I Married With A Handsome Beast

I Married With A Handsome Beast
Episode 42



Daniel dan Hendry pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria dengan jas berwarna biru dongker dan topi yang selaras dengan jasnya. Tinggi badannya tidak terlalu tinggi dan sedikit kecil. Rambutnya yang berwarna putih dan bola matanya yang berwarna kuning keemasan.


"Maaf? Anda siapa ya?"Tanya Hendry merasa asing dengan pria tersebut.


"Ah, maafkan saya tidak memperkenalkan terlebih dahulu sebelumnya yang mulia putra mahkota! Perkenalkan, nama saya Eden Freud. Saya adalah putranya Hansel Freud. Saya juga ingin mengucapkan selamat atas pernikahan anda dan yang mulia putri..."Jawab Eden dengan sopan.


"Ah, terima kasih. Jadi kau ternyata anaknya Tuan Hansel? Lalu apa yang membuatmu bertanya tentang pembicaraan kami?"Tanya Hendry penasaran.


Sementara Daniel merasa sedikit mencurigai pria itu.


"Maafkan atas kelancangan saya karena sudah menguping pembicaraan Anda, yang mulia...! Saya hanya tidak sengaja mendengar anda tiba-tiba membahas tentang tulisan sihir. Saya...bermaksud untuk membantu jika anda bersedia."


"Maksudmu...kau bisa mengerti tulisan di buku ini?"Tanya Daniel akhirnya membuka suara.


"Iya benar! Saya ahlinya. Saya tahu arti kalimat-kalimat itu dan bisa segera memberitahukannya kepada anda. Tapi saya tidak bisa memberitahukannya disini."Ucap Eden.


"Wah, sayang sekali. Aku mengerti. Kak, kau sebaiknya bawa dia saat kau kembali nanti. Aku tidak bisa pergi meninggalkan istana untuk beberapa saat ini."Ucap Hendry terlihat kecewa.


"Hm, baiklah...siapa namamu tadi?"Tanya Daniel.


"Eden, Tuan."


"Kalau begitu Eden, setelah acara yang panjang ini kau harus ikut denganku."Ucap Daniel.


"Baik!"


"Kak, sepertinya aku harus segera kembali ke tempat dudukku. Ibuku bola matanya hampir keluar melihat kita bicara seperti ini."Bisik Hendry masih memikirkan Sang Ratu yang masih mengawasinya dengan tajam.


"Hm, ya sudah. Berhati-hatilah kau pada wanita itu."Ucap Daniel.


"Baik kak...sampai jumpa nanti..."Ucap Hendry segera balik arah.


Tak lama Cynthia muncul sambil membawa dua gelas wine. Pembawaannya terlihat kesal.


"Darimana saja kau Cynthia? Apa yang membuatmu selama itu? Apa telah terjadi sesuatu?"Tanya Daniel yang langsung peka.


"Aku tidak sengaja bertemu dengan adik laki-lakiku. Aku tidak sangka bisa bertemu dengannya disini. Membuat suasana hatiku semakin buruk saja!"Ucap Cynthia.


"Benarkah? Lalu dimana dia sekarang?"


"Dia sedang bersama banyak wanita-wanita cantik. Sepertinya dia ingin mengambil kesempatan mendekati wanita-wanita bangsawan itu dan mengandalkan wajahnya.."Jawab Cynthia.


"Pff, terus apa yang kalian bicarakan tadi sehingga kau jadi cemberut begitu?"Tanya lagi Daniel.


"Seperti yang anda pikirkan, dia mengata-ngataiku dan juga anda. Aku malas mengulang perkataannya lagi. Eh, uhm, siapa ini Daniel?"Tanya Cynthia berbisik merasa sangat terkejut.


Cynthia baru sadar jika ada seseorang yang berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum.


"Ini namanya Eden. Dia adalah putranya Tuan Duke Hansel."Jawab Daniel memperkenalkan Eden.


"Salam, Nyonya. Senang bertemu dengan anda."Ucap Eden.


"Ah, iya. Senang bertemu dengan anda juga Eden."Ucap Cynthia sedikit canggung.


"Dia ini katanya bisa membaca tulisan tentang sihir di buku ini."Jawab Daniel lagi.


"Sungguh?"Tanya Cynthia tidak percaya.


"Itu benar Nyonya. Saya pernah mempelajarinya. Anda bisa mempercayakannya kepada saya."Ucap Eden terlihat yakin.


"Begitu ya...? Uhm, Daniel. Bisakah kita bicara sebentar di tempat lain?"Pinta Cynthia.


"Hm? Baiklah."


Cynthia menarik Daniel menuju taman belakang.


