I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 24. Tidak butuh bantuan



Setelah membunuh tiga orang dihadapannya Zhen baru sadar kalau dirinya baru saja membunuh orang orang itu. Bisa dibilang ia tidak sadar sudah membunuh ketiganya. Langsung saja ia panik karena telah membunuh mereka. Ditambah lagi sepertinya mereka bukan orang orang biasa. "B bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan setelah ini?" Ujarnya panik. Tapi kemudian wajah paniknya diganti dengan senyuman jahat diwajahnya. "Kenapa juga aku harus panik? Mereka memang pantas mendapatkannya." Ujarnya diakhiri kekehan senang.


Zhen pergi begitu saja meninggalkan jasad mereka. Setelah menyerap Qi dari orang orang itu sebagian lukanya sembuh dan kakinya tidak begitu sakit lagi. Dirinya tidk tahu darimana ia dapatkan kekuatan mengerikan itu. Hanya tiba tiba saja ia bisa menggunakannya padahal disini tidak ada jurus seperti itu. 'Sepertinya aku harus menyembunyikan jurus ini dari orang orang. Terutama Kakak, dia pasti akan menjauh dariku jika aku menggunakan jurus mengerikan ini pada orang orang. Bagaimanapun aku tidak boleh membunuh orang orang Klan lagi.' Pikir Zhen.


Meskipun satu hal yang pasti saat dirinya membunuh orang orang yang selama ini membuatnya menderita, yaitu puas. Ya, dia benar benar puas melihat mereka berteriak kesakitan. Wajah ketakutan mereka benar benar membuat Zhen tidak bisa melupakannya. Rasajya ia ingin melakukannya lagi dan lagi. Tapi karena disisi lain ia juga takut menjadi jahat dan menjadi seperti yang orang orang itu katakan, dirinya masih menahan diri dan tidak ingin membunuh orang orang Klan lagi.


Ini memang terdengar jahat, tapi ini kenyataannya. Zhen berharap semua orang didalam klan mati terbunuh di tangannya sendiri tanpa ada yang tersisa terkecuali Jun. Tapi ia sadar, orang yang baik dan berhati tulus tidak akan melakukan hal kotor dan kejam seperti itu. Karena itu Zhen tidak melakukannya.


Zhen membuka pintu yang menjadi tempat keluar penjara bawah tanah. Ternyata di luar sudah malam. Setelah keluar Zhen ingin menuju danau untuk membersihkan darah. Untungnya ia sudah membuat beberapa tanda menuju danau dengan kain putih yang ia lilitkan diranting ranting tanaman. Sehingga untuk menemukan danau ia tinggal mengikuti tanda tersebut.


Sampai di danau teratai biru, Zhen menuju gazebo untuk membersihkan diri. Dirinya membersihkan darah yang sudah kering maupun yang baru. Saat membersihkan darahnya, ia teringat dengan wilayah Raja Kucing Petir yang diserang orang orang berpakaian hitam itu. Sebelum pergi Zhen mengambil beberapa tanda dari palace mana mereka berasal. Saat ia memperhatikan tanda yang diambil, yaitu simpul kupu kupu emas yang biasa digantungkan di pinggang. Itu adalah tanda dari Golden Butterfly Palace.


Tempat itu adalah tempat paling kotor diantara semua palace. Mereka melakukan pekerjaan kotor yang palace lain tidak pernah lakukan.


"Ternyata kau disi_ tunggu, ada apa denganmu? Kenapa kau dipenuhi darah begini?" Ujar seseorang yang tiba tiba datang dan memeriksa Zhen dari sana sini. Dia adalah Nie Fuwei. Gadis itu telah mencari Zhen selama beberapa hari ini namun tidak juga kunjung ketemu. Karena itu ia memutuskan untuk menunggunya malam ini. Tapi siapa sangka jika malah seperti ini keadaannya.


Plak


Zhen menangkis tangan Nie Fuwei dengan raut wajah kesal. Gadis itu memegang tubuhnya seenak jidatnya. Sudah sakit, dipegang oleh gadis itu malah tambah sakit.


"Ah, m maaf. Tapi ini harus segera di obati. Ayo kita ke kamarmu dan mengobatinya!?" Ujar Nie Fuwei masih khawatir. Zhen tidak banyak bicara dan segera bangun. Dengan kaki yang masih pincang Zhen berjalan. "Apa perlu kubantu?" Tanya Nie Fuwei cemas.


"Tidak, dan pergilah. Aku bisa mendengar suara orang orang mencarimu." Ujar Zhen mengusir Nie Fuwei. Sepertinya dia melarikan diri lagi.


"Jangan pikirkan aku! Sekarang pikirkan saja dirimu sendiri. Kau harus_"


"Sekarang aku sedang memikirkan diriku sendiri. Jika kau bersamaku dan mereka melihatnya maka yang menjadi bahan masalah adalah aku. Jadi pergilah nona Fuwei." Ujar Zhen menjelaskan kesalah pahaman gadis itu. Sejak awal ia memang selalu memikirkan diri sendiri dan bukan orang lain.


Nie Fuwei terdiam dengan raut wajah kesal. "Baiklah, aku pergi!?" Bentaknya kesal. Dia pergi dengan kaki yang sedikit dihentakkan. Sepertinya dia benar benar jengkel dengan sikap Zhen.


Mau kesal atau tidak Zhen tidak peduli. Karena yang ia pedulikan hanya diri sendiri dan bukan orang lain.


