
"Uhuk!? uhuk!? Sialan, orang tua itu sangat gigih sampai meledakkan dirinya sendiri. Untungnya aku bisa melindungi diriku sendiri tepat waktu." Ujar Zhen sembari berjalan mencari jalan keluar. Tapi yang ada dirinya semakin tersesat entah kemana. "Sebenarnya aku berjalan kemana?" Ujarnya bingung sendiri.
Tidak lama terdengar suara dua orang tak jauh dari tempatnya berada. Dari balik dinding yang menghalang Zhen mencoba melihat siapa dua orang itu.
"Hiks mereka semua mati, bagaimana sekarang?" Ujar Mei Nian yang mana berhasil selamat dari aura Zhen.
"Tenanglah putri, ayo kita kembali saja ke istana. Kita laporkan kejadian ini pada Yang Mulia!?" Ujar Lin yang juga berhasil selamat.
"Siapa yang akan kau laporkan?" Tanya seorang pria yang tak asing ditelinga mereka.
Kedua gadis itu terbelalak kaget melihat Zhen ada disana dengan penampilan yang mengerikan. "Kau, jangan bilang…" Mei Nian ingat orang itu tidak akan membuat sesuatu yang dia khawatirkan. Tapi sekarang malah berbuat hal yang dia khawatirkan.
Terlihat senyum jahat diwajah Zhen, "Kau, terlihat enak!?" Ujar Zhen saat melihat Mei Nian, tidak lama ia melesat kearah mereka berdua.
Lin dengan cepat menghalangi Zhen untuk melukai Mei Nian. Zhen segera mencekik gadis yang menghalanginya dan melemparnya ke asal tempat.
"Lin!?" Teriak Mei Nian.
Dalam sekejap pemuda itu mencekik leher Mei Nian membuatnya sulit bernafas, "Le pas khan!?" Ujarnya. Disela sela kesadarannya Mei Nian melihat Zhen sebagai seseorang yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Yang sekarang dirinya lihat, adalah seseorang yang sangat kejam. Dia bahkan terlihat sangat menikmati melihat Mei Nian kesakitan. "A pa kau ti dak i ngat a ku?" Tanya Mei Nian.
Zhen terlihat bingung dengan pertanyaan Mei Nian. Tiba tiba saja kepalanya sangat sakit. Ia memegangi kepalanya yang sakit dengan tangan yang satunya. Saat sadar, Zhen sudah mencekik seseorang. Tanpa kaget terlalu lama ia langsung melepas tangannya yang membuat gadis didepannya ambruk ke bawah. 'Apa yang kulakukan? Aku, aku seharusnya tidak boleh membunuh. Kenapa malah semakin banyak?' Pikir Zhen panik dengan semua kekacauan disekitarnya.
"Uhuk uhuk!?" Mei Nian memegangi lehernya yang memerah karena Zhen.
"Ap apa kau tidak apa apa?" Tanya Zhen ingin meraih gadis itu.
Plak
Mei Nian menampik tangan Zhen masih takut dengan cekikan pria itu. "Apa kau sekarang sedang berekting tidak bersalah dengan wajah polos itu? Dasar iblis!? Aku tidak akan tertipu kali ini!? Aku salah berpikir kalau kau pria baik!?" Teriaknya sembari menjauh dari Zhen.
Sungguh, Zhen benar benar tidak mengerti situasi saat ini. Yang ia ingat adalah saat seorang wanita cantik menggodanya. 'Hah, sebenarnya apa yang terjadi? Dia juga sepertinya tidak ingin menjelaskan apapun padaku. Kalau sudah begini, kubunuh saja sekalian!?' Pikirnya.
Tanpa membuang waktu lagi, ia menggunakan bayangannya untuk mencekik Mei Nian sampai membuat Qi nya terkuras habis. Akhirnya dia juga mati bersama pelayannya. 'Pada akhirnya aku membunuh mereka.' Pikir Zhen. Saat ia berbalik…
"Hwaaa!?" Dirinya dikagetkan dengan gadis aneh yang sudah ada dibelakngnya. Zhen sampai memegangi dadanya karena gadis itu muncul tanpa ada suara seperti kucing. "Kau, masih hidup?" Tanya Zhen sembari melihat gadis itu dari segala arah.
"Ya." jawabnya singkat.
"Bagaimana bisa?"
"Aku kuat!?" Lanjutnya dengan mengangkat kedua tangan seperti memperlihatkan otot disertai ekspresi yang serius.
