Laura yang kemudian jongkok untuk mencari-cari tongkatnya yang terlepas dari tangannya tadi.Sedangkan orang yang ditabraknya tadi diam mematung melihat gadis didepannya mencari-cari tongkatnya.
Sedangkan orang yang ditubruknya,diam mematung memandang gadis yang jongkok mencari-cari tongkatnya yang terlepas dari genggamannya.
"Kenapa dek ." Leo yang melihat kejadian tadi,menghampiri Laura.
"Kak Leo,tongkat Laura jatuh." ucap Laura.
**Bersambung
jempolnya ya teman-teman trims**