I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 4. Makan obat!?



Bruk


Zhen duduk karena lelah mencari jalan keluar. Kemana lagi ia harus melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat busuk ini.


"Loh? Kenapa ada anak kecil disini?" Ujar seorang pria tua berpakaian hitam dan berambut putih karena usia tua.


Saat Zhen mendongakkan kepala keatas, pria tua itu sudah berlutut satu kaki untuk mensejajarkan tinggi mereka. 'Siapa? aku tidak tahu siapa dia, tapi dia terlihat menyebalkan.' Pikir Zhen. Mungkin karena pria tua itu memiliki wajah yang licik jadi terlihat tidak menyenangkan. Saat Zhen fokus memperhatikannya, pria tua itu memegangi kedua sisi kepalanya. "A apa yang kau lakukan?" Tanya Zhen panik. Meskipun ia tidak tahu siapa dia, tapi ia tahu kalau pria tua ini sangat sangat kuat.


"Tenanglah nak, aku tidak akan menggigitmu. Aku sedang memeriksa lukamu, itu saja." Ujar pria tua itu sembari memeriksa luka luka di tubuh Zhen. Memang benar dia memeriksa luka luka Zhen, tapi ia juga mencoba melihat ingatan Zhen. Dia juga perlu tahu apa kenapa Zhen berada di penjara bawah tanah. Sebab ini bukanlah tempat yang cocok untuk anak kecil.


Karena tidak merasakan adanya serangan, Zhen hanya diam saat pria tua ini memeriksa lukanya. Tapi lama kelamaan pria tua ini memeriksanya kepalanya mulai terasa sakit. 'Apa dia benar memeriksa luka ku?' Pikir Zhen.


Pria tua itu masuk kedalam ingatan Zhen tanpa seizin pemiliknya. Didalamnya hanya terlihat kegelapan, kegelapan dan kegelapan. Tidak ada apapun yang bisa dilihat. Tapi samar samar terlihat cahaya hitam kebiru biruan dari kejauhan. Dia berjalan menuju cahaya itu. Namun yang terjadi adalah cahaya hitam kebiru biruan berubah menjadi api hitam kebiru biruan. Api itu mulai membesar dan membentuk monster besar yang hitam. "B bagaimana bisa ditubuh bocah sekecil ini ada monster sebesar ini?" Tanya pria tua itu keheranan. Dia ingin mencoba kabur, tapi kakinya tidak bisa ia gerakkan. Monster itu semakin mendekat padanya.


"Berani sekali kau melihat ingatan tuanku?! Kau harus mati disini karena telah lancang!?" Ujar monster besar itu sembari membuka mulutnya lebar lebar. Terkumpul gumpalan Qi hitam yang berputar membentuk bola yang semakin besar.


"Gawat, aku harus menghindar!?" Ujarnya panik. Tapi kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan karena terlilit akar hitam yang menahan kakinya. Serangan itu semakin besar dan siap untuk menyerangnya.


SWOSSHH


Akhirnya dilepaskannya serangan besar yang menatikan itu.


Plak


Pada waktu yang bertepatan Zhen menampik tangan pria tua itu yang membuatnya tersadar. Zhen memegangi kepalanya yang semakin sakit saat pria tua itu memeriksanya. "Dasar pembohong!? Kau mencoba melihat ingatanku kan?" Ujar Zhen kesal.


"Yah, ketahuan ya? Ha ha ha ha ha… Tapi aku harus berterima kasih padamu. Jika kau tidak melepas tanganku mungkin aku sudah mati di kepalamu." Ujar pria tua itu sembari tersenyum lebar.


"Hmph, itu biasa saja." Zhen memalingkan wajahnya dengan pipi yang sedikit memerah. Didalam hatinya ia sangat senang mendapatkan ucapan terima kasih dari seseorang.


Pria tua itu mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanan. Sebuah pil warna hijau tua. "Makanlah ini. Dalam setengah hari semua luka dalam dan luarmu akan sembuh jika memakan ini. Kau harus memakannya, karena ini adalah salah satu hartaku yang berharga. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku." Ujar pria tua itu sembari memberikan pil itu pada Zhen. Diambilnya pil yang diberikan pria tua padanya. Dia tidak pernah melihat benda bulat ini. "Namaku Yi Luan. Kau bisa menggilku kakek Luan." Ujar kakek Luan sembari tersenyum.


