I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 1. Berawal dari baik dan polos



Seorang anak kecil membuka kedua kelopak matanya setelah tidur. Dia bangun sembari mengucek kedua matanya.


Anak itu bernama Ming Jia Zhen.


Memiliki rambut hitam lebat dan warna mata semerah darah. Tampilannya lucu seperti anak umur lima tahun. Tapi sebenarnya dia baru berumur sepuluh tahun. Memang sangat tidak masuk akal tapi itu kenyataan. Zhen adalah anak dari klan guaiwu. Itu adalah klan yang anggotanya bukan manusia. Melainkan monster ganas berbentuk manusia. Hal yang paling unik dari mereka adalah kepintaran yang sebanding dengan manusia dan mengenal sistem hierarki. Yang artinya di klan itu ada seorang raja dan bawahan.


Tapi meskipun disebutnya raja, itu tidak jauh dengan ketua klan. Bisa dibilang itu hanya nama. Dan para bawahan yang dimaksud bukan perdana mentri atau pejabat dan sebagainya. Bawahan yang dimaksud hanya anggota klan dan orang kepercayaan sebagai warior raja. Dan Zhen adalah anak kedua dari raja saat ini. Meskipun dia adalah pangeran, tapi…


Bruk!?


"Kau sudah bangun? Baguslah!? ini air untuk basuh wajahmu dan jangan membuatku repot. Karena hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk Yang Mulia Jun. Jadi jangan menampakkan dirimu yang kotor itu untuk hari ini." Ujar seorang wanita gemuk berambut coklat disanggul. Wanita itu adalah pelayan uang ditugaskan untuk mengasuh Zhen. Dia datang dan pergi tanpa permisi lalu berkata kasar pada seseorang yang disebut sebagai majikan. Tidak hanya dia, tapi semua orang disana memperlakukan Zhen seperti itu. Mereka menganggapnya sebagai kotoran yang harus dihindari.


Zhen terlihat sedih karena diperlakukan kasar seperti itu. Wajahnya menunjukkan kalau dia akan menangis sebentar lagi.


"Astaga tuanku~ kenapa anda bersedih? Apa karena wanita gendut itu? Jangan sedih lagi, jika tuan me.ggunakanbkekuatan tuan yang hebat ini maka wanita gendut jelek menyebalkan sepertinya pasti akan mati. Anda hanya perlu menggunakan kekuatan anda!?" Kabut hitam berbicara pada Zhen. Ini sudah biasa terjadi. Karena kekuatannya adalah kegelapan. Salah satu atribut kekuatan yang terkuat dan paling dibenci.


Kabut hitam ini selalu membujuk Zhen untuk menggunakan kekuatannya. Tapi tidak sekalipun Zhen merespon keinginannya. Karena ia tahu kenapa semua orang membenci dirinya. Itu karena atribut nya. "Pergilah, jangan menggangguku hari ini." Ujar Zhen sembari mengerucutkan bibirnya.


"Tapi tuan…"


"Aku bilang pergi!?" Kali ini Zhen sedikit menaikkan suaranya.


Perlahan semua kabut menghilang dan hanya menyisakan Zhen seorang. "Hmph!?"


...***...


"Siapa namamu?"


"Namaku Zhen!?"


"Zhen, ayo kita berteman."


"Sungguh? Kalau begitu ayo kita bermain bersama!" Zhen tersenyum senang meskipun dia sedang berbicara sendiri. Mau bagaimana lagi, tidak ada yang mau mengajaknya bicara terkecuali dirinya sendiri. Ini sungguh menyedihkan jika melihat senyum senangnya yang mulai luntur menyadari kalau ini semua sia sia. Berbicara sendiri tidak menjamin dia akan merasa senang.


Seharian didalam kamar tanpa melakukan apapun sungguh membosankan. Anak kecil itu hanya bisa menghibur dirinya sendiri. Apalagi ia tidak bisa kabur karena intu dan jendela di kunci dari luar. Pelayan gendut yang membentaknya hanya meninggalkan air untuk cuci muka dan beberapa roti kering untuk sarapan. Zhen memegangi perutnya karena merasa lapar. Ini sudah menjelang sore dan pintunya masih belum dibuka.


Zhen berjalan menuju jendela dan mengintip keadaan di luar melalui celah lubang. Terlihat dari luar orang orang begitu ramai dan sibuk. Tapi meskipun begitu mereka terlihat bahagia. "Mereka terlihat senang." Ada nada iri di kata katanya. Tentu saja, ia hanya ingin orang orang bicara padanya. Tapi mereka memilih mengabaikan Zhen dan menganggapnya tidak ada. Ditambah lagi mereka tidak meninggalkan cukup makanan untuk dirinya.


Dia memegangi dadanya karena merasa sesak ketika melihat orang orang itu tersenyum bahagia.


"Tuan!?"