Tanpa sadar Zhen sudah tersenyum melihat gadis itu yang seperti anak kecil. "Ayo kita pergi." Ujarnya sembari menggandeng tangan gadis itu.
Dari wajahnya yang datar juga terlihat senyum samar.
...***...
Beberapa hari kemudian…
Mereka berdua sampai di Hutan Hitam. Dari luarnya saja sudah terlihat mengerikan apalagi didalamnya.
"Menjadi istrimu!?" Pintanya blak blakan.
Zhen langsung terbelalak kaget mendengar permintaan yang tidak mungkin ia setujui. "Itu, sepertinya tidak mungkin." Ujarnya dengan wajah kesal.
"Kubuat jadi mungkin!? Kik kik kik kik kik kik…" Tawanya yang aneh membuat Zhen sedikit merinding.
"Maaf, tapi aku tidak ingin menikah dengan gadis gila sepertimu!?" Ujar Zhen sembari melengos pergi dari hadapan si gadis. Ketika sampai di perbatasan hutan Zhen berhenti sejenak. Ia berbalik dan gadis itu sedang melambaikan tangan padanya dengan wajah datar. "Siapa… namamu?" Tanya Zhen.
Pertanyaan itu membuat gadis itu membulatkan matanya. Tapi kemudian ekspresinya melunak dengan senyum lembut diwajahnya, "Yu--------- -------" Ujarnya.
Mendengar nama gadis itu Zhen tersenyum, "Kalau begitu aku akan mempertimbangkan lagi untuk menjadi suamimu." Ujarnya sembari kembali memasuki hutan hitam. Sepertinya ia sudah menebak namanya, namun ia hanya ingin memastikan saja.
Sepanjang jalan ia hanya tersenyum memikirkan gadis itu. Tiba tiba saja hatinya sangat senang seperti mendapat segunung keberuntungan.
Tapi senyumnya harus hilang ketika ia melihat ada Liubai dan kelompoknya. Zhen segera bersembunyi dibalik pohon sebelum ketahuan oleh mereka.
"Sial, apa selama ini mereka selalu sekuat ini?" Ujar Liubai sembari menebas salah satu monster yang sudah sekarat.
"Mau bagaimana lagi, bukannya selama ini orang itu yang selalu membereskan semuanya?"
"Ck, jangan membahas cec*nguk itu lagi!? Aku jauh lebih hebat darinya!? Ayo pergi!?" Ujar Liubai yang membanggakan dirinya sendiri. Mereka pergi sembari membawa hasil buruan mereka.
Dari kejauhan Zhen memperhatikan kepergian mereka. 'Masih sombong seperti biasa.' Pikirnya. Ia berjalan mendekati bekas bekas pertarungan mereka.
"T tolong!?" Pinta seorang pria yang tergeletak dengan luka besar di dadanya.
Zhen menghampiri pria tersebut sembari berlutut satu kaki. Kemudian membalikkan tubuhnya yang penuh luka. Ketika melihat siapa orang yang membalikkan tubuhnya, pria itu terkejut bukan main. "Kau kau… uhuk uhuk!? B bagaimana bi sa?" Ujarnya dengan wajah kaget dan mata melotot. 'Bagaimana bisa dia hidup lagi? Aku yakin sudah memeriksanya tak bernafas waktu itu. Sekarang kenapa masih hidup?'
Sekarang Zhen ingat siapa pria ini, dia adalah salah satu orang yang bersekongkol membunuhnya waktu itu.
Pria itu berusaha kabur dari Zhen yang bisa saja membunuhnya. Dia berusaha bangun namun dengan luka besar didadanya itu tidak memungkinkan.
"Aku tidak akan membunuhmu, asal kau beritahu aku mereka akan melakukan apa!" Tawarnya.
"A pa kau pikir aku akan memberitahumu? Cih, aku tidak akan berkhianat!?" Jawabnya tetap pada pendirian.
"Tentu saja kau tidak akan mengatakannya dengan mudah." Ujar Zhen melihat malas pria itu. Saat ini ia sedang berpikir bagaimana caranya membuat pria itu buka mulut. Tiba tiba ia teringat dengan teknik pembaca ingatan dari kakek Luan yang juga orang itu pernah memakaikannya untuk Zhen saat kecil. Meskipun samar tapi Zhen ingat bagaimana cara teknik ini digunakan. 'Mungkin aku bisa menirunya sedikit.' Pikir Zhen dengan senyum senang diwajahnya.
Zhen memegang atas kepala pria itu lalu memulai teknik pembaca ingatan.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...