
Seseorang sedang mengelilingi mayat para prajurit yang mati di medan perang. Pemuda itu hanya berjalan jalan mengelilingi mayat mayat itu tanpa melakukan apapun. Apa yang dilakukannya memang tidak mengganggu sama sekali tapi tersebar rumor aneh tentang dirinya yang mengatakan 'Ada hantu penasaran berjubah hitam yang mencari mayatnya'.
Romor itu tentu saja sedang panas panasnya dibicarakan diantara para prajurit. Mereka bahkan sampai menyuruh seorang biksu muda untuk mengusir hantu itu.
"Pergi kau dari sini!? Jangan mengganggu kami, Amithaba!?" Dia ceritanya biksu. Namun karena itu bukan hantu maupun dedemit, pemuda itu hanya keheranan melihat pria botak yang mengusir dirinya dengan mencipratkan air. Apa dia kira kucing?
"T tuan biksu, kenapa dia masih disini?" Tanya seorang prajurit ketakutan.
"Sepertinya aku kurang melantunkan sutra!" Biksu itu berguman dengan lantunan sutra yang dia bawakan. Tangan kanannya terangkat ditempelkan kedada seperti seorang biksu. Tapi sebanyak apapun dia membaca sutra, pemuda itu bukanlah hantu. Jadi reaksinya akan biasa biasa saja dan malah bingung melihat tingkah mereka.
Dush
Tiba tiba seseorang datang dari atas menyita semua perhatian mereka. "Cih, konyol sekali!? Apa kalian sedang bermain rumah rumahan? Coba aku lihat bajingan mana yang membuat prajuritku ketakutan?!" Ujarnya geram dengan tingkah mereka. Pria itu adalah Jenderal Mu Kong, yang memimpin ribuan prajurit di garis depan.
Tubuhnya tinggi kekar dengan zirah perak tebal, kulitnya sawo mateng, wajahnya tegas dan berkumis tipis. Dia berjalan mendekat dengan langkahnya yang tegas. Biksu muda dan salah satu prajurit mundur bersamaan dengan gugup melihat Jenderal Mu geram. Tepat didepan pemuda itu Jenderal Mu berkata, "Perlihatkan wajahmu!?" Ujarnya sangat tegas.
Seperti yang dikatakan pria kekar pemuda itu mendongakkan wajahnya dan memperlihaykan wajah seorang bocah dengan mata merah. Pemuda itu adalah Zhen. Dia sedang mengumpulkan Qi negatif dari para mayat ini. Zhen mengernyitkan dahinya karena mereka mengganggunya. 'Haruskah aku membunuhnya? Dia terlihat kuat meskipun hanya berada di ranah Surgawi menengah.' Pikirnya berencana membunuh Jenderal Mu.
"Jangan dulu, dia bisa dimanfaatkan untuk mencari lebih banyak korban untuk tungku." Maksudnya tumbal persembahan untuk Zhen.
"Siapa kau? Apa urusanmu berkeliaran disekitar mayat mayat ini?" Tanya Mu Kong.
"…………" Lama menunggu jawaban dan saat Mu Kong akan berkata lagi Zhen menjawab, "Aku lapar." Itu membuat suasana disana jadi sedikit tidak jelas.
"Haahh, jadi kau berkeliaran disini untuk mencari makanan." Ujar Mu Kong menghela nafas dengan jawaban Zhen. Tapi kemudian dia berkipir ulang tentang pemuda di depannya ini, 'Dia masih muda dan terlihat cukup kuat untuk membunuh satu prajurit walau tubuhnya kurus. Aku bisa menjadikannya prajurit tambahan. Itu ide yang cukup bagus.' Pikirnya panjang lebar sembari memperhatikan Zhen. "Lupakan untuk mencari makanan disini, karena disini hanya ada mayat. Aku akan memberimu makanan. Ikuti aku!?" Ujar Mu Kong.
Zhen mengikutinya untuk mencapai tujuan yang lebih besar dari makanan.
Mereka sampai di kamp prajurit. Disana orang orang memperhatikannya karena berjubah hitam. Zhen melirik beberapa kelompok orang dengan mata merahnya. Sontak mereka merasa merinding ditatap oleh Zhen.
Mu Kong membawa Zhen masuk ke tendanya. Disana sudah tersedia banyak makanan enak. "Duduklah!?" Ujarnya yang sudah duduk lebih dulu.