"Hwaa!?" Teriak Zhen kaget. Dia memegangi dadanya yang masih berdetak cepat. "Bukannya aku bilang jangan menggangguku?" Tanya Zhen kesal.


"Tapi tuan terlihat kesepian, jika tidak ada yang ingin bermain dengan tuan, kau bisa bermain denganku."


Sebenarnya apa yang dikatakan kabut hitam itu benar adanya. Siapapun yang melihat pasti langsung tahu kalau dirinya memang kesepian. "Aku benar benar lapar." Ujar Zhen sembari memegangi perutnya. Dia duduk di pojokan tempat tidur yang sempit dengan memeluk kedua lutut kakinya. Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali menunggu.


Keadaan di luar benar benar ramai sampai malam. Karena hari ini adalah hari yang sangat penting untuk pangeran pertama, Ming Jia Jun. Dia berhasil menembus ranah Yuzhou, yaitu ranah tertinggi dalam kultivasi di dunia ini. Makanya mereka merayakan hal ini.


Anak yang kelihatan masih berumur sepuluh tahun itu sudah menjadi seorang master sekarang. Dia berambut putih dan bermata merah pudar.


"Jun'er, selamat telah mencapai ranah Yuzhou." Ujar seorang wanita cantik berkulit putih, berambut hitam dan bermata merah pudar. Dia adalah wanita secantik mawar hitam. Cantik dan elegan, namun mematikan bernama Ming Jiafen. Dia tersenyum pada anak yang ia panggil Jun'er. Anak itu tidak lain adalah ibunya.


"Terima kasih, ibu." Balas Jun dengan senyum paling ramah. Dia senang semua orang memberi selamat padanya. Tapi satu orang yang tidak datang, Raja. "Dimana ayah?" Tanya Jun sembari mencari keberadaan seseorang.


Mendapat pertanyaan itu membuat Jiafen gelagapan harus menjawab apa. "Yang Mulia sedang dalam urusan penting. Jadi dia tidak bisa datang. Tapi kau tidak perlu khawatir, masih ada ibu disini." Ujar Jiafen masih dengan senyum hangatnya.


Ada banyak orang yang mengelilingi Jun dengan senyum diwajah mereka, sangat berbeda dengan Zhen yang saat ini sendirian didalam kamar dan kelaparan.


...***...


Dua hari kemudian…


Brak


Seseorang menggeser pintu dengan keras. Itu adalah wanita gendut yang mengasuh Zhen. Dia membawa beberapa makanan dan menaruhnya di meja. "Di mana bocah itu? Apa dia kabur lagi? Dasar anak nakal, tunggu saja nanti aku akan mengadukannya pada nyonya." Ujar geram wanita gendut itu. Dia keluar dari kamar Zhen setelah menaruh makanan dimeja.


Tidak lama setelah itu Zhen yang ada di pojokan tempat tidur membuka matanya. Dia terbangun setelah mendengar ada seseorang yang marah marah dengan suara yang keras. Setelah dua hari, akhirnya pintu kamarnya dibuka. Lama dia menunggu didalam tapi tidak seorangpun yang ingat dirinya.


Tercium bau makanan di kamarnya. Zhen segera bangun dengan tubuh gemetar, namun diwajahnya terlihat senang karena akhirnya ia bisa makan. 'Ada bau makanan, a apa pintunya sudah dibuka?' Dia berjalan dengan langkah yang gemetar menuju meja. Disana hanya ada beberapa roti kering. Tanpa basa basi lagi dia mengambilnya dan memakannya dengan lahap. Rasanya benar benar tawar. Tapi karena ia merasa lapar jadi terasa enak.


Setelah memakan semua roti, laparnya sedikit teratasi. Zhen berjalan keluar kamar ingin berjalan jalan. Seperti biasa tidak ada yang memperhatikannya. Dia biasanya hanya berjalan jalan biasa berjeliling taman atau danau. Tidak ada yang spesial di harinya harinya. Hari inipun Zhen hanya berjalan jalan untuk menghirup udara luar.


Sampai di danau teratai biru. Karena didanau ada banyak teratai biru makanya disebut danau teratai biru. Dia hanya duduk di pinggir danau dan melihat bunga teratai disana. Danau itu selalu sepi makanya Zhen suka berada disana. Karena tidak akan ada orang yang membuat dadanya sesak dengan tawa mereka. Tapi, sejak beberapa hari ini seperti ada yang memperhatikannya. 'Apa maunya? Apa dia seseorang yang disuruh ibu untuk memata mataiku?' Pikir Zhen.


Zhen bangun dan berlari menjauh dari orang itu. Tidak tahu siapa dia tapi itu mengganggunya. Sudah jauh dari tempatnya berlari dan sepertinya orang itu tidak bisa mengejarnya. "Sepertinya sudah aman." Ujar Zhen. Dia duduk dibalik semak semak sembari mengistirahatkan kakinya.


Cuit cuit cuit


Tidak lama terdengar suara burung ditempatnya duduk.


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...