
"Daniel! Sebaiknya kita pergi saja dari sini!"Ucap Charlotte tiba-tiba menjadi panik.
"A-apa? Pergi? Kenapa ibu?"Tanya Daniel menjadi kebingungan.
"Ibu mulai merasakan jika Sang Ratu telah melakukan sesuatu kepada kita. Ibu merasakan hal yang aneh pada diri ibu. Sejak beberapa hari yang lalu ibu tidak sengaja melihat Sang Ratu bersama dengan makhluk iblis! Kau masih ingat apa yang diceritakan ayahmu waktu itu tentang makhluk iblis sihir gelap kan? Dan yang lebih gawatnya lagi, ibu sudah ketahuan olehnya! Ibu ditarik olehnya dan dia menempelkan sesuatu di tubuh ibu. Semenjak hari itu, ibu merasakan sakit kepala yang luar biasa..."
Daniel tidak bisa berkata-kata saat ibunya menjelaskan hal itu kepadanya. Semua yang barusan terjadi kepadanya sangatlah mendadak.
"Kenapa ibu tidak katakan padaku langsung sebelumnya? Kenapa harus sekarang ibu memberitahunya kepadaku?!"
Tiba-tiba Charlotte menangis, "Hiks....maafkan ibu sayang, ibu tadinya tidak mau membuatmu khawatir. Tapi jika ibu membiarkan ini terus-menerus, ibu takut meninggalkanmu sendirian di tempat yang sengsara ini. Jadi sebelum itu terjadi, ibu harus membawamu pergi...."
"Ibu jangan katakan hal yang aneh kepadaku! Aku tidak mau ibu meninggalkanku!"Kini Daniel yang menangis.
Charlotte hanya tersenyum sendu. Dia memeluk Daniel dengan erat. "Sebaiknya kita persiapkan semuanya mulai sekarang. Lusa kita sudah harus meninggalkan istana ini."
"Lalu bagaimana dengan ayah? Apakah dia mengizinkan kita pergi dari sini?"Tanya Daniel.
"Ibu belum meminta izin padanya. Tapi ibu akan melakukan cara terbaik untuk membuat kita bisa diberikan izin olehnya."
Keesokan harinya, Daniel tidak lagi berlatih pedang saat sore hari. Hari itu adalah waktunya Daniel mempersiapkan segala sesuatu yang akan dia bawa saat kepergiannya.
Sementara Hendry, dia masih ingin melihat Daniel dari jarak yang lebih jauh lagi, namun sayangnya Daniel tidak ada di tempat itu dan itu membuatnya kecewa.
Keesokan harinya lagi, sesuai rencana ibu dan anak itu akan pergi dari istana. Sang ibu beralasan ingin pergi mengunjungi kakak lelakinya yang ada di kota kelahirannya.
Akhirnya mereka berdua berhasil pergi. Di dalam kereta kuda, Charlotte lagi-lagi merasakan kepalanya yang sakit luar biasa. Dia berusaha menahannya agar Daniel tidak khawatir.
"Ibu? Apa ibu sakit? Wajah ibu pucat sekali!"Daniel begitu peka saat melihat kondisi tubuh Charlotte yang tidak baik.
"Ibu baik-baik saja kok sayang. Sudah, tidak apa-apa...."
Sesampai di kota A, mereka tiba di sebuah kastil dan singgah disana. Para pelayan dari kastil, dengan sigap membantu majikan mereka membawa barang-barang yang ada di kereta kuda.
Tak lama seseorang pun datang dari dalam kastil. Seorang pria sekitar berusia tiga puluhan lebih berbadan tegap dengan perawakan yang agak menyeramkan.
"Selamat datang Charlotte, adikku. Akhirnya kau mengunjungi kakakmu setelah sekian lama."Sapa pria itu dengan ramah.
"Halo Kak Ruslan. Hehe maaf, aku baru bisa mengunjungimu sekarang."Sapa Charlotte balik. Sementara Daniel bersembunyi di belakang Charlotte merasa sedikit takut saat melihat pria bernama Ruslan itu.
"Hei, kau membawa anakmu? Wah, akhirnya setelah sekian lama aku bisa melihatnya. Tidak terasa sekarang dia sudah tumbuh besar ya..."Ucap Ruslan.
"Haha, iya. Dia anaknya sedikit pemalu. Hei, Daniel, jangan bersembunyi seperti itu. Ayo berikan salam kepada pamanmu."
Daniel dengan perlahan berjalan maju. Dia membungkuk dan memberikan salam kepada Ruslan. "S-salam, Tuan...."
"Hah? Kenapa keponakanku yang tampan ini harus memannggilku Tuan? Panggil aku paman Ruslan."Ucap Ruslan.
"Haha, sudah kubilang dia ini pemalu, kakak..."Ucap Charlotte.
"Hei, Daniel. Kau tidak perlu malu atau takut dengan pamanmu ini. Aku ini paman yang sangat baik, kau tahu?"Ucap Ruslan lagi membujuk.
"Pfft, sudahlah kak. Jadi Kakak mau membiarkan kami masuk atau tidak? Udaranya sudah mulai dingin karena sebentar lagi musim salju!"Ucap Charlotte.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kastil. Ruslan sudah menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga. Setelah siap menyantap makanan, Charlotte menyuruh Daniel untuk istirahat di kamar yang sengaja sudah dipersiapkan.
"Kau masuklah dulu ke kamarmu, Daniel. Ibu ada hal yang ingin ibu bicarakan dengan pamanmu."
Daniel pun menurut begitu saja. Seorang pelayan siap mengantar Daniel menuju kamarnya.
"Charlotte, kau mau bicara apa padaku?"
Saat Charlotte hendak ingin menjelaskan, tiba-tiba kepalanya berdenyut lagi. Kali ini denyutan itu jauh lebih parah sampai Charlotte tidak bisa menahannya lagi.
"Charlotte! Kau kenapa?!"Teriak Ruslan mulai panik.
Charlotte tersenyum pahit. Dia kemudian menjelaskan tentang sakit kepala yang di deritanya. Kemudian sempat menjelaskan tentang Sang Ratu yang diam-diam memiliki makhluk iblis sihir gelap. Tentu saja Ruslan hampir tidak percaya, namun saat melihat reaksi Charlotte, dia mau tidak mau harus mempercayainya.
Ruslan menitikkan air matanya saat melihat Charlotte berubah menjadi makhluk menyeramkan yang penuh bulu.
"Kak, aku mempercayakanmu untuk bisa menjaga Daniel dengan baik. Untuk sekarang ini, jangan biarkan dia mengetahui diriku yang seperti ini. Aku harus pergi dari sini secepatnya. Aku tidak akan mungkin bisa kembali ke istana dengan keadaanku yang seperti ini. Dan kurasa....aku tidak akan bisa lagi berubah ke wujudku yang asli."Ucap Charlotte sambil terisak.
"Tapi...! Kau mau pergi kemana dengan keadaan seperti ini?!"
"Kakak tidak perlu khawatir. Aku sudah menyiapkan tempat tinggalku jadi aku akan aman."
"Benarkah? Dimana?"Tanya Ruslan.
"Akan aku beritahu setelah aku sampai disana. Aku tidak punya cukup waktu karena aku takut jika Daniel sewaktu-waktu datang mencariku."
"Kenapa kau tidak segera beritahu pihak istana perihal Ratu yang sudah memiliki makhluk terlarang itu?!"
"Sayangnya aku tidak punya keberanian seperti kakak. Semuanya sudah terlambat dan aku baru mengetahuinya saat beberapa hari yang lalu. Aku bahkan sudah mulai jarang bertemu dengan suamiku. Sudah ya kak, aku harus segera pergi. Katakan saja pada Daniel bahwa aku harus kembali ke istana karena ada beberapa urusan yang harus aku lakukan."
"Kalau begitu biarkan aku mengantarmu!"
"Eh, jangan! Aku akan pergi sendiri. Kakak sebaiknya jangan sampai meninggalkan Daniel."
"Apa? Jadi kau akan pergi sendirian?! Kau gila? Kau itu seorang selir Sang Raja!"Bentak Ruslan heboh.
"Tidak apa-apa. Itu akan jauh lebih aman. Jangan sampai kakak memanggil para pelayan karena mereka pasti akan takut melihatku. Selamat tinggal kakak...."
Akhirnya Ruslan terpaksa membiarkan Charlotte pergi sendirian dengan keadaan seperti itu. Sesungguhnya dia sangat keberatan apalagi saat melihat kondisi adiknya yang cukup memprihatinkan. Charlotte menutupi dirinya dengan jubah sehingga dirinya cukup tertutup.
ketika sudah keluar dari gerbang kastil, Charlotte berjalan kaki. Kereta kuda dari istana sudah pergi sebab Charlotte tadi sempat beralasan ingin menginap di kediaman kakaknya. Dia pergi menuju hutan dengan suhu yang sudah mulai dingin. Dia berjalan dan terus berjalan sampai ke ujung hutan dan mendapati jurang yang ada disana. Jurang itu cukup curam sehingga Charlotte yakin jika dirinya pasti akan lebih mudah untuk mati di tempat itu.
Dia berdiri di pinggir jurang itu dan mulai menangis kembali.
Maafkan ibumu yang jahat ini Daniel. Kau harus tetap aman dan tidak terkena kutukan ini. Aku sudah benar-benar gagal menjadi seorang ibu. Kuharap ini yang terbaik agar kau aman. Selamat tinggal, putraku tercinta.... Kuharap kau benar-benar bisa bahagia....
BRUK! Wanita cantik itu mendorong tubuhnnya sendiri ke jurang yang curam itu lalu kemudian mati.
Next....