Zhen hanya memperhatikannya dari segala arah. Lalu menjilatnya sedikit untuk engetahui rasanya. Wajah Zhen langsung berubah menjadi kecut setelah menjilatnya. "Rasanya benar benar asam seperti keringat ketiak!?" Ujar Zhen sambil menjauhkan pil itu dari mulutnya.


Karena rasanya tidak enak Zhen melempar pil itu tepat didepan pemiliknya. Dengan tanggap pria tua itu menangkapnya. Meskipun rasanya seperti keringat ketiak tapi ini adalah obat mujarab. "Aku tidak mau memakan benda aneh itu!?" Ujar Zhen dengan tegas.


"Astaga~ bocah sepertimu tahu apa soal harta karun seperti ini? Makan saja pil ini dan kau akan tahu kalau yang kau makan adalah harta berharga. Makan!?" Ujar Kakek Luan sembari memaksa Zhen membuka mulutnya. Namun bocah itu menutup mulutnya rapat rapat. Terpaksa Kakek Luan mengambil tindakan keras. Dia memegangi kedua pipi Zhen untuk membuka mulutnya secara paksa. "Nah, sekarang aah~" Ujarnya mencoba membuka paksa mulut Zhen.


Zhen mencoba lepas dari tangan kuat kakek Luan. Dia memukul mukul tanga kekar itu. Tapi tidak sedikitpun kakek Luan merasa kesakitan. "Hmph… mmp…" Teriak Zhen dalam diam.


Terlihat senyum jahat Kakek Luan yang memperlihatkannya seperti penjahat. "Cepat buka mulutmu! Aah~" Paksa kakek Luan.


Plak plak plak


Dengan kasar Zhen menampar kedua pipi Kakek Luan bertubi tubi. Tapi meskipun sudah ditampar kakek tua itu tetap gigih ingin membuka mulut Zhen. "Meskipun kau menamparku seratus kalipun aku tidak akan menyerah ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha___"


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya seseorang tiba tiba.


Sontak keduanya kompak melihat siapa orang itu. Ternyata dia adalah Jiangwu yang sedang keheranan melihat tingkah mereka berdua. Jiangwu menghampiri keduanya yang yang juga melihatnya. Dalam sekali lihat, ia langsung tahu apa yang sedang dilakukan keduanya. Kakek luan yang memegang pil hijau ingin memaksa Zhen yang terus menutup mulutnya untuk makan pil itu. "Haaah… " Dia menghela nafas panjang melihat sikap kekanak kanakan pria tua ini.


Entah kenapa helaan nafas itu terdengar seperti helaan lelah hidup. Kakek Luan hanya bisa tersenyum canggung melihat Jiangwu yang sudah lelah melihat sikap kekanak kanakannya. "Emm, ini bisa kujelaskan Wu'er." Ujar kakek Luan yang sepertinya mengenal Jiangwu.


Jiangwu berlutut satu kaki dan mengeluarkan air dan gelas kecil dari cincin penyimpanan. Dia mengambil pil hijau itu dan memasukkannya ke dalam gelas sembari diberi air. Dia juga memasukkan sedikit perasa manis agar anak anak menyukai obat itu. Pil itu tidak lama meleleh didalam gelas. "Minumlah, Yang Mulia!?" Ujar Jiangwu sembari memberikan gelas itu pada Zhen.


Zhen ingat pria ini. Dia adalah pemuda yang ia kira adalah ayahnya. Tapi sepertinya waktu itu ia salah lihat. Jika dilihat dari dekat seperti ini mereka berdua sangat berbeda. Zhen mengambil gelas yang diberikan Jiangwu padanya. Tercium aroma manis dari minuman itu. Setelah dicoba ternyata rasanya tidak seperti keringat ketiak lagi. Rasanya berubah menjadi manis. Tanpa ragu lagi Zhen meminumnya tanpa harus dipaksa lagi.


Kedua orang yang melihatnya tersenyum kecil melihat Zhen yang akhirnya memakam pil itu.


...~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...