Zhen duduk setelah dipersilahkan. Kalau dulu ia pasti akan terharu diberi makan sebanyak ini. Tapi sekarang rasanya sangat biasa dan hatinya sama sekali tidak tersentuh. 'Mereka tampak sedang berperang, jadi makanan ini tidak mungkin beracun.' Pikirnya menimang nimang. Untuk saat ini ia ingin mengisi perutnya lebih dulu. Karena makan juga perlu.
'Pemuda ini, aku tidak bisa merasakan tingkatannya. Apa dia bukan seorang praktisi? Melihat tubuhnya yang tinggi tapi kurus bisa saja bukan. Apa bisa dia kugunakan di medan perang nanti? Bisa bisa baru sekali maju kepalanya sudah ditebas.' Pikir Mu Kong meragukan Zhen. Dirinya juga membayangkan saat dimedan perang Zhen sudah mati duluan sebelum membunuh satu musuh. Tapi dia sudah menolong dan memberi makanan padanya, jadi ingin mengusir atau menolaknya akan canggung.
Tiba tiba seorang prajurit datang berlutut, "Lapor Jenderal!? Musuh tiba tiba saja datang menyerang kemari." Lapornya dengan tergesa gesa.
"Baik!?" Prajurit itu pergi dengan cepat mempersiapkan pasukan.
Mu Kong mengambil pelindung kepala dan pedangnya, "Kau tetaplah disini!? Aku akan mengurus yang diluar." Ujar Mu Kong sembari berjalan keluar.
"Tunggu!?" Ujar Zhen sembari bangun dari duduknya. Zhen menghampiri Mu Kong yang berhenti dipanggilnya. "Aku akan membantumu mengalahkan mereka. Kau dan pasukanmu hanya perlu menunggu kabar dariku disini!?" Ujarnya dengan tatapan mengintimidasi, kemudian pergi keluar tanpa mengatakan apapun lagi.
Meskipun hanya diberi tatapan, namun terasa kalau pemuda yang ditolingnya berada di tingkatan yang jauh diatasnya. 'Ini, kenapa aku merasa tertekan hanya dengan tatapannya? Apa dia benar bisa melawan mereka sendirian?' Pikirny penuh keraguan. "Tapi…" Mu Kong merasa tidak yakin dan yakin dengan perkataan Zhen. Dia tidak yakin dengan penampilannya yang cantik dengan tubuh yang ramping. Tapi dia yakin dengan kekuatannya melalui intimidasi yang baru dirasakannya.
Zhen keluar dengan masih menutupi wajahnya dengan tudung. Suasana diluar dipenuhi dengan para prajurit yang tegang. Mereka sepertinya sudah mulai terdesak dengan sedikitnya pasukan yang tersisa dan masih bisa bertarung.
"Rapatkan barisan dan_" Salah satu prajurit merasa ada yang menepuknya dari belakang. Dia melihat krang itu yang ternyata Zhen.
Zhen menepuk pundak pria yang menemui Mu Kong barusan. "Kalian tidak perlu pergi, itu perintah pemimpin kalian." Ujarnya singkat.
Mereka tampak kebingungan dengan kata kata Zhen. Musuh sudah ada didepan tapi dia malah mengatakan untuk tidak pergi. Akan tetapi karena dia bilang itu perintah Jenderal Mu, mereka mau tidak mau harus mengikutinya.
Zhen melirik pria yang ditepuknya, "Kau!? Tunjukkan jalan pada pasukan musuh!" Ujarnya kemudian pergi.
"Ah, t tapi…" Pria itu tampak kebingungan. Kenapa juga dirinya harus menuruti kata kata pemuda yang baru ditolong atasannya. Zhen tiba tiba menoleh pada pria itu dan memberinya tatapan dingin. Seketika bulu kuduk merinding dan tanpa sadar dirinya sudah menunjukkan jalan pada Zhen.
"Ck, kenapa kita harus mengikuti kata kata bocah itu? Apa dia ingin kita semua mati dikepung musuh tanpa melakukan apapun? Aku akan menemui Jenderal Mu mengenai masalah ini." Ujar salah satu prajurit.
"Tidak perlu!?" Ujar Mu Kong keluar tenda. "Serahkan semua padanya." Lanjutnya.
"T tapi Jenderal…" Salah satu bawahan yang komplen langsung terdiam ketika mendapati pelototan dari Mu Kong.
...~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...