
"Akh...!"Teriak Hendry meringis kesakitan.
"Kau seenaknya saja berkata begitu, padahal di dalam otakmu kau sudah merencanakan untuk membunuhku! Mustahil aku memaafkanmu begitu saja, dasar anak tidak tahu diuntung!"
"Ampun ibu!"Hendry cuma bisa berteriak dan meringis merasakan cambukan kuat di punggungnya. Ibunya bahkan tidak peduli jika cambukan itu sudah merobek pakaian Hendry dan goresan penuh luka tersayat di kulitnya.
Hendry sendiri tidak menyangka jika dia hari ini akan dihukum seberat ini. Rasanya dia bahkan sudah putus asa dan lebih baik segera meninggalkan dunia secepatnya.
Lilian sudah entah berapa kali mencambuknya. Belasan atau mungkin lebih? Tubuh Hendry yang kurus sudah habis penuh luka yang cukup parah. Lilian sengaja tidak mencambuk bagian wajah Hendry karena sebentar lagi adalah acara pernikahan. Dia tidak mau acara pernikahan itu sampai gagal hanya karena goresan sedikit saja di wajah Hendry.
"Kau tahu jika ibu begitu membenci wanita yang sudah melahirkan anak itu. Meskipun dia sekarang sudah mati, tapi perasaan dendam masih tersimpan di lubuk hatiku. Aku benar-benar tidak bisa melihat mereka bahagia."
Setelah Lilian merasa puas, dia melempar tali cambukan itu dan mengilap tangannya dengan sapu tangan.
"Mulai sekarang, jangan harap kau bisa menemui anak itu selamanya. Kali ini ibu mengawasimu Hendry. Seharusnya kau beruntung karena aku tidak membunuhmu."Ucap Lilian kemudian keluar dari ruang utama meninggalkan Hendry yang masih bersujud. Hendry merasa begitu geram tapi saat ini kondisi tubuhnya benar-benar lemah. Darah segar sudah mengucur di punggungnya. Pengawal yang berdiri disana juga diam saja karena Lilian yang memerintahkan mereka untuk tidak membantu Hendry.
Hendry cuma bisa sumpah serapah di dalam hati.
DASAR SIALAN!
Berlanjut di kediaman Auberon, Cynthia masih terfokus membaca buku-buku tentang sihir putih. Meskipun kebanyakan tulisannya adalah jenis yang tidak dapat dipahami, Cynthia mencoba menghapal ukiran huruf itu satu-persatu.
Dia sudah membaca dan memeriksa buku-buku itu sampai 3 jam lamanya.
"Ah, cukup! Mataku sampai berair gara-gara menatap tulisan-tulisan jelek ini! Apa tidak ada cara lain lagi supaya aku dapat mengerti tentang tulisan-tulisan ini? Aku ingin sekali dapat mengetahui arti dari kalimat ini!" Cynthia mengacak-acak rambutnya merasa begitu pusing.
Tak lama kemudian dia mulai merasa mengantuk. Belum lagi dia duduk di sofa yang sangat nyaman dan lembut. Dia pun tertidur di sofa itu sambil menyender di meja dengan tumpukan buku yang masih berserakan.
Sore harinya, ada seseorang yang membuka pintu. Sementara Cynthia masih tidur dengan nyenyak di tempatnya. Seseorang itu sepertinya membawa kunci cadangan dan itu pasti adalah Daniel yang baru pulang dari pekerjaannya.
Dia berjalan mendekat ke sebuah meja yang bertumpukan buku.
"Apa ini? Kenapa mejanya berantakan sekali?"Gumam Daniel merasa heran dan dia pun mengambil salah satu buku di atas meja yang sepertinya baru selesai dibaca oleh Cynthia.
Daniel terkejut karena Cynthia baru saja membaca buku-buku tentang sihir putih.
Dia ternyata tidak menyerah ya?
Daniel pun berjalan mendekati Cynthia yang tengah tertidur. Dia membelai rambut yang menutup wajah Cynthia.
Lebih baik kupindahkan saja dia daripada pundaknya jadi sakit...
Daniel lalu dengan perlahan mengangkat tubuh Cynthia dan memindahkannya ke kasur.
Namun tak lama Cynthia terbangun karena menyadari ada seseorang yang mengangkat tubuhnya.
"D-daniel...?!"Cynthia merasa begitu kaget karena melihat Daniel sudah pulang sambil menggendongnya yang ketiduran.
"Ah, kau jadi terbangun."Ucap Daniel.
"Tidak apa-apa Daniel, justru aku yang ketiduran dan tidak tahu jika anda sudah pulang. Turunkan aku dulu Daniel..."
Daniel pun menurunkan tubuh Cynthia.
"Ah...apa anda melihat buku-buku di atas meja itu?"Tanya Cynthia merasa sedikit khawatir. Dia sepertinya tidak mungkin bisa menyembunyikannya lagi. Dia juga lupa jika Daniel memiliki kunci cadangan.
"Benar...aku membacanya karena penasaran...tapi ada beberapa kalimat dengan tulisan yang tidak aku pahami buku-buku itu."
"Begitu? Coba sini biar aku lihat."Pinta Daniel.
Cynthia pun segera mengambil salah satu buku yang ada di meja dan memberikannya pada Daniel.
"Ah, aku dulu membeli buku-buku ini tadinya untuk itu, tapi aku sendiri juga tidak dapat memahami isi tulisan-tulisan ini. Mendiang pamanku pernah mengatakan jika sihir putih satu-satunya jalan keluar agar kutukanku bisa hilang. Beberapa orang mempercayai adanya sihir putih. Tapi sudah bertahun-tahun aku mencari, tidak ada satupun yang memiliki kekuatan itu. Pernah juga ada yang menipu dengan mengaku memiliki sihir putih, tapi dia sudah kuberi pelajaran."Ucap Daniel.
"Jadi, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan dengan tulisan ini? Siapa tahu jika ada jalan keluar lain dari arti kalimat dibuku ini kan?"Tanya Cynthia.
Daniel terdiam. Dia sendiri juga bingung.
"Ah, bagaimana jika kita meminta bantuan peramal Dennise? Siapa tahu dia mengetahui arti tulisan di buku ini kan?"Ucap Cynthia memberikan pendapatnya.
"Apa? Peramal Dennise? Dia kan buta. Apa yang bisa dibantu darinya? Kita tidak mungkin bisa meminta bantuannya. Lagipula aku masih kesal dengan ucapannya yang menyebalkan itu.
Cynthia akhirnya terdiam.
"Sudahlah, hari ini kita sudahi dulu. Sebentar lagi waktu makan malam, dan aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku yang masih tertunda. Setelah itu aku ingin langsung tidur."Ucap Daniel terlihat begitu lelah.
"Baiklah..."
Beberapa hari kemudian, Cynthia menjalani keseharian hidupnya dengan membosankan. Dia sedang tidak tertarik untuk melakukan aktivitas lain dan terus kepikiran dengan sihir putih yang dimilikinya. Sampai suatu saat dia di datangi oleh seorang putri kerajaan Barat.
"Nyonya, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan anda. Beliau adalah putri Elizabeth dari Kerajaan Barat."Ucap Dayang Kyle.
"Hah? Apa?! Kenapa?!"Tentu saja hal itu membuat Cynthia kaget.
"Maaf, saya tidak tahu Nyonya. Anda sebaiknya jumpai saja dulu putri Elizabeth..."
"Baiklah..."Cynthia terlihat begitu malas. Dia kurang suka pada Putri Elizabeth karena terlihat sangat mencurigakan.
"Selamat datang Yang mulia putri...saya merasa sangat terhormat anda mau berkunjung kemari..."Ucap Cynthia memberi salam dengan sopan.
"Senang bertemu denganmu lagi Nona Cynthia. Maaf aku kemari tiba-tiba dan mengganggu waktumu..."Balas Elizabeth.
"Tidak kok, yang mulia...saya malah senang anda mau datang...."
"Aku kesini karena ingin membicarakan suatu hal. Apa Daniel pernah memberitahumu soal diriku?"Tanya Elizabeth.
"Err...iya, dia bilang jika dulu dia pernah bertemu dengan anda sewaktu dirinya bertugas di negara Barat. Katanya anda pernah melihat wajahnya?"Tanya balik Cynthia.
"Itu benar. Kejadiannya sudah 5 tahun yang lalu. Tapi Aku juga sudah pernah melihatnya sebelum dirinya dikutuk. Ternyata aslinya sangat tampan hingga aku sendiri pangling melihatnya..."Jawab Elizabeth dengan santainya.
Deg, Cynthia jadi kesal sendiri dengan penjelasan Elizabeth.
"Oh ya? Sejak kapan anda sudah pernah melihatnya?"Tanya Cynthia akhirnya bertanya.
"Kapan ya? Saat itu aku masih sangat kecil. Aku juga sempat bertemu dengan ibunya. Ibunya bernama Charlotte. Dia itu selirnya yang mulia Raja Heinrich. Kami sering berpapasan sewaktu di istana tapi kami tidak pernah saling berbicara. Sampai saat itu dia datang sendiri ke kerajaan Barat karena ada tugas."Ucap Elizabeth sambil tersenyum.
Next....