
Zhen tidak tahu tepatnya kapan semua ini bermula. Tapi ia sedang dikelilingi banyak serigala dan orang itu dibelakangnya. Saat dirinya sedang berada di kamar sendirian beberapa orang memaksanya untuk ikut bersama mereka. Dan selanjutnya jadilah hal yang seperti ini. Zhen sangat ketakutan ketika mereka semua memperhatikan dirinya. Belum lagi seekor serigala besar yang sedang menatapnya dengan sangat tajam. 'Apa yang ingin mereka lakukan padaku? Aku tidak melakukan kesalahan apapun.' Pikir Zhen.
Sang Gwi menatap Zhen dengan tajam. Lalu beralih ke Tianzhi yang juga menatap Zhen dingin. Dia terlihat lebih seperti ingin membunuh anak didepannya. 'Sepertinya semua ini sudah dirancang oleh si rubah licik ini. Aku yakin dia sebenarnya sudah mengetahui kebenarannya. Jika tidak, bagaimana dia bisa mengetahui secepat ini pelakunya. Dan anak ini, aku tidak tahu siapa tapi dia memiliki banyak Qi hitam dalam tubuhnya. Dia bukan bocah sembarangan.' Pikir Sang Gwi panjang lebar.
"Aku memiliki penawaran pada kalian." Ujar Tianzhi memecah keheningan.
Para serigala saling lihat melihat dengan wajah penuh tanda tanya. Mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Tianzhi. Pasalnya dia adalah pria yang selicik rubah. Jadi pasti ada maksud tersembunyi dari penawarannya. "Penawaran?" Tanya Sang Gwi ulang.
"Benar. Tawaranku adalah, jika kau dan bawahanmu bisa menghabisi bocah ini maka aku dan seluruh klan ku akan tunduk dalam kekuasaanmu." Tawaran yang sangat mengagetkan Sang Gwi dan bawahannya. Tidak disangka kalau penawaran Tianzhi mempertaruhkan kehormatannya sendiri.
Sang Gwi memikirkan penawaran Tianzhi yang sangat menggiurkan. Jika dia menang, maka dia bisa mengendalikan si rubah licik itu menjadi bawahannya. Ditambah lagi lawannya adalah seorang anak kecil yang bahkan belum mencapai ranah immortal. Jadi ini jauh lebih mudah karena dirinya berada diatas level yang lebih tinggi. "Baiklah, aku menerima tawaranmu. Bersiap siaplah untuk tunduk padaku!?" Ujar Sang Gwi dengan senyum yang menunjukkan banyak gigi bertaring tajam.
"Apa kau tidak menanyakan bagaimana jika kau kalah?" Tanya Tianzhi mengingatkan Sang Gwi.
"Kalah? Aku tidak mungkin mungkin kalah melawan bocah lemah sepertinya." Balas Sang Gwi sombong.
Disaat mereka berdua bicara, Zhen mendengar kalau dirinya dijadikan taruhan hidup dan mati. Dia tidak ingin mati dua kali. Dia segera berlari pada Tianzhi dan memohon padanya. Dia meraih tangan Tianzhi dan memohon dengan wajah yang memelas belas kasihan. "A ayah, a aku tidak ingin melawan mereka. Aku tidak inngin mati oleh mereka. T tolong ampuni aku karena telah membuat masalah. A aku janji akan melakukan apapun." Mohon Zhen pada seseorang yang kini menatapnya dingin.
Plak
Dengan kasar Tianzhi menepis tangan Zhen hingga membuatnya kaget. "Siapa yang kau panggil ayah? Tidak ada alasan untukku menyelamatkanmu. Sekarang pergilah dan menangkan pertarungan. Jika tidak, maka para serigala itu akan kencabik cabik tubuhku menjadi makanan mereka." Ujar Tianzhi menatap Zhen dengan sangat dingin. "Atau, kau lebih suka Jun menjauh darimu?" Lanjutnya dengan senyum licik diwajahnya.
Mendengar itu membuat dunia Zhen terasa akan hancur. Satu satunya orang yang memperhatikannya akan menjauh darinya. Itu tidak boleh terjadi. "Baiklah, aku akan bertarung." Ujar Zhen pelan. Dia berjalan, menuju segerombolan serigala yang akan membuatnya sekarat. Dia belum pernah bertarung secara sungguhan. Bisa saja kali ini ia akan kehilangan nyawa.
Beberapa serigala telah siap mencabik tubuh Zhen. Mereka berbaris mengelilingi Zhen yang kini tengah menggumankan sesuatu. "Itu tidak boleh terjadi, kakak hanya milikku. Tidak boleh, sama sekali tidak boleh terjadi." Berkali kali ia berguman meskipun sudah kengatakannya.
"Jika kau menyimpan dendam atas kematianmmu, maka salahkan saja ayahmu itu!? Karena dia telah mengorbankan anaknya sendiri." Ujar Sang Gwi. Namun sepertinya apa yang baru saja diomongkannya sia sia karena Zhen tidak mendengarkan dan malah berguman sendiri. "Gggrrrr serang dia!?" Teriak Sang Gwi kesal.
Akhirnya pertarungan dimulai dengan beberapa serigala berlari kearah Zhen dengan sangat buas. Mereka dengan ganas ingin menerkam dan mencabik tubuh Zhen.
Menyadari kalau serigala serigala itu sudah mulai bertindak, dengan cepat Zhen mengangkat kedua tangannya untuk menggunakan suatu jurus yang timbul di pikirannya. Tepat setelah itu muncul duri besar dari bawah tanah sehingga menusuk perut serigala serigala itu hingga menembus keatas. Dalam sekejap kemenangan ditangan Zhen. Entah kenapa Zhen memikirkan jurus tadi. Tapi tiba tiba saja itu muncul di kepalanya. Dia terenyum senang karena dirinya menang. Apakah ini artinya Jun tidak akan menjauh darinya? Tentu saja tidak.
