
"Crystal! Keluar kau sekarang!"Teriak Hendry mendatangi tempat tinggal Crystal. Dia merasa sangat marah karena Crystal sudah berani menipunya.
Cklek, Crystal pun membuka pintunya meskipun dia sangat takut. Dia sendiri bingung mengapa Pangeran Hendry tiba-tiba marah kepadanya.
"Y-yang mulia pangeran? Ada apa mencar-Ahh!!"Crystal meringis kesakitan saat Hendry menarik tangannya dengan kasar.
"Jelaskan kepadaku sekarang. Kau sebenarnya memiliki 3 saudara kan? Kenapa kau waktu itu memberitahuku hanya memiliki 2 saudara? Jadi kau sudah berani menipuku!"Ucap Hendry murka.
"Ma-maafkan saya, yang mulia...saya tidak bermaksud berbohong! Ampun yang mulia...!"Ucap Crystal ketakutan. Air matanya bahkan sudah mengalir.
"Apa maksudmu? Itu berarti kau sama saja tidak mau mengakui saudarimu yang bernama Cynthia itu? Tega sekali dirimu. Aku sudah tahu jika adikmu itu adalah istri dari Tuan Daniel. Apa karena itu kau tidak mau mengakuinya? Takut kau akan merasa malu?"Tanya Hendry.
Crystal cuma menggeleng sambil menangis.
"Katakan! Jangan hanya menangis di depanku! Pilih mana? Katakan dengan mulutmu atau aku terpaksa memberimu hukuman?"
"Ba-baiklah, saya akan katakan yang sebenarnya, yang mulia...saya dari dulu tidak menyukai Cynthia...saya hanya tidak akrab dengannya...S-saya merasa malu karena memiliki adik yang tidak cantik...semua orang hampir mengira jika dia bukan adik saya..."Ucap Crystal.
Hendry terdiam. "Jadi begitu? Tetap saja kau tega kepada adikmu dan mengatainya tidak cantik. Apa mungkin kau sudah terlalu sering dipuji ya jadi kepercayaan dirimu itu tinggi sekali? Padahal aku lihat wajahmu itu tidaklah cantik. Aku memacarimu sebenarnya hanya untuk memanfaatkanmu saja mencari informasi yang kuperlukan, tetapi aku tidak perlu memberitahukannya kepadamu. Aku benar-benar tidak sangka bahwa keperibadianmu seperti ini..."
"Pengawal! Ambil semua perhiasan yang kuberikan padanya!"
Para pengawal mendengarkan perintahnya. Crystal cuma diam saat semua perhiasan yang dikenakannya direbut kembali.
Sementara itu di kastil, Cynthia menunggu-nunggu Daniel untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Putri Elizabeth tadi. Begitu juga dengan Daniel yang ingin memberitahukan tentang dia yang menemui seorang peramal hari ini.
"Cynthia, ada yang ingin ku bicarakan denganmu."Ucap Daniel akhirnya.
"Katakan. Jadi apa hubungan anda antara putri Elizabeth tadi?"Tanya Cynthia mengira jika Daniel ingin menjawab pertanyaannya.
"Huh apa?"Daniel jadi bingung.
"Dari tadi aku menunggu anda untuk menjelaskannya kepadaku."Ucap Cynthia sambil menyilangkan kedua tangannya merasa tidak sabar.
"Aku...tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Putri Elizabeth. Kami hanya pernah bertemu beberapa kali saat aku memiliki tugas di negara Barat. Putri Elizabeth memang terlihat ramah dan baik. Dia saja tidak merasa takut saat melihat wajahku yang tanpa topeng."Ucap Daniel.
"APA?! Jadi putri itu juga sudah melihat wajah anda? Bagaimana itu terjadi?"Tanya Cynthia tidak percaya.
"Uh, ceritanya agak panjang. Tetapi intinya saat itu dia tidak sengaja melihat wajahku yang tanpa topeng. Aku melepaskannya saat itu karena merasa gerah. Dia awalnya memang sempat berteriak namun aku tidak mengira bahwa dia tidak takut lagi kepadaku."Jawab Daniel.
Cynthia hanya melongo mendengar penjelasan Daniel. Dia jadi semakin kesal dan cemburu saat Daniel sempat memuji putri itu.
"Begitu ya, syukurlah kalau begitu. Beliau memang baik, sudah begitu cantik pula, iya kan."Ucap Cynthia kesal.
Daniel sempat mengernyit merasa bingung dengan ucapan dan ekspresi Cynthia yang tidak sesuai.
"Kenapa? Apa kau merasa tidak percaya diri lagi?"
Cynthia mengangguk. "Aku ini tidak punya apa-apa jika dibandingkan dengan putri Elizabeth. Bahkan dengan saudara-saudaraku sekalipun. Menyedihkan sekali ya..."Ucap Cynthia.
"Dari tadi kau bicara apa sih? Kau itu cantik kok. Jika kau tidak percaya padaku, aku mana mungkin setiap malam selalu buas padamu kan?"Ucap Daniel nakal.
PLAK! Cynthia menepuk bahu Daniel merasa begitu malu dengan ucapan Daniel barusan.
"Anda jangan bicara memalukan seperti itu! Bagaimana jika Celina mendengarnya?!"Ucap Cynthia dengan wajah semerah tomat.
"Bhwahahah! Kau lucu sekali, Cynthia. Sudahlah, daripada itu aku ingin berbicara satu hal lagi kepadamu."Ucap Daniel menjadi serius.
"Eh? Apa itu?"
"Tadi sebenarnya aku tidak pergi bekerja. Aku mendatangi seorang peramal yang dikatakan oleh yang mulia pangeran Hendry saat itu. Peramal itu mengatakan kepadaku jika aku bisa membunuh makhluk iblis milik baginda Ratu dan menyembuhkan kutukanku, asalkan aku berhasil menemukan keluarga Martinez yang memiliki kekuatan sihir putih."
"Apa? Memangnya keluargaku memiliki kekuatan sihir putih? Aku tidak pernah mendengar hal itu."Ucap Cynthia cukup kaget.
"Begitu? Aku tidak yakin jika aku memilikinya. Anda sendiri sudah terlalu lama menyembunyikan wajah Anda dari orang-orang. Aku ada permintaan, jika anda bersedia, bolehkah saya memanggil Celina untuk melihat wajah Anda? Dia sendiri juga penasaran ingin melihat wajah Anda dan sering bertanya kepadaku, namun dia tidak berani menanyakannya kepada Anda. Aku hanya ingin menguji jika penglihatanku tidak salah."
Daniel terdiam sejenak. Dia sebenarnya tidak ingin karena dia takut bagaimana jika Celina berteriak histeris saat melihat wajahnya.
"Apa kau yakin dengan ide ini?"Tanya lagi Daniel.
Cynthia mengangguk."Anda tidak perlu memaksakan diri jika anda tidak mau."
"Kalau begitu tolong berikan aku waktu untuk memutuskannya. Aku akan beritahu setelah siap."Ucap Daniel.
"Baiklah..."
Keesokan harinya, Daniel mendatangi Cynthia.
"Cynthia, tentang permintaanmu yang semalam, aku sudah siap."
"Huh? Sungguh? Anda tidak memaksakan diri kan?"Tanya Cynthia.
"Tidak sama sekali. Aku sudah memutuskannya. Aku sudah siap dan kau bisa memanggil Celina sekarang untuk memperlihatkan wajahku kepadanya.
"Baiklah, aku akan segera memanggilnya. Kyle, bisakah kau panggilkan Celina?"Tanya Cynthia.
"Baik, Nyonya."
Beberapa menit setelahnya, Celina pun muncul.
"Ada apa kakak memanggilku?"Tanya Celina.
"Ah, begini Celina. Hari ini apakah kau mau melihat wajah Kakak iparmu? Dia memberikanmu kesempatan untukmu melihat wajahnya."Ucap Cynthia.
"Hah? Sungguh?"Tanya Celina membelalakkan matanya.
Cynthia dan Daniel mengangguk bersamaan.
"K-kalau begitu izinkan aku..."
Celina melangkah mendekat kearah Daniel dan mulai membuka topeng yang masih dipakai oleh Daniel.
Mereka bertiga sama-sama berdebar untuk menunggu hasil jawaban masing-masing.
Setelah Celina berhasil melihat wajah Daniel, dia terdiam sejenak.
"Celina, bagaimana?"Tanya Cynthia.
"Uhh...K-kakak ipar wajahnya memang seperti ini ya...?"Tanya Celina dengan ekspresi sedikit aneh saat menatap wajah Daniel.
"Huh? Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!"
"Kakak ipar...memiliki wajah yang penuh bulu dan-"
"Oke, sudah cukup. Kau tidak perlu menjelaskannya sampai selesai."Ucap Daniel. Dia sudah tahu apa jawaban yang akan diberikan oleh adik iparnya itu. Dari ekspresinya saja Daniel tahu jika Celina pasti terkejut dan takut setelah melihatnya.
"Cynthia, aku akan pergi keluar. Mungkin akan sedikit lama dan baru bisa kembali saat malam."Ucap Daniel lagi lalu dia beranjak dari tempat duduknya.
"Oh, baiklah...hati-hati Daniel."Ucap Cynthia.
Daniel pun pergi begitu saja. Cynthia langsung bisa merasakan jika sepertinya Daniel sedang ingin menenangkan diri untuk sementara waktu.
Next....