
"Iya, benar. ini di pantai. Kau tahu, negara ini terkenal dengan pantainya yang luas dan jernih. Tak heran kenapa banyak pengunjung dari berbagai negara suka berlibur disini."Ucap Daniel.
"Oh begitu. Aku tak percaya bahwa pantainya akan jauh lebih bagus daripada yang ada di lukisan."Ucap Cynthia masih merasa kagum.
"Pfft, tentu saja! Orang-orang hanya menirunya di atas kertas dan itu tetap tidak akan sebanding dengan yang aslinya."
Tak lama kereta api berhenti tepat di stasiun. Mereka melanjutkan perjalanan dengan naik kereta kuda. Perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Kereta kuda berhenti di depan sebuah Villa yang cukup besar dekat dengan pantai tersebut.
"Nah, kita akan menginap di villa ini selama beberapa hari ke depan."Ucap Daniel.
Para pelayan mulai melaksanakan pekerjaan mereka membereskan barang-barang dan menyiapkan keperluan para majikan mereka.
Celina tiba-tiba menarik tangan Cynthia.
"Kak, ayo kita kesana!"Ajak Celina.
"Eh? Oke...!"
Daniel menyadari kedua saudari itu yang hendak pergi.
"Hey, kalian mau pergi kemana?"Tanya Daniel.
"Kami mau pergi melihat pantainya kakak ipar! Tenang saja, kami tidak akan pergi jauh-jauh kok!"Celina yang menjawab.
"Berhenti disitu."Ucap Daniel.
Kedua saudari itu pun menuruti perintahnya. Daniel lalu berjalan menghampiri mereka berdua.
"Celina, sebaiknya jalan-jalannya nanti sore saja. Kalau sekarang, cuacanya masih sangat panas. Bisa-bisa kulit kalian berdua bisa terbakar. Lagipula kita juga belum makan siang."Ucap Daniel.
"Tapi...!"
Daniel kemudian mendekat dan berbisik ke arah Celina.
"Katanya kau mau punya adik keponakan kan? Kalau kau tetap memaksa kakakmu ikut bersamamu, kau tidak akan dapat adik."
Celina langsung mematung. Akhirnya dia melepas tangan Cynthia. Sementara Cynthia heran dan begitu penasaran apa yang sudah Daniel bisikkan ke adiknya yang masih polos itu.
"Baiklah, kalau begitu nanti sore saja kita jalan-jalannya."Ucap Celina sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Nah, ayo kita semua masuk ke dalam Villanya."Ajak Daniel sambil menuntun mereka berdua.
Di dalam Villa, Cynthia terkejut karena dia pikir mereka akan di kamar masing-masing lagi dan ternyata tidak. Hari ini Cynthia bakal satu kamar dengan Daniel. Dia sempat kepikiran apakah ucapan Daniel sewaktu di kereta api benar-benar serius.
"Cynthia, kenapa kau melamun dan berdiri saja disitu? Kau tidak mau masuk?"Tanya Daniel yang sudah di dalam kamar duluan.
"Eh, iya...maaf."Cynthia benar-benar gugup.
"Ada apa denganmu? Apa kau merasa kaget karena kita akan tidur di satu kamar?"Tanya lagi Daniel.
"Uhm...benar. Kupikir kita akan punya kamar masing-masing..."Ucap Cynthia.
Kok aku merasa sedikit sakit ya saat dia mengatakan hal itu? Ya, salahku juga sih kami harus tidur terpisah selama ini...tapi sekarang aku tidak mau lagi berpisah dengan Cynthia...
"Kali ini tidak lagi. Aku...memilih untuk tidur bersamamu."Ucap Daniel dengan malu-malu.
Cynthia hanya terkaget-kaget dengan ucapan Daniel. Kini kedua pasangan itu hanya bisa mendengar suara detak jantung mereka yang begitu keras.
"Anu...Daniel. Bolehkah aku tahu apa yang Anda bisikkan tadi kepada Celina?"Tanya Cynthia akhirnya penasaran.
"Itu....aku bilang padanya bahwa aku akan memberikannya seorang adik keponakan."Akhirnya Daniel menjawab meskipun dia sedikit malu-malu.
"Uhuk!!"Tiba-tiba Cynthia tersedak air liurnya sendiri merasa begitu kaget dengan jawaban tidak terduga dari Daniel.
"Cynthia?! Kau baik-baik saja?! Pelayan! Antarkan segelas air!"Daniel mulai panik dengan Cynthia yang terbatuk-batuk.
Tak lama seorang pelayan datang memasuki kamar dan segera memberi air kepada Daniel.
"Ini Cynthia, minumlah dulu..."Ucap Daniel seraya memberikan segelas air itu kepada Cynthia.
Cynthia menerimanya dan segera menghabiskan air itu dengan cepat sampai habis.
"Bagaimana? Sudah merasa lega?"Tanya Daniel memastikan.
"I-iya sudah....maaf aku membuat Anda jadi panik. Aku tadi....merasa sangat kaget dengan apa yang Anda bilang tadi."Ucap Cynthia dengan wajah yang sudah semerah tomat.
"Ah....maafkan aku. Tadi itu...aku hanya ingin memberikan alasan yang cepat supaya Celina tidak jadi mengajakmu jalan-jalan karena masih banyak yang ingin aku bicarakan denganmu...."Ucap Daniel jadi merasa bersalah.
"Oh...begitu. Yah, benar juga sih. Kita berdua bukankah sudah saling berjanji untuk menceritakan tentang kisah kita masing-masing?"Cynthia jadi merasa salah tingkah.
"Haha...iya benar. Tapi Cynthia, jika aku tanya apa kau berminat memiliki anak?"
"Eh, tentu saja! Jika sudah menikah, tentu aku ingin memiliki anak. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan bila aku memiliki anak di masa mendatang nanti...."
"Begitu ya..."Daniel jadi tersenyum lega. Dirinya sendiri pun berharap ingin memiliki keluarga sempurna setelah menikah dan memiliki anak.
Cynthia lalu melihat ke arah Daniel. Dirinya sempat berpikir apakah Daniel juga berniat memiliki anak sepertinya. Tadinya Cynthia ingin bertanya, namun entah mengapa dia memilih untuk merenungkannya.
"Oh ya, ngomong-ngomong Daniel. Selama beberapa hari ke depan kata anda kita akan terus disini kan? Lalu bagaimana dengan pekerjaan anda?"Tanya Cynthia teringat.
"Tenang saja. Soal pekerjaan sudah tidak terlalu banyak yang ku kerjaan karena sebagian sudah kuserahkan kepada bawahanku. Aku pastikan tidak akan meninggalkan kalian sampai hari terakhir kita disini."
"Oh, oke...ehm Daniel, mumpung jam makan siang masih lama, bagaimana kalau sekarang anda mulai untuk menceritakan kisah hidup anda kepadaku?"
"Heh, kau ini tidak sabaran ya?"
"Ehm...iya habisnya aku sangat penasaran. Jujur saja aku sudah lama menantikan anda untuk menceritakan tentang diri anda kepadaku. Aku ingin lebih mengenal diri anda." Jawab Cynthia.
Daniel kemudian menghela napas panjang.
"Baiklah. Saat itu aku...."
Flash back....
Suatu hari di sebuah kerajaan Timur, hiduplah seorang pangeran bernama Heinrich Lewis. Kedua orang tuanya memerintahkan Heinrich untuk menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Selatan yang bernama Lilian Adore.
Mereka berdua pun menikah dan dinobatkan sebagai raja dan ratu. Namun naas, mereka tidak bisa memiliki keturunan karena Lilian tidak bisa hamil. Tidak ada alasan yang pasti mengapa Lilian tidak bisa hamil. Heinrich sempat kecewa padahal dirinya sudah mulai mencintai wanita tersebut. Tapi dirinya benar-benar didesak untuk memiliki anak demi penerus hidupnya.
Kedua orang tua Heinrich akhirnya memaksa Heinrich untuk menikah dengan wanita lain lagi yang dikenal kembang desa di ibukota A. Wanita tersebut terkenal sangat cantik dengan wajah bak bidadari. Sifatnya yang pemberani dan tidak kenal takut membuat Heinrich menjadi tertarik kepada wanita itu.
Wanita cantik itu bernama Charlotte Auberon. Tak hanya memiliki paras cantik, Charlotte juga berasal dari keluarga Duke berada yang memiliki usaha tambang permata yang cukup terkenal di dunia.
Butuh kisah yang amat panjang untuk membuat Heinrich dan Charlotte bisa saling mencintai. Charlotte adalah wanita tangguh yang tidak begitu peduli akan kisah romansa. Dia lebih suka menghabiskan waktu mengejar cita-citanya yang selama ini dia impikan.
Sejak kemunculan Charlotte, Lilian benar-benar dilupakan. Tentu saja Lilian begitu dendam. Dia pikir Heinrich hanya akan mencintai dirinya seorang karena dia sendiri juga adalah ratunya. Hanya gara-gara tidak bisa hamil, Lilian dianggap seperti sampah dan dilupakan.
Next....