
Zhen berlari didalam lorong mencari keberadaan seseorang. Dengan pakaian yang masih ada bercak darah dan wajah yang pucat. Semua orang memperhatikannya dengan tatapan mata sinis.
"A apakah kau melihat kakak?" Tanyanya sembari memegangi kedua pundak pelayan.
Pelayan itu menatapnya kesal, "Disana!?" Ujarnya sembari menunjuk salah satu kamar.
Tanpa membuang waktu, Zhen langsung membuka pintu kamar dan masuk kedalamnya. Disana ada Jun yang sedang berjalan memegang setumpuk buku. Seketika dirinya langsung tenang ketika Jun masih hidup. "Kau, kau benar benar kakak kan?" Tanya Zhen untuk memastikan. "Kau baik baik saja kan? Apa ada luka?" Tanyanya sangat khawatir.
Jun menatap Zhen bingung dari atas sampai bawah. 'Apa Ibu menyiksanya lagi? Dia terlihat berantakan. Kasihan juga melihatnya, tapi… apa perlu aku mengasihani penjahat sepertinya?' Pikir Jun yang sepertinya sudah tahu kalau Jiafen selalu menyiksanya. Dan dia juga sudah tahu siapa Zhen sebenarnya. Dia memegang kedua lengan Zhen untuk membuatnya tenang, "Zhen, tenanglah!? Seperti yang kau lihat aku baik baik saja. Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Lihat!?Kau terlihat sangat kacau, kau juga memiliki banyak luka. Bagaimana jika kau obati dulu lukamu disini dan memakai pakaianku. Pakaianmu sepertinya sudah rusak." Ujarnya penuh perhatian.
Zhen melihat Jun tanpa berkedip. Dirinya sangat senang karena hanya Jun yang perhatian padanya. Sedangkan yang lain hanya ingin mencelakakan dirinya dan membunuhnya saja. Saat ini ia ingin menangis, tapi akan sangat memalukan jika menangis didepan Jun. "A aku… t tidak usah… aku akan, pulang dan, obati sendiri." Ujarnya sembari tersenyum senang campur canggung. Kemudian pergi kembali ke tempatnya.
Jun masih masih memandangi kepergian Zhen. Memastikan apakah dia sudah pergi jauh atau belum. Setelah memastikan Jun menutup pintu kamarnya rapat rapat.
"Dasar gila!? Dilihat sekali saja penjahat itu sudah ketahuan gila nya. Dia hanya tidak menyadarinya. Tuan, sebaiknya jangan bertemu dia lagi. Bisa bisa tuan tertular penyakit gilanya." Ujar cahaya, elemennya sendiri. Jun juga bisa berkomunikasi dengan elemennya sendiri. Dua elemen ini cahaya dan kegelapan, mereka memiliki pemikiran mereka sendiri tapi tidak memiliki perasaan.
"Jangan bicara sembarangan. Zhen hanya syok setelah mendapat hukuman dari ibu. Kau tidak lihat kondisinya sekarang? Aku yakin orang orang itu tidak peduli padanya. Tapi lihatlah, dia masih mengkhawatirkanku setelah dirinya mendapatkan siksaan begitu banyak." Jawab Jun.
"Khawatir, ya? Dia hanya terobsesi padamu. Dan obsesinya itu semakin besar setiap harinya. Pada akhirnya dia akan berakhir menjadi penjahat. Kau harus membunuhnya agar tidak menimbulkan masalah besar atau menyegelnya ke dunia bawah yang dari awal memang tempatnya. Kenapa kau malah membiarkannya tetap hidup?"
Jun hanya Jun terdiam mendengarkan omongan Cahaya. Dia memang harus membunuh Zhen karena bisa saja pemuda itu menjadi malapetaka untuk semuanya. Tapi Jun terlanjur telah menganggapnya sebagai keluarga. Dia jadi sangat bimbang untuk membunuh Zhen. "Kau tenang saja, aku yakin semuanya akan baik baik saja." Ujarnya yang tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Kau akan menyesalinya suatu hari nanti, Karena dia akan membuat semuanya bermandi darah." Ujar cahaya yang kemudian menghilang.
Jun memikirkan kata kata terakhir cahaya padanya. Tapi dia masih tetap pada keputusannya.
...***...
Dimalam hari, Zhen berada didalam kamarnya yang tidak dinyalakan. Dirinya duduk memojok di bawah tempat tidur dengan menelungkupkan tangannya diatas kepalanya. Tubuhnya juga tertutupi selimut putih. Pria itu seperti ketakutan dengan sesuatu. Matanya ia paksakan untuk terpejam, ia seperti mendengar sesuatu yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
"Tuan, tenanglah!? Semua itu hanyalah ilusi. Mereka tidak benar benar ada dan tidak benar benar ingin membunuhmu!?" Ujar kegelapan mengingatkan Zhen.
Setelah diperingatkan Zhen membuka matanya dan bertanya, "Mereka tidak nyata?"
"Ya, mereka hanya ilusi yang terlihat nyata. Tuan tidak perlu merasa takut." Jelasnya.
Zhen membuka selimutnya, ilusi orang orang kuat yang ingin membunuhnya atau yang ingin membuangnya ke dunia bawah menghilang. Dikamar ini hanya terlihat kesepian dan kegelapan. Zhen memegangi kepalanya, 'Aku seperti penakut. Aku pikir yang aku lihat adalah nyata tapi ternyata ilusi.' Pikirnya dengan mata yang mulai mengantuk. Itu wajar saja karena beberapa hari ini dirinya tidak tidur karena ilusi yang terus muncul dikepalanya. Akhirnya ia tertidur diposisinya sekarang.
...***...
"Kau bilang anak itu gila?" Tanya seorang pria berambut putih yang duduk disebuah kursi besar Ketua Klan.
"Ya, ada banyak saksi mata melihatnya. Dia berlari seperti orang gila mencari Putra pertama." Jelas Shuwei sambil berlutut satu kaki.
Tuk tuk tuk
Tampak sepertinya Tianzhi sedang memikirkan sesuatu dengan mengetuk ngetukkan jarinya. Saat ketukan berhenti fia sudah memutuskan, "Bunuh dia!? Lagipula jika dia gila sama saja sudah tidak berguna. Untuk apa memelihara anjing yang akhirnya tidak ada gunanya?" Perintahnya pada keputusan akhir.
Shuwei yang menunduk terlihat senyum samar diwajahnya. Lalu dia mengangkat kepalanya berkata, "Tapi dia memiliki hubungan baik dengan putra pertama, dan jika putra pertama mengetahui ini dia pasti tidak akan tinggal diam." Jelas Shuwei.
"Kalau begitu kau tinggal membunuhnya diam diam didalam hutan. Aku dengar dia buta arah. Jadi akan mudah membunuhnya. Aku akan mengirim anak pertamaku ke dunia luar dengan alasan mencari tahu tentang manusia. Itu pasti akan membutuhkan waktu untuk selesai. Jadi kau bisa mengumpulkan orang untuk membunuhnya didalam hutan." Sepertinya Tianzhi sudah merencanakan semuanya dari awal. Dia hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk rencana ini.
...***...
Beberapa hari kemudian…
Didalam hutan ada beberapa kelompok orang yang kesusahan menaklukan seekor ular besar yang bersisik emas. Salah satu orang yang menyerang ular itu adalah Zhen. Dia menahan serangan ular dengan Qi luarnya. Disaat dirinya sedang fokus menahan serangan, ada seseorang yang menepuk bahunya.
Zhen menoleh pada orang yang menepuk bahunya. Orang itu memakai penutup wajah sehingga tidak dikenali.
"Gunakan kekuatan aslimu! Raja sudah mengizinkannya." Ujar orang itu.
Zhen tidak langsung mengiyakan, ia hanya memperhatikan pria itu. "Apa benar seperti itu?" Tanya Zhen ragu.
"Ya, musuh kali ini sangat kuat. Jika kau tidak menggunakan kekuatan aslimu kita semua akan mati oleh Raja Ular Emas. Jika seperti itu, otomatis semuanya akan menjadi salahmu karena tidak menggunakan kekuatan aslimu saat bertarung." Ujar pria itu menjelaskan. Dan satu lagi kalimat yang dia katakan sembari berbisik, "Dan Jun juga akan memusuhimu karena telah menyebabkan semuanya dalam bahaya." Bisiknya diikuti seringaian dibalik kain hitamnya.
Mendengar itu Zhen tidak berpikir panjang lagi. Dirinya langsung menggunakan kekuatan aslinya untuk mengalahkan Raja Ular Emas. Serangan yang awalnya berwarna biru berubah menjadi hitam pekat. Zhen menggunakan jurus yang sudah lama ingin digunakannya setelah sekian lama telah dipelajari tapi tidak pernah digunakan.
'Rantai Neraka'
Jurus ini terbagi menjadi tujuh bagian, salah satu yang digunakan Zhen saat ini adalah bagian pertama 'Belenggu' . Muncul beberapa rantai raksasa yang berujung runcing segitiga dari dalam tanah. Langsung saja Zhen menusuk tubuh Ular besar itu dan mematahkan sisik emasnya yang merupakan pertahanan terkuat Raja Ular Emas.
SSSSTTT
Seluruh tubuh ular tertusuk rantai raksasa membuatnya sudah tak bisa bergerak. Dengan begini sepertiga dari hutan besar hutan hitam menjadi wilayah kekuasaan Klan Guaiwu.
Jleb
Dari belakang sebuah panah menusuk punggung Zhen. Membuat pemuda itu kesakitan. "Apa yang… kalian lakukan?" Tanya Zhen bingung. 'Ini, ini bukan ilusi. Mereka… mereka benar benar ingin membunuhku.' Pikirnya tidak percaya. Ia menatap mereka penuh kebingungan mengapa mereka ingin membunuhnya.
"MATI KAU ZHEN!?" Teriak Liubai dari belakang.
Jleb
Lagi lagi tusukan menusuk belakangnya. Sebuah pedang menembus perutnya. Ditambah lagi senjata senjata ini beracun. Racun yang membuat seseorang tidak bisa menggunakan kekuatan selama satu jam.
"Tembak!?" Ujar seseorang mengisyaratkan pada beberapa pemanah untuk menembak Zhen.
Puluhan anak panah melayang dan menusuk tubuh Zhen. Akhirnya setelah beberapa anak panah menancap ditubuhnya Zhen jatuh dan ambruk.
Dalam kesadaran yang sebentar lagi menghilang, Zhen bisa melihat senyum mereka saat membunuhnya.
...~~~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...