Zhen menengok ke belakang dan melihat Tianzhi berharap mendapat pujian darinya. Tapi diwajahnya dia terlihat tidak senang dengan kemenangan Zhen. Perlahan senyumnya memudar.
AAUUuuu
Semua serigala melolong karena saudara mereka telah mati. Mendengar itu membuat Zhen kembali fokusvpada apa yangada didepannya. Namun tepat setelah ia kembali fokus ke depan Sang Gwi menyerangnya dengan cakar hitam tajam miliknya. "Akgh!?" Riga cakar besar hampir merobek tubuh Zhen cukup dalam. Serangan tiba tiba itu mematahkan beberapa tulang rusuknya. Darah segar mengalir dari lukanya yang dalam. Dia terbaring ditanah dengan wajah penuh kesakitan. Jika Zhen tidak refleks menghindar, mungkin tubuhnya sudah terbelah menjadi beberapa potongan.
Rasa sakit yang tidak tertahankan membuatnya tidak berdaya. Zhen melihat Tianzhi berniat ingin meminta tolong padanya. Tapi apa yang dia lihat adalah senyuman puas pria itu. Ini sungguh sangat menyakitkan, luka ditubuhnya maupun luka dihatinya.
"Ha ha ha ha ha ha ha Tianzhi, bersiaplah untuk bertekuk lutut padaku!?" Teriak Sang Gwi sembari berjalan mendekati Zhen dan ingin memakannya. Karena bocah itu terlihat sudah tak berdaya maka ia melepaskan Kewaspadaannya. Tepat didepan hadapan Zhen dia ingin memakannya dalam keadaan tak berdaya. Namun ketika dia semakin mendekat Zhen tiba tiba saja bangun dan menusuk kedua mata Sang Gwi dengan pisau yang dia sembunyikan dibelakang pinggang.
"AAGGRRHHH!?"
Darah mengalir begitu deras dari mata Sang Gwi. Dengan begitu dia tidak akan bisa menggunakan kedua matanya lagi. Karena pemulihan serigala cukup cepat Zhen tidak menarik pisau itu. Dia lebih memilih menancapkannya saja di mata Sang Gwi. Karena jika dicabut bisa saja matanya pulih kembali.
"AARGHH SIALAN!? DASAR BEDEBAH KECIL!?" Teriak Sang Gwi kesakitan. Dia tkdak menyangka jika Zhen begitu pintar dengan berpura pura sekarat dan malah menusuk matanya disaat dirinya lengah.
Mata Zhen berubah menjadi semakin merah dengan pola satu garis ditengahnya. Ini masih permulaan untuk menang. Dia loncat keatas punggung Sang Gwi dan mencoba menancapkan jarum besar di tubuhnya. Kulitnya begitu tebal dan keras jadi Zhen berkali kali menusukkan jarum. Hingga tangannya berdarah dia tetap ingin menusukkan itu ke tubuh sang predator.
Dengan usaha yang sangat keras akhirnya dia berhasil menancapkan jarum itu. Tepat setelah jarum ditancapkan Sang Gwi semakin kesakitan. Bukan karena jarum itu, tapi karena sesuatu yang lebih kejam tumbuh didalam tubuhnya. Jarum yang ditancapkan Zhen menumbuhkan akar yang besar.
" AAGGRRHHH!?" Hanya dalam hitungan detik keluar akar besar dari dalam tubuh Sang Gwi. Dia berteriak sekeras mungkin karena rasa sakit yang luar biasa.
Bruk
Setelah semua pertarungan panjang Zhen akhirnya memenangkan pertarungan dengan luka besar didadanya. Dia juga terbaring tak berdaya setelah menggunakan seluruh kekuatannya. Jika ia menggunakan kekuatannya sekali lagi mungkin tubuhnya akan hancur.
AAUUUuuuu
Serigala yang tersisa melolong dengan sedih atas kematian pemimpin mereka.
Dan disisi lain Tianzhi dengan beberapa bawahan yang lain senang atas kemenangan ini. Meskipun harapan Tianzhi sebenarnya ingin membunuh Zhen bersama dengan Sang Gwi. Tapi bisa saja serigala yang tersisa yang menghabisi Zhen. "Karena kemenangan ada tangan.klan Guaiwu, maka wilayah ini menjadi milik kami." Ujar Tianzhi yang kemudian pergi bersama dengan yang lain.
Ya, mereka pergi meninggalkan Zhen bersama dengan serigala yang penuh dendam padanya. Zhen ingin memanggil Tianzhi untuk membawanya juga, tapi apa daya tubuhnya lemas dan tidak ingin mendengarkannya. Untuk bersuara saja dia tidak kuat.
"Yang Mulia, bagaimana dengan anak itu?" Tanya Kakek Luan khawatir.
"Biarkan saja. Lagi pula dia adalah monster yang telah membunuh monster lainnya bukan?" Ujar Tianzhi yang masih tetap berjalan meninggalkan wilayah itu.
Kakek Luan memang melihat sendiri bagaimana Zhen menghabisi monster itu. Tapi tetap saja bocah itu telah kehilangan banyak Qi dan juga tenaganya. Dia berhenti dan kembali untuk membawa Zhen pulang. Sesampainya disana para serigala mulai berkumpul dan ingin memakan Zhen.
Saat kakek Luan datang mereka kabur melarikan diri karena tidak ingin bernasib sama. Dia menghampiri anak itu dan melihatnya sudah sangat sekarat. Untuk sementara Kakek Luan hanya membungkus luka didada Zhen untuk menghentikan pendarahan. Kemudian dia membawanya untuk pengobatan lebih lanjut.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...