Beberapa saat kemudian…


Zhen tersesat mencari kamarnya sendiri, "Seharusnya aku memintanya untuk tinggal sebentar lagi." Ujarnya sangat menyesal telah mengusir Nie Fuwei. Dia menyesal karena mengusir wanita itu dari awal. Seharusnya ia mengusirnya saat sudah sampai didepan kamarnya. Dengan begitu ia tidak akan tersesat seperti ini. "Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur." Ujarnya lagi. Setelah itu ia berbalik badan dan mendapati sesuatu yang mengejutkan.


Nie Fuwei ada didepannya. Sepertinya gadis itu tidak benar benar meninggalkan Zhen sendirian. Dia awalnya hanya ingin melihat Zhen mengobati lukanya sendiri. Tapi yang dia lakukan hanya berputar putar ke tempat lain mengikuti Zhen. Tidak disangkanya pria ini buta arah. Tapi dia senang karena tadi Zhen terdengar menyesal mengusirnya, jadi dia kembali dan berada dihadapan Zhen sekarang. "Sepertinya kau tidak bisa kembali tanpaku. Jadi ikuti aku dengan baik, ya?!" Ujar Nie Fuwei diakhiri dengan senyum sombongnya.


Tanpa bicara apapun Zhen mengikuti Nie Fuwei. Ia lega ternyata Nie Fuwei tidak pergi. Dengan begini ia bisa kembali ke kamarnya.


Setelah kembali Zhen langsung mengobati semua lukanya. Dibantu dengan Nie Fuwei yang mengobati bagian punggung. Dirinya duduk di tempat tidur sedangkan Nie Fuwei berdiri disampingnya mengolesi bagian bagian yang tidak terlihat oleh mata. Walau tidak suka tapi Zhen tetap membiarkannya. Karena dia tahu gadis itu akan tetap melakukannya bahkan saat dirinya tidur.


Dengan begitu hati hati Nie Fuwei mengolesi obat ke luka pria yang dingin ini. Pipinya merona melihat tubuh pria ini yang begitu bagus, begitu putih dan ada roti sobek meski masih kecil. Zhen begitu tinggi tapi wajahnya terlihat masih belia. Nie Fuwei penasaran dengan umur pria ini. "Aku selalu ingin menanyakan ini, berapa umurmu? Karena umur klan kita bisa mencapai ratusan, aku tebak kau dua ratus tahun?" Tebaknya. Umur Klan Guaiwu biasanya mencapai ratusan. Karena mereka adalah makhluk setengah monster.


"Seratus lima puluh." Jawab Zhen. Jika dalam umur manusia biasa adalah lima belas tahun.


"Seratus lima puluh? Itu jauh lebih muda dariku. Aku dua ratus tahun." Ujar Nie Fuwei. Umur manusia biasa adalah dua puluh tahun.


"Oh…" Reaksi yang begitu biasa seakan Zhen benar benar tidak tertarik dengan umur wanita itu.


Pembicaraan ini begitu canggung, karena itu Nie Fuwei ingin membangun suasana yang tidak canggung lagi. "Siapa yang telah melakukan ini padamu? Apakah si gendut itu yang melakukannya? Katakan saja dan aku akan membalasnya untukmu!?" Ujar Nie Fuwei bercampur kesal pada bicaranya.


Zhen sedikit lama menjawab pertanyaan bertubi tubi dari Nie Fuwei. Kalaupun ia mengatakannya gadis itu juga tidak akan bisa membalasnya. "Kalaupun kau tahu kau tidak akan bisa membantuku. Dan kau gagal dalam menyelamatkan mereka bukan?" Tanya Zhen balik.


Sontak Nie Fuwei membelalakkan matanya terkejut dengan pertanyaan Zhen. "Bagaimana kau tahu__ hmp!?" Dia segera menutup mulutnya agar Zhen tidak tahu lebih lanjut. "Ehm maksudku, aku ingin memberitahumu dari awal. Tapi sepertinya itu tidak perlu." Ujar Nie Fuwei diakhiri cengengesan diakhir.


Zhen melirik gadis dibelakangnya. "Mulai besok, kau tidak perlu datang ke sini lagi." Ujar Zhen.


Seketika gerakan tangan Nie Fuwei berhenti saat Zhen mengetakan itu, "Apa karena aku tidak bisa menyelamatkan mereka jadi kau mengusirku? Apa monster monster lemah itu lebih penting daripada teman sesama'mu?" Ujarnya marah. Dia sudah lelah dengan sikap pria ini yang begitu dingin dan lebih mementingkan yang lain daripada dirinya yang rela berteman dengannya tanpa diminta.


"Jika kau sudah mengerti maka pergilah!" Usirnya tanpa basa basi. Ada banyak alasan untuk Zhen mengusir Nie Fuwei. Dan salah satunya yang disebutkan.


Gadis itu segera berjalan ke hadapan Zhen dan melempar kotak salep pada pria itu. "Aku akan pergi malam ini. Tapi jangan pernah berharap besok aku tidak datang. Besok, lusa, nanti, dan hari yang akan datang aku akan tetap datang lagi dan lagi. Aku akan membuatmu berpikir bahwa aku harus ada disampingmu!?" Setelah gadis itu meluapkan amarahnya dia pergi berjalan keluar sembari membanting pintu.


Brak


Tentu saja karena kekuatannya pintu yang sudah tua itu retak dan rusak.


"Dasar, jika kau marah setidaknya jangan membanting pintunya." Gerutu Zhen. Dirinya tahu kalau Nie Fuwei menyukainya. Terlihat sekali dari cara gadis itu bicara dan reaksinya saat diberi senyuman. Tapi itu semua tidak berguna jika dirinya akan semakin menderita.


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...