I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 8. Siapa kau?



"Diam disana!?"


Bruk


Pelayan itu mendorong Zhen kedalam ruangan yang biasa menjadi tempat hukumannya. Setelah itu dia pergi tanpa mengatakan apapun lagi sembari mengunci pintu besi ruangan. Seperti biasa ruangan itu selalu dingin dan sepi. Zhen baru menyadarinya sekarang setelah melakukan beberapa kultivasi, ternyata diruangan ini dipenuhi dengan energi yin. Mungkin jika orang biasa yang memasuki ruangan mereka akan ketakutan dan perlahan terpengaruh oleh energi yin sebanyak ini. Tapi karena Zhen memiliki atribut kegelapan energi yin sebanyak apapun tidak akan mempan padanya.


Dia berpikir keras, apa lagi yang ingin dilakukan Jiafen padanya. Dan kenapa Jiafen begitu membencinya? Zhen tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Jadi kenapa?


Tidak lama ada yang membuka pintu besi. Zhen membulatkan matanya ketika melihat siapa yang membuka pintu. Di penghujung pintu terlihat seorang pria berbadan besar dengan banyaknya bekas luka di seluruh tubuhnya. Wajahnya yang sangar membuat Zhen bergidik ketakutan. Pria besar itu berjalan mendekati dirinya dengan memainkan palu besar penuh paku di tangan kanannya.


Kakinya lemas dan tak bisa digerakkan. Sontak Zhen langsung memundurkan tubuhnya ke belakang. "A apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Zhen dengan suara yang sedikit bergetar.


Pria besar itu hanya memperhatikannya dengan dingin. Benar benar sangat dingin. Tanpa mengatakan apapun pria besar itu melangkah dan mengangkat tubuh Zhen tinggi tinggi. Dia membaringkan tubuh kecil bocah itu diatas meja batu dan mengikatnya dengan rantai hitam berkarat.


Dengan sekuat tenaga Zhen melepaskan diri dari rantai yang mengikat tangan dan kakinya. Dia semakin panik ketika pria besar itu mengangat palunya tinggi tinggi dan


Jrat


"Aaggghhh!?" Teriak bocah itu kesakitan ketika kaki kanannya di pukul dengan palu besar. Air matanya menetes karena rasa sakit yang luar biasa.


"Bukankah ini baru permulaan? Kenapa Zhen'er sudah menangis? Jangan bilang ini terlalu sakit?" Tanya Jiafen memasuki ruangan dan berhenti tepat di samping Zhen. Dia tersenyum seakan tidak terjadi apapun. "Siksaan ini tidak seberapa kan untuk Zhen'er? Bukankah, kau adalah anak baik?" Bisik Jiafen tepat didepan wajah Zhen.


"Aku bersalah, Zhen'er minta maaf!? Zhen'er salah…" Matanya yang besar terus berkaca kaca. Tapi meskipun begitu tidak sedikit rasa iba di hati Jiafen saat melihatnya. Melihat Zhen menangis seperti ini ia malah makin ingin membuatnya menderita.


"Patahkan satu kakinya lagi juga kedua tangannya, lagi pula dia memiliki regenerasi lebih cepat dari semua orang." Ujar Jiafen tanpa hati, setelah itu dia berjalanbpergi. Tapi beberapa detik setelahnya langkah Jiafen berhenti di ambang pintu. "Dan Zhen'er, aku tahu kau yang melakukannya. Jangan kira kau bisa lepas dari pengawasanku." Jiafen menatap dingin Zhen dan melanjutkan lagi langkahnya.


Brak


Tidak lama setelah Jiafen pergi terdengar suara teriakan Zhen karena satu kakinya sudah dipatahkan lagi.


Kata kata terakhir itu tidak bisa dilupakan oleh Zhen. Bisa dibilang Jiafen mengetahui perbuatannya pada pria itu. Mungkin hukuman ini juga sebagai hukuman atas perbuatannya yang telah membunuh pria itu.


Dua kaki dan dua tangannya sudah tidak bisa digerakkan lagi. Dilehernya juga ada sayatan benang tajam yang menyayat tenggorokannya. Semuanya mati rasa. Darah mengalir dari tangan dan kakinya yang kecil. Untuk sembuh seperti semula setidaknya butuh waktu satu minggu.


Zhen menatap langit langit ruangan dengan pandangan kosong. Kadang dia berpikir, kapan dia bisa keluar dari klan busuk ini? Zhen juga ingin merasakan kebebasan seperti yang lain.


