
Cynthia dan Daniel sudah berdandan rapi untuk menghadiri acara termegah di seluruh negeri. Saat mereka sampai disana, Cynthia masih merasa tidak percaya diri karena fisiknya. Dia belum berani untuk memperlihatkan wajahnya saat ini. Hanya gaun dan perhiasan mahalnya yang saat ini membuatnya terlihat anggun.
Cuma mereka berdua lah pasangan satu-satunya yang memakai topeng di acara itu. Kedatangan mereka sempat membuat orang-orang melihat dengan tatapan aneh dan menghina. Namun aura terintimidasi dari Daniel, dapat membuat mereka langsung bungkam.
Saat memasuki aula, Cynthia dan Daniel dapat melihat acara repsesi pernikahan kedua pasangan yang dijodohkan itu. Terlihat raut wajah Elizabeth yang tenang dan tetap tersenyum menunjukkan bahwasanya dia bahagia. Tetapi tidak dengan Hendry. Wajahnya pucat seperti orang mati. Tidak ada senyum sama sekali yang menghiasi wajahnya. Para tamu yang melihatnya sampai berbisik-bisik merasa heran.
Cynthia dan Daniel yang ada disana, sudah tahu apa alasan yang membuat Hendry menjadi seperti itu. Cynthia lalu menoleh ke arah Baginda Ratu yang berdiri tidak jauh dari kedua pasangan yang sedang melaksanakan upacara pernikahan. Ekspresinya terlihat bahagia namun lebih tepatnya bahagia karena keinginannya telah tercapai.
Wanita tua itu sama sekali tidak punya perasaan ya? Dia bahkan tidak peduli anaknya seperti orang mati begitu...
"Daniel, bagaimana ini? Sepertinya kita tidak bisa mendekati Yang mulia pangeran Hendry? Yang mulia Baginda Ratu terus mengawasi dirinya! Aku juga melihat sepertinya Yang mulia Pangeran Hendry sedang dalam kondisi yang tidak baik..."Ucap Cynthia berbisik.
"Tenang saja. Kau percaya saja padaku Cynthia. Kau ingat kan kalau aku memiliki kekuatan spesial? Akan aku buat Pangeran Hendry datang menemui kita. Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Bergantung saja padaku."Jawab Daniel.
Cynthia tidak menjawab. Dia justru merasa tidak enak karena tidak bisa melakukan apa-apa.
Upacara pernikahan itu terus berlanjut dengan lancar. Semua orang bertepuk tangan dan memberi selamat kepada kedua pengantin baru itu.
"Uhm, Daniel. Ngomong-ngomong aku tidak ada melihat yang mulia Baginda Raja? Kemana dia?"Tanya Cynthia.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."Ucap Daniel.
"Apa anda tidak mau mencari tahu dimana keberadaan beliau? Beliau ayah kandung anda bukan? Apa anda tidak merindukannya?"Tanya Cynthia yang membuat Daniel tersentak.
Sudah bertahun-tahun Daniel tidak bertemu dengan ayahnya setelah sekian lama. Dia bahkan tidak memikirkan Baginda raja sama sekali dan mungkin dia memang tidak terlalu menyayangi sang ayah. Dia bahkan tidak tahu akan perasaannya apakah dia merindukan sang ayah atau tidak.
"Eh....aku tidak tahu. Aku dengar orang-orang mengatakan jika Yang mulia Baginda Raja sedang sakit. Mungkin itu sebabnya dia tidak bisa menghadiri upacara pernikahan anaknya."Jawab Daniel sedikit gugup.
"Sedang sakit? Kalau begitu bukankah seharusnya anda khawatir? Anda pernah bercerita kepadaku jika Ayah anda menyayangi anda dan sangat mencintai mendiang ibu anda. Kita tidak ada yang tahu apa yang sudah dilakukan wanita tua itu padanya."Ucap Cynthia.
"Hush, jangan bicara sembarangan disini. Bisa gawat jika ada yang mendengar ucapanmu barusan."Ucap Daniel memperingati.
"Ups, maaf. Aku hanya kesal saja."
Beberapa lama kemudian, waktunya acara makan-makan. Sementara kedua pengantin baru itu sedang duduk di kursi singgasana setelah melakukan acara panjang.
"Psst, Hendry. Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu seperti kurang gizi begitu? Apa telah terjadi sesuatu padamu?"Bisik Elizabeth merasa sedikit khawatir.
"Berisik! Kau tidak usah peduli padaku. Aku akan berusaha mencari segala cara agar kita bisa segera bercerai."Balas Hendry yang membuat Elizabeth tersentak.
"Maaf? Kau bilang apa barusan? Bercerai? Kau gila ya? Kita kan baru saja menikah hari ini!"Ucap Elizabeth kaget.
Elizabeth terdiam sejenak. Walau dia belum mencintai Hendry, namun hatinya tetap sakit saat mendengar hal itu dari suaminya.
"Iya, kau benar sih...tapi apa salahnya jika kita menjalaninya dulu? Tidak ada yang tahu masa depan kan? Lagipula aku percaya pada kakak ipar dan istrinya. Aku yakin jika mereka bisa membantu kita..."Ucap Elizabeth.
"Kau...sudah tahu rencana kami? Bagaimana bisa?! Kau memata-matai kami ya?!"Tanya Hendry penuh selidik.
"Hei, pelankan suaramu! Jika Yang mulia Baginda Ratu mendengarnya, bagaimana? Aku sudah mengetahui rencana kalian sejak lama. Dan sejak aku dikenalkan istrinya, aku yakin sekali jika nona Cynthia bukanlah orang biasa. sejak aku mengenalnya, aku tidak dapat menebaknya. Namun aku percaya jika dia orang yang baik dan bisa dipercaya. Kalau kau bisa mempercayaiku, izinkan aku untuk ikut bekerja sama dengan kalian. Kau tahu jika aku sendiri juga dijadikan tumbal kan?"Ucap Elizabeth.
Hendry tidak menjawab. Kini perasaannya semakin bingung. Padahal selama dia dikurung di kamarnya, dia sudah menyusun rencananya dengan matang. Tapi istrinya malah merusak rencananya lagi. Dia pun hanya bisa memijit pelipisnya sambil menghirup napas panjang.
Tak lama itu, ada sinyal yang memanggil Hendry. Hendry pun mencari sumber sinyal itu yang berasal dari Daniel. Hatinya langsung gembira saat berhasil menemukan Daniel yang berdiri sedikit jauh dari hadapannya dan berada di tengah keramaian.
Baru seminggu dia terkurung di kamarnya, namun rasa rindunya seperti bertahun-tahun lamanya.
Dengan sendirinya Hendry berjalan menemui Daniel yang sedang menunggunya.
"Hendry? Hei, kau mau pergi kemana? Hendry!"Panggil Elizabeth namun Hendry tidak mempedulikannya.
Tentu saja baginda Ratu yang berdiri disana mengawasi dengan tatapan setajam silet. Namun dia masih menahan dirinya karena adanya keramaian.
"Kak! Ternyata kau datang! Aku hampir tidak percaya kau akan datang!"Ucap Hendry begitu bahagia.
"Tentu saja aku datang. Aku hanya memenuhi kewajibanku saja. Kemana saja kau selama seminggu ini? Apa yang sudah ibumu lakukan padamu?"Tanya Daniel.
"Ah...itu, ibuku sudah mengetahui semua rencana kita. Dia tahu jika kita ingin mencelakainya. Jadi dia saat itu sangat murka dan mencambukku. Lalu dia tidak memberiku izin lagi untuk menemui kakak selamanya."Ucap Hendry tertunduk.
"Tadinya dia juga berniat untuk tidak membiarkan kakak masuk ke istana untuk menghadiri pesta pernikahanku. Tapi syukurnya dia tidak punya kuasa untuk itu karena kakak masih bagian anggota kerajaan."Ucap Hendry.
"Hmm, begitu ya? Ada yang ingin aku tunjukkan."Ucap Daniel. Dia lalu mengeluarkan sebuah buku di dalam jasnya. Salah satu buku tentang sihir putih. Dia lalu membuka halaman yang ada tulisan unik itu.
"Waktu itu kau pernah bilang kan jika kau melihat tulisan unik yang tidak bisa kau baca? Apa tulisannya mirip seperti ini?"Tanya Daniel.
"Oh! Benar! Tulisannya seperti ini! Tapi aku tidak tahu apa artinya. Memangnya ada apa dengan tulisan itu? Bukankah itu buku tentang sihir putih?"Tanya Hendry.
"Justru itu, aku ingin mencari tahu arti tulisan ini. Siapa tahu ini sebuah mantra kan? Aku sudah mencari tahu sampai ke penulisnya, rata-rata banyak yang mencetak ulang. Sayangnya si penulisnya sudah meninggal sejak 30 tahun yang lalu."Ucap Daniel.
"Apakah ada yang mengatakan tentang tulisan sihir putih?"Tanya seseorang yang datang ke arah mereka.
Next....