"Daniel, bukankah anda bilang sebelumnya tentang rencana kita ini tidak boleh diketahui siapapun? Apa kita benar-benar bisa mempercayainya? Kita harus tetap berhati-hati Daniel!"Ucap Cynthia cemas.


"Kau tidak perlu khawatir Cynthia. Aku bisa mengatasinya. Kita hanya perlu bantuannya mengartikan tulisan sihir dan itu yang saat ini sangat kita butuhkan. Setelah itu dia tidak diperlukan lagi, dan kita tidak perlu memberitahunya perihal rencana kita."Ucap Daniel.


"Terima kasih karena kau sudah percaya padaku, Cynthia. Kalau begitu ayo kita kembali lagi ke acaranya. Setelah ini masih banyak yang harus kita kerjakan."Ucap Daniel.


Setelah acara yang panjang dan melelahkan itu selesai, sesuai rencana Daniel dan Cynthia membawa Eden bersama mereka menuju rumah mereka.


Sesampai di kastil...


"Wah, saya tidak sangka jika kastil yang anda tinggali sangat indah dan mewah. Melebihi ekspetasi saya..."Ucap Eden takjub.


"Baguslah jika kau menyukainya. Mari silahkan masuk."


Daniel menuntun Eden untuk masuk ke dalam rumah.


Eden tidak berhenti memutar bola matanya memandangi setiap dekorasi di ruangan itu. Dia masih belum percaya jika seorang pria buruk rupa itu masih peduli akan keindahan dan kebersihan.


Hah! Seharusnya aku tidak perlu mempercayai rumor itu!


Mereka bertiga kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Pelayan! Tolong siapkan minuman untuk tamu kita!"Pinta Cynthia.


"Baik, Nyonya!"Jawab pelayan itu segera.


Daniel tampak sudah tidak sabar. Dia sendiri juga tidak yakin apakah Eden sungguh dapat dipercaya.


"Bagaimana caranya kau membuat kami percaya jika kau bisa mengerti tulisan sihir?"Tanya Daniel.


"Ah, dengan cara saya mengajari mengenal tulisan ini terlebih dahulu. Anda tahu jika tulisan ini juga sebuah kata kunci untuk menghidupkan sebuah sihir putih. Tapi tentu saja yang memang memiliki sihir itu."Jawab Eden.


"Sementara sihir hitam, tulisannya sedikit berbeda jenisnya dari ini. Jika anda meminta saya untuk mengajari anda mengenal tulisan sihir hitam, saya menolaknya. Itu adalah hal paling terlarang dan membawa kesialan."Sambung Eden.


"Begitukah? Jika itu hal terlarang lalu kenapa kau bisa tahu arti sihir hitam juga? Sepertinya kau memang tahu?"Tanya Daniel mulai curiga.


"Uh, itu tanpa sengaja saya mempelajarinya juga. Tapi saya bersumpah tidak pernah menggunakannya!"Ucap Eden mulai takut.


"Terus, darimana anda dapat mempelajari tulisan sihir?"Tanya Cynthia ikut penasaran.


"Saya mempelajarinya dari seorang pria tua. Anda tahu, saya pikir saya bermimpi sewaktu bertemu dengannya. Dia mengaku memiliki sihir putih dan mengajarkan banyak hal kepada saya."Jawab Eden terlihat jujur. Dia juga terlihat senang saat menceritakan seorang pria tua yang pernah bersamanya dulu.


Cynthia sedikit tersentak. Pikirannya langsung terbesit mengarah ke mendiang kakeknya.


"Tunggu, apa pria tua yang anda kenal itu namanya George?"Tanya Cynthia memastikan.


"Iya benar! Bagaimana anda bisa tahu namanya?"Tanya balik Eden.


"Ah...itu..."Cynthia seketika menjadi gagap. Dia tidak sengaja keceplosan telah bertanya.


"Dia pernah mengenal orang itu."Daniel yang menjawab.


"Oh benarkah? Wah, benar-benar takdir yang tidak terduga. Tuan George adalah orang yang bijaksana dan memiliki hati selembut kapas. Tapi dia juga orang yang tegas dan kuat."Ucap Eden.


Perkataannya mirip dengan peramal itu...


"Ngomong-ngomong sejak kapan anda mengenal Tuan George?"Tanya Cynthia.


"Hmm, belasan tahun yang lalu?"


"Tapi usiamu sepertinya masih sangat muda? Apa kau bertemu dengannya saat kau masih sangat kecil?"Tanya Daniel.


"Memangnya usia anda berapa Tuan?"Tanya balik Eden.


"Usiaku...30 tahun."Ucap Daniel.


"Pfft, berarti saya lebih tua empat tahun dari anda. Sekarang usia saya sudah memasuki 34 tahun."Ucap Eden enteng.


"Apa?! Tidak mungkin!"Ucap Cynthia ikut kaget.


Next...