
"Hai, Kakak!"Sapa Hendry dengan ceria.
Daniel sedikit kaget dengan suara seseorang yang memanggilnya. Dia pun menoleh ke arah sumber suara dan dia lebih kaget karena bertemu dengan putra dari Ratu Lilian yang paling dilarang oleh ibunya.
"Akhirnya kita bisa bertemu! Kakak tahu? Aku sudah lama ingin sekali bertemu dengan kakak dan mengajak kakak untuk bermain bersamaku."Ucap Hendry begitu girang.
Daniel sempat diam saja. Dia menjadi gugup dan bingung bagaimana harus menyikapi anak kecil itu.
"Kenapa kau kemari? Disini bukanlah tempatmu. Pergilah sana dan temui ibumu."Ucap Daniel dingin. Dia sempat terpikir jika bersikap dingin dan terlihat membenci akan membuat Hendry menjauh.
"Aku kemari karena ingin bertemu dengan kakak. Ibuku terlalu sibuk dan aku tidak punya teman satupun untuk kuajak bermain..."Ucap Hendry. Tatapannya menjadi sendu seperti mata anak kucing.
Daniel paling tidak bisa melihat hal seperti itu di depan matanya. Dia semakin kesal karena memang betul kalau anak kecil itu sangat kesepian.
"Maaf, tapi aku sibuk. Kau bisa ajak beberapa pelayan yang mengurusmu untuk bermain bersamamu."Ucap Daniel lagi-lagi dingin.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku inginnya bermain bersama kakak! Bukankah kita bersaudara?"Ucapnya membuat Daniel langsung tersentak.
Memang benar mereka adalah saudara satu ayah, tetapi tetap saja mereka tidak akan bisa bersatu. Daniel langsung merasakan perih di hatinya.
Maaf....tapi aku tetap tidak akan bisa menganggapmu adikku...
Daniel tidak menjawab pertanyaan Hendry.
"Hei, daripada kau mengajakku bermain, lebih baik jika kau belajar seperti aku mulai sekarang. Saat kau tumbuh dewasa, kau pasti akan dinobatkan menjadi Raja."Ucap Daniel.
"Kenapa? Aku kan masih terlalu kecil untuk belajar? Lagipula bukankah kakak yang seharusnya menjadi raja karena kakak yang pertama?"
Wah, anak ini cukup cerdas juga ya. Masih 5 tahun tapi cara berpikirnya sudah lumayan jauh.
"Masalahku tidak penting. Apa salahnya belajar mulai sekarang meskipun kau masih kecil? Aku juga sama sepertimu dan aku tidak membuang waktuku hanya dengan bermain. Jadi, kau sebaiknya jangan temui aku lagi."Ucap Daniel. Dia pun pergi meninggalkan Hendry yang terdiam.
Hendry seketika tertunduk merasa sedih.
Setelah Daniel pergi meninggalkan Hendry, jujur saja dia merasa sangat bersalah. Dia paling tidak tega menyakiti perasaan anak kecil yang masih polos seperti Hendry. Kini dia jadi semakin takut saat berhadapan dengan ibunya. Dia merasa sikap ibunya semakin berbeda setiap harinya. Wajah ketakutan dan rasa benci sangat terlihat di ekspresi ibunya yang cantik itu.
"Daniel."Tiba-tiba seseorang memanggilnya yang ternyata Charlotte, ibunya.
Saat namanya terpanggil, seketika jantungnya seperti berhenti. Tubuh Daniel juga dengan sendirinya bergetar tanpa sebab.
Charlotte pun berjalan mendekati Daniel.
"Daniel, apakah anak kecil tadi datang menemuimu?"Tanya Charlotte.
Bagaimana ibu bisa tahu?! Apakah ibu menyuruh setiap penjaga untuk mengawasiku?
"B-benar bu. Maaf, aku tidak bermaksud mengajaknya mengobrol. Dia mengajakku bermain tapi aku langsung menolaknya!"Ucap Daniel.
"Oh begitu? Bagus. Kau harus tetap menjauh darinya. Kau tahu, ibunya itu sangat berbahaya. Jika kau tidak mau terjadi apa-apa dengan dirimu maupun ibu, kau tetap harus mendengarkan perintah ibu. Mengerti?"
Daniel mengangguk. "Iya, aku mengerti bu."
"Tenanglah Daniel, ibu tidak akan memarahimu hanya karena anak kecil tadi menemuimu. Jadi jangan takut pada ibu seperti ini ya?"Ucap Charlotte. Ada perasaan sedikit bersalah di ekspresinya dan sorot matanya terlihat begitu sedih.
"S-siapa bilang aku takut pada ibu...?"Ucap Daniel menjadi gugup.
Tiba-tiba Charlotte memegang kepala Daniel. Dia mengusap kepala Daniel dengan lembut.
"Iya....aku tidak apa-apa ibu."Ucap Daniel tersenyum.
Keesokan harinya di sore hari, lagi-lagi anak yang bernama Hendry itu datang lagi ke tempat Daniel dimana dia berlatih pedang. Kali ini dia hanya melihat dari kejauhan dan Daniel menyadari kehadirannya. Daniel menjadi tidak nyaman saat Hendry datang dan menontonnya dengan serius. Sampai sekarang perasaan bersalah terus membuat Daniel kepikiran.
Keesokan harinya lagi dan bahkan seterusnya, Hendry terus mendatangi Daniel. Lama-lama Daniel tentu saja merasa kesal karena beberapa hari ini sejak kedatangan anak kecil itu membuatnya menjadi tidak fokus. Tadinya dia sempat berpikir untuk bolos saja untuk hari ini karena dia yakin jika Hendry akan datang untuk menontonnya lagi, tapi sayanganya dia tidak bisa melakukan hal itu.
Setelah selesai berpedang, Hendry pun dengan cepat langsung berbalik badan untuk pergi.
"Hey, tunggu!"Panggil Daniel. Daniel sempat mengambil napas panjang.
Kali ini tolong maafkan aku ibu...!
Hendry terlihat terkejut dan langsung menoleh kearah Daniel dengan sedikit takut.
"Apa sebenarnya maumu? Kenapa kau setiap hari selalu datang kemari dan memperhatikanku? Bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak bisa menjadi temanmu?"Tanya Daniel begitu kesal.
"Ma-maaf....aku cuma bosan. Tidak ada yang bisa aku lakukan, jadi aku kemari dan menonton kakak....aku mengagumi kakak karena kakak terlihat sangat keren..."Ucap Hendry ketakutan.
"Haah, kau sungguh merepotkan. Pokoknya kau jangan pernah sekalipun datang kesini lagi atau aku akan terkena masalah!"Ucap Daniel.
"Terkena masalah?"Hendry pun menjadi bingung.
"Iya. Kalau kau tidak mau mendengar kata-kataku, kemungkinan besar kita tidak akan bisa bertemu lagi...."Ucap Daniel.
Daniel pun pergi begitu saja meninggalkan Hendry yang masih bingung dengan ucapan Daniel. Tapi dari ucapan Daniel, tetap membuat hatinya sakit.
"Baik! Aku akan mendengarkan kata kakak!"Ucap Hendry akhirnya dengan lantang.
Daniel sempat terkejut namun dia tersenyum. Sejujurnya dia cukup menyukai Hendry karena dirinya sendiri juga ingin merasakan yang namanya punya teman.
Daniel sepanjang jalan terus melamun dan tidak sadar jika dirinya tiba-tiba menabrak seseorang di depannya.
"Ah! Ma-maaf!"Ucap Daniel segera membungkukkan badannya.
"Eh, tidak apa-apa yang mulia pangeran. Lain kali anda jangan melamun seperti itu ya."Ucap suara seorang wanita yang ternyata dayang sang Ratu Lilian.
Daniel tentu saja kaget bukan main. Baru ini dia bisa bertemu dengan Ratu Lilian yang kebetulan lewat di jalan yang sama.
"Eh, i-iya, maaf..."Ucap Daniel menjadi sedikit takut.
"Hehe, sudahlah tidak apa-apa, yang mulia pangeran. Anda tampan sekali ya..."Puji Dayang itu merasa kagum.
Daniel berusaha memberanikan dirinya untuk melihat sang Ratu. Dan benar saja, tatapan Lilian sangat tajam seperti membunuh sehingga dengan cepat Daniel langsung menundukkan pandangannya kembali.
"S-salam yang mulia Ratu...."Akhirnya mau tidak mau Daniel harus memberi salam.
Sang Ratu hanya diam saja. Terlihat jelas di wajahnya bahwa dia sangat membenci Daniel.
Bertambahnya usia Daniel, kini dia semakin mengerti mengapa Ibunya dan Sang Ratu tidak pernah bisa akur.
Saat Daniel menuju kamarnya, Charlotte dengan cepat menghampirinya.
"Daniel! Sebaiknya kita pergi saja dari sini...!"
Next....