I Married With A Handsome Beast

I Married With A Handsome Beast
Episode 38



"Mengapa Anda merasa lega?"Tanya Cynthia heran.


"Tentu saja aku merasa lega karena Pelayan adikmu tidak mengetahui jika kau memiliki sihir putih. Kita tidak ada yang tahu sifat dia yang sebenarnya dan aku harap kau tidak terlalu baik dengan orang lain. Kau harus tahu kalau seseorang yang dianugerahi kekuatan dewa itu bersifat rahasia. Itu untuk kebaikan bersama. Semoga saja dia memang tidak mengetahuinya."Ucap Daniel.


Cynthia seketika merasa sedikit panik. Dia terlalu buru-buru untuk meminta bantuan kepada Risa soal buku-buku yang menjelaskan tentang sihir putih.


Astaga, apa yang sudah aku lakukan?! Bagaimana jika dia bertanya buku-buku yang aku minta itu untuk apa? Apa yang harus kulakukan?!


"Kalau begitu ayo kita pergi tidur."Ucap Daniel.


"Baik..."


Dua hari kemudian, Risa mendatangi Cynthia secara diam-diam sesuai permintaan Cynthia sambil membawa buku-buku yang dibawanya.


"Nyonya...saya membawa buku-buku sesuai yang anda minta."Ucap Risa meletakkan beberapa buku di atas meja. Dia sedikit kelelahan karena cukup sulit mencari buku-buku itu di perpustakaan dan harus membawanya dengan hati-hati.


"Oh, benarkah? Kalau begitu terima kasih Risa."


"Saya dengan senang hati membantu, Nyonya."Balas Risa.


"Sebelum itu, kau sudah benar-benar memastikan membawa buku-buku ini dengan aman kan? Tidak ada orang lain yang mengetahuinya?"Tanya Cynthia masih khawatir.


"Saya sudah memastikannya dengan baik, Nyonya. Saya datang ke perpustakaan dan membawa buku-buku ini dengan sangat hati-hati."Jawab Risa.


"Baiklah, Syukurlah kalau begitu. Sekarang kau sudah boleh pergi."


"Baik, Nyonya. Saya permisi."


Setelah Risa pergi, Cynthia langsung mengunci pintu kamarnya. Takut jika seseorang masuk dan mengetahui tentang buku-buku itu. Dia bahkan tidak mau memberitahu Celina maupun Daniel.


Huft, untung saja Risa tidak menanyakannya...dia benar-benar penurut.


Cynthia mulai memeriksa buku-buku itu satu-persatu. Dia membukanya selembar demi selembar.


Sejak kecil Cynthia tertarik dengan yang namanya dunia sihir. Meskipun dia belum pernah mendengar atau melihat langsung seseorang yang memiliki sihir, tapi dia sudah cukup sering membacanya di buku novel. Dia juga percaya dengan adanya dewa sehingga dia selalu berdoa kepada dewa untuk meminta bantuan karena dirinya sejak kecil tidak diperlakukan adil oleh keluarganya.


Dulu mendiang ibunya juga jarang memperhatikannya. Dia tidak tahu apa alasannya, tapi dia selalu berpikir jika ibunya tidak sayang kepadanya karena dirinya tidak secantik kedua saudarinya.


Beberapa buku ternyata memiliki beberapa info menarik tentang sihir putih yang dibaca Cynthia. Kebanyakan isinya bersifat rahasia karena jarang sekali ada orang yang memiliki sihir putih. Bahkan sebagian mengatakan jika seseorang yang memiliki sihir putih itu sudah punah.


Cynthia semakin bingung karena beberapa tulisan mengenai sihir putih tidak dapat dimengertinya. Sepertinya dia harus mempelajarinya lagi dari seseorang untuk mengetahui lebih jauh.


"Ah, kepalaku semakin pusing saja melihat tulisan-tulisan ini! Sama siapa aku harus meminta bantuan yang mengetahui tentang tulisan yang di buku-buku ini? Daniel mengatakan jika aku tidak boleh memberitahu siapapun tentang sihir putih milikku ini...tapi aku sendiri belum tahu bagaimana cara memakainya..."Cynthia mulai tampak frustasi.


Apa sudah tidak ada cara lain lagi selain pergi ke kolam suci?


Cynthia tadinya sempat berpikir untuk meminta bantuan sang peramal tapi dia sendiri tidak yakin karena peramal Dennise itu sendiri buta. Dia juga pasti akan ketahuan oleh Daniel karena sudah berani pergi ke tempat peramal itu.


Sementara itu di istana, Hendry juga sedang berusaha mencari buku-buku tentang sihir putih. Dia sangat ingin membalaskan dendam kepada ibunya.


"Permisi yang mulia pangeran, Yang mulia baginda Ratu ingin bertemu dengan anda."Ucap pengawal itu.


Deg, mendengar hal itu membuat Hendry langsung berkeringat dingin. Dia pun menghela napasnya agar bisa bersikap tenang saat berhadapan dengan ibunya. Sejak kecil dia sudah terbiasa untuk selalu tersenyum dan menurut kepada ibunya. Jika dia tidak melakukannya, ibunya akan marah-marah dan melampiaskannya kepada para pekerja yang ada di istana. Sudah banyak korban yang sudah dibunuh oleh Ratu Lilian akibat hal sepele. Hendry juga bahkan belum sempat memeriksa dokumen yang dibakar pelayan waktu itu.


"Baik, aku akan segera datang!"Sahut Hendry. Dia segera merapikan pekerjaannya dan pergi keluar menemui ibunya.


Kau jangan takut Hendry, semua akan baik-baik saja...


Hendry menemui Sang ratu di ruangan utama. Dia tidak melihat sang Raja, karena katanya sang Raja sedang sakit. Sayangnya dia belum ada kesempatan untuk melihat kabar sang ayah beberapa hari ini.


"Ibu? Ada apa memanggilku?"Tanya Hendry.


"Sayang, ada hal yang ingin ibu bicarakan denganmu. Beberapa hari lagi adalah acara pernikahanmu dengan Putri Elizabeth. Apa kau sudah berkenalan baik dengannya?"Tanya Sang Ratu. Dari tatapannya dia sungguh menginginkan Hendry mengatakan iya.


"Tentu saja ibu. Aku dan Putri Elizabeth sudah cukup akrab. Dia sangat baik, sopan dan hangat. Aku bahkan memanggilnya Lisbeth sebagai nama panggilan."Jawab Hendry tampak tenang.


"Baguslah. Kuharap acara pernikahan kalian berjalan dengan lancar."


Sebenarnya apa tujuan ibu? Kenapa dia sangat ingin aku menikah dengan putri kerajaan barat? Padahal masih banyak kerajaan lain yang mengharapkan aku menikahi putri mereka. Bukankah Kerajaan barat itu memiliki pemikiran yang masih asiktrokrat?


"Satu hal lagi, belakangan ini ibu sering melihatmu pergi menemui anak itu. Ibu penasaran apa saja yang kau lakukan disana. Padahal kau tahu jika ibu sangat membenci anak itu."Ucap Lilian dengan aura yang mematikan.


Di saat bersamaan, telapak tangan Hendry sudah berkeringat dan tubuhnya panas dingin. Namun ekspresinya tetap tenang. Dia sudah menduga bahwa cepat atau lambat ibunya pasti akan menanyakan tentang hal ini.


"Aku sering menemui Tuan Daniel karena dia satu-satunya teman terdekatku. Aku hanya sering menemuinya sekadar untuk menghilangkan penat setelah melakukan tugas. Ibu jangan berpikir negatif tentang itu."Jawab Hendry.


"Heh, hahahaha!"Tiba-tiba Lilian tertawa.


Hendry tentu saja terkejut dan merasa semakin takut ketika melihat ibunya tiba-tiba tertawa seperti itu.


"Kau mengira ibu bodoh? Malah sepertinya kau yang bodoh, putraku tercinta. Jangan berpikir aku tidak mengetahui niat busukmu. Sebenarnya sudah sejak lama ibu mengetahui dirimu ingin mencelakai ibu dan bekerja sama dengan anak sialan itu. Hanya saja ibu menunggu waktu yang tepat. Kau sudah semakin kurang ajar, putraku. Ibu sepertinya sudah terlalu memanjakanmu dan memberikanmu kebebasan. Ibu kira selama ini kau bakal sadar mengapa ibu membiarkanmu berkeliaran begitu saja diluar sana. Ternyata kau memang bodoh."


Hendry akhirnya terdiam. Sepertinya dia akan berakhir disini.


"Karena kau sudah melewati batas, aku akan menghukummu."Ucap Lilian.


Hendry segera berlutut dihadapan ibunya. Dia sama sekali tidak berharap untuk berakhir secepat ini karena dia belum membayar perbuatannya.


"I-ibu...maafkan aku...aku tahu aku telah bersalah! A-aku akan melakukan apapun untuk ibu...tolong berikan aku kesempatan ibu..."Ucap Hendry memohon.


Ctas! Lilian memberikan cambukan di punggung Hendry sampai Hendry merasa kaget dan tubuhnya bergetar karena rasa sakit yang luar biasa.


Sepertinya Lilian memang benar-benar sudah gila.


Next....