Tidak Zhen sadari kabut hitam sudah mengelilinginya. Seiring dengan kedatangan kabut hitam regenerasi Zhen mulai berjalan meskipun agak lambat. "Inilah yang terjadi jika tuan berhubungan dengan bocah cahaya itu lagi. Tuan jangan bermain dengannya lagi, akan lebih aman jika tuan bermain denganku." Ujar Kabut hitam kian waktu makin pekat.


Dalam mimpinya Zhen tengah berdiri dipadang rumput yang dipenuhi sinar matahari. Disana begitu hangat dan damai. Angin semilir meniup niup tubuhnya. Dan dari belakang seperti ada seseorang yang memeluknya hangat. Tangan seorang wanita yang begitu ramping dan putih dengan rambut hitam legam dam mata yang sama seperti Zhen. Saat dia melihat siapa orang itu, Zhen membelalakkan matanya kaget. "Ibu?" Dia sungguh sangat terkejut. Dia pikir wanita ini akan muncul dalam mimpi buruknya, tapi kenapa dalam mimpi indahnya?


Wanita itu tersenyum lembut padanya. Tunggu sebentar, tersenyum lembut? Jiafen? pada Zhen? Itu sangat tidak mungkin. Tapi meskipun itu tidak mungkin, Zhen berharap itu mungkin. "Siapa kau?" Tanya Zhen mengutarakan pikirannya. Wanita ituyidak menjawab pertanyaan Zhen. Dia hanya tersenyum tipis dan mengecup pipi kecil bocah dipelukannya. Zhen mengelus pipi yang dicium wanita itu, entah apa namanya perasaan ini. Tapi dia menyukainya. Kemudian wanita itu berubah menjadi kupu kupu putih dan terbang ke langit. Zhen mencoba mengejar kupu kupu itu.


Tidak lama setelah wanita itu menghilang, padang rumput yang indah ini berubah menjadi gelap gulita dan penuh darah dimana mana. Melihat sekelilingi berubah menjadi gelap dan dingin membuat Zhen ketakutan. Dia mengedarkan seluruh pandangan kesegala tempat. Zhen berlari mencari cahaya yang menyinari ladang rumput yang hilang.


Bruk


Tiba tiba dia tersandung sesuatu, "Apa itu?" Zhen ingin bangun dari tempatnya terjatuh, tapi saat ia menyentuh tanah yang dipijakinya tanah itu seperti tangan seseorang. Tangan itu begitu dingin dan lembab seperti seseorang yang sudah tak bernyawa. Karena begitu penasaran Zhen melihat tangan siapa yang ia pegang ini.


Terlihatlah seorang pria tampan yang sedang terbaring kaku dengan dikelilingi bunga teratai putih disekelilingnya. Rambut yang panjang hitam legam dengan wajah yang begitu putih pucat, memakai hanfu hitam mewah bercorak naga berwana emas. Dan satu hal lagi, dadanya yang bolong penuh darah. Tanpa sadar Zhen mendekat pada wajah pria itu.


Entah mengapa kalau wajahnya tampak sangat familiar. Apa Zhen mengenalnya di suatu tempat? Tentu saja tidak, dia tidak pernah bertemu dengan pria ini. Tapi jika diperhatikan, wajahnya agak mirip dengan dirinya. Begitu juga dengan penampilannya yang tampak kesepian. Dia mencoba mengecek nafasnya apakah pria tampan ini benar benar mati atau tidak. Dan ternyata tidak ada udara sama sekali yang berhembus. 'Tidak bernafas, apa dia benar benar mati?' Pikir Zhen.


"Siapa kau? Kenapa kau memiliki banyak kemiripan denganku?" Tanya Zhen meskipun dia tahu kalau pertanyaannya tidak mungkin dijawab oleh orang mati.


Tiba tiba mata pria itu terbuka lebar dan memperlihatkan dua buah manik merah darah. Mata yang sama persis seperti Zhen.


Zhen segera menjauhkan wajahnya karena begitu kaget kalau pria itu ternyata masih hidup. Pria itu bangun dengan wajah yang sangat pucat. Matanya melirik Zhen yang ketakutan melihat pria itu. Tangan pria itu terangkat dan meraih wajah Zhen yang masih ketakutan. Tapi dia tidak bisa bergerak meskipun ingin. Tangan dinginya mengelus pipi Zhen lalu merambat ke dagunya. Dengan mudah dia menarik wajahnya untuk mempersempit jarak antara wajah mereka. Seringai muncul diwajahnya yang pucat.


Jleb


Mata Zhen melebar saat tangan dingin itu menerobos paksa dadanya dan meremas jantungnya. Pria itu seperti mengucapkan sesuatu…


"Bangun…